
Meski Camila telah cukup lama tinggal di rumahnya, Emily tidak begitu dekat dengan wanita itu. Dari semua pelayan yang ada di rumah, Emily hanya dekat dengan Wilda dan ia sering menghabiskan waktunya bersama Yuri, jadi aneh bagi Emily ketika melihat Camila yang tersenyum begitu lebar padanya. Walau polos, tapi Emily tidak akan lupa pada ingatannya tentang Camila yang keluar dari kamar bersama ayahnya dan juga perkataan Yuri, pengasuhnya yang saat ini Emily ketahui sedang pergi menemui keluarganya.
"Udara pagi ini sangat bagus untukmu, apa kau mau keluar mencari udara segar? Aku ingin kita menjadi semakin dekat karena ..." kalimat Camila tertahan karena seseorang dengan cepat menariknya menjauh dari Emily. Tarikan itu cukup kasar, begitu juga dengan cengkeraman tangan orang itu yang cukup membuat Camila meringis kesakitan.
Orang yang menarik Emily adalah Kevin, sebab ia merasa kalau Camila memiliki maksud yang tidak baik, apalagi kemarin ibunya datang, jadi bukan tidak mungkin mereka membuat kesepakatan. Melihat Camila tiba-tiba mendekati Emily saja sudah aneh dan ditambah dia menyapa Emily dan tersenyum padanya seolah telah begitu akrab dengan Emily.
"Apa yang kau lakukan? Kau begitu kasar seolah aku melakukan sesuatu yang buruk pada Emily." Camila terlihat kesal.
"Jauhi Emily atau kau akan tahu akibatnya!" Kevin memberikan ancaman yang begitu tegas, kemudian membawa Emily pergi menjauh dari Camila. Demi Tuhan, Kevin menjadi takut pada Camila setelah melihat cara dia menatap dan tersenyum pada Emily.
"Kau yang akan tahu akibatnya jika berani kasar lagi padaku," ucap Camila dan pandangannya hanya mengarah pada Kevin yang pergi sembari menggendong Emily.
"Ayah, Bibi itu membuatku takut." Emily bicara dalam gendongan ayahnya.
"Benar, dia memang menakutkan, jadi jangan dekat dengannya atau mendengarkan ucapannya. Dia seperti penyihir jahat dalam cerita dongeng yang pernah ayah bacakan untukmu. Penyihir yang sangat jahat, jadi pastikan kau akan selalu menjauh darinya." Kevin menjadi semakin yakin kalau Camila juga mengincar Emily untuk mendapatkan sesuatu. Melihat hal ini membuat Kevin semakin meyakinkan dirinya untuk membawa Emily menjauh dari rumah ini. Menyakitkan ketika membayangkan Emily jauh darinya, apalagi jika nanti hak asuhnya benar-benar jatuh pada Ariana, tapi Kevin juga tahu kalau rumahnya tidak lagi ramah untuk Emily.
"Ayah juga harus menjauh darinya. Aku tidak mau penyihir jahat itu mengambil Ayah karena Ibu dan aku akan sangat sedih."
Langkah kaki Kevin seketika terhenti setelah mendengar ucapan Emily. Dibandingkan hujatan yang ia terima dari orang-orang, ucapan polos Emily jauh lebih menusuk jauh ke dalam hati Kevin. Emily masih kecil sekarang, masih polos, jadi dia berpikir kalau hanya Camila yang jahat. Namun, saat Emily besar nanti dia pasti akan mengerti tentang kenapa semua ini terjadi. Bagaimana jika saat itu Emily membencinya? Apa ia akan sanggup menghadapi segala bentuk kebencian Emily padanya?
"Kenapa Ayah hanya diam saja?" ucap Emily sembari menyentuh wajah ayahnya.
"Penyihir jahat itu tidak akan mengambil Ayah, kan?" ucap Emily lagi.
"Tentu saja tidak." Kevin menunjukkan senyumannya, tapi jauh di dalam hatinya ia tidak bisa tersenyum saat ini. Kevin hanya bisa menyesali apa yang telah ia lakukan. Apakah sepadan menghancurkan keluarga ini demi kenikmatan sesaat? Kevin bahkan tidak mengerti kemana akal sehatnya saat itu?
"Ayo, kita temui ibu." Kevin kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari Ariana.
Setelah melihat Ariana, Emily buru-buru turun dari pelukan Kevin, lalu bertanya tentang origaminya. Melihat Emily yang begitu bersemangat membuat Ariana langsung mengambilkan origami yang telah ia simpan dengan baik. Ariana pun tampak tersenyum tipis saat melihat betapa bahagianya Emily saat menunjukkan bunga cantik hasil karyanya pada Kevin, sementara Kevin juga bahagia saat mendapatkan hadiah dari Emily.
