Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 52 [Ada Apa Dengan Kevin?]


__ADS_3

"Apa? Ariana akan datang ke kota ini? Wah, keberuntungan macam ini?" Camila tampak tersenyum saat melihat berita tentang Ariana yang akan datang ke kota tempatnya bersembunyi untuk melakukan syuting. Lokasinya memang tidak persis di tempat Camila tinggal, tapi lokasinya cukup dekat dari tempatnya tinggal. Camila hanya perlu mencari informasi penginapan Ariana dan segala kegiatannya. Sepertinya itu tidak akan sulit, pikir, Camila.


"Apa ini sungguh keberuntungan? Padahal biasanya keberuntungan tidak pernah berpihak padaku," ucap Camila lagi, lalu ia meneguk bir hingga tersisa setengah kaleng.


Entah keberuntungan atau tidak, Camila tidak akan peduli. Ini adalah kesempatan yang mungkin datang sekali seumur hidup, jadi ia harus memanfaatkannya. Ariana yang seolah datang padanya dan dia harus disingkirkan saat itu juga.


***


Karena akan berangkat besok, maka Ariana tampak mulai mengemasi barang-barang yang ia bawa ke lokasi syuting. Ariana tidak hanya mengurus keperluan pribadinya, sementara untuk pekerjaan Tina telah mengaturnya. Ariana sudah menceritakan hal ini pada Emily dan beruntung Emily tidak masalah dengan hal itu.


Ariana kini duduk di sofa, lalu mengambil ponselnya dan mencari lagi di internet tentang tempat yang akan ia kunjungi besok. Karena tempat itu adalah tempat wisata yang sedang naik daun, jadi ada beberapa informasi terbaru tentangnya.


"Tempat yang bagus," gumam Ariana.


Di saat bersamaan, Ariana mendengar suara bel rumahnya. Ariana pun segera bangun untuk melihat siapa yang datang dan orang itu adalah Mark. Sejak pertemuan di cafe beberapa hari yang lalu, Ariana memang belum pernah lagi bertemu dengan Mark karena kesibukan masing-masing.


Akhir-akhir ini, Mark sering pergi ke luar kota dan itu membuatnya sulit karena ia tidak memiliki banyak waktu untuk memperbaiki kesalahannya sebelumnya. Walau Ariana terlihat biasa saja, tapi Mark sadar betul kalau ia telah menyinggung perasaan Ariana.


"Kapan kau kembali?" tanya Ariana yang cukup terkejut melihat kedatangan Mark.


"Baru saja. Aku datang karena melihat iklan acaramu. Jadi, kau akan pergi besok?"


"Ya, aku akan pergi besok. Kau ada perlu apa sampai ke sini padahal kau baru saja tiba dari luar kota?"


"Aku masih memikirkan pembicaraan kita saat itu. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku minta maaf." Mark tidak mengerti kenapa ia bisa termakan api cemburu padahal ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Ariana.

__ADS_1


Ariana bahkan sudah nyaris melupakan hal itu karena terlalu sibuk dan ada masalah lain yang ada di depan matanya. Ucapan atau pandangan orang lain memang tidak bisa diabaikan begitu saja, tapi Ariana juga tidak ingin terjebak dalam lingkaran itu. Selama hidupnya, Ariana telah banyak mendengarkan ucapan buruk orang lain tentang dirinya, rasanya tentu saja menyakitkan, tapi semua itu tidak akan bisa menghentikannya.


"Selama kau hanya fokus pada dirimu sendiri, bukankah itu sudah cukup? Hidup ini sangat singkat, jadi jangan dihabiskan untuk peduli pada ucapan buruk orang lain. Kedua tanganmu tidak akan bisa menutup mulut semua orang, tapi kau bisa menutup kedua telingamu. Seperti itulah cara kita bertahan hidup." Ariana kembali mengingat ucapan Lily, sosok yang ia datangi ketika harinya telah terasa begitu berat. Ariana tidak menduga kalau hubungannya dan Lily akan sedekat ini, tapi ia benar-benar bersyukur karena memiliki hubungan yang hangat seperti itu dengan Lily.


Ariana tersenyum dan berkata, "Sudahlah, aku sudah nyaris melupakannya. Apa kau datang hanya untuk mengatakan itu? Kau seharusnya tidak melakukannya."


Mark kini mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu diberikan pada Ariana. "Sebenarnya, aku juga ingin memberikan ini padamu." Mark memberikan sebuah pena pada Ariana. Bukan pena biasa, tapi itu adalah pena dengan model serupa dengan pena milik yang dulu Mark hilangkan saat study tour sekolah.


