
Sejak dulu, selain menjadi fotografer, Ariana tahu kalau Mark memiliki impian bisa berkeliling dunia untuk menolong orang, terutama anak-anak yang tidak bisa sekolah karena berbagai alasan. Ariana ingat Mark pernah mengatakan kalau dia mungkin tidak bisa menolong semua orang yang ada di dunia, tapi setidaknya ada kebaikan yang ia tinggalkan setelah mati nanti. Mark sudah mengatakan hal seperti itu saat masih remaja dan dia benar-benar melakukannya sekarang.
Mark bersama orang-orang yang berada dalam satu misi dengannya telah membantu beberapa anak-anak dari berbagai negara untuk mendapatkan pendidikan yang menjadi hak mereka. Saat ini, Mark menghubungi salah satu di antara anak-anak itu dan dia kenalkan pada Emily. Mereka terhubung lewat panggilan video, jadi Ariana bisa melihat betapa manis anak perempuan berusia 10 tahun dan berambut ikal yang kini bicara pada Emily dengan menggunakan bahasa Korea dengan cukup fasih. Walau anak manis itu tidak berasal dari Korea, tapi dia bisa berbahasa Korea karena diajari oleh Mark.
Emily yang sebelumnya terus menangis dan memikirkan tentang perpisahannya, kini tampak seolah melupakan hal itu dan begitu tertarik mendengar cerita dari gadis manis bernama Luna itu. Ariana juga menyadari satu hal, yaitu rumahnya dalam keadaan rapi saat ditinggalkan, begitu juga dengan Emily saat pergi ke sekolah dengan rambut yang tertata rapi. Mark terlihat seperti seorang pria yang sudah biasa melakukan tugas rumah tangga.
"Emily sepertinya tertarik untuk mengunjungi Luna. Apa yang akan kau lakukan dengan itu?" Mark bicara pada Ariana saat Emily masih mendengarkan cerita Luna tentang tempat tinggalnya dan juga lingkungan sekolahnya, serta apa saja yang menarik di sana.
"Jika dia tertarik ke sana karena ingin membantu teman-temannya yang kurang beruntung, maka itu adalah hal yang bagus. Aku akan mendukungnya," jawab Ariana.
"Jadi, apa tidak masalah jika aku mengenalkan Emily pada sesuatu yang aku lakukan?" tanya Mark lagi.
"Selama itu adalah hal baik, maka aku tidak masalah. Emily mudah penasaran pada hal baru, seperti saat mempelajari origami, dia tidak akan berhenti sampai bisa menyelesaikannya. Aku akan senang jika ada seseorang yang mengarahkan rasa penasarannya pada hal-hal yang akan bermanfaat untuknya dan orang lain." Ariana bicara panjang lebar dan membuat Mark tersenyum mendengarnya.
"Emily pasti akan menjadi anak yang cerdas dan kecerdasannya akan berguna bagi orang." Mark merasa dirinya adalah ayah Emily yang akan selalu siap memantau perkembangannya dan menjadi orang akan selalu setia mengarahkannya pada jalan yang berguna.
"Kapan kau akan kembali memulai acaramu? Aku lihat ada banyak orang yang merindukanmu," ucap Mark lagi.
"Entahlah, aku masih tidak yakin. Aku takut orang-orang hanya penasaran dengan kehidupan pribadiku saja, bukan dengan pertunjukkanku. Aku lelah menghadapi pertanyaan seperti itu. Aku juga khawatir jika statusku yang sekarang akan mengubah pandangan orang lain terhadapku. Aku tahu, aku seharusnya tidak peduli dengan itu, tapi selama ini aku berusaha keras membuktikan kalau aku berbeda dari Ibuku, jadi aku tidak bisa mengabaikan hal itu." Ariana terlihat mulai nyaman bercerita pada Mark.
__ADS_1
"Ya, kita memang tidak bisa hidup dengan benar-benar mengabaikan hal itu, tapi kita bisa mengesampingkannya, kan? Kau sudah cukup membuktikan dirimu dan kau telah menjadi orang yang hebat. Tapi sebenarnya kau tidak perlu membuktikan apa-apa karena kau adalah orang baik dan tidak ada yang salah dengan statusmu, jadi kau tidak perlu khawatir."
