Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 37 [Akhirnya Dari Sebuah Kisah]


__ADS_3

Supir taksi itu mengatakan kalau Kevin yang sedang dalam keadaan mabuk meminta untuk diantarkan ke alamat ini. Ariana yang mendengar hal itu tidak bisa berbuat apa-apa, sebab supir taksi buru-buru pergi setelah menerima telepon kalau anaknya sakit, jadi tidak mungkin memintanya untuk mengantar Kevin ke rumah dia yang sebenarnya.


Pada akhirnya, Ariana membawa Kevin masuk ke dalam rumahnya. Ariana mendudukkan Kevin di sofa, lalu menatapnya dengan lekat. Kacau, hanya itu yang bisa Ariana lihat dari Kevin. Ariana juga tidak mengerti kenapa Kevin malah datang ke sini? Apa karena dia mabuk? Tapi dia bahkan masih mengingat alamat rumah ini saat sedang mabuk.


"Ariana ..." Kevin meraih tangan Ariana, menariknya mendekat, lalu ia peluk pinggang wanita itu dengan sangat erat. Kevin mulai menangis dengan kepala yang bersandar di perut Ariana.


"Aku meminta maaf untuk semuanya. Aku salah. Aku tidak akan mengulanginya, jadi jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu. Aku tidak bisa kehilanganmu," ucap Kevin sembari terus menangis. Tampak seperti anak kecil yang merengek agar tidak ditinggalkan oleh ibunya.


"Kevin ..." Ariana mencoba melepaskan pelukan Kevin, tapi gagal karena pria itu memeluknya dengan begitu erat.


"Aku minta maaf. Aku mohon, tolong maafkan aku." Kevin terus mengucapkan kata yang sama. Itu terjadi terus menerus dan Ariana hanya mendengarkan saja.


Ariana hanya terdiam menatap Kevin yang terus meminta maaf seolah itu bisa menyembuhkan luka yang telah dia berikan. Apa artinya permintaan maaf saat ini? Kevin seharusnya memikirkan semua ini sebelum mengkhianatinya. Kevin memberikan rasa sakit yang paling ia hindari dalam hidupnya.


Kevin adalah orang yang paling tahu betapa besar usahanya untuk lepas dari trauma atas perbuatan ibunya di masa lalu dan betapa keras usahanya untuk membuktikan diri kalau ia berbeda dari ibunya, tapi bukannya membantunya sembuh dari trauma seperti yang pernah dia katakan, Kevin malah menambah traumanya.


Mudah untuk mengatakan cinta, tapi tidak semua orang bisa berkomitmen dalam cinta itu. Berkhianat seolah selalu lebih mudah dari pada menyelesaikan masalah yang ada dalam sebuah hubungan, lalu menyesal setelahnya. Memuakkan sekali rasanya saat Ariana memikirkan hal itu sampai membuat ia bisa melepaskan pelukan Kevin.


"Kisah kita sudah selesai dan kau yang membuatnya selesai, jadi terimalah akhirnya. Jangan membuatku terlihat seperti orang jahat yang tidak bisa memaafkanmu. Bahkan jika aku memaafkanmu, kita tidak akan seperti dulu. Bukalah lembaran dalam kisah barumu, bukannya terus meminta maaf atau mencoba membuat ulang akhir kisah kita karena itu tidak akan berguna," ucap Ariana dan Kevin tampak berdiri setelah ia bicara.


Kevin tampak kesulitan untuk berdiri dengan tegak karena berada dalam pengaruh alkohol, tapi ia memaksakan sampai harus meraih tangan Ariana agar tidak jatuh. Kevin menatap lekat Ariana dan berkata, "Bukankah selalu ada kesempatan kedua?"

__ADS_1


"Dulu, aku sudah pernah mengatakan padamu, sekali kau menyakitiku, maka semuanya akan selesai. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku dan kau menyakitiku dengan sepenuh hatimu. Kita juga sudah sepakat untuk bercerai, lalu kesempatan apa lagi yang kau inginkan? Kau bahkan begitu marah saat melihatku bersama Mark meski kami tidak memiliki hubungan apa-apa, kau juga menyakitiku dalam kemarahanmu. Jika kenyataan seperti itu saja sudah sangat menyakitimu, lalu bagaimana denganku? Apa kau bisa merasakan rasa sakitku?" Ariana membalas ucapan Kevin sembari menatapnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


"Kau istirahatlah di sini untuk malam ini, lalu pulang besok setelah bertemu dengan Emily. Emily terus menangis karena ingin bertemu denganmu, tapi aku tidak bisa menghubungimu. Selamat beristirahat." Ariana ingin pergi setelah ia kembali bicara, tapi Kevin lagi-lagi menariknya agar mendekat bahkan kali ini mencium bibirnya.


Kevin mendekap Ariana dengan begitu erat, tidak ingin melepaskannya walau hanya sesaat. Ia memang setuju untuk bercerai bahkan tidak mempersulit prosesnya, tapi itu karena keterpaksaan. Kalau sejak awal, Kevin tahu kalau Eric yang membantu Camila, maka ia tidak akan melepaskan Ariana dengan mudah. Eric berhasil membuat Camila menjadi tokoh penting yang menentukan baik atau buruknya ia di mata orang lain dan ia kesulitan menemukan jalan keluar dari masalah itu.


