
Kevin sebenarnya telah mengirim seseorang untuk mengawasi Camila, tapi orang itu kehilangan jejak Camila saat terjadi keributan dan Ariana juga menghilang di saat yang bersamaan. Beruntungnya Kevin berhasil melacak keberadaan Ariana lewat ponselnya dan ia langsung menuju ke lokasi begitu tiba di kota kecil itu.
Sebelumnya, Kevin telah mempersiapkan rencana untuk menangkap Camila secara langsung dan diam-diam menghilangkan wamita itu dari dunia ini setelah mengetahui kalau ibunya terlibat dalam usaha persembunyian Camila. Kevin pikir, dirinya akan bisa menangkap Camila lewat bantuan ibunya, lalu setelah Camila disingkirkan, ia, Ariana, dan Emily akan pindah ke luar negeri untuk memulai kehidupan baru. Namun, kini Kevin tahu kalau ia telah gagal, tapi ia senang melihat Ariana baik-baik saja.
Camila dengan cepat diamankan oleh pria yang Kevin tugskan untuk mengawasinya setelah tadi menelepon ambulans. Sedangkan Ariana terus menangis dan memanggil bantuan. Ariana terus menekan luka Kevin, tapi itu seperti tidak ada gunanya, darah terus mengalir dan wajah Kevin menjadi semakin pucat.
Saat keadaannya semakin melemah, Kevin berusaha meraih tangan Ariana sembari tersenyum padanya. Kevin bahkan merasa tidak sanggup untuk bicara sekarang, jadi ia hanya bisa tersenyum pada Ariana sampai akhirnya pandangannya menjadi begitu gelap dan tangannya yang memegang tangan Ariana kini jatuh terkulai lemas.
"Kevin ... tidak ... tolong jangan seperti ini. Jangan tutup matamu. Aku mohon." Tangisan Ariana menjadi semakin keras setelah melihat Kevin yang menutup kedua matanya.
***
Malam itu, adalah malam terburuk dalam hidup Ariana. Tragedi di dekat pantai itu adalah kenangan buruk yang tidak pernah Ariana lupakan untuk seumur hidupnya. Pria yang telah membuatnya jatuh cinta, sekaligus membuatnya merasakan sakit yang begitu mendalam karena cinta, kini telah berubah menjadi sosok yang seakan memberikan kehidupan kedua padanya. Kevin rela menukar nyawanya, agar ia tetap hidup di dunia ini.
Ariana tidak menduga kalau ia akan melihat Kevin meninggal di pangkuannya dan dalam pelukannya. Ariana bahkan masih tidak percaya kalau semua itu terjadi, sekaligus tidak menduga kalau Yun PD sengaja membawanya ke sana untuk menjebaknya atas perintah Fiona. Fiona telah mengetahui keberadaan Camila, tapi dia tetap diam bahkan seolah memberikan jalan pada Camila untuk memcelakainya, lalu Kevin mengetahui rencana ibunya dan ingin menggagalkannya, tapi pada akhirnya dia yang celaka. Sejauh ini, hanya itu yang Ariana mengerti. Ariana hanya tidak mengerti kepada dirinya sendiri yang masih terlambat mengerti tentang kenapa Kevin mengirim lebih banyak pemgawal untuknya. Kenapa ia bisa begitu bodoh? Tapi, kenapa Kevin harus melakukan semua ini sendiri? Kenapa Kevin begitu ingin terlihat sebagai pahlawan di matanya dan akhirnya melukai dirinya sendiri?
Di rumah duka, Ariana hanya bisa terduduk lemas di depan foto Kevin dengan Emily yang ada di pangkuannya dalam keadaan tertidur. Emily tertidur setelah dia menangis dengan begitu hebat setelah tahu kalau Kevin tidak akan pernah lagi bangun dari tidurnya.
Sedangkan Fiona yang mendengar kabar kematian dan melihat jasad Kevin di depan matanya menjadi sangat histeris hingga beberapa kali jatuh pingsan. Saat ini, Fiona tidak ada di rumah duka karena dia kembali jatuh pingsan, lalu dibawa pergi dengan ditemani oleh Wilda.
"Ariana?" Hana datang menghampiri Ariana.
__ADS_1
Ariana mendongakkan kepalanya dan menatap Hana. "Ada apa?" tanya Ariana.
"Berikan Emily padaku. Aku akan menjaganya untuk sementara waktu. Ini juga sudah malam, jadi Emily butuh tempat istirahat yang nyaman," ucap Hana.
Merasa kalau Hana benar, jadi Ariana memberikan Emily padanya. "Terima kasih," ucap Ariana setelahnya.
