
Beberapa saat sebelumnya ...
Setelah merasa lebih tenang sesaat setelah menangis, di saat bersamaan, Ariana juga telah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit karena kondisinya yang telah jauh lebih baik. Ariana hanya diminta untuk mengelola stresnya dengan baik, begitu juga dengan waktu istirahatnya. Ariana mengiyakan, tapi ia masih tidak tahu bagaimana cara mengelola stres yang ia dapat dari pengkhianatan itu.
Saat Ariana terlihat lebih baik, Mark baru menunjukkan dirinya dan menceritakan apa yang terjadi pada Ariana yang tampak terkejut melihat kehadirannya. Mark tidak mengungkit apapun yang ia dengar saat Ariana menangis, sebab tahu kalau Ariana tidak suka jika ada yang ikut campur dalam masalahnya. Ariana suka memaksakan dirinya terlihat kuat di depan orang lain walau hatinya sedang begitu hancur. Mark tahu hal itu, tapi tidak menduga kalau sebesar ini rasa sakit ini yang sedang Ariana tahan seorang diri.
"Jadi, kalian sudah saling mengenal?" tanya Lily saat melihat kalau Ariana dan Mark tidak terlihat seperti orang asing yang baru pertama kali bertemu.
"Ya, kami teman saat masa sekolah," jawab Mark dengan pandangan yang hanya mengarah pada Ariana. Dari senyuman merekah Ariana saat menerima penghargaan, kini menjadi wajah pucat dan mata yang sembab karena terlalu lama menangis. Semuanya terjadi dalam waktu yang cukup singkat, membuat Mark bahkan tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati Ariana saat ini.
"Kalau begitu, kau antarkan Ariana pulang. Mengingat keadaannya saat ini, aku rasa tidak baik jika dia menyetir sendirian," ucap Lily.
Ariana sebenarnya ingin menolak diantar oleh Mark karena tidak ingin merepotkannya, tapi Mark bersikeras ingin mengantarnya dan Lily mendukung hal itu. Maka tidak ada pilihan lain bagi Ariana, selain setuju. Ariana pergi bersama Mark menggunakan taksi untuk mengambil mobil yang masih ada di dekat pantai, lalu pergi ke sekolah Emily. Ponsel Ariana mati karena kehabisan daya baterai, jadi tidak bisa menerima telepon dari Yuri.
Selama perjalanan ke sekolah Emily, Ariana tidak mengatakan apa-apa, selain mengatakan alamat sekolah putrinya. Ariana bahkan sempat tidur sebentar karena merasa agak lelah setelah menangis dengan begitu keras. Sekarang, Ariana merasa air matanya telah kering dan kekosongan itu sangat terasa di hatinya.
Lalu, Ariana merasa muak ketika harus bertemu dengan Kevin yang menatapnya seolah ia sedang tertangkap basah tengah berselingkuh dengan Mark. Memuakkan sekali, tapi Ariana masih punya rasa malu untuk tidak berdebat di sini, jadi Ariana langsung membawa Emily masuk bersama Yuri setelah membalas ucapan Kevin tentang apa yang benar dan salah.
"Melihat situas ini aku rasa, sebaiknya aku mengemudi sendiri. Bagaimana kalau aku pesankan taksi untukmu?" ucap Ariana.
"Tidak perlu. Aku akan mencarinya sendiri. Hati-hati. Jangan memaksakan diri."
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Ariana lagi dan Mark hanya tersenyum saja.
Ariana pun memilih pergi bersama Emily tanpa bicara lagi dengan Kevin. Sedangkan Kevin terlihat marah dengan sikap Ariana yang begitu berbeda dari biasanya. Jangan lupakan keberadaan Mark yang membuat Kevin terlihat semakin marah, tapi masih menahan diri untuk tidak memberikan pukulan pada pria itu.
"Apa saja yang kalian lakukan sampai Ariana tidak bisa dihubungi?" Kevin kini bertanya pada Mark.
