
Setelah menempuh perjalan selama hampir 2 jam menggunakan kereta, lalu dilanjutkan dengan mobil selama 15 menit, Ariana dan timnya kini telah sampai di tempat tujuan mereka, yaitu sebuah kota kecil yang indah. Ariana mengagumi keindahan tempat ini selama perjalanan menuju ke penginapan.
Penginapan dengan pemandang laut itu membuat langkah Ariana terhenti sejenak karena mengingat kejadian yang pernah nyaris menghilangkan nyawanya. Ariana pikir, itu adalah titik paling rendah dalam hidupnya. Sebelumnya, ia tidak pernah berpikir untuk menyerah, tapi Kevin berhasil membuatnya ingin menyerah, tapi beruntung seseorang menyelamatkannya.
"Kakak, ayo masuk." Suara Tina baru saja membuyarkan lamunan Ariana.
"Ya," ucap Ariana singkat, lalu ia masuk ke dalam penginapan. Ariana akan istirahat sebentar, lalu setelahnya akan rapat dengan timnya.
Setelah sampai di kamar, Ariana lebih dulu membuka tirai jendela untuk melihat pemandangan laut yang luas. Walau laut mengingatkannya pada kenangan yang buruk, tapi Ariana tetap menyukai pemandangan laut.
Ariana kini duduk di pinggir ranjang, lalu mengambil ponsel dari tasnya. Ariana mendapatkam pesan dari Kevin dan ketika dibuka, ia melihat foto Emily yang sedang makan kue pie kesukaannya. Ariana rasa Emily sendiri yang mengirim pesan ini padanya.
"Cantik sekali," gumam Ariana.
Tidak lama setelahnya, Ariana mendapatkan telepon dari Kevin. Ariana pun menjawabnya karena sebelumnya, Kevin memintanya untuk memberikan kabar begitu sampai, tapi ia belum mengirimkan apa-apa.
"Apa kau sudah sampai?" Kevin bertanya pada Ariana setelah telepon itu tersambung.
"Apa kau yakin pengawal yang kau kirim pasti sudah memberikan kabar padamu," jawab Ariana.
"Itu demi keselamatanmu. Apa kau tidak bisa mengerti kekhawatiranku?"
"Tapi bukankah cukup satu saja seperti sebelumnya? Kenapa harus sampai tiga orang?" Ariana terlihat cukup kesal dengan semua ini, belum lagi sikap Kevin yang menjadi agak berbeda akhir-akhir ini. Kevin bahkan telah menentukan rumah untuk Emily sampai merencanakan waktu keberangkatannya. Kevin juga mengatakan akan mengurus semua keperluan kepindahannya dan Emily, jadi ia sungguh tidak perlu mengurus apa-apa. Ariana berusaha bicara dengan mengatakan kalau semua itu tidak perlu fan tidak perlu terburu-buru, tapi Kevin sepertinya tidak mau mendengarkan ucapannya.
__ADS_1
"Camila bisa ada dimana saja, jadi bukankah itu tidak ada salahnya?" balas Kevin.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Aku merasa kau tidak seperti biasanya. Epilog yang kau bicarakan, aku tidak mengerti maksudnya. Kehadiran Epilog tidak akan mengubah akhir dari sebuah cerita. Kau tahu itu, kan?"
"Sungguh tidak terjadi apa-apa. Aku juga tahu tentang epilog yang kau maksud, tapi aku penasaran akan sepeeti apa epilog itu nantinya. Baiklah, aku akan tutup teleponnya. Istirahatlah dan selalu berhati-hati." Kevin pun memutus sambungan telepon dengan Ariana.
"Kevin? Kevin!" Ariana mencoba tetap bicara, tapi usahanya sia-sia saja.
"Ada apa dengannya?" kesal Ariana.
Di saat bersamaan, Ariana mendengar seseorang yang menekan bel yang ada di depan kamarnya. Ariana meletakan ponselnya, lalu membuka pintu. Ariana melihat seorang wanita berambut pendek yang memakai seragam yang Ariana ketahui sebagai seragam staf di penginapan ini, wanita itu berkaca mata, memiliki tahi lalat di dagunya, dan saat ini tampak tersenyum dengan ramah pada Ariana.
"Saya dari layanan kamar. Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya wanita itu.
