
Kematian Kevin adalah kenyataan yang sangat tidak bisa Fiona terima. Fiona hancur, lalu menjadi seperti ini. Sudah sejak dua minggu yang lalu Fiona ada di tempat ini. Fiona terpaksa dibawa ke sini karena dia selalu mengamuk dan menolak fakta kalau Kevin telah meninggal dunia, bahkan pernah melukai Wilda karena mengatakan kalau Kevin telah meninggal. Setelah beberapa waktu berlalu, keadaan Fiona pun terus memburuk seiring berjalannya waktu. Sekarang, Fiona menganggap sebuah boneka masa kecil Kevin sebagai Kevin yang sesungguhnya, dia bernyanyi untuk boneka itu, menidurkannya, bahkan memberinya makan sampai membuat boneka itu kotor.
Saat Ariana masuk, Fiona langsung memberikan isyarat pada Ariana agar diam, katanya agar Kevin tidak terbangun. Fiona tidak bisa mengenali siapa-siapa lagi dan Ariana sedih melihatnya. Ariana sempat memalingkan wajahnya sembari mengusap air matanya, lalu kembali menatap Fiona.
"Anakku tampan, kan?" Fiona bicara pada Ariana sembari tersenyum padanya.
Ariana hanya bisa terdiam dan menatap Fiona. Ariana bahkan tidak sanggup mengatakan apa-apa sekarang. Ariana kini berjongkok, lalu mengeluarkan tisu untuk membersihkan boneka yang kotor itu.
"Benar, bibir anakku harus dibersihkan." Fiona merebut tisu di tangan Ariana, lalu menggosok tisu di boneka itu secara berulang kali. Fiona terus melakukannya, lalu akhirnya dia berteriak dan melempar bonekanya ke lantai.
"Itu bukan anakku! Dimana anakku? Dimana?!" Fiona kini berteriak dan mulai melempar barang apapun yang ia lihat.
Ariana yang terkejut seketika berdiri dan menatap Fiona yang kembali mengamuk. Dokter dan perawat pun segera datang untuk menangani Fiona, sedangkan Ariana dibawa keluar dari ruangan itu. Ariana kembali berdiri di depan kamar rawat Fiona dan menatapnya yang terus saja mengamuk.
***
Setelah menemui Fiona, Ariana kini datang ke makam ibunya. Ariana meletakan bunga di atas makam ibunya. Sudah cukup lama sejak terakhir kali Ariana datang ke tempat ini karena jujur saja ia masih marah atas apa yang ibunya lakukan dulu. Bahkan jika itu adalah kesalahan masa lalu, tapi dampaknya masih terasa sampai saat ini.
"Aku bahkan tidak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Bukankah semuanya terlalu rumit? Kalau saja dulu Ibu tidak berpaling dari Ayah, apakah semua ini bisa dihindari? Sebenarnya, kesalahan apa yang aku lakukan sampai harus menanggung rasa sakit ini?" Ariana bicara walau ia tahu ibunya tidak mungkin mendengar apa yang ia katakan.
"Aku harap, semua bayang-bayang masa lalu Ibu selesai sampai di sini. Aku telah menjalani kehidupanku dengan sebaik mungkin, tapi masa lalu Ibu masih saja mengikatku. Aku sudah sangat lelah dan muak dengan semua itu." Ariana kembali bicara untuk menyampaikan kalimat yang selama ini tertahan di hatinya.
__ADS_1
Merasa sudah cukup, Ariana pun berpamitan untuk pergi. Ketika berjalan menuju ke mobilnya, Ariana sempat menerima telepon dari seseorang dan mengajaknya bertemu di suatu tempat. Ariana tidak memiliki jadwal apapun hari ini, selain menjemput Emily di sekolah, jadi ia menyanggupi pertemuan itu.
Ariana pun pergi ke tempat yang dimaksud si penelepon dan itu adalah sebuah kantor. Di sana, Ariana bertemu dengan seorang pria berkaca mata yang berusia 40 tahunan dan memperkenalkan dirinya sebagai Yejun, seseorang yang ditugaskan oleh Kevin untuk mengurus pembelian rumah di Swiss dan hal-hal lain terkait kepindahannya.
"Saya ingin bertemu dengan Anda untuk memberitahu bahwa semua prosesnya telah selesai dan ini adalah dokumennya." Yejun menyerahkan beberapa dokumen yang ada di dalam sebuah map.