"Tangan Ariana terluka, apa kau tidak melihatnya? Wajahnya juga pucat, apakah kau memperhatikannya? Jangan terlalu fokus pada rasa cemburu buta yang bisa merugikanmu. Kau harus sedikit lebih peka dan fokus pada dirimu, maka kau akan menemukan jawabannya." Mark pun pergi setelah bicara.
__ADS_1
"Sialan! Apa yang dia bicarakan?" kesal Kevin.
***
Saat tiba di rumah, Ariana langsung meminta Yuri untuk membawa Emily ke kamar, sebab ia tahu kalau Kevin pasti akan membuka perdebatan di rumah. Sejak dulu, Kevin memang sering berlebihan dalam hal kecemburuan dan dengan bodohnya ia mengira kalau itu adalah bukti cinta Kevin padanya. Ariana benar-benar kasihan pada dirinya di masa lalu yang menganggap kalau Kevin begitu mencintainya hanya karena rasa cemburunya.
"Aku benar-benar bodoh," gumam Ariana, lalu menghela napas berat.
Di saat bersamaan, ekor mata Ariana menangkap sosok Camila yang tampak tidak menggunakan seragamnya dan dia terlihat seperti baru kembali dari suatu tempat. Ponselnya mati, jadi Ariana tidak tahu apakah Wilda sempat memberinya kabar tentang Camila atau Kevin.
Ariana kini mendekat pada Camila dan berdiri tepat di depannya. Camila tampak kaget melihat kehadirannya, terlihat seperti seseorang yang sedang melamun hingga tidak menyadari keberadaan seseorang di dekatnya.
"Kenapa kau tidak memakai seragammu? Apa kau pikir, kau bisa memakai pakaian sesuai keinginanmu di sini?" Ariana bicara dengan begitu tegas. Ariana tidak suka sifat tidak disiplin seperti ini dari siapa pun, terutama dari Camila.
Camila terlihat begitu ingin marah karena baginya nada bicara Ariana agak berlebihan. Namun, Camila menahan diri dan menundukkan kepalanya di depan Ariana, kemudian berkata, "Tolong maafkan saya. Tadi, saya sempat keluar untuk menemui dokter karena merasa tidak enak badan. Saya akan mengganti pakaian saya sekarang."
"Jadi, kau keluar saat jam kerja? Siapa yang memberimu izin untuk melakukannya?" Ariana menatap lekat Camila yang tidak terlihat seperti orang sakit. Apakah dia menemui dokter untuk memastikan kehamilannya?
Ariana tampak menarik salah satu sudut bibirnya, lalu menoleh pada Kevin. "Aku khawatir padanya. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya saat dia keluar? Kita tidak tahu, kan? Lagi pula, kita memiliki dokter keluarga dan aku bisa memanggilnya untuk memeriksa keadaan Camila. Walau Camila hanya pelayan, tapi bukankah dia sudah seperti keluarga kita?" Ariana tersenyum pada Kevin.
"Menurutku tidak begitu. Sudahlah, mari bicarakan masalah kita," ucap Kevin, lalu menoleh pada Camila dan memintanya untuk segera pergi.
Camila meremas ujung bajunya dan pandangannya terus mengarah pada Kevin yang memberikan isyarat agar ia segera pergi. Kevin bahkan sampai menegaskan kalau ia bukan siapa-siapa di sini, setelah sebelumnya menegaskan perbedaan status di antara dirinya dan Ariana. Namun, baiklah, Camila akan mengalah sekarang atau Kevin akan benar-benar marah padanya. Camila pun pergi, meninggalkan Kevin berdua saja dengan Ariana.
Kevin kini melirik tangan Ariana yang baru ia sadari sedang terluka. Kevin juga mengingat kalau ada noda darah di foto pernikahannya. Apakah luka di tangan Ariana dan noda darah itu saling berhubungan?
"Apa yang terjadi pada tanganmu?" tanya Kevin.
"Ini? Aku memgalami kecelakaan kecil saat di kantor. Luka ini sudah diobati, jadi bukan masalah besar."
__ADS_1
"Foto pernikahan kita jatuh dan rusak. Apa kau sudah mengetahuinya?"
