Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 17 [Ledakan Yang Menjadi Lebih Besar]


__ADS_3

"Apa Kevin menuruni sifat ayahnya? Aku dengar, ayahnya ..." kalimat Ariana terhenti karena Fiona yang memberikan tamparan keras padanya. Rasanya perih, tapi Ariana tidak menunjukkan ekspresi apa-apa karena rasa perih akibat tamparan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang diterima akibat pengkhianatan Kevin.


Ariana mengetahui masa lalu ayah Kevin saat pertama kali bicara tatap muka dengan Wilda setelah mengetahui hubungan Kevin dan Camila. "Nyonya Fiona selalu menyebut Anda akan menuruni sifat buruk orang tua Anda, tapi Nyonya Fiona kini tahu kalau Tuan Kevin telah menuruni sifat buruk ayahnya. Saya bahkan malu saat Nyonya Fiona masih bisa begitu angkuh setelah mengetahui perbuatan anaknya." Ariana rasa, Wilda tidak sengaja mengatakan hal itu karena terlalu terbawa suasana karena dia tampak terkejut setelah menyadari ucapannya sendiri. Ariana terkejut mengetahuinya dan ia akan merasa malu jika menjadi ibu mertuanya.


"Jaga mulutmu, ****** sialan!" Fiona mulai mengeluarkan kata-kata kasarnya. Fiona tidak tahu dari mana Ariana mengetahui semua itu. Apa dari Wilda? Astaga, menyebalkan sekali.


Ariana mengusap rambutnya ke belakang, lalu kembali menatap ibu mertuanya. Melihat kotoran di wajah orang lain memang selalu lebih mudah dari melihat kotoran di wajah sendiri. Melihat wajah marah ibu mertuanya, Ariana rasa, kalau ucapan Wilda tidak meleset sama sekali. Ariana selalu sedih jika melihat ada wanita yang dikhianati oleh pasangannya, tapi entah kenapa ia tidak memiliki sedikit pun rasa kasihan pada wanita bernama Fiona itu.


"Ucapan buruk selalu kembali pada orang mengucapkannya. Aku percaya pada hal itu sekarang," ucap Ariana.


"Cukup, Ariana! Aku bisa menjelaskan semua ini padamu. Semua ini tidak benar." Kevin yang telah berhasil mengendalikan diri dari ketekejutannya kini mencoba bicara pada Ariana. Kevin tidak bisa membiarkan kemarahan Ariana menghancurkan pernikahan ini. Kevin tidak bisa kehilangan Ariana.


"Semua ini benar. Saya memang mengandung anak Tuan Kevin." Namun, ketika Camila ikut bicara, saat itu juga Kevin semakin melihat kehancuran rumah tangganya.


"Tidak ada yang memintamu untuk bicara! Kau hanya pelayan, tapi berani sekali kau ikut bicara. Kau pikir, siapa dirimu?" Fiona membalas ucapan Camila. Dari sekian banyak wanita yang bisa Kevin dapatkan saat dia bosan dengan Ariana, tapi dia malah memilih seorang pelayan seperti Camila. Fiona benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Kevin.


Ariana menarik sudut bibirnya ketika mendengar Camila yang akhirnya berani bicara. Ariana pun menoleh ke arah Camila dan memberikan tepuk tangannya, kemudian berkata, "Bagus sekali, Camila. Ayo, buktikan kalau kau berani. Bukankah itu yang kau tunjukkan saat kau masuk ke kamarku, memakai barang-barangku, dan tidur di samping kekasihmu?"


"Jadi, dia pernah memakai barang-barangmu?" Kevin terkejut dan marah di saat yang bersamaan. Kevin terkejut karena mendengar kalau Ariana bahkan mengetahui tentang Camila yang masuk ke kamarnya. Sedangkan Kevin marah karena mengetahui kalau Camila begitu berani memakai barang-barang Ariana. Ada perbedaan dan batas di antara mereka dan Kevin tidak suka jika Camila melewati batas itu.


"Camila bahkan sudah memakai suamiku, jadi apa yang mengejutkan jika dia memakai barang-barangku juga? Apakah pelayanannya sangat memuaskan?" balas Ariana.

__ADS_1


Balasan Ariana membuat Kevin merasa semakin terpojokan. Kevin merasa kesulitan untuk membela diri karena tidak menduga kalau Ariana telah mengetahui hubungannya sejauh itu. Sementara Fiona benar-benar merasa dipermalukan saat ini. Fiona ingin Ariana yang berada di posisi Kevin karena semua anak dari wanita perebut suami wanita lain pantas mendapatkannya, tapi yang terjadi malah sebaliknya.


"Aku sudah membuang semua barang milikku yang pernah Camila pakai. Sekarang, aku harus membuang yang terakhir, kan?" pandangan Ariana hanya mengarah pada Kevin.


"Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukannya." Kevin mencoba meraih tangan Ariana, tapi dia menghindar.


