
Mengingat Hana dan Ariana yang sekarang telah menjadi sahabat bahkan sering berbagi cerita, jadi Kevin pikir tidak ada salahnya untuk menelepon Hana dan bertanya apakah Ariana bersama dengannya. Kevin pun menelepon Hana sembari terus mengendari mobilnya tanpa tujuan yang jelas.
Hana yang baru saja keluar dari mobilnya dan bermaksud ingin masuk ke dalam sebuah bar, kini menghentikan langkahnya saat mendapatkan telepon dari Kevin. Tidak biasanya Kevin menelepon di jam seperti ini, pikir Hana.
"Halo, Kevin, ada apa?" tanya Hana setelah menjawab telepon Kevin.
"Apa Ariana bersamamu? Atau dia menghubungimu belum lama ini?"
Hana tampak sedikit bingung. "Ariana tidak bersamaku dan dia tidak ..." Hana menghentikan kalimatnya setelah melihat sebuah mobil yang mirip dengan mobil Ariana. Hana bahkan kini mendekat untuk memastikannya.
"Aku melihat mobil Ariana di depan Bar Pentagon," ucap Hana setelah memastikan kalau mobil yang ia lihat memang mobil milik Ariana.
"Aku ada di dekat bar itu sekarang. Aku akan segera ke sana." Kevin pun langsung memutar mobilnya ke arah bar yang dimaksud.
Hana yang tidak tahu apa-apa menjadi bingung dengan keadaan ini. Setahu Hana, Ariana bukan tipe orang yang biasa datang ke bar pada tengah malam seperti ini, apalagi dia sampai dicari oleh Kevin. Hana begitu sibuk dengan pikirannya, sampai akhirnya Kevin datang. Hana ingin bertanya, tapi Kevin tidak peduli padanya dan langsung masuk ke dalam bar.
Begitu sampai di dalam bar, Kevin langsung mencari keberadaan Ariana dengan menatap sekeliling tempat itu dan Hana mengekor di belakangnya dengan penuh rasa penasaran. Lalu, Kevin melihat pemandangan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Di sisi lain, Ariana memang sudah agak mabuk saat ini, tapi ia masih sadar ketika ada seseorang yang ingin mencium dirinya. Ariana menolak ciuman dari Eric dengan cara mendorong pria itu sekuat tenaganya. Lalu, dengan gerakan cepat Kevin telah berhasil meraih kerah baju Eric, kemudian memberikan pukulan keras pada pria itu.
"Kevin, tenangkan dirimu. Semua orang akan memperhatikanmu." Hana menahan Kevin yang kembali ingin memukul Eric. Astaga, Hana tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kevin, Ariana, dan Eric.
Kevin menghempaskan Hana dengan sekali usahanya, sebab tenaga Hana tidak ada apa-apanya untuk Kevin yang sedang marah. Kevin kembali meraih kerah baju Eric dan ia cengkeram dengan sangat kuat. "Pria berengsek! Berani sekali kau mencium istriku. Dasar tidak tahu malu!" ucap Kevin, tapi Eric malah tertawa.
Eric melepaskan cengkeraman Kevin dengan kasar dan ia ingin membalas pukulan Kevin, tapi Ariana sudah lebih dulu berdiri di depan Kevin. "Tolong jangan menambah keributan. Aku mohon," ucap Ariana yang membuat Eric langsung menurunkan kepalan tangannya.
__ADS_1
"Bahkan kau juga membuatku kecewa. Bagaimana kau bisa ingin memanfaatkan keadaanku yang seperti ini?" Ariana kini menatap Eric dengan tatapan kecewanya, lalu keluar dari bar.
"Aku belum selesai denganmu!" Kevin menekankan kalimatnya, kemudian menyusul Ariana.
Sedangkan Eric masih berdiri di tempatnya dan menyesali perbuatannya. Eric mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa menahan diri dan malah mencoba mengambil kesempatan dari kesedihan Ariana. Karena kebodohannya Eric yakin kalau Ariana pasti akan menjaga jarak darinya.
