Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 50 [Menunggu Ledakan Kedua]


__ADS_3

"Kenapa Ibu dan Ayah berpisah?" Emily menatap lekat wajah sang nenek dengan begitu lekat.


Fiona membuat wajahnya terlihat serius, lalu berkata, "Karena ibumu yang ingin meninggalkan ayahmu. Ayahmu sudah bersikeras agar kau tetap bisa tinggal bersamanya, tapi ibumu menolak. Apa kau ingat saat kau pergi berlibur bersama ibumu? Sebenarnya, ibumu sedang berusaha membawamu pergi dari ayahmu. Ayahmu sangat sedih saat itu, begitu juga dengan nenek. Ibumu sangat jahat."


Walau sebelumnya Fiona sempat mengatakan pada Camila kalau menghasut Emily adalah perbuatan yang rendahan, tapi ia penasaran ingin mencobanya. Akan seperti apa reaksi Emily setelah mendengar hal itu?


"Ibu jahat?" ucap Emily dan mendapatkan anggukkan dari neneknya.


"Tidak, Ibu tidak jahat. Ayah juga bilang, Ibu tidak jahat. Ayah mengatakan agar aku tidak percaya jika ada yang mengatakan kalau Ibu jahat," ucap Emily lagi yang seketika membuat Fiona tertawa pelan ketika mendengarnya.


Sial! Fiona tidak menduga kalau Kevin telah mengantisipasi semua ini jauh sebelum ia melakukannya. Fiona benar-benar benci melihat Kevin yang masih saja berharap pada Ariana. Kapan Ariana bisa meninggalkan hidup Kevin secara seutuhnya? Apakah Ariana harus mati dulu agar keinginannya bisa tercapai?


Fiona sungguh ingin berteriak kesal saat ini karena ia telah gagal menangani Camila, sedangkan Ariana terasa seperti menginjak-nginjaknya. Ketika Ariana mulai mengungkit tentang masa lalu suaminya yang berusaha keras ia tutupi karena sangat memalukan, sejak saat itu juga Fiona mulai menjadi tidak tahan dengan Ariana.


***


"Kenapa kau tidak mengabariku kalau kau mengalami kecelakaan? Aku juga terlambat melihat berita, jadi tidak bisa menjengukmu," ucap Mark yang saat ini ada di cafe bersama Ariana.


Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian itu dan Mark baru melihat beritanya pagi ini. Dalam tiga hari ke belakang Mark memang belum bertemu dengan Ariana atau Emily karena ia memiliki pekrjaan di luar kota dan itulah yang ia sesali, sebab ia tidak ada di sisi Ariana saat itu dan malah Kevin yang bersamanya.


Mark langsung menelepon Ariana setelah melihat berita itu, lalu mengetahui kalau Ariana sudah meninggalkan rumah sakit bahkan sudah mulai bekerja. Mark khawatir, jadi ia mengatur pertemuan dengan Ariana saat jam makan siang.


"Bagaimana mungkin aku mengganggu pekerjaanmu? Aku juga baik-baik saja. Ini hanya luka kecil dan akan segera sembuh." Ariana tersenyum untuk menunjukkan kalau dirinya telah lebih baik.


"Tapi aku ingin ada di sisimu bahkan jika kau hanya mengalami luka kecil. Bukankah luka kecil juga bisa terasa perih dan sakit?"


Ariana sempat terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Mark. Lalu, Ariana tersenyum setelahnya. Ariana merasa tersentuh dengan semua perhatian yang Mark berikan padanya dan juga pada Emily. Namun, Ariana merasa belum siap untuk semua ini.


"Terima kasih untuk perhatianmu, tapi saat ini aku masih ingin seperti ini," ucap Ariana setelah tersenyum.

__ADS_1


"Tapi Kevin selalu ada di dekatmu dan masih bersikap seperti suamimu. Apa kalian berencana untuk ..." Mark menghentikan kalimatnya karena melihat raut wajah Ariana yang mulai berubah.


"Kenapa kau tidak melanjutkan kalimatmu? Apa aku terlihat seperti wanita yang tidak memiliki pendirian?" tanya Ariana.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ... aku benar-benar minta maaf." Mark sangat menyesali ucapannya tadi.


"Tidak apa-apa, orang-orang cukup sering mengatakan hal seperti itu sekarang. Tapi Mark, aku juga merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, tapi aku tidak bisa benar-benar memutuskan hubungan dengan Kevin karena ada Emily yang akan selalu menjadi pengikat di antara kami."


"Aku sungguh tidak bermaksud seperti ini, Ariana. Tolong maafkan aku." Mark rasanya ingin lenyap saja sekarang. Ia terlalu bersemangat untuk mendekati Ariana sampai tidak memperhatikan kata-katanya.


"Lupakan saja. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa itu berjalan baik?" Ariana mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya, itu berjalan baik." Mark menjawab dengan canggung. Ada banyak hal yang ingin Mark ketahui tentang kecelakaan Ariana, tapi semua pertanyaan itu harus tertahan karena kebodohannya.


"Permisi, apa kita bisa bicara sebentar?" lalu, tidak lama, seseorang tampak mendekati Ariana untuk mengajaknya bicara.


"Mina," ucap Ariana setelah melihat orang yang ingin bicara dengannya.


***


Sedangkan Ariana tidak tahu kenapa Mina tiba-tiba ingin bicara dengannya, padahal hubungannya dengan Mina tidak begitu dekat. Ariana hanya mengenal Mina sebagai istri Eric, tidak lebih dari itu. Jadi, Ariana penasaran dengan apa yang ingin Mina bicarakan, tapi dia masih saja diam.


