
"Apa kau menemui wanita itu lagi?"
Langkah kaki Eric terhenti ketika ia mendengar sebuah suara ketika masuk ke kamarnya. Eric menoleh ke arah ranjang dan melihat Mina, wanita yang baru ia nikahi beberapa bulan yang lalu. Eric tahu apa yang Mina maksud, apalagi kalau bukan Ariana. Ya, Mina tahu tentang perasaannya pada Ariana, lalu kenapa? Eric rasa, Mina seharusnya sudah tahu konsekuensi jika menikah dengannya.
"Apa urusannya denganmu?" tanya Eric dengan nada bicara yang terdengar dingin.
Mina yang tadinya berdiri di pinggir ranjang, kini mendekat pada Eric dan berkata, "Aku istrimu."
Eric tertawa mendengarnya. "Tapi aku tidak pernah ingin menjadikanmu sebagai istriku. Ibuku yang bersikeras agar aku menikah denganmu dan aku tidak bisa menghindarinya. Kita memang telah menikah, tapi telah sepakat untuk tidak mencampuri kehidupan satu sama lain. Kita sudah membicarakan itu sebelumnya, lalu untuk apa sikapmu ini?" ucap Eric setelahnya.
Mina sempat terdiam selama beberapa saat. Memang benar kalau ia telah membicarakan hal ini dengan Eric sebelumnya, tapi Mina tidak bisa membohongi dirinya kalau ia juga ingin Eric bersikap selayaknya seorang suami untuknya.
"Apakah aku salah jika setidaknya sekali saja berharap kalau kau akan bersikap selayaknya suami?" ucap Mina setelah sempat terdiam.
"Itu salah, jadi jangan berharap padaku. Aku bahkan masih tidak mengerti kenapa Ibu bersikeras agar aku menikahimu. Sangat tidak masuk akal!" Eric menekankan kalimatnya, lalu kembali keluar dari kamar. Suasana hati Eric telah terlanjur rusak, jadi sekalian saja ia tidak tidur di rumah malam ini.
"Eric!" panggil Mina, tapi pria itu bersikap seolah tidak mendengar ucapannya.
***
Sementara itu, Ariana baru saja membuka matanya setelah sempat tidak sadarkan diri karena mengalami kecelakaan. Orang pertama yang Ariana lihat setelah membuka mata adalah Kevin, pria itu duduk tepat di sebelah ranjang tempatnya berbaring.
"Akhirnya kau sadar," ucap Kevin dengan penuh perasaan lega.
Ariana masih terdiam karena mengingat penyebab dirinya bisa berakhir di rumah sakit, yaitu karena ada orang yang melempar sesuatu ke mobilnya sampai kaca mobilnya pecah, lalu mobilnya kehilangan kendali. Apa itu perbuatan Camila? Tapi dia buronan, apa sungguh seberani itu?
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang masih sakit? Aku akan panggilkan dokter," ucap Kevin.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Seseorang melempar sesuatu ke mobilku, kan?"
"Ya, aku melihat batu. Pelempar batu itu sedang dalam pencarian. Aku yakin kalau orang itu adalah Camila," jawab Kevin.
"Camila buronan, apakah dia berani bertindak nekat seperti itu?" entahlah, Ariana merasa agak ragu dengan hal itu.
"Dia gila, jadi tentu bisa melakukan apapun." Kevin meyakini hal ini.
Ariana hanya terdiam setelahnya. Apa yang Kevin katakan memang benar, Camila dikuasai oleh dendam hingga membuatnya agak gila hingga terkesan bisa melakukan apapun, tapi Ariana tetap merasa kalau apa yang menimpanya saat ini bukanlah perbuatan Camila. Namun, Ariana juga tidak merasa memiliki musuh yang bisa berbuat seperti ini padanya.
"Kau fokus saja pada pemulihanmu dulu. Dokter menyarankan agar kau dirawat dulu malam ini dan pulang besok," ucap Kevin setelah suasana sempat hening.
"Bagaimana dengan Emily?"
Ariana sebenarnya agak khawatir jika meninggalkan Emily bersama Fiona, tapi ia tidak memiliki pilihan lain sekarang. Jika dokter mengatakan ia harus tetap di rumah sakit, maka Ariana akan melakukannya untuk mempercepat penyembuhannya.