Ariana mencoba melepaskan diri dari Kevin, tapi pria itu malah menjatuhkannya ke sofa, lalu menindihnya hingga tidak bisa melarikan diri. Ariana tidak ingin tersesat dalam napsu Kevin, jadi berusaha melepaskan diri, tapi kini Kevin berhasil menahan kedua tangannya di atas kepalanya dan kembali mencium bibirnya. Ciuman Kevin kini turun ke leher Ariana, memberikan kecupan dan tangannya terus menahan tangan Ariana agar dia tidak berontak.


Saat Kevin menciumnya yang ada di bayangan Ariana adalah ketika dia mencium Camila, lalu terjadi sesuatu yang lebih sekadar ciuman. Ariana merasa sangat jijik sampai membuatnya mendapatkan kekuatan untuk melepaskan diri dari Kevin bahkan sampai menamparnya dengan keras.


"Menjijikan sekali. Berani sekali kau melakukan itu padaku!" bentak Ariana sembari mengusap bibirnya dengan cukup kasar. Ariana yang tidak tahan lagi kini memaksa Kevin keluar dari rumahnya dan setelahnya menutup pintu dan menguncinya. Ariana ingin berbaik hati dengan memberikan tempat istirahat sementara pada Kevin, tapi ia telah melakukan kesalahan. Seharusnya ia tidak pernah membiarkan pria itu masuk ke rumahnya.


"Supir pasti sudah pulang sekarang, tapi tolong kirim siapa pun untuk menjemput Kevin. Dia ada di depan rumahku dan dalam keadaan mabuk. Aku tidak bisa menerimanya di sini. Aku mohon." Dan Ariana langsung menelepon Wilda setelahnya.


***


"Kenapa kau pergi ke rumah Ariana? Rumahmu di sini, bukan di sana!" kalimat ini keluar dari bibir Camila begitu Kevin sampai di rumah setelah dijemput dari rumah Ariana. Bahkan saat sedang mabuk Kevin malah mengingat alamat rumah Ariana, bukan alamat rumahnya sendiri. Kevin telah merusak kebahagiaannya hari ini.


"Biarkan Tuan Kevin istirahat. Kalian bisa bicara besok," ucap Wilda sembari membantu Kevin berbaring di kasur.


"Aku ingin bicara sekarang, bukan besok. Jadi, pelayan harus pergi sekarang!" Camila menekankan kalimatnya pada Wilda.

__ADS_1


Wilda yang baru saja mendudukkan Kevin di kasur, kini menatap ke arah Camila yang telah berani bicara kasar padanya. Wanita itu menjadi lebih tidak tahu malu setelah secara resmi menjadi calon istri Kevin. Namun, Wilda tidak akan menghormatinya seperti ia menghormati Ariana. Wilda bahkan berniat untuk berhenti dari pekerjaannya. Wilda tidak lagi menemukan ketenangan di rumah ini setelah Ariana pergi, jadi ia tidak ingin bertahan lagi.


"Seperti inilah hidupmu, Camila. Apakah ini yang kau sebut sebagai cinta? Kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri," balas Wilda.


"Kau tahu apa tentang hidupku? Tidak ada yang tahu seperti apa hidupku, selain diriku sendiri. Keluar sekarang!" Camila meninggikan suaranya.


Wilda yang sudah muak menghadapi Camila akhirnya memilih untuk pergi. Wilda sebenarnya khawatir jika Camila terus bicara dengan nada seperti itu pada Kevin. Bagaimana jika Kevin yang saat ini mabuk menjadi nekat karena marah? Tapi sudahlah, Camila tampak seperti dia bisa menghadapi apapun. Kesombongan dan ambisi Camila mungkin bisa menjadi kekuatan untuknya.


Kevin yang masih duduk di pinggir ranjang tampak menoleh pada Camila yang kini menatap ke arahnya. Kevin benar-benar muak melihat wajah Camila. Apa ia sungguh harus menikahi Camila? Kutukan macam apa itu?


"Kau dan Ariana telah resmi bercerai, jadi untuk apa kau pergi ke rumahnya? Aku calon istrimu dan aku ingin kau bersikap seperti dulu. Mana ada cinta yang bisa menghilang begitu cepat?" ucap Camila lagi.


"Keluar dari kamarku sebelum aku marah." Kevin memberikan tatapan tajamnya.


"Kau selalu menganggapku tidak tahu malu karena masih saja mengejarmu bahkan setelah kau campakkan, tapi lihatlah dirimu, kau sudah dibuang oleh Ariana, tapi masih saja mengejarnya. Bukankah kita sama?"


Kemarahan Kevin nyaris tidak tertahankan sekarang. Pria ini bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Camila. "Berani sekali kau mengatakan aku telah dibuang. Menjadi calon istriku tidak seketika menghilangkan identitas aslimu. Kau masih pelayan kelas rendahan, tapi sudah berani bicara seperti itu padaku."


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau yang memilihku dan membawaku masuk ke dalam hidupmu, jadi berhentilah menjadi pengecut dan terima kenyataan kalau kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."


"Berani sekali kau memberikan perintah padaku!" Kevin telah kehilangan kesabarannya. Pria ini terlihat begitu marah hingga tidak ragu untuk mencekik Camila.

__ADS_1


Camila tidak menduga kalau Kevin akan menjadi segila ini padanya. Camila mencoba melepaskan diri dari Kevin, tapi usahanya tidak berhasil dan ia mulai kehabisan napas. "Mari hentikan semua ini sekarang. Aku tidak akan menikahimu bahkan sampai di kehidupan berikutnya, tapi aku pasti memberikan pemakaman yang layak untukmu." Dan Camila bisa mendengar Kevin mengatakan kalimat itu padanya.


__ADS_2