Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 12 [Hasil Test Pack]


__ADS_3

Eric sempat terdiam selama beberapa saat setelah mendengar ucapan Kevin. Eric pikir, Kevin tidak memperhatikan hal itu, tapi dia sangat di luar dugaan. Eric kini tersenyum, lalu menyeruput kopinya, dan setelahnya berkata, "Memangnya ada pria yang tidak menginginkan wanita seperti Ariana? Dia cantik, pintar, dan berkelas. Dia juga ibu yang baik dan bahkan masih tetap berusaha menjadi menantu yang baik, meski berulang kali ditolak oleh ibu mertuanya. Hanya pria bodoh yang mengabaikan sosok wanita seperti itu."


Kevin ikut tersenyum setelah mendengar jawaban Eric. Kevin sudah menduga sesuatu tentang pria itu, tapi ia tidak khawatir karena tahu bahwa Ariana sangat membenci pria seperti Eric yang memiliki wanita di sana-sini.


"Sayang sekali, Ariana tidak suka pria yang suka bermain dengan banyak wanita. Kau seharusnya menyembunyikan sifat burukmu, lalu kau mungkin akan mendapatkan sedikit kesempatan," balas Kevin. Kali ini, ia memperlihatkan senyuman mengejeknya.


Kalau saja tidak melihat apa yang terjadi di pesta saat itu, maka Eric akan masih tetap dengan kepercayaan bodohnya bahwa Kevin adalah pria yang setia, berbeda dengan ayahnya. Kalau saja tidak mengingat persahabatannya dengan Kevin, maka Eric pasti sudah mrmbalas semua kata-kata buruk yang diberikan oleh Fiona pada Ariana setelah ia mengetahui kedekatan Kevin dengan seorang pelayan. Pelayan seperti itu tidak akan memberikan sentuhan pada tuannya, jika sang tuan tidak lebih dulu memberikan sentuhan padanya. Jadi, siapa yang sebenarnya menuruni sifat orang tuanya?


"Aku tidak harus menyembunyikan apapun. Aku tidak sepertimu."


Raut wajah Kevin seketika berubah. Ia mencoba mengartikan ucapan Eric, tapi itu agak sedikit sulit. "Apa maksudmu?" pada akhirnya, Kevin bertanya pada Eric.


"Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakannya pada Ariana, tapi aku yakin dia tidak sebodoh itu. Kau harus berhati-hati karena sepertinya kau belum pernah melihat Ariana marah dan orang seperti itu sekalinya marah biasanya sangat menakutkan. Aku akan pergi sekarang." Eric mengambil ponselnya, lalu pergi meninggalkan Kevin yang tampak terdiam.


Sial, Eric mengetahuinya. Kevin begitu kesal dengan fakta itu. Entah sejauh apa Eric tahu, tapi jelas dia adalah orang yang tidak mungkin dikendalikan setelah mengetahui fakta itu. Walau mulutnya mengatakan tidak akan mengatakan apa-apa pada Ariana, tapi Eric tidak bisa dipercaya sepenuhnya.


***


Bahkan jika suasana hatinya sedang begitu buruk bahkan hancur, Ariana tetap berusaha profesional dalam bekerja. Ariana berusaha fokus menyimak rapat tentang episode terbaru dari acara yang ia bawakan. Namun, masalah yang Ariana hadapi saat ini terlalu berat dan memberikan tekanan yang begitu kuat padanya, sehingga membuatnya kesulitan berkonsentrasi walau sudah berusaha keras melakukannya.


Meski begitu, Ariana tetap bertahan di tempat duduknya, berperang dengan stres yang mulai menekannya. Ariana tidak ingin terlihat lemah, sebab ia itu akan semakin membuatnya mengasihani dirinya sendiri yang telah menjadi lemah setelah dibodohi di rumahnya semdiri. Ariana tidak ingin seperti itu.

__ADS_1


Namun, semua konsentrasi yang coba Ariana pertahankan menjadi lenyap begitu saja setelah Wilda mengirimkan kabar lewat pesan singkat padanya bahwa pagi ini, Camila terlihat mual dan muntah, lalu saat jam istirahat dia pergi ke apotek dan terlihat membeli test pack.


Saat anggota tim sibuk mendiskusikan pertanyaan dan topik pembicaraan yang akan digunakan pada episode berikutnya, lalu mereka meminta pendapat Ariana, tapi Ariana tampak terdiam. Seorang pria yang duduk di sebelah kanan Ariana, pria yang merupakan produser dan sutradara dari acara itu terlihat mencoba mengajak Ariana bicara, tapi Ariana tetap diam sembari meremas kuat ponselnya.


"Ariana!" pria berkacamata itu meninggikan suaranya karena Ariana yang tidak kunjung merespon. Semua orang yang ada di ruangan itu juga menatap ke arah Ariana yang terlihat agak berbeda hari ini.


"Ada ada?" Ariana terlihat kebingungan.


"Apa kau sakit?" tanya pria yang akrab disapa Yun PD itu.


