
Camila berharap Ariana tidak akan kembali lagi ke sini, tapi sepertinya dia perlu membicarakan masalah perceraian dengan Kevin, karena itulah dia pulang. Camila tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan, tapi semuanya telah terjadi dan ia tidak ingin kalah dengan Ariana. Ariana telah begitu banyak merendahkannya, padahal dia juga salah karena tidak bisa menjaga suaminya dengan baik.
Wilda yang melihat ketegangan di antara Ariana dan Camila langsung bergerak untuk mengambil Emily dan mengajaknya pergi untuk bermain dengan anak anjing yang cukup lama dia tinggalkan. Wilda tidak mau Emily terpengaruh oleh aura negatif Camila.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk tidak memakai seragam pelayan? Kau memang mengandung anak Kevin, tapi saat ini kau masih pelayan dan aku masih Nyonyamu. Aku tidak memberi izin untuk masuk ke kamarku dan berhenti memakai seragam pelayanmu, jadi pakailah seragammu dan lakukan pekerjaanmu sebagai pelayan!" Ariana bicara dengan begitu tegas pada Camila. Ariana tidak akan membiarkan Camila mengintimidasinya dengan tatapan kesombongannya itu.
"Kevin ...."
Tatapan mata Ariana seketika berubah setelah mendengar Camila yang ternyata sudah berani menyebut Kevin tanpa panggilan tuan di depannya. Ini membuat Ariana semakin yakin ada sebuah kesepakatan bahkan konspirasi di antara Fiona, Kevin, dan juga Camila. Ketiga orang itu terlihat seperti serigala buas yang lapar sampai begitu ingin memakannya.
"Aku tidak memberimu izin memanggilnya seperti itu selama kau masih menjadi pelayan di sini. Kau harus menyadari posisimu saat ini." Ariana tidak membiarkan Camila melanjutkan kalimatnya.
Camila tampak tertawa pelan, "Aku kira kau, Nyonya Ariana sudah membuka jalan padaku untuk mengambil posisi terkuat di rumah ini saat kau memberikan pernyataan bodoh saat konferensi pers."
Ariana tampak terkejut melihat cara bicara Camila sekarang, tapi ia tidak akan terintimidasi oleh wanita itu. Ariana menarik salah satu sudut bibirnya dan tatapannya terlihat begitu dingin saat ini. "Ya, anggap seperti itu. Namun, apa kau tahu alasanku melakukannya? Karena aku tahu kalau memaksakan diri memakai sesuatu yang tidak sesuai dengan ukuranmu hanya akan membuatmu tersiksa. Misalnya saat kau tetap memakai gaun yang terlalu kecil untukmu hanya karena gaun itu terlihat cantik. Semakin lama, maka kau akan kesakitan, dadamu terasa sesak, dan akhirnya kau hanya akan melukai dirimu sendiri. Aku sedang mengajarimu tentang semua itu," ucap Ariana setelahnya.
"Itu tidak akan pernah terjadi karena aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Anakku juga punya hak atas ayahnya." Camila menekankan kalimatnya.
"Semoga saja memang seperti itu, tapi berhentilah menjadikan anakmu sebagai alasan atas semua tindakan rendahan yang kau lakukan. Kau sama sekali tidak memahami bagaimana perjuangan seorang ibu sesungguhnya." Ariana kini memaksa Camila untuk bergeser dari tempatnya agar ia bisa masuk ke kamar, lalu menutup pintu dengan cukup kasar tepat di depan wajah Camila.
Camila terlihat marah dan ingin berteriak, tapi teriakannya tertahan saat melihat beberapa pelayan yang menatap ke arahnya dengan tatapan yang begitu sinis. Akhirnya, Camila memilih pergi dari sana dengan wajah yang terlihat pemuh kemarahan. Camil tidak akan diam saja dan menerima ejekan Ariana padanya, sebab akan ada hari dimana ia membalas semua ejekan itu.
Di kamar, Ariana melihat Kevin yang berbaring di ranjang dengan tubuh yang tertutup selimut. Ariana tahu kalau ini bukanlah waktu dimana Kevin biasa menghabiskan waktunya di tempat tidur, rasanya ada yang tidak beres, jadi Ariana mendekatinya. Dari dekat, Ariana bisa melihat wajah Kevin yang terlihat pucat. Ariana juga menyentuh dahi Kevin dan badannya terasa begitu panas.
Di atas meja, Ariana melihat ada bubur, obat, dan juga air. Ariana rasa, Camila yang membawa semua itu setelah tahu kalau Kevin sakit. Di saat bersamaan, mata Kevin perlahan terbuka dan pria itu dengan cepat menahan tangan Ariana yang ingin menjauh setelah menyentuh dahinya.
"Akhirnya kau pulang," ucap Kevin dengan suara yang terdengar lemah.
"Makan makananmu, lalu minum obat. Kau bukan anak kecil yang sampai harus diminta melakukannya, kan?" balas Ariana sembari menepis tangan Kevin.
__ADS_1
Kevin kini mengubah posisinya menjadi duduk, lalu bersandar di ranjang. Tadi, Kevin kira Camila yang kembali masuk ke kamarnya dan hampir saja ia mengeluarkan kata-kata kasarnya, tapi ternyata Ariana yang datang. Kevin merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa kembali melihat Ariana, walau sekarang terasa begitu jelas perubahan pada sikap Ariana padanya.
"Aku tidak akan memakan makanan itu sampai kapan pun," ujar Kevin.
"Apa karena Camila yang membawanya? Tapi dia kekasihmu, kan? Tidak baik menolaknya seperti ini."
"Jangan memulainya, Ariana. Aku mohon."
