
Ariana tentu saja panik saat Emily hilang dari pandangannya dan pengawasannya, begitu juga dengan Mark. Mereka mencari dengan meminta bantuan pada orang-orang, tapi masih juga tidak berhasil menemukan Emily.
Ariana hampir menangis saat ini dan ia terduduk di bangku setelah mencari Emily ke sana kemari, sedangkan Mark masih terus berusaha mencari keberadaan Emily dengan bertanya pada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Ketika ketakutan itu mulai menyusup ke dalam hati Ariana dan Mark, Tina, asisten Ariana datang dengan menggandeng tangan dua anak kecil di sisi kiri dan kanannya. Tina datang bersama seorang laki-laki dan satu lagi anak perempuan dan anak perempuan itu adalah Emily. Ariana langsung memeluk erat Emily dan Mark pun menghela napas lega saat melihat Emily akhirnya ditemukan.
"Saat sedang berjalan-jalan bersama keponakanku, aku melihat Emily sendirian dan dia seperti kebingungan, jadi aku mendekatinya. Setelah mengetahui apa yang terjadi, aku mencoba menghubungi Kakak, tapi Kakak sepertinya sangat panik sampai tidak menjawab teleponku." Tina menceritakan secara singkat apa yang telah terjadi.
"Terima kasih, Tina. Aku sangat berterima kasih padamu." Ariana sempat memeluk Tina dengan sangat erat.
"Emily juga panik tadi, tapi aku senang akhirnya bisa menemukan Kakak. Semuanya telah baik-baik saja sekarang." Tina tampak menenangkan Ariana.
"Kalau begitu, bagaimana kita makan bersama sekarang? Untuk memulihkan suasana hati dari kepanikan," ucap Mark dan mendapatkan persetujuan dari semuanya.
***
Satu hal yang tidak Ariana duga dari Fiona adalah kalau wanita itu ternyata mengawasi setiap gerak-geriknya, sampai dia begitu cepat menerima informasi kalau Emily sempat hilang saat di kebun binatang, padahal Fiona tidak ada di sana, tapi dia bisa tahu detail kejadiannya. Untuk pertama kalinya Ariana merasa takut pada Fiona, sebab Ariana memiliki trauma dengan penguntit. Dulu, saat masa kuliah, Ariana pernah diikuti oleh seseorang, tapi beruntung Kevin menolongnya dan dari sanalah semuanya berawal.
Ariana langsung mendapat kata-kata pedas Fiona begitu tiba di rumah sakit, beruntung Emily audah lebih dulu masuk ke ruang perawatan Kevin, jadi dia tidak akan mendengar kata-kata yang tidak seharusnya didengar oleh anak seusianya.
"Baru pendekatan dan sudah terjadi masalah seperti ini. Bagaimana jika kau sungguh pacara dengannya? Kau bisa saja melupakan atau mengabaikan Emily. Ibu macam apa kau? Emily bersamamu, tapi kau bisa hampir kehilangan dia. Bagaimana jika tidak ada yang menemukan Emily? Entah akan seperti apa nasib cucuku. Kau memang ibu yang tidak bertanggungjawab!"
Ariana terus menatap Fiona dari awal dia mulai bicara sampai dia menyelesaikan kalimatnya. Ariana mendengarkan semuanya karena itu memang salahnya, ia salah karena ceroboh, tapi pengawasan yang Fiona lakukan padanya benar-benar membuatnya takut.
__ADS_1
"Ya, saya salah karena ceroboh, tapi hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Namun, tolong berhenti mengikuti, mengawasi atau bahkan menguntit saya. Tindakan itu sangat memalukan." Ariana akhirnya buka suara.
"Kenapa? Apa kau takut kalau aku akan tahu tentang rencanamu untuk menjauhkan Emily dariku dan Kevin? Kau selalu bersikap seakan-akan kau adalah wanita baik, tapi itu bukanlah dirimu yang sebenarnya, kau hanya terobsesi menjadi baik untuk menunjukkan kalau kau berbeda dari ibumu." Fiona mencoba mengintimidasi Ariana.
Ariana sempat terdiam dam terlihat mengepalkan tangannya. Ariana kini maju agar semakin dekat dengan Fiona, lalu berkata, "Baguslah jika Anda tahu kalau saya tidak sebaik yang terlihat, jadi Anda bisa lebih berhati-hati sekarang. Saya benar-benar mencoba untuk bersabar, tapi setiap orang punya batas kesabaran, begitu juga dengan saya." Ariana tidak akan membiarkan siapa pun mengintimidasinya bahkan jika ia sedang ketakutan. Ariana sempat menatap Fiona selama beberapa saat dan setelahnya pergi menyusul Emily yang tadi pergi bersama Wilda.