Ariana tampak tersenyum mendengar ucapan Mark. Bicara seperti ini padanya membuat Ariana seperti kembali ke masa lalu, ketika Mark bicara seolah-olah dia tidak akan pergi, tapi pada akhirnya meninggalkannya, sama seperti Kevin. Mengingat Kevin membuat senyuman Ariana menghilang lagi.
"Aku akan memasak makan malam dulu. Kau mau makan malam di sini, kan? Lain kali, aku pasti akan mentraktirmu," ucap Ariana.
"Ya, aku tidak sabar ingin mencoba masakanmu." Mark tersenyum dan Ariana pun pergi ke dapur setelahnya. Sedangkan Mark kembali bergabung dengan Emily dan Luna.
***
Saat jam makan malam tiba, Ariana telah selesai memasak dan makanan telah tersaji di atas meja. Meski pikirannya cukup kacau setelah menerima kabar dari Wilda kalau Kevin belum sadar, Ariana tetap terlihat tenang di depan Emily.
"Lama tidak bertemu. Aku sudah mendengar semuanya dan apa yang telah terjadi pada Kevin saat ini," ucap Eric dengan sedikit canggung.
"Ya, lama tidak bertemu." Ariana juga merasa canggung.
"Ariana ... maaf ... aku minta maaf untuk kejadian malam itu. Aku tidak bermaksud melakukannya." Akhirnya kalimat ini keluar dari bibir Eric. Di saat bersamaan, Eric menyadari kalau ada Mark di dalam. Eric tidak menduga kalau pergerakan Mark akan secepat ini.
"Kita lupakan saja semua itu. Kau ada perlu apa ke sini?"
__ADS_1
"Aku mengantarkan ini." Eric menyerahkan undangan pernikahannya pada Ariana. Eric benar-benar ingin membatalkan pernikahannya, tapi ibunya memberikan ancaman akan menghapus namanya dari daftar ahli waris dan menyerahkan semua asetnya pada Selena, calon istrinya. Astaga, Eric tidak mengerti kenapa ibunya sangat menyukai wanita itu.
"Aku pasti akan datang," ucap Ariana setelah menerima undangan pernikahan Eric.
"Apa aku boleh masuk sebentar? Sudah lama aku tidak menyapa Emily." Eric mencari alasan terbaik untuk memastikan sejauh mana kedekatan Ariana dan Mark.
"Ya, silahkan masuk." Ariana yang merasa tidan enak jika menolak akhirnya mempersilahkan Eric masuk.
Melihat Eric masuk dan menyapa Emily, entah kenapa Mark merasa bukan itu alasan Eric yang ingin masuk ke rumah Ariana, apalagi saat melihat pria itu beberapa kali melirik ke arahnya. "Sejak kapan kau di sini?" Eric bahkan mengajukan pertanyaan sekarang.
"Sejak kemarin malam. Aku menjaga Emily di sini, tapi mari jangan membahas alasannya," jawab Mark.
"Menjaga Emily?" Eric memastikan apa yang ia dengar. Setahu Eric, Ariana bukan tipe orang yang bisa memberikan kepercayaan pada sembarang orang, apalagi menyangkut Emily. Jika Mark bisa bisa diberikan kepercayaan seperti itu, apa itu berarti mereka kembali dekat?
"Ya, aku menjaga Emily," jawab Mark lagi.
Sementara Ariana kini harus kembali membuka pintu karena ada seseorang yang kembali menekan bel rumahnya. Ketika pintu dibuka lagi, Ariana melihat kehadiran Fiona. Ariana merasakan aura yang kurang mengenakkan sekarang.
"Baru berapa lama kau berpisah dari Kevin? Baru kemarin dan kau sudah membawa dua pria ke rumahmu. Apa kau sadar kalau itu memberikan contoh yang tidak baik pada Emily. Apakah ini dirimu yang asli?" ucap Fiona setelah melihat kehadiran Eric dan seorang pria yang pernah tertangkap kamera bersama Ariana. Sepertinya memang pria itu yang menjaga Emily. Jadi, mereka sedekat itu?
__ADS_1