Melihat kehangatan itu lagi membuat Ariana merasa semakin sakit ketika menyadari kalau rumah tangganya telah berada diambang kehancuran. Tidak akan ada lagi hari-hari dimana Kevin adalah orang pertama yang ia berikan kabar ketika hal baik terjadi padanya, tidak akan ada lagi ciumam hangat di pagi hari atau pelukan erat setelah pulang dari bekerja. Semuanya telah hilang dan Ariana tidak tahu butuh waktu berapa lama sampai ia bisa terbiasa dengan semua itu.
Walau dirinya terlihat kuat, tapi kadang Ariana meragukan kalau dirinya bisa hidup tanpa Kevin di sisinya. Sendiri itu rasanya begitu menyakitkan dan membuatnya takut, tapi Ariana juga tahu kalau dirinya akan tersiksa jika terus bersama Kevin. Apakah bodoh jika ia masih berharap kalau semua ini hanya sekadar mimpi?
__ADS_1
"Kemarin, aku membuat satu lagi, jadi Ayah, Ibu, dan aku punya masing-masing satu bunga mawar." Emily menunjukkan origami bentuk mawar berwarna kuning yang terlihat begitu cerah seperti senyumannya.
"Cantik sekali. Terima kasih. Ayah akan menjaga mawar ini dengan baik."
"Aku juga membuat bentuk hewan." Emily menunjukkan semua origami yang ada di dalam kotak itu.
Saat Kevin memberikan seluruh perhatiannya pada Emily, Ariana kembali melanjutkan aktivitas memasaknya yang kini telah sampai pada tahap menata makanan di atas piring. Ariana ingin mengalihkan perhatiannya dari segala momen yang hanya akan tinggal kenangan, tapi fokus Ariana kembali pecah setelah mendengar ucapan Kevin.
"Nanti, pergilah ke rumah kakek bersama ibumu dan tinggal di sana. Di sana, kau akan mendapatkan suasana baru yang menyenangkan. Kau mau, kan?" inilah yang Kevin katakan pada Emily.
"Kenapa aku harus tinggal di sana?" tanya Emily.
"Karena di sini ada penyihir jahat. Ayah akan mencari cara untuk mengalahkan penyihir jahat itu, jadi kau dan ibumu harus pergi ke sana agar kalian tidak terluka." Hanya jawaban ini yang bisa Kevin sampaikan pada Emily.
"Bagaimana jika Ayah yang terluka? Aku tidak mau Ayah terluka."
"Ayah kuat, jadi tidak akan terluka. Bukankah penyihir itu menakutkan? Apa kau mau disihir olehnya?" Kevin menatap Emily dan dia menggeleng.
"Kalau begitu, pergilah bersama ibumu. Jangan khawatir, ayah akan sering datang ke sana." Kevin meyakinkan Emily.
"Ya, dia penyihir yang sangat jahat."
"Kevin!" Ariana tiba-tiba bicara dan tatapannya menunjukkan kalau ia tidak suka jika Kevin mengatakan hal seperti itu pada Emily.
"Duduklah dulu. Ayah akan buatkan susu untukmu." Kevin menaikan Emily ke atas kursi, lalu ia mendekati Ariana.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku sedang membantumu untuk membujuk Emily. Apa aku melakukan kesalahan juga sekarang?" Kevin bicara pada Ariana.
"Tapi kau tidak perlu mengatakan hal seperti itu padanya."
"Tolong jangan mendebatkan ini sekarang. Camila mulai mendekati Emily, jadi sebaiknya kau tidak membawanya kembali ke rumah ini setelah dia kembali dari sekolah." Kevin hanya bicara singkat, lalu setelahnya membuatkan Emily susu.
"Dia mendekati Emily?" gumam Ariana.
__ADS_1
Di saat bersamaan, Ariana melihat Camila datang dan mengambil tempat di meja makan yang membuatnya duduk berhadapan dengan Emily. Camila lagi-lagi tersenyum pada Emily tanpa peduli pada Emily yang terlihat ketakutan.
"Ayo kita nikmati sarapan di taman sembari menikmati udara segar." Ariana pun langsung mengajak Emily pergi dengan membawa sarapan di tangannya. Ariana tidak akan membiarkan Camila mendekati putrinya.
Sedangkan Kevin tampak begitu marah karena ia menjadi semakin muak melihat tingkah Camila yang menjadi semakin tidak terkendali. Kevin mendekati Camila sembari memegang susu untuk Emily.
"Aku sudah memperingatkanmu, kan?" ucap Kevin.