"Kau pulang saja, aku bisa sendiri di sini." Ariana tidak ingin merasa lebih buruk lagi dengan keberadaan Kevin di sini.
"Aku akan tetap di sini." Tapi tentu saja tidak semudah itu untuk mengusir Kevin. Kevin tidak akan meninggalkan Ariana setelah apa yang terjadi hari ini.
Ariana pun memilih untuk menyerah karena sepertinya memang tidak mungkin untuk diusir dari sini. Ariana hanya membenci dirinya yang berandai-andai kalau saja perselingkuhan itu tidak terjadi, maka ia dan Kevin pasti masih bahagia saat ini. Ariana benci ketika tidak bisa mengendalikan dirinya agar berhenti berandai-andai pada sesuatu yang tidak berguna. Perselingkuhan itu telah terjadi dan itu adalah fakta yang harus diterima.
"Bagaimana jika Camila datang mencarimu? Apa kau tidak khawatir dengan hal itu?" Ariana kembali membuka percakapan.
__ADS_1
"Apa kau khawatir padaku? Terima kasih." Kevin tampak tersenyum pada Ariana.
"Aku serius, Kevin." Ariana menekankan kalimatnya.
"Aku bisa menjaga diri, jadi tidak perlu mengkhawatirkan itu. Aku juga tidak akan membiarkan wanita itu melukaiku lagi." Kevin senang memgetahui Ariana khawatir padanya, karena itu berarti Ariana masih peduli padanya.
"Karena penasaran aku mencari tahu seperti apa kehidupan Camila di masa lalu dan itu sangat memilukan. Ibunya bunuh diri karena depresi dan keluarga pamannya memperlakukannya dengan tidak baik. Jika dipikir lagi, sebenarnya aku dan Camila adalah korban dari kesalahan orang tua kami. Pada akhirnya, dendam itu telah begitu membara di hati Camila, sehingga dia tidak bisa menilai apa yang benar dan salah."
"Tapi dendam itu tidak akan terealisasi jika aku tidak memberinya jalan. Aku yang salah."
Ariana menoleh pada Kevin yang lagi-lagi menunjukkan wajah bersalah dan penuh penyesalannya, seolah menyambut khayalan Ariana tentang bagaimana jika perselingkuhan itu tidak terjadi. Sudahlah, Ariana mengalihkan pandangannya agar tdiak dipengaruhi oleh pikiran itu.
"Aku berharap bisa memutar waktu," ucap Kevin lagi.
Ariana kembali menatap Kevin, lalu berkata, "Memutar waktu? Apakah semua ini tidak akan terjadi jika waktu diulang kembali? Jika bukan Camila saat ini, apakah akan ada Camila yang lain?"
"Ariana ...."
"Sudahlah, Kevin, mari berhenti berharap pada hal yang tidak masuk akal. Semuanya sudah terjadi, jadi terimalah." Ariana mendahului kalimat Kevin yang seketika membuat pria itu terdiam.
***
Sementara itu, Fiona terlihat bahagia karena akhirnya bisa kembali mendapatkan waktu berdua saja bersama Emily. Akhir-akhir ini, terutama setelah Kevin dan Ariana bercerai, Fiona kesulitan mencari waktu berdua saja dengan Emily karena dia lebih dekat dengan Mark. Namun, kesempatam ini akhirnya datang lagi setelah Ariana mengalami kecelakaan.
Fiona menemani Emily tidur dan membacakan dongeng untuknya. Ketika dongeng itu selesai, Fiona mulai berkata, "Apa kau ingin tahu kenapa orang tuamu bisa berpisah?"
__ADS_1
Di sisi lain, Camila yang baru saja kembali ke tempat persembunyiannya dengan membawa makanan langsung membuka ponselnya untuk melihat ada kabar terbaru apa dari musuhnya. Walau lelah karena seharian bekerja di tempat pengolahan ikan, Camila tidak bisa langsung beristirahat begitu saja karena ia harus menyusun rencana untuk Ariana.
"Apa ini? Ada yang melempar batu ke mobil Ariana? Siapa yang melakukannya?" gumam Camila.