"Kau tidak perlu mengatakan itu. Aku akan membawa Emily ke rumahku dan akan membawanya kembali besok pagi. Jaga dirimu, istirahatlah dan jangan lupa makan. Kau bisa menghubungiku jika membutuhkan sesuatu." Hana benar-benar sedih saat mengatakan hal ini. Hana telah mendengar tentang segala rencana Fiona dan baginya itu benar-benar jahat. Kini, Kevin harus menjadi korban dari rencana busuk ibunya. Hana sungguh tidak menduga kalau Fiona bisa sejahat ini.
"Sekali lagi, terima kasih."
"Kalau begitu, aku pergi." Hana pun pergi meninggalkan Ariana.
Ketika supir mobil Hana mulai menjalankan mobil untuk meninggalkan rumah duka, mobil Fiona datang, lalu wanita itu turun dengan langkah yang terburu-buru. Fiona masuk ke rumah duka dengan langkah yang sedikit tidak teratur, sebab kondisinya yang masih belum benar-benar stabil setelah jatuh pingsan, beruntung ada Wilda yang menjaganya agar dia tidak jatuh.
Eric yang melihat kedatangan Fiona merasakan ada sesuatu yang tidak beres, jadi ia berusaha menghentikan Fiona karena saat ini dia menarik kerah baju Ariana dan mencoba menusukkan pena itu ke leher Ariana. Beruntung Eric bisa menghentikan Fiona tepat waktu, sedangkan Ariana kini dilindungi oleh Mark.
"Lepaskan aku! Bisa-bisanya anakku menukar nyawanya dengan wanita itu! Aku tidak bisa menerimanya!" Fiona berteriak dan terus berontak.
Sementara itu, Ariana hanya terdiam di belakang Mark. Ariana benar-benar terkejut dengan tindakan yang Fiona ambil terhadap dirinya. Ia juga tidak ingin Kevin mengorbankan nyawa untuknya, tapi siapa yang memulai semua ini? Bukankah Fiona? Kenapa dia masih saja tidak menyadari kesalahannya?
"Seharusnya dia yang mati, bukan anakku!" Fiona terus berontak.
__ADS_1
"Tapi Kevin tidak akan meninggal dengan cara seperti ini jika Bibi tidak membuat rencana jahat untuknya!" Eric membalas ucapan Fiona sembari terus menariknya menjauh dari Ariana.
"Apa kau terluka?" Mark kini bertanya pada Ariana yang tampak begitu terdiam dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Ariana," ucap Mark lagi, sebab Ariana tidak merespon ucapannya.
Ariana kembali terduduk lemas di lantai dan isak tangis itu kembali terdengar dari bibirnya. Ariana merasa sangat kesakitan sekarang, ia begitu ingin mengulang waktu agar bisa menyelamatkan Kevin. Sekarang, seumur hidupnya, bayangan kematian Kevin akan selalu menghantuinya. Apakah ia masih pantas untuk hidup bahagia setelah orang lain berkorban nyawa untuknya?
Mark duduk di sebelah Ariana dan menatapnya yang kembali menangis dengan keras. Hati Mark ikut sakit melihat Ariana seperti ini. Mark kini memberanikan diri membawa Ariana ke dalam pelukannya, membiarkan semua air mata Ariana tumpah agar membuatnya sedikit lebih lega.
***
Satu bulan kemudian ...
Setelah kembali masuk ke dalam penjara, Camila tampak hanya terdiam di dalam sel khusus yang tampak gelap agar ia tidak bisa melarikan diri lagi. Camila duduk dengan kepala yang tertunduk, menyesali apa yang telah ia lakukan pada Kevin. Seharusnya Arian yang meninggal, bukannya Kevin. Kenapa ia bisa melakukan semua itu pada pria yang ia cintai?
Bukan balas dendam seperti ini yang Camila inginkan, tapi semuanya malah menjadi kacau. "Bodoh!" Camila berteriak dan memukul kepalanya sendiri secara berulang kali.
Beberapa saat setelahnya, petugas datang membawakan makanan serta minuman seperti biasanya. Camila hanya menatap makanan itu selama saat, lalu setelahnya mulai memakan makanan itu. Camila masih punya ambisi, jadi ia ingin tetap hidup.
Sekitar 10 menit setelah makan, Camila mulai merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, perutnya sakit dan tenggorokannya terasa panas, lalu ia muntah darah. Camila berteriak meminta tolong, tapi petugas tidak memberikan pertolongan bahkan jika mendengar teriakan Camila.
__ADS_1
Keesokan harinya, Ariana menerima kabar lewat sebuah pesan singkat tentang kematian Camila. Ariana terlihat tenang saat melihat pesan itu, tidak ada keterkejutan sedikit pun. Ariana pun kembali memasukan ponselnya ke dalam tasnya setelah melihat berita Camila, lalu berjalan menuju ke sebuah kamar pasien di sebuah rumah sakit jiwa. Ariana berhenti di depan kamar pasien itu setelah seorang perawat membukakan pintu, lalu ada dokter yang mendekat padanya dan berkata, "Keadaan Nyonya Fiona terus memburuk."