
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, keadaan Emily terlihat telah jauh membaik dan sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Sejak Emily masuk rumah sakit, Mark benar-benar mendampingi Ariana dalam menjaga Emily. Mark pergi untuk membersihkan dirinya dan setelah itu kembali ke rumah sakit.
Dengan semua itu, Emily dan Mark menjadi semakin dekat satu sama lain, sehingga kadang ada orang tua dari anaknya yang juga dirawat di sana mengira kalau Mark adalah ayah Emily dan mereka memuji Mark sebagai ayah yang hangat dan bertanggungjawab. Mendengar hal seperti itu membuat Ariana hanya tersenyum saja, tidak pernah menjelaskan siapa Mark sebenarnya.
Sedangkan Mark tentu saja senang mendapatkan pujian seperti itu, tapi ia juga tidak berharap apa-apa. Walau ia bukanlah ayah Emily, tapi Mark benar-benar menyanyanginya. Emily begitu lucu dan menggemaskan, jadi mana mungkin ada orang yang tidak menyanyanginya?
Saat ini, Ariana terlihat mengemasi barang-barang Emily dan bersiap untuk pulang. Sementara Mark terlihat merapikan rambut Emily. Mark sebenarnya tidak begitu ahli dalam hal seperti ini, tapi Emily bersikeras agar Mark yang melakukannya, bukannya Ariana.
"Wah, kau ternyata pintar menata rambut anak perempuan." Ariana pun memberikan pujian pada Mark setelah dia selesai merapikan rambut Emily.
"Apakah ini sungguh bagus? Bukankah ini jelek?" Mark terlihat tidak percaya diri.
"Ini sangat bagus. Aku menyukainya." Tapi ucapan Emily yang satu ini membuat Mark senang, apalagi saat melihat senyum manis Emily.
"Syukurlah." Mark pun mulai meyakini bahwa pekerjaannya memang bagus.
"Terima kasih, Ayah," ucap Emily secara tiba-tiba. Ariana dan Mark begitu terkejut mendengar ucapan Emily. Sedangkan Emily seketika menutup mulutnya dan terlihat terkejut karena ucapannya sendiri.
Emily menoleh pada Mark dan berkata, "Maafkan aku, Paman. Orang-orang memanggil Paman sebagai Ayahku dan aku malah mengikutinya. Aku minta maaf." Emily terlihat merasa bersalah karena memanggil Mark sebagai ayah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kenapa kau malah merasa bersalah? Sekarang, kau akan meninggalkan rumah sakit dan secepatnya akan kembali ke sekolah, jadi kau harus tersenyum. Ayo tersenyum." Mark sedikit menarik kedua sudut bibir Emily dan membuatnya tampak seperti tersenyum, sampai akhirnya dia benar-benar tersenyum.
***
Ketika makan malam tiba, Ariana pun menikmati makanannya bersama Emily. Sebenarnya, Ariana juga ingin Mark makan malam di sini sebagai bentuk rasa terima kasihnya, tapi Mark tiba-tiba harus pergi untuk urusan pekerjaan, jadi Ariana akan mengundang Mark lain kali.
Di tengah keheningan itu, Ariana dibuat kaget sampai sedikit terbatuk karena ucapan Emily. "Ibu, apa Paman Mark bisa mrnjadi Ayahku seperti yang orang lain katakan?" ucapan itulah yang membuat Ariana begitu kaget.
Ariana meminum sedikit airnya, lalu menatap Emily. "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Ariana.
"Apa aku salah karena bertanya seperti itu?"
"Karena Paman Mark menyanyangiku sama seperti yang Ayah lakukan. Aku menyukainya dan ingin Paman Mark menjadi Ayahku."
Ariana hampir menangis saat mendengar jawaban Emily, sebab itu memperlihatkan betapa Emily merindukan sosok seorang ayah dalam hidupnya dan Mark bisa memberikan kehadiran sosok itu dalam hidupnya, maka dari itu Emily bisa begitu dekat dengan Mark. Namun, Ariana bingung bagaimana cara mengatakan pada Emily kalau ia belum siap untuk hidup dalam sebuah hubungan.
"Nikmati makananmu, lalu istirahat." Pada akhirnya, Ariana hanya bisa mengatakan hal itu pada Emily.