"Aku tidak memulai apapun. Aku hanya mengatakan kenyataan yang kau ciptakan untukku. Cepatlah makan karena kita harus membicarakan sesuatu yang penting."
"Aku ingin makan masakanmu. Aku merindukannya."
"Dan kau tahu kalau aku tidak akan melakukannya." Begitu cepat Ariana membalas ucapan Kevin.
"Setidaknya untuk terakhir kalinya sebelum kita berpisah." Kevin menatap Ariana dengan tatapan yang begitu memohon.
Ariana mengalihkan pandangannya dan tampak menghela napas. Pada akhirnya, Ariana membawa keluar makanan yang Camila bawakan untuk Kevin dan Camila melihat hal itu terjadi. Ariana bahkan meletakan makanan itu tepat di depan Camila ketika dia bertanya kenapa itu dibawa keluar.
"Bersihkan semua itu. Bukankah itu adalah tugasmu?" Ariana sempat bicara lagi sembari melirik makanan Camila.
Camila mengepalkan tangannya, lalu pergi tanpa melakukan apa yang Ariana perintahkan. Pelayan lain yang akhirnya membersihkannya. Ariana hanya menghela napas melihat Camila yang mulai bertindak sesuka hatinya. Berani dan tidak tahu malu kadang tidak memiliki batas yang jelas.
***
Saat menikmati makanan buatan Ariana, Kevin tahu kalau ini mungkin terakhir kalinya ia bisa menikmati makanan buatan Ariana dengan status masih sebagai istrinya. Kevin pun menatap ke arah Ariana yang berdiri di sebelah tempat tidurnya dengan tatapan yang terlihat begitu dingin. Walau terlihat sulit, tapi Kevin masih ingin mendapatkan Ariana bahkan setelah berpisah dengannya.
"Jadi, Ayah tidak menyusul aku dan Ibu karena sedang sakit?" tanya Emily yang duduk di ranjang bersama ayahnya.
"Ya, maaf karena ayah tidak ada di sana. Apa liburannya menyenangkan?" Kevin bertanya sembari menikmati makanannya.
__ADS_1
"Sangat menyenangkan! Aku pergi ke kebun sayu dan kebun buah. Ayah harus cepat sembuh, jadi kita pergi bersama-sama ke sana. Benar, kan, Ibu?" Emily menoleh ke arah sang ibu.
"Emily, begini ..." Ariana masih tidak tahu secara pasti bagaimana cara menjelaskan semua ini pada Emily. Walau ia adalah anak korban perceraian, tapi Ariana tetap bingung saat menghadapi situasi ini.
"Ya, kita akan pergi bersama." Kevin bicara mendahului Ariana.
"Ya, kita mungkin akan melakukannya, tapi dengan keadaan yang berbeda," balas Ariana.
"Bisakah kita membahasnya nanti? Itu juga baru sebatas rencana." Kevin.
"Itu sudah berjalan, bukan hanya sekadar rencana." Ariana dengan cepat membalas ucapan Kevin.
"Apa yang Ibu dan Ayah bicarakan?" Emily kembali bertanya.
"Begini ..." Ariana duduk di sebelah Emily dan meraih tangannya.
"Di masa depan, Ayah akan begitu sibuk dengan pekerjaannya, jadi kita tidak akan bisa terus bersamanya. Beberapa hal akan berubah, tapi ibu dan ayah tetap sayang padamu. Kita hanya tidak akan bisa terus bersama seperti sebelumnya." Ariana bahkan tidak tahu apakah kata-katanya tepat atau tidak. Ariana hanya ingin membuat penjelasan sesederhana mungkin, agar bisa Emily pahami walau ia tahu betapa besar ketakutan Emily pada perpisahannya dengan Kevin.
Tidak ada seorang ibu yang ingin menyakiti hati anaknya, begitu juga dengan Ariana, tapi ia juga tidak bisa terus menyiksa dirinya dengan bertahan dalam pernikahan ini. Ariana percaya bahwa ketika dirinya merasa tersiksa dan tertekan secara mental, maka itu akan mempengaruhi bagaimana pola asuhnya terhadap Emily. Ariana tidak ingin semakin menyakiti Emily jika nanti mentalnya menjadi tidak stabil karena menahan semua beban itu. Ariana tahu keputusan apapun yang ia ambil akan menyakiti Emily, ia hanya mencoba mengambil keputusan dimana dirinya bisa membantu Emily sembuh dari rasa sedihnya.
"Benarkah, Ayah? Apa Ayah akan sangat sibuk?" Emily menatap lekat ayahnya.
Kevin hampir menangis saat ini, tapi mencoba menahannya. "Ya, itu bisa saja terjadi. Keadaan kita akan sedikit berubah, tapi semuanya akan baik-baik saja."
"Tidak semuanya akan baik-baik saja. Akan ada hari yang buruk atau hari yang penuh dengan kesedihan, tapi kau akan selalu punya rumah untuk berlindung dari semua itu." Ariana kembali bicara.
"Kita akan bersama lagi, kan?" Emily masih terlalu polos untuk semua masalah ini.
"Ya, ayah akan berusaha keras agar kita kembali bersama. Ayah akan menyelesaikan semua pekerjaan ayah, agar kita bisa bersama lagi." Kevin dengan cepat membalas ucapan Emily sebelum Ariana sempat mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Pandangan Ariana seketika mengarah pada Kevin. Ariana marah karena Kevin berani memberikan harapan palsu seperti itu pada Emily. Apa yang Kevin pikirkan saat mengatakan itu? Apakah dia pikir akan ada yang berubah di masa depan setelah semua pengkhianatan yang dia lakukan?