
Saat Kevin mengajaknya keluar, Camila bisa merasakan kalau ada yang tidak beres dengan Kevin, apalagi saat melihat tatapan mata Kevin padanya, karena itulah Camila menolaknya. Namun, Kevin memaksanya bahkan sampai menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil. Camila sudah menolak sekuat tenaganya, tapi tenaga Kevin jauh lebih besar, dan pada akhirnya Kevin berhasil membawanya pergi.
Sepanjang perjalanan yang tidak tahu kemana, Camila terus bertanya pada Kevin akan kemana pria itu membawanya, tapi tidak pernah ada jawaban. Camila begitu ketakutan sekarang, tapi ia bahkan tidak bisa melarikan diri dari Kevin. Yang Camila pikirkan hanya satu, yaitu bagaimana jika Kevin melakukan sesuatu yang buruk pada bayinya?
Kevin benar-benar fokus pada tujuannya, bahkan mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa peduli pada Camila yang terus mengajaknya bicara. Kevin sudah cukup muak dengan wanita itu, karena ketika Camila mulai menjadi pembangkang dan menyebalkan, maka Kevin mulai kehilangan ketertarikannya.
Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan, mobil Kevin kini berhenti di sebuah tempat parkir bawah tanah. Kevin langsung turun dari mobil, lalu kembali menyeret Camila keluar, dan kali ini memaksanya masuk ke sebuah lift yang ada di sana.
"Kita akan kemana?" berulang kali kalimat ini keluar dari mulut Camila, tapi Kevin tidak pernah memberikan jawaban.
"Lepaskan saya, Tuan!" Camila menepis tangan Kevin dengam kasar dan pergelangan tangannya kini terbebas dari rasa sakit karena kuatnya cengkeraman Kevin. Namun, Camila tetap tidak bisa melarikan diri karena pintu lift yang telah tertutup rapat.
"Apa yang sebenarnya Anda lakukan? Anda tidak bisa melakukan ini kepada saya!" Camila meninggikan kalimatnya.
"Apa yang tidak bisa aku lakukan padamu? Aku bisa melakukan apapun!" Kevin akhirnya bicara untuk pertama kalinya.
"Apa Anda ingin melakukan hal buruk pada bayi kita?"
"Bayi kita? Memangnya aku pernah memintamu untuk hamil?" Kevin dengan cepat membalas ucapan Camila.
"Tapi bayi ini ..." kalimat Camila terhenti karena pintu lift yang telah terbuka dan Kevin kembali menyeretnya. Camila belum pernah melihat Kevin sekasar ini sebelumnya. Kevin terasa seperti orang asing atau memang ini dirinya yang sebenarnya?
Kevin membawa Camila melewati sebuah lorong yang terlihat seperti lorong rumah sakit, tapi lorong ini begitu sepi. Camila benar-benar ketakutan sekarang, apalagi setelah masuk ke sebuah ruangan yang ada di ujung lorong itu, sebuah ruangan yang dipenuhi oleh beberapa wanita. Lalu, Camila melihat seorang wanita yang mungkin seusia dengannya keluar dari salah satu kamar yang ada di ujung kiri tempat ini. Wajah wanita itu terlihat sangat pucat dan dia kesakitan sembari memegangi perutnya.
"Tempat apa ini?" gumam Camila.
__ADS_1
"Tempat untuk menggugurkan kandunganmu."
Camila sudah menduga semua ini, tapi ia masih saja terkejut saat mengetahui kalau pria yang selama ini memujanya, kini bertindak begitu kasar sampai ingin membunuh anaknya sendiri. Camila tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Camila tidak akan membiarkan Ariana semakin mengejeknya karena hal ini.
"Tuan Kevin, apa itu benar Anda?" seorang wanita dengan seragam khas perawat bertanya pada Kevin.
"Ya," jawab Kevin.
"Kalau begitu, mari masuk, Anda sudah ditunggu di sana," ucap wanita itu lagi.
"Saya tidak akan membiarkan Anda melakukannya! Lepaskan saya!" Camila berontak, tapi Kevin masih mencengkeram tangannya dengan erat.
"Aku akan memberikanmu imbalan, jadi kau tidak perlu khawatir." Kevin bicara dengan begitu santai sembari terus menyeret Camila masuk ke ruangan di mana tindakan yang begitu Camila takutkan akan terjadi.
Camila tidak peduli dengan imbalan, karena ia menginginkan lebih dari itu untuk membungkam mulut Ariana. Jika kandungannya sampai digugurkan dan ia mendapatkan imbalan, maka Camila tahu bahwa dirinya akan tetap menjadi wanita rendahan di mata orang lain, terutama Ariana. Camila menggigit tangan Kevin dengan cukup kuat, sampai genggaman itu terlepas dan setelahnya Camila dengan cepat melarikan diri dari Kevin.
***
"Jadi, aku kemungkinan besar akan mendapatkan hak asuh Emily?" di tempat lain, Ariana mendapatkan harapan besar saat berkonsultasi dengan seorang wanita yang akan ia tunjuk sebagai pengacaranya dalam proses perceraiannya nanti.