Pena itu memiliki arti yang mendalam untuk Ariana. Ayah Ariana percaya kalau pena itu membawa keberuntungan, jadi diberikan pada Ariana, tapi ia malah menghilangkannya dan Mark merasa sangat bersalah atas hal itu. Mark memcoba membeli pena dengan model yang sama, tapi pena seperti itu sudah lama berhenti diproduksi. Bertahun-tahun Mark mencari dan baru sekarang ia temukan setelah tidak sengaja bertemu dengan seorang pria dan dia memiliki pena itu. Mark pun membeli pena itu untuk Ariana.


"Kenangannya tidak sama, tapi aku harap kau bisa menerimanya," ucap Mark setelah Ariana melihat pena itu.


"Apa selama ini kau tetap mencari pena yang seperti ini?" tanya Ariana.


"Ya, tapi aku baru menemukannya sekarang. Walau kau sering berkata tidak apa-apa untuk beberapa hal, termasuk saat aku menghilangkan pena itu, tapi aku tahu kau sangat terluka. Maafkan aku karena telah menghilangkan kenang-kenangan dari ayahmu."


"Tidak apa-apa, semuanya terbayar setelah aku berhasil menemukan pena itu. Kau harus menjaganya dengan baik."


"Terima kasih. Aku pasti akan menjaganya dengan baik," ucap Ariana.


Di sisi lain, Kevin yang baru saja tiba bersama Emily. Hari ini, Kevin mengatakan akan menjemput Emily, karena itulah Ariana tetap di rumah. Kevin tidak tahu pasti kenapa Mark datang, tapi ia melihat kalau Mark sepertinya memberikan sesuatu pada Ariana. Apa itu pena? Pikir Kevin.


"Paman Mark." Emily pun langsung berlari ke arah Mark. Sedangkan Mark tentu merendahkan tubuhnya untuk menyambut pelukan dari Emily.


"Apa dia yang memberikan pena itu?" Kevin bertanya pada Ariana.

__ADS_1


"Ya," jawab Ariana dengan sangat singkat. Ariana pernah menceritaakn tentang pena itu pada Kevin dan dia juga mencoba mencarinya, tapi Ariana tidak pernah menerima pena itu dari Kevin.


"Aku bahkan tidak bisa menemukannya," ucap Kevin dengan nada pelan, tapi Ariana bisa mendengarnya.


"Tidak apa-apa. Kau sudah bekerja keras." Hanya ini yang bisa Ariana katakan pada Kevin.


Walau ingin lama di tempat Ariana, tapi Mark harus pergi karena ada pekerjaan lagi. Jadwal Mark memang cukup padat selama beberapa hari ke depan dan kalau saja tidak, maka Mark pasti akan pergi menyusul Ariana karena ia khawatir, sebab Camila belum ditemukan.


Kini, hanya tersisa Kevin yang sedang bicara pada Ariana, sedangkan Emily tampak bermain dengan anjing peliharaannya yang kini sudah besar. Kevin tetap di sini di tengah kesibukannya karena ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan pada Ariana, yaitu beberapa foto rumah yang ada di ponselnya.


"Menurutmu, mana yang cocok untuk Emily?" tanya Kevin sembari menunjukkan foto itu.


"Untuk Emily? Apa kau ingin membelikan Emily rumah?" Ariana terlihat terkejut.


"Kau bilang, ingin membawa Emily ke Swiss dan ini beberapa pilihan rumah untukmu dan Emily. Aku sudah menerima informasi tentang semua rumah ini dan cocok untuk Emily, tapi aku masih bingung harus memilih yang mana. Apa sebaiknya kita tanyakan pada Emily?"


Ariana benar-benar bingung dengan sikap Kevin yang satu ini. Kenapa dia menjadi begitu bersemangat?


"Apa ada sesuatu di balik semua ini?" tanya Ariana.


Kevin sempat terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Ini untuk Emily, apakah kau tidak bisa menerinya?"


"Itu bukan jawaban. Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" Ariana kembali bertanya karena tidak puas dengan jawaban Kevin.


"Aku merencanakan hal baik. Percayalah padaku. Jadi, menurutmu rumah yang mana cocok untuk Emily?" Kevin kembali bertanya, tapi Ariana sudah tidak tertarik dengan ini lagi.

__ADS_1


"Apa kau masih berusaha membuat akhir yang lain?" Ariana kembali bertanya pada Kevin.


"Mungkin sebuah epilog?"


__ADS_2