
"Jadi, kau akan kembali ke Korea?" Ariana bertanya pada Mark yang kini terlihat menganggukkan kepalanya.
"Ya, walau ingin di sini lebih lama, tapi pekerjaanku di sana tidak bisa aku tinggalkan lebih lama lagi," jawab Mark.
Ariana sudah tahu kalau hal ini akan terjadi, tapi ia hanya tidak menduga kalau hatinya akan merasa sedih seperti ini. Ini mungkin rasa sedih karena akan ditinggalkan oleh sosok sahabat yang sudah hampir tiga minggu ini selalu bersamanya, itulah yang Ariana pikirkan pada awalnya. Namun, rasa sedihnya terasa sama seperti saat dulu Mark meninggalkannya ketika hubungan itu masih ada.
"Kapan kau akan berangkat?" tanya Ariana lagi.
"Aku akan pergi dua hari lagi. Malam ini, aku akan bicara dengan Emily agar tidak merasa bersalah jika pergi begitu saja." Mark sungguh tidak ingin pergi, tapi ia memiliki tanggungjawab yang harus dikerjakan. Sebenarnya, Mark juga merasa takut jika ia terlalu lama di dekat Ariana, maka itu akan membuat Ariana merasa terganggu dan tidak nyaman.
"Emily pasti akan sangat sedih jika mendengar hal ini."
"Apa kau tidak sedih?" Mark dengan cepat membalas ucapan Ariana.
Ariana tidak mengatakan apa-apa, ia hanya terdiam dan menatap lekat Mark. Ariana tentu sedih, tapi ia ragu untuk mengatakan hal itu pada Mark. Bukankah semuanya terlalu aneh untuk dikatakan?
"Aku bercanda. Aku hanya kembali ke Korea dan kita bisa kembali bertemu di lain waktu, jadi untuk apa sedih?" Mark kembali bicara sembari tersenyum, lalu meminum kopi yamg Ariana buatkan untuknya.
"Aku akan melayani pelanggan dulu." Ariana bangkit dari duduknya, kemudian kembali pada tugasnya sebagai seorang pemilik cafe.
__ADS_1
Mark berharap kalau Ariana akan mengatakan kalau dia sedih jika harus berpisah dengannya, lalu memintanya untuk tetap di sini atau setidaknya mengatakan akan menunggu kedatangannya lagi. Namun, Ariana mungkin memang tidak pernah ingin melangkah sejauh itu dan Mark sudah berjanji akan menghormati apapun keputusan Ariana. Melihat Ariana hidup dengan baik dan bahagia sudah cukup untuk Mark.
***
Saat Mark bicara pada Emily tentang rencana kepulangannya, Ariana yang mendengar hal itu dari luar kamar Emily hanya bisa terdiam. Semua kebersamaannya dengan Mark selama beberapa waktu terakhir terus terlintas di benak Ariana, seperti saat Mark yang ikut menjaga Emily saat sakit sampai membantunya memasak saat Mark diundang untuk makan malam. Jika Mark tidak mengatakan akan kembali ke Korea, maka Ariana tidak akan menyadari betapa manisnya semua momen itu.
Ariana menyadari ada yang mulai berubah dengan hatinya, tapi ia bahkan masih tidak ingin bicara meski telah menyadari semua itu. Ariana takut kalau semua momen manis itu akan menyakitinya nantinya jika ia berikan kesempatan yang lebih besar untuk masuk ke dalam hidupnya. Ariana ingin bahagia, tapi ia takut terluka lagi jika terlalu bahagia.
Emily yang mendengar kabar kalau Mark akan pergi tentu merasa sedih bahkan kini ia menangis dan memeluk erat Mark sembari mengatakan agar Mark tidak pergi meninggalkannya. "Apa Paman akan kembali lagi?" tanya Emily disela tangisannya.
"Tentu saja. Paman berjanji akan sering datang untuk bertemu denganmu, jadi berhentilah menangis." Mark mengusap-ngusap punggung Emily.
Emily kini menatap Mark dengan mata yang berkaca-kaca, lalu mengeluarkan kalimat yang membuat Mark sangat terkejut. "Ayah juga berjanji akan kembali, tapi Ayah tidak kembali." Air mata Emily mengalir semakin deras saat mengatakan semua itu pada Mark.
"Paman sungguh akan kembali untukmu, lalu kita bisa belajar dan bermain lagi. Apa kau percaya pada Paman?" Mark bicara sembari mengusap air mata Emily.
Kepala Emily mengangguk dengan pelan. "Janji?" ucap Emily setelahnya sambil menaikan jari kelingkingnya.
"Janji." Mark menyambut jari kelingking Emily dan ditautkan dengan jarinya.
__ADS_1
Sementara Ariana masih di tempatnya tadi, terus memperhatikan kedekatan Mark dan Emily yamg terlihat begitu alami. Ariana bahagia melihat kedekatan itu, tapi bagaimana cara menyingkirkan ketakutannya? Ada seseorang yang tulus padanya, tapi ia malah terlalu takut untuk menerima cinta itu.
***
Akhirnya tiba hari dimana Mark harus pergi meninggalkan Kanada. Emily ingin ikut mengantar Mark, tapi dia harus pergi ke sekolah. Sedangkan Ariana tidak pernah mengatakan akan datang ke bandara untuk mengantarnya, jadi Mark tidak akan menunggunya, walau berharap kalau Ariana datang ke sini.
Mark terlihat duduk dan bermain ponsel sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawatnya. Mark membuka galeri untuk melihat foto-fotonya bersama Emily dan Ariana yang diambil ketika pergi jalan-jalan saat akhir pekan setelah Emily kembali dari rumah sakit. Mark tidak bisa untuk tidak tersenyum jika sudah melihat wajah manis Emily.
"Dia cantik, seperti Ariana," gumam Mark, masih dengan tersenyum.
"Mark." Lalu, Mark dikejutkan oleh kehadiran Ariana yang sangat tidak terduga.
Mark seketika berdiri dan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. "Ariana, kenapa kau di sini?" tanya Mark.
"Tentu saja untuk bertemu denganmu." Percayalah, Ariana sudah memikirkan segala hal yang akan ia lakukan hari ini setelah Mark mengatakan akan kembali ke Korea.
"Bertemu denganku? Kenapa? Kau bahkan tidak mengatakan akan datang ke sini."
Ariana menatap lekat Mark, kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Apa kau akan kembali untukku juga? Bukan hanya untuk Emily," ucap Ariana pada akhirnya.
__ADS_1
"Apa?" Mark dibuat semakin terkejut sekarang. Mark tidak ingin mengharapkan sesuatu, tapi ucapan Ariana membuatnya berharap kalau Ariana menunggunya kembali, lalu membuka hati untuknya.
"Aku akan menunggumu. Aku takut terluka lagi, tapi aku lebih takut menyesal karena tidak mencoba meraih kebahagiaanku. Jadi, kembalilah untukku." Ariana tampak tersenyum begitu manis pada Mark.