"Aku baik-baik saja. Maaf, tapi bisakah kita mengulang yang aku lewatkan?" Ariana bahkan tidak tahu apakah dirinya bisa memperhatikan semuanya dengan benar bahkan setelah diulang karena pikirannya yang menjadi semakin kacau setelah menerima kabar dari Wilda. Mual, muntah, dan test pack. Astaga, Ariana bahkan benci memikirkan segala kemungkinan tentang hal itu. Apakah semua ini akan sejauh itu?


"Kau sepertinya kurang sehat. Pulanglah lebih awal, nanti aku akan kirimkan hasil rapatnya lewat email," ucap Yun PD lagi.


Sementara itu, di kediaman Kevin dan Ariana, Camila tampak masuk ke dalam mandi begitu ia kembali dari apotek. Camila ingin langsung melakukan tes setelah membeli beberapa alat tes kehamilan dan berharap kalau hasilnya akan sesuai dengan yang ia inginkan.


Beberapa saat Camila menunggu hasil dari tes kehamilan itu, sampai akhirnya hasil yang ia harapkan keluar, yaitu positif. Kemunculan dua garis merah itu membuat senyuman Camila seketika mengembang dengan sempurna, sebab dalam benaknya adalah kehamilan itu akan membuat Kevin akan selalu bersamanya dan posisinya akan menjadi kuat di dalam hidup Kevin.


"Aku harus segera menyampaikan kabar ini pada Tuan Kevin," ucap Camila dengan nada gembiranya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya untuk mengabari Kevin.


Camila pun mengambil foto test pack, lalu mengirimkannya pada Kevin. Camila berharap mendapatkan balasan seperti yang ia harapkan, tapi Kevin hanya melihat pesannya dan tidak terlihat seperti akan membalasnya.

__ADS_1


"Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak membalas pesanku?" gumam Camila. Ia ingin mengirim pesan lagi, tapi pintu kamar mandi sudah lebih dulu terbuka dan yang membuka adalah Wilda.


Camila menyembunyikan test pack itu di belakangnya, tapi tentu saja Wilda telah mengetahui segalanya. "Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar, lalu lakukan pekerjaanmu. Kau tidak bisa bersantai hanya karens status gelapmu itu," ucap Wilda dengan nada tegasnya.


Wilda bahkan lebih menyebalkan dari Ariana, pikir Camila. "Benarkah? Tapi sebentar lagi aku mungkin akan memdapatkan posisi yang lebih baik." Camila tersenyum pada Wilda, lalu keluar dari kamar mandi.


Wilda meremas kuat gagang pintu kamar mandi karena merasa begitu kesal setiap kali berhadapan dengan Camila. Namun, melihat senyuman Camila tadi membuat Wilda merasa takut kalau hasil tes kehamilan itu nemberikan hasil yang akan memperumit segalanya, apalagi tadi Camila menyinggung tentang posisi yang lebih baik. Jelas bahwa kalimat itu tidak dikeluarkan secara asal, ada sesuatu di baliknya.


***


Saat menerima kiriman foto testpack positif dari Camila, Kevin begitu terkejut dan masih mencoba mencerna semua itu. Kevin harap, Camila hanya main-main saja dan ia akan memaafkan wanita jika memang seperti itu adanya. Untuk mendapatkan jawaban, maka Kevin bergegas pulang. Kevin tahu kalau Ariana tidak ada di rumah, jadi ia bisa dengan Camila di sana.


Sebelumnya, Kevin sudah mengabari Camila bahwa ia akan pulang dan meminta Camila untuk menunggunya di kamar. Jadi, ketika sampai di rumah, Kevin langsung pergi ke kamar Camila dengan raut wajah yang tidak ceria seperti biasanya.


Ketika Kevin akhirnya memberikan respon atas foto yang ia kirim dan mengatakan akan segera pulang, Camila pikir, itu adalah awal yang baik untuknya. Namun, saat melihat Kevin datang dengan raut wajah yang tidak ceria seperti biasanya membuat Camila cukup khawatir melihatnya.


"Apa maksud foto itu?" tanya Kevin saat ia sudah berhadapan dengan Camila.


"Saya hamil. Ini anak Anda, Tuan," jawab Camila dengan seulas senyuman manisnya.


"Hamil? Anakku?" Kevin mengulangi kalimat Camila. Sial, Kevin tidak pernah ingin bergerak sejauh ini. Kevin tidak pernah ingin memiliki anak dengan Camila, sebab baginya hubungan ini hanya untuk main-main saja. Ia tidak pernah ingin serius dengan Camila.

__ADS_1


Di saat bersamaan, mobil Ariana tampak baru saja tiba di halaman rumah mewah itu. Ariana keluar dari mobil dengan wajah yang terlihat cukup pucat, lalu melirik mobil Kevin yang terparkir tidak jauh dari mobilnya. Ariana kini melangkahkan kakinya masuk dan terlihat jelas betapa keras usahanya untuk tidak meneteskan air mata di depan orang-orang yang telah berbohong dan membodohinya.


__ADS_2