"Apa aku melakukan kesalahan? Anak kita membutuhkan makanan, jadi aku datang ke sini untuk makan. Apa aku tidak boleh melakukannya? Kita setara sekarang, jadi aku tidak akan takut." Camila membalas ucapan Kevin.
Pada akhirnya, Kevin memilih untuk pergi karena merasa percuma saja bicara dengan wanita seperti Camila. Kevin akan membiarkan wanita itu bertingkah selagi dia bisa karena tidak ada yang tahu pasti berapa lama Camila bisa menikmati semua ini.
"Bukankah kita harus mulai mempersiapkan pernikahan kita?" ucap Camila, tapi Kevin terlihat tidak peduli.
Camila terlihat tersenyum walau Kevin mengabaikannya, sebab tujuannya sepertinya sudah hampir berhasil. "Semoga saja Ariana dan anaknya cepat pergi dari sini. Mereka hanya pengganggu saja," ucap Camila sembari tersenyum.
***
Dan begitulah waktu berlalu, Emily menghabiskan waktunya di rumah kakeknya dengan kepercayaan kalau ayahnya sedang melawan Camila yang terlihat menakutkan sampai disebut penyihir jahat. Ayahnya sesekali datang dan sejauh ini Emily merasa semuanya baik-baik saja, tapi ia sering kesal karena ayahnya yang tidak bisa menginap dengan alasan pekerjaan.
Proses perceraian Ariana dan Kevin pun terus berjalan sampai akhirnya mereka dinyatakan resmi bercerai dan hak asuh Emily jatuh ke tangan Ariana seperti yang sudah diduga sebelumnya. Fiona tentu kesal dengan hal itu, apalagi saat melihat Kevin yang tidak melakukan usaha apa-apa untuk mendapatkan hak asuh Emily sejak awal proses perceraian dimulai. Namun, Kevin tidak menggubris kemarahan ibunya karena ini telah menjadi keputusannya.
Dari awal, Ariana dan Kevin telah sepakat agar berita perceraian ini tidak tersebar ke publik karena terasa begitu melelahkan ketika harus menghadapi semua pertanyaan dari wartawan di tengah proses yang menguras emosi itu. Karena itulah, kini Kevin dan Ariana bisa menyampaikan perpisahan dengan penuh keheningan.
Kevin berdiri di depan Ariana dengan raut wajah yang menahan begitu banyak penyesalan. Kevin ingin menangis saat ini karena ia harus benar-benar merelakan Ariana pergi dari hidupnya, tapi Kevin menahan tangisannya agar bisa bicara dengan benar.
"Aku meminta maaf karena telah membuat kita berakhir seperti ini," ucap Kevin.
Ariana telah berjanji pada dirinya untuk menjadi lebih tegar, jadi ia bisa terlihat lebih berani saat menghadapi semua ini. Ariana terlihat menarik napas panjang, lalu menghembuskannya, dan berkata, "Di masa depan, kau harus memikirkan dengan matang setiap keputusanmu, agar tidak ada penyesalan. Kau juga tidak perlu khawatir tentang Emily karena aku pasti akan menjaganya dengan baik dan kau bisa menemuinya kapan saja."
Kevin tidak mengkhawatirkan Emily yang berada dalam pengawasan Ariana karena ia yakin kalau Ariana akan selalu memberikan yang terbaik pada Emily. Pada akhirnya, Kevin hanya bisa mengkhawatirkan dirinya yang tidak tahu bagaimana cara bertahan di tengah rasa penyesalan ini. Sekilas bermain api memang tampak menyenangkan karena api yang kecil bisa memberikan kehangatan saat udara dingin datang, tapi setelah api itu membesar dan saat kobarannya tidak bisa diatasi, maka api akan membakar habis siapa pun yang memainkan api itu.
"Kau memang bukan sosok suami yang baik, tapi aku tahu kau bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk Emily. Aku masih menaruh kepercayaan padamu untuk hal itu, jadi tolong dijaga," ucap Ariana lagi dan setelah itu pergi dengan mobilnya.
__ADS_1
Air mata Kevin akhirnya jatuh walau telah berusaha ditahan. Kevin kini berteriak, lalu memukul dan menendang mobilnya berulang kali. Kini, semuanya telah berakhir. Wanita yang dulu ia perjuangkan mati-matian, kini pergi karena kebodohannya. Kevin benar-benar mengutuk dirinya sendiri atas perbuatan itu.
Sementara Ariana juga menangis bahkan setelah ia mencoba untuk tegar, karena tidak pernah terpikirkan oleh Ariana akan tiba saat seperti ini dalam hidupnya. Di sisi lain, Camila terlihat begitu bahagia saat mencoba gaun pengantinnya.