"Ada apa, Mina? Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Ariana bahkan sampai harus bertanya pada Mina karena dia masih saja diam.


"Begini ..." Mina terlihat ragu untuk bicara.


"Kenapa kau terlihat ragu? Bicaralah dengan santai padaku."


"Sebagai wanita kau pasti peka jika ada pria yang menyukaimu sampai terus mengejarmu. Apakah aku benar?" kalimat ini akhirnya keluar dari bibir Mina.

__ADS_1


Ariana tampak tertegun selama beberapa saat, lalu menganggukkan kepalanya. Ariana tahu apa konteks pembicaraan Mina, apalagi kalau bukan Eric. "Ya, kau benar. Eric memang bersikap seperti yang kau pikirkan dan aku tahu dengan statusku saat ini sering membuat orang-orang berpikir yang tidak baik, tapi kau tidak perlu khawatir karena aku tidak akan merespon Eric. Aku juga akan lebih tegas padanya," ucap Ariana.


Mina menatap lekat Ariana selama dia bicara. Mina tidak pandai membaca ekspresi wajah seseorang, tapi ia merasa cukup melihat kalau Ariana adalah wanita yang bermoral dan memiliki harga diri yang tinggi. Walau ia pernah mendengar kabar kalau ibunya adalah seorang perebut suami orang dan orang bilang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tapi pada kenyataannya Ariana yang diselingkuhi oleh suaminya. Melihat hal itu membuat Mina menjadi lebih tenang.


"Aku minta maaf jika lancang seperti ini. Aku hanya khawatir pada pernikahanku yang baru seumur jagung akan hancur begitu saja. Aku juga tidak ingin berada dalam pernikahan yang seperti ini, tapi ibu Eric sangat mempercayakan Eric padaku dan aku juga mulai mencintainya bahkan jika dia terus bersikap dingin padaku." Mina sedikit menundukkan kepalanya di depan Ariana.


Ariana tidak akan menyalahkan Mina atas pembicaraannya kali ini, karena wajar jika seorang istri memiliki kekhawatiran seperti itu. Eric mungkin tidak menginginkan pernikahannya, tapi terlihat jelas betapa Mina ingin menjaga pernikahannya. Ariana bahkan merasa iri pada Mina karena dia bisa begitu dipercaya oleh ibu mertuanya. Mendapatkan ibu mertua yang baik, tapi suaminya yang bersikap tidak baik atau ada juga yang srbaliknya. Apakah itu disebut keseimbangan dalam hidup? Ataukah itu hanya kesengsaraan?


"Pasti ada alasan sampai ibu mertuamu begitu mempercayaimu. Kau harus menjaga kepercayaannya. Kepercayaan itu sangat mahal," ucap Ariana.


"Ya, ada alasannya," ujar Mina, tapi ia terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Tapi tolong jangan katakan pada Eric tentang pertemuan ini. Aku takut itu akan memperburuk hubungan kami," lanjut Mina.


"Jangan khawatir. Aku tidak akan mengatakannya."


Pembicaraan Ariana dan Mina pun selesai setelahnya. Ariana pergi meninggalkan cafe tempatnya bicara dengan Mina, lalu berjalan kaki sembari menikmati udara musim semi yang terasa hangat. Bunga sudah mulai bermekaran bahkan sudah ada yang gugur dan berterbangan di udara dengan begitu indahnya. Ariana tentu saja tidak sendiri karena di belakangnya ada pengawal yang selalu menjaganya.


Langkah Ariana terhenti, lalu ia menarik napas panjang. "Kenapa masalah ini seperti tidak ada habisnya? Aku sangat lelah," ucap Ariana setelahnya.


Ketika hembusan angin itu terasa semakin kencang, sebuah brosur terbang terbawa angin dan jatuh di kaki Ariana. Ariana mengambil brosur itu dan melihat kalau itu adalah sebuah brosur perjalanan wisata ke beberapa negara di Eropa. Namun, pandangan Ariana hanya terfokus pada satu negara, yaitu Swiss.


"Tempat itu indah. Apa kita bisa pergi ke sana?" Ariana kembali mengingat ucapan Emily belum lama ini setelah dia melihat iklan perjalanan wisata ke Swiss.


***


"Camila di temukan?" Fiona bertanya dengan penuh semangat ketika mendapatkan kabar dari orang suruhannya.


"Ya, dia bekerja di tempat pengolahan ikan. Dia menyewa tempat tinggal secara murah dan tempat itu terlihat sangat buruk bahkan seperti tidak layak ditinggali. Ini kota kecil, jadi cukup aman baginya untuk bersembumyi." Pria itu melapor pada Fiona.

__ADS_1


Fiona tersenyum, lalu menyeruput kopinya. "Kerja bagus. Terus awasi dia dan laporkan apa saja yang dia lakukan. Aku yang akan mengurus polisi, agar tidak menangkapnya dulu," ucap Fiona dengan seulas senyum jahatnya, lalu mematikan telepon dan melihat lagi foto terbaru Camila yang dikirimkan padanya.


"Mari lihat apa yang bisa kau lakukan pada Ariana. Jika kau bisa menyingkirkan Ariana, maka aku bisa memiliki Emily seutuhnya. Aku suda memberikan sedikit kejutan pada Ariana dan orang-orang berpikir kalau itu adalah perbuatanmu. Persis seperti yang aku inginkan," ucap Fiona lagi. Wanita ini semakin memperlihatkan senyuman jahatnya.


__ADS_2