"Kau melakukan perbuatanmu dalam keadaan sadar, jadi mana mungkin kau tidak bermaksud melakukannya? Jangan bicara lagi denganku. Aku akan pergi sekarang. Kau bicara saja dengan Ibu dan Camila. Aku sudah menyiapkan wine, jadi rayakan kehamilannya, tapi jangan biarkan ibu hamil meminumnya karena itu tidak baik untuknya." Ariana pun pergi begitu saja.


Kevin ingin mengikuti Ariana, tapi ditahan oleh ibunya. Kevin diminta untuk tetap diam di tempatnya dan setelahnya mendapatkan tamparan keras dari ibunya. Seumur hidup Kevin, ini adalah pertama kalinya ia mendapatkan tamparan keras dari ibunya.


"Apa yang Ibu lakukan?" Kevin terlihat kesal.


Kevin ingin membalas ucapan ibunya, tapi Camila sudah lebih dulu bicara. "Apa yang salah dengan status pelayan? Apakah seorang pelayan tidak berhak untuk jatuh cinta?" sial! Kevin tidak mengerti kenapa Camila harus memperkeruh suasana dengan kata-kata tidak perlunya.


"Jangan bicara jika tidak ada yang memintamu bicara," ucap Kevin dengan nada kesalnya.


Fiona kini mendekat ke arah Camila. Fiona ingin melayangkan tamparan pada Camila, tapi wanita itu berhasil menahan tangannya. Bahkan sekarang tangan Fiona ditepis dengan kasar oleh Camila.


"Maaf, tapi saya tidak akan membiarkan Anda menampar saya. Saya tidak selemah Nyonya Ariana yang akan menerima tamparan Anda begitu saja." Camila memberanikan dirinya untuk bicara seperti itu. Bayi milik Kevin telah tumbuh di rahimnya dan Ariana terlihat tidak lagi menginginkan Kevin, jadi ia akan mendapatkan semua haknya.


Fiona tertawa memdengar ucapan Camila. Dengan gerakan cepat Fiona mencengkeram dagu Camila, lalu berkata, "Apa kau ingin menunjukkan kalau kau adalah wanita kuat? Dengar, seorang wanita yang benar-benar kuat tidak akan mengemis perhatian dan melepas pakaiannya di depan suami wanita lain. Kau adalah wanita lemah, bodoh, menyedihkan, dan tidak tahu diri. Apa yang kau pikirkan tentang kehamilanmu? Apa kau pikir, anak itu akan membuatmu masuk ke dalam keluargaku? Tidak akan!" Fiona melepaskan cengkeramannya dan menoleh pada Kevin.

__ADS_1


"Selesaikan semua ini. Jika Ariana saja tidak bisa ibu terima karena masa lalu ibunya, maka tidak akan pernah ada tempat untuk wanita seperti ini," ucap Fiona, lalu pergi meninggalkan kediaman Kevin.


Kini, hanya tersisa Kevin dan Camila. Camila masih berdiri di tempatnya setelah mendapatkan kata-kata pedas dari Fiona, sedangkan Kevin kini terlihat mendekat pada Camila. "Bagaimana bisa Ariana mendapatkan test pack dan foto itu? Apa kau sengaja memberikan itu padanya?" tanya Kevin.


"Saya tidak tahu. Kepala Pelayan Wilda tiba-tiba menyuruh saja melakukan pekerjaan yang tidak masuk dalam daftar tugas saya hari ini dan saat kembali ke kamar, saya tidak menemukan kedua benda itu."


"Bibi Wilda?" gumam Kevin.


"Sekarang, semua orang telah mengetahuinya, jadi kita tidak perlu menutupinya lagi. Itu berarti Anda akan bertanggungjawab, kan?"


Tatapan mata Kevin seketika menjadi tajam. Muak sekali rasanya ketika Camila terus menuntut pertanggungjawaban darinya. "Kau tahu kenapa aku memintamu untuk tetap memanggilku Tuan bahkan saat kita sedang berdua saja? Karena itu adalah garis yang jelas di antara kita. Hubungan kita hanya permainan kecil di antara Tuan dan Pelayan, tidak lebih. Lalu, apa yang kau harapkan sekarang?"


Camila hampir menangis mendengarnya. "Tapi anak ini bukankah permainan. Ini anak Anda!"


"Mari kita permudah saja semua ini. Aku tidak bisa kehilangan Ariana dan Ibuku juga tidak bisa menerimamu. Gugurkan kandunganmu dan aku akan memberikan apapun yang kau mau. Bukankah impianmu adalah bisa masuk sekolah fashion di London? Aku akan memberikan kesempatan itu padamu. Bukankah itu lebih bagus dari pada membesarkan seorang anak?" Kevin menatap lekat Camila dengan tatapan yang ia buat selembut mungkin.


"Anda dan anak kita adalah impian saya sekarang." Camila menjawab tanpa ragu.


Tatapan mata Kevin berubah lagi menjadi tajam. "Kalau begitu, kau hidup saja dengan impianmu!" Kevin pergi meninggalkan Camila.


"Aku akan mendapatkan mimpiku. Itu pasti." Camila bicara sembari terus menatap ke arah Kevin yang akhir-akhir ini menjadi begitu sering meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2