"Perceraian ini terjadi karena perselingkuhan dari pihak suami, jadi kesempatan itu akan terbuka lebar. Seorang suami yang berselingkuh dan menghancurkan rumah tangga akan dianggap kurang mampu untuk mengasuh seorang anak."
Ariana semakin melihat harapan itu, sekaligus melihat akan seperti apa masa depan Emily nanti. Ariana tahu betul bagaimana rasanya menjadi rebutan orang tua sendiri saat terjadi perceraian. Saat itu, semua itu terasa membingungkan dan terlihat begitu rumit, dan Emily akan merasakan hal itu dalam hidupnya.
Wanita bernama Laura dengan rambut sebahu dan berkacamata itu menatap lekat Ariana. Laura masih tidak percaya kalau Ariana akan datang ke tempat ini dan bicara dengannya. Siapa yang tidak tahu Ariana? Dia wanita dengan kehidupan yang terlihat begitu sempurna, tapi pada akhirnya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Wanita sekelas Ariana saja masih diselingkuhi. Laura benar-benar tidak mengerti kenapa ada begitu banyak pria yang tidak tahu diri.
__ADS_1
"Tapi hal pertama yang harus dilakukan adalah membuktikan perselingkuhan itu benar-benar terjadi. Apa ada bukti tentang perselingkuhan itu?" tanya Laura dan membuyarkan lamunan Ariana.
"Ada sebuah video yang diambil secara tidak sengaja dan memperlihatkan perselingkuhan itu. Wanita itu adalah pelayan, jadi pengasuh putriku dan seluruh pelayan di rumahku mengetahui semua perselingkuhan itu. Wanita itu juga sedang hamil saat ini. Putriku bahkan melihat suamiku keluar dari kamar bersama wanita itu." Sebenarnya, sulit bagi Ariana untuk mengatakan semua ini, tapi ia harus jujur, agar Laura bisa menyelesaikan semuanya dengan tepat.
Laura tampak begitu terkejut mendengarnya. Mendengar Ariana dikhianati di rumahnya sendiri dan putrinya melihat semua itu membuat Laura tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Ariana saat ini.
"Baiklah, aku akan membantumu," ucap Laura.
"Terima kasih." Ariana bicara singkat, lalu kembali terdiam setelahnya. Babak baru dalam hidupnya akan segera dimulai dan Ariana tahu ini tidaklah mudah karena tidak hanya Kevin, tapi ibu mertuanya pasti juga akan ikut ingin mengambil Emily darinya.
***
Di tempat lain, Fiona tampak sedang menatap foto Ariana bersama seorang pria yang dikirimkan oleh seseorang yang ia kirim untuk mengawasi Ariana. Fiona tidak akan melepaskan wanita itu sekarang. Fiona akan selalu mengawasi setiap gerak-gerik Ariana dan tidak akan membiarkannya menang lagi.
"Jadi, dia sudah mulai menemui pengacara. Namun, siapa pria ini? Mereka tampak dekat," gumam Fiona.
"Apakah saya harus mencaritahunya?" ucap sekretaris Fiona setelah mendengar gumamannya.
"Untuk apa? Aku sudah diberitahu kalau mereka terlihat seperti berpelukan karena Ariana hampir jatuh. Aku tidak akan membuang-buang waktu dengan hal tidak penting seperti itu. Kau awasi saja Kevin. Anak itu bodoh dan aku tidak ingin dia membuat masalah lagi." Tepat setelah Fiona bicara, terlihat seorang pria dengan setelah jas rapi masuk ke ruang perawatannya.
Pria itu adalah pengacara keluarga Fiona. Fiona memintanya datang untuk membicarakan hal penting tentang hak asuh Emily jika nantinya Ariana dan Kevin berpisah. Fiona sebenarnya merasa malu mengatakan semua ini, tapi tidak ada pilihan lain untuknya. Ariana harus segera berpisah dari Kevin, tapi hak asuh Emily tidak boleh jatuh ke tangannya. Ariana harus mendapatkan balasan atas tindakannya yang telah berani mempermalukan Fiona.
Setelah Fiona menceritakan semua permasalah yang terjadi di dalam rumah tangga Kevin dan Ariana, pengacara itu akhirnya berkata, "Maaf, Bu Fiona, sepertinya akan sulit bagi Pak Kevin untuk mendapatkan hak asuh atas putrinya, apalagi jika perselingkuhan itu bisa dibuktikan."
Fiona memejamkan matanya sejenak, mencoba menahan rasa marah akibat perbuatan bodoh Kevin. "Apa ada hal yang bisa membuat seorang ibu kehilangan hak asuh atas anaknya?"
__ADS_1
"Seorang ibu bisa kehilangan hak asuh anaknya jika dia berperilaku buruk, membuat anaknya berada dalam bahaya, atau masuk penjara."
"Masuk penjara?" Fiona kembali bergumam dan tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.