"Baiklah. Kalau begitu, selamat menikmati waktu istirahat Anda. Saya permisi." Wanita itu pun pergi masih dengan senyum ramahnya.
Ariana tidak menaruh kecurigaan sedikit pun bahkan ikut tersenyum ramah pada wanita tadi. Sedangkan wanita tadi mengubah senyuman manisnya menjadi senyuman jahat ketika telah meninggalkan kamar Ariana. Ketika sampai di sudut sepi, wanita ini pun mekepas rambut palsu, kacamata, dan tahi lalat palsunya, lalu mulai terlihat sosok Camila. Sosok Camila akan terlihat semakin jelas setelah riasan wajahnya benar-benar dibersihkan.
"Jadi, kau benar ada di kamar itu. Menarik," gumam Camila.
"Apa kau sudah selesai?" seseorang bicara pada Camila dengan nada agak ketus. Ini adalah wanita yang merupakan pemilik asli seragam itu. Wanita ini bicara sembari melepaskan pakaian milik Camila yang melekat di tubuhnya.
"Aku sudah membayarmu, jadi bicaralah dengan lebih baik," kesal Camila sembari membuka satu persatu kancing seragam itu.
__ADS_1
"Kau membayar tidak seberapa, jadi jangan menuntut banyak hal. Itu bahkan hanya cukup untuk biaya hidupku beberapa hari saja. Cepatlah atau aku akan ketahuan." Wanita ini merampas baju di tangan Camila dengan begitu kasar.
"Setidaknya uangku cukup untuk membiayai hidupmu selama beberapa hari ke depan. Bukankah kau menghabiskan gajimu di tempat judi? Aku tahu semuanya." Camila bicara sembari melepas celananya.
"Kau menjadi banyak tahu karena kau juga bekerja di sana sekarang. Apa kau tidur dengan bos pemilik tempat itu karena itulah kau bisa membayarku? Kau harus memanfaatkan tubuhmu yang lumayan ini. Aku benar, kan?" wanita ini menatap Camila sembari memakai celananya.
Camila tampak terdiam karena apa yamg wanita itu ucapkan memang benar. Bahkan setelah bekerja di dua tempat sekaligus Camila tetap merasa kesulitan untuk memenuhi semua kebutuhannya, maka ia terpaksa menjadi pemuas napsu pria berengsek pemilik tempat judi, jadi ia bisa mendapatkan uang lebih dan juga tempat tinggal yang sedikit lebih layak. Camila merasa jijik saat melakukannya, tapi tidak ada pilihan lain untuknya.
"Tapi, akan kau apakan wanita itu? Bagaimana bisa kau terlibat masalah dengan orang seperti dia? Siapa namanya? Ariana? Bukankah dia cukup terkenal? Aku seharusnya sering menonton TV," ucap wanita itu lagi setelah selesai memakai seragamnya.
"Kau melewatkan banyak hal karena tidak menonton TV," balas Camila.
"Kau terlihat menyeramkan dengan wajah seperti itu. Hubungi aku jika kau memburuhkan bantuan lagi. Aku penasaran apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertimu pada Ariana itu. Aku pergi." Wanita itu pun pergi sembari mencolek dagu Camila.
"Wanita sialan!" kesal Camila, lalu ia memungut baju dan celana miliknya yang berserakan di lantai karena ulah wanita tadi.
***
Di tempat lain, Kevin yang sedang mengawasi Emily saat bermain tampak tersenyum ketika melihat kelucuan Emily saat bersama anjing peliharaannya. Ponsel Kevin kini berbunyi dan ia baru saja menerima kabar dari seseorang tentang sesuatu yang minta ia urus, yaitu tentang proses pembayaran rumah di Swiss.
Saat Kevin sedang membaca beberapa lembar dokumen di ponselnya, ia menerima satu pesan lagi. Kevin langsung membuka pesan itu dan ia mendapatkan kiriman foto Camila yang bekerja di tempat perjudian. Tidak hanya itu, tapi Kevin juga menerima kabar kalau Camila telah mengunjungi penginapan tempat Ariana dan timnya menginap.
"Kau harus mempercepat keberangkatanku. Aku harus menangkap wanita itu dengan tanganku sendiri, lalu menyingkirkannya untuk selamanya. Aku tidak akan membiarkan keinginan Ibu dan Camila tercapai," gumam Kevin, lalu ia bergegas mendekati Emily untuk bicara dengannya.
__ADS_1