"Apa? Bagaimana bisa? Bagaimana kondisi foto kita saat ini? Aku harus melihatnya." Ariana sudah ingin pergi, tapi Kevin menahannya.
"Lupakan itu dulu. Katakan padaku, apa yang kau lakukan dengan Mark? Sebelumnya, kau juga pergi dengannya, tapi kau tidak memberitahuku dan aku justu mengetahuinya dari Eric. Sekarang, kau tidak bisa dihubungi, lalu datang bersamanya. Memalukan sekali!"
Ariana menepis tangan Kevin dengan cukup kasar sampai membuat Kevin terlihat terkejut, sebab Ariana belum pernah seperti ini sebelumnya. "Memalukan? Aku sakit, aku jatuh pingsan, lalu rumah sakit, dan Mark membantuku dalam situasi sulit itu. Apa itu yang kau sebut memalukan? Kau hanya mendengar sedikit cerita tentang diriku di luar sana dan sudah marah seperti ini. Bagaimana jika aku memang benar-benar berselingkuh? Akan seperti apa reaksimu?" ucap Ariana setelahnya.
"Kau sakit?" raut wajah Kevin mulai berubah. Pria ini terlihat khawatir dan langsung menyentuh wajah Ariana.
Ariana hanya terdiam saat melihat Kevin khawatir padanya. Ariana tidak mengerti bagaimana Kevin akan melihat rasa sakit yang ada di dalam hatinya. Rasa sakit yang Kevin ciptakan untuknya. Bagaimana Kevin bisa melihat semua itu?
"Aku baik-baik saja sekarang. Aku hanya sedikit kelelahan. Itu saja." Ariana akhirnya bicara setelah sempat terdiam.
"Maaf, aku tidak tahu. Maafkan aku." Kevin membawa Ariana ke dalam pelukannya.
"Ya, tidak apa-apa." Ariana melepas pelukan Kevin, tapi tetap tersenyum padanya. Ariana sudah nyaris tidak tahan dengan Kevin. Bersikap seolah begitu khawatir padanya, tapi di saat bersamaan secara sadar menyakitinya lewat perselingkuhan. Betapa menjijikannya pria yang selama ini ia cintai.
***
"Tadi, saya mendengar kalau Anda sakit. Bagaimana keadaan Anda sekarang? Apa Anda baik-baik saja?" Wilda bertanya pada Ariana dengan pemuh kekhawatiran. Saat ini, ia dan Ariana ada di tempat yang sama dengan sebelumnya, yaitu tempat penyimpanan tanaman.
"Aku baik-baik saja," jawab Ariana.
"Aku sudah melihat pesan yang Bibi kirim padaku, yaitu Camila yang keluar saat jam kerja dan kemungkinan menemui dokter. Aku juga berpikir begitu, jadi bisakah Bibi membantuku sesuai kesepakatan kita?"
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Tolong cari bukti kehamilan Camila. Aku mau malam ini juga. Aku mohon. Aku membutuhkannya untuk membawa Kevin ke jalan yang benar." Ariana menatap Wilda dengan tatapan memohonnya.
__ADS_1
Setelah bicara dengan Wilda, Ariana kembali ke kamarnya, dan mengambil ponsel Kevin saat dia sedang di kamar mandi. Ariana membuka ponsel Kevin, lalu mengetik pesan untuk dikirim pada ibu mertuanya. [Ibu, Emily sakit dan Ariana tidak ada di rumah. Bisakah Ibu datang untuk merawatnya? Aku masih ada pekerjaan di luar, jadi tolong bantu aku.] Itulah isi pesan yang Ariana kirim pada ibu mertuanya, lalu dihapus dari ponsel Kevin setelah dipastikan dibaca oleh ibu mertuanya.
"Maafkan ibu, Emily, karena harus menyeret namamu. Namun, ibu harus membebaskanmu dari segala hal yang tidak baik untukmu. Ini bukan lagi keluarga atau rumah yang baik untukmu, tapi semua ini adalah kebohongan." Ariana bicara di dalam hatinya sembari meletakan ponsel Kevin kembali pada tempatnya.