"Sebenarnya, Pak Kevin juga menyiapkan dirinya untuk ikut pindah ke Swiss, tapi hal buruk telah terjadi padanya. Saya sangat sedih mendengar kabar itu. Perihal kepindahan Anda, Anda dan putri Anda bisa pindah secepatnya. Anda bisa pilih tanggalnya, lalu hubungi saya dan nanti akan saya siapkan tiketnya," ucap Yejun lagi.
Ariana nyaris melupakan hal ini, kalau saja Yejun tidak mengajaknya bertemu, maka ia pasti sudah benar-benar melupakan keputusan Kevin yang terlihat agak buru-buru membuat keputusan untuk membeli rumah. Apakah itu adalah sebuah pertanda kalau dia akan pergi untuk selamanya, jadi dia ingin mempersiapkan segalanya untuk Emily?
"Aku akan memikirkannya dulu," ucap Ariana.
"Baiklah. Saya akan menunggu kabar dari Anda." Yejun tampak tersenyum pada Ariana.
***
Sebelumnya, Ariana memang ingin pergi ke luar negeri dan tinggal di sana karena berpikir bisa memulai kehidupan baru di sana. Namun, semuanya telah berbeda, hidupnya terasa sudah remuk setelah melihat Kevin meninggal tepat di depan matanya, rasanya sangat menyakitkan saat mengingat momen itu. Apa setelah semia itu ia masih bisa memulai kehidupan yang baru bahkan di tempat baru sekalipun?
Ariana memikirkan semua itu sampai membuatnya tampak melamun, lalu deringan ponselnya membuyarkan lamunan Ariana. Ariana meraih ponsel yang tergeletak di atas meja dan melihat nama Mark tertera di sana. Ariana pun menjawab telepon dari Mark.
"Halo, Mark," ucap Ariana.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja." Kebohongan. Ariana baru saja berbohong. Mana mungkin ia baik-baik saja setelah apa yang terjadi?
Di sisi lain, Mark yang saat ini ada di studio foto merasa kalau dirinya bodoh karena bertanya seperti itu pada Ariana. Terjadi begitu banyak masalah, jadi pasti sulit bagi Ariana untuk tetap baik-baik saja. Dia hanya berbohong dengan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
"Jika kau ada waktu, apa kau mau makan siang bersamaku besok?"
Ariana sempat terdiam sejenak, lalu berkata, "Maaf, aku tidak bisa." Ariana hanya tidak ingin bertemu siapa pun saat ini jika itu tidak benar-benar penting.
"Ya, baiklah."
"Ini sudah malam, aku akan istirahat. Selamat malam." Ariana memutuskan sambungan telepon dengan Mark, lalu kembali duduk seperti sebelumnya setelah mengembalikan ponselnya ke tempat semula.
Mark terlihat kecewa setelah Ariana menolak ajakannya, apalagi dia menutup telepon begitu saja, tapi ia juga tidak memaksa, sebab Ariana pasti masih berduka atas apa yang terjadi pada Kevin. Mark pikir, ia harus menunggu dan mencari waktu yang tepat.
Sementara itu, Ariana yang kembali melamun dan menikmati hujan, kini dibuat terkejut oleh Emily yang keluar dari kamar dalam keadaan menangis. Ariana pun langsung berjongkok di depan Emily dan bertanya apa yang terjadi sampai dia menangis.
"Aku bermimpi bertemu dengan Ayah. Ibu, aku merindukan Ayah." Emily mengatakan itu sembari menangis.
Ariana mengangkat tubuh mungil Emily, lalu mengajaknya duduk di sofa. Ariana mengusap air mata Emily dengan begitu lembut. "Ibu juga merindukan ayahmu," ucap Ariana sembari memeluk erat Emily. Saat ini, Ariana merindukan Kevin melebihi siapa pun, bahkan perbuatan Kevin padanya di masa lalu tidak mampu mengusik perasaannya pada Kevin.
__ADS_1
"Ayahmu memang tidak bersama kita lagi, tapi kenangan indah tentang dirinya akan selalu bersama kita. Ayahmu akan selalu ada di hati kita. Kenanglah ayahmu sebagai orang baik yang selalu membuatmu bahagia." Ariana sempat mengecup kepala Emily setelah mengatakan itu. Ariana terus berusaha menenangkan Emily, sampai akhirnya dia berhenti menangis dan hanya terdiam dalam pelukan Ariana.
"Emily, apa kau ingat tentang Swiss? Apa kau masih ingin ke sana?" tanya Ariana.