***
__ADS_1
Setelah Mina memutuskan untuk pergi dari rumah, Eric pikir, itu adalah awal baru dari hidupnya dan ia tidak akan menyesali apa-apa setelah Mina pergi. Namun, kadang, Eric merasa ada yang aneh ketika tidak ada lagi yang menunggunya saat ia pulang dan menyapanya di pagi hari. Dulu, Mina selalu melakukan itu padanya dan Eric tidak menduga kebiasaan itu mengambil bagian dalam hidupnya, tapi ia yakin ini hanya untuk sementara saja. Eric merasa dirinya terlalu kesepian akhir-akhir ini karena tidak berhasil menemukan Ariana dan sikap ibunya menjadi lebih dingin setelah Mina pergi.
Lalu, suatu hari, Eric mendengar kalau Mina mengalami kecelakaan saat pulang dari mengajar. Kecelakaan itu sangat parah sampai membuat Mina kritis dan tidak sadarkan diri sampai detik ini. Eric harus pergi ke rumah sakit karena ibunya begitu histeris mendengar kabar itu dan terus menangis di rumah sakit.
"Tenanglah, Ibu, Mina bahkan bukan keluarga kita, jadi Ibu tidak perlu histeris seperti ini." Eric yang tidak tahan melihat ibunya menangis akhirnya bicara seperti itu dan secara mengejutkan ia mendapatkan tamparan keras dari ibunya.
"Ya, Mina memang bukan keluarga kita, tapi bagian dari wanita yang selalu kau anggap orang asing itu ada dalllam dirimu dan membuatmu tetap hidup sampai detik ini!" Vivian bicara dengan begitu tegas setelah menampar Eric.
"Kau pikir, siapa orang baik yang mau mendonorkan setengah hatinya padamu? Orang itu adalah Mina! Mina meminta ibu merahasiakannya karena dia tahu kau tidak akan menyukai hal itu. Mina harap kau akan lebih menghargai hidupmu jika tidak tahu siapa yang menjadi pendonornya," ucap Vivian lagi dan kali ini membuat Eric sangat terkejut setelah tadi sempat bingung.
Tiga tahun yang lalu, Eric memang sempat jatuh sakit dan membutuhkan donor hati segera. Mina yang telah lama mengenal Vivian karena Vivian adalah orang yang membiayai hidupnya sejak ia berusia 7 tahun, sebab ayahnya yang merupakan supir Vivian telah meninggal dunia. Mina sudah menganggap Vivian seperti ibunya sendiri dan tidak ingin melihatnya sedih, jadi ia ingin menjadi pendonor untuk Eric setelah hasil tesnya cocok. Itulah kenapa Vivian begitu ingin Eric bersama Mina, sebab bagi Vivian, Mina adalah penyelamat hidup Eric.
Eric sempat terdiam dan mengingat kalau ia pernah tidak sengaja melihat Mina ketika dia baru selesai mandi dan sedang memakai baju, saat itu, Eric melihat ada bekas luka besar di tubuh Mina, tapi ia tidak terlalu mempedulikannya. Sekarang, Eric merasa kalau itu adalah bekas luka yang Mina dapatkan saat mendonorkan hatinya. Rasa bersalah seketika memenuhi hati Eric hingga membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
"Ibu merasa sangat bersalah pada Mina, dia adalah wanita baik, tapi malah mendapatkan suami sepertimu. Kau pergi saja dari sini! Ibu tidak membutuhkanmu di sini, jadi pergilah! Bukankah kau selalu ingin hidup bebas? Lakukanlah sekarang!" Mina kembali bicara pada Eric.
"Kenapa kalian merahasiakannya? Apa kalian begitu ingin membuatku menyesal? Kalian seharusnya mengatakan hal itu sejak awal! Aku berhak mengetahuinya, Ibu." Eric mulai membahas ucapan ibunya setelah sempat begitu terdiam.
"Kau benar dan ibu menyesal telah menutupinya, tapi jika kau memang menyesal, bukankah itu pantas untukmu? Pergilah!" Vivian mendorong Eric agar menjauh darinya.
__ADS_1
Eric masih berharap kalau semua ini tidak benar. Bagaimana bisa seseorang yang selama ini ia anggap sebagai seorang parasit adalah orang yang mendonorkan hati untuknya? Bukankah itu tidak masuk akal?