"Masih berpura-pura kuat bahkan saat ketakutan itu terlihat jelas dari wajahmu. Menarik sekali," gumam Fiona sembari menunjukkan senyum jahatnya.
Sementara itu, di dalam, Kevin tampak sedang menenangkan Emily yang menangis setelah mengetahui keadaannya. Kevin terus mengatakan pada Emily kalau ia baik-baik saja sekarang dan lukanya akan segera sembuh.
Emily yang berbaring di sebelah Kevin, kini memeluk lengan Kevin dengan sangat erat. Emily masih terus menangis dan itu adalah bentuk rasa sayangnya pada sang ayah. Wilda yang melihat kesedihan Emily ikut meneteskan air matanya, tapi dengan cepat ia mengusapnya. Di saat bersamaan, Wilda melihat Ariana yang baru saja masuk, pandangan Ariana pun langsung mengarah pada Kevin dan Emily.
"Bagaimana dengan Camila?" Wilda bertanya pada Ariana.
Wilda sampai menutup mulutnya karena begitu terkejut mendengar jawaban Ariana. Jadi balas dendam adalah alasan di balik semua ambisi, keberanian, dan kegilaan Camila. Awalnya, Wilda bertanya-tanya dari mana Camila mendapatkan semua sifatnya dan inilah jawabannya.
"Dia telah mendapatkan balasannya sekarang," ucap Wilda setelah bisa mengendalikan dirinya.
"Ya." Ariana bicara dengan tidak yakin. Camila memang ada di penjara saat ini, tapi penjara tidak akan bisa meredam dendam di dalam hati Camila. Ariana yang awalnya tidak ingin takut, kini menjadi khawatir jika nantinya Camila bebas dan dendamnya kembali meledak.
***
Saat keadaan Emily lebih tenang dan dibawa keluar oleh Wilda, barulah Ariana dan Kevin mendapatkan kesempatan untuk bicara berdua saja. Kevin ingin tahu apa saja yang Ariana temukan tentang Camila dan Ariana menceritakan semuanya, tanpa terkecuali karena tidak ada gunanya menyembunyikan hal itu.
__ADS_1
"Jadi, dia sengaja mendekatiku karena ingin balas dendam padamu?" ujar Kevin.
"Ya dan kau menyambutnya dengan baik, jadi misi Camila telah berhasil. Apa kau kecewa karena sejak awal dia tidak tulus padamu?" balas Ariana.
Sial, Kevin tidak akan melepaskan Camila. Wanita itu tidak akan keluar dari penjara dengan begitu mudahnya setelah menghancurkan hidupnya seperti ini, apalagi sampai berani menusuknya. Benar-benar wanita pembawa sial, pikir Kevin.
"Aku tidak kecewa dan aku tidak perlu merasakannya. Aku hanya menyesal pernah bermain-main dengannya sampai menghancurkan pernikahan kita. Maafkan aku. Aku benar-benar menyesalinya." Kevin berpikir, apakah tidak ada jalan untuk kembali setelah Ariana mengetahui maksud dari Camila?
"Ya, aku memaafkanmu dan setelahnya ayo hidup dengan tenang. Aku benar-benar lelah dengan semua ini, jadi tolong biarkan aku menjalani hidupku seperti yang seharusnya." Ariana tampak memohon, sebab ia yakin kalau Kevin dan ibunya, terutama ibunya tidak akan menyerah begitu saja terhadap Emily, apalagi setelah tahu kedekatan Emily dan Mark.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Aku tahu kalau ibumu masih berambisi ingin mengambil Emily untuk dia kuasai sendiri, karena itulah ibumu mengirim orang untuk menguntitku. Ibumu ...."
"Jadi kau mulai mengadu sekarang? Kenapa tidak sekalian katakan kalau Emily sempat hilang dan nyaris tidak kembali karena kecerobohanmu dan pria itu? Dia pasti terlalu asik dengan pria itu." Fiona datang dan menyela kalimat Ariana.
"Apa?" Kevin terkejut mendengar ucapan ibunya.
"Ya, itu adalah kesalahanku. Terjadi kekacauan di sana karena seorang buronan yang masuk ke kebun binatang, lalu Emily sempat terlepas dariku. Aku mengakui kalau itu adalah kesalahanku." Ariana dengan cepat membalas ucapan Fiona.
"Ibu, aku ingin bicara berdua saja dengan Ariana," ucap Kevin yang tidak melepaskan pandangannya dari Ariana.
"Kevin ...."
__ADS_1
"Aku mohon, Ibu." Kini Kevin yang menyela kalimat ibunya.