"Apa yang terjadi di sini? Apa kau dan Ariana ...."
"Ariana bukan wanita seperti itu!" Eric menyela kalimat Hana.
"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Hana lagi.
"Kau ingat saat kita melihat ayah Kevin pergi bersama wanita lain? Kevin menjadi seperti ayahnya. Dia menuruni sifat buruk ayahnya," jawab Kevin dan Hana terkejut mendengarnya. Hana dan Eric memang pernah melihat mendiang ayah Kevin pergi bersama wanita lain, mereka juga yang memberitahu Kevin tentang hal itu.
Kevin meraih tangan Ariana dan membuat Ariana menatap ke arahnya. "Kenapa harus Eric? Apa kau ingin membalas perbuatanku? Tidak seperti ini caranya!" Kevin bicara dengan nada tinggi.
Ariana menepis tangan Kevin dengan kasar dan memberikan tamparan keras pada Kevin. "Berani sekali kau menyamakan dirimu denganku. Bahkan jika aku memang melakukannya, apa hubungannya denganmu? Kau bahkan mengkhianatiku di rumah yang kita tinggali bersama. Rumah yang dulu kau bilang akan selalu penuh dengan kebahagiaan. Lalu, di mana kebahagiaan itu sekarang? Aku hanya bisa merasakan rasa sakit yang kau berikan padaku," ucap Ariana setelah menampar pipi Kevin.
Kevin mengabaikan rasa perih di pipinya. Ia ingin meraih tangan Ariana dan memeluknya, tapi Ariana terus menjauh dan berontak saat akan dipeluk. "Tolong dengarkan aku dulu," ucap Kevin, tapi tidak ada yang berubah.
Ariana terus berontak dan menolak sentuhan dari Kevin. "Jangan sentuh aku!" Ariana berteriak dengan begitu keras dan akhirnya membuat Kevin berhenti untuk mencoba mendekatinya.
"Ayo berpisah. Aku tidak bisa melakukan ini lagi," ucap Ariana lagi.
Kevin menggelengkan kepalanya. Kevin tidak akan pernah menerima keputusan itu. Jika ada yang harus pergi, maka itu adalah Camila, bukan Ariana. "Kau berada dalam pengaruh alkohol saat ini, jadi mari bicarakan ini lagi setelah kau lebih baik." Kevin pun berusaha menenangkan Ariana.
__ADS_1
"Lalu, apa kau pikir, akan ada yang berubah? Apa kau pikir, kita akan kembali seperti dulu? Omong kosong! Saat melihatmu, aku merasa jijik dan mual karena membayangkan bagaimana kau dan Camila saling menyentuh satu sama lain. Aku tidak akan bisa menahan semua itu. Tidak ada lagi cinta. Semuanya telah berakhir." Ariana menatap Kevin dengan tatapan tajamnya.
"Tapi, apa sebenarnya masalahnya? Apa yang salah atau kurang dariku? Apa pernikahan kita tidak membuatmu bahagia?" pertanyaan ini akhirnya keluar dari bibir Ariana.
Kevin terlihat terdiam dan mulai menangis. Kevin tidak ingin pernikahannya menjadi seperti ini. Ia hanya ingin sedikit bermain-main, lalu suatu saat akan mengakhiri permainan itu, bukan mengakhiri pernikahannya sendiri.
"Jawab pertanyaanku!" Ariana menekankan kalimatnya. Ariana ingin mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya tentang kenapa semua ini bisa terjadi padanya. Apa pemicunya?
"Tidak ada yang salah denganmu atau pernikahan kita. Aku hanya sedikit bosan dengan semua ini dan ingin mencoba sesuatu yang baru." Sampai akhirnya, jawaban ini Kevin keluarkan tepat di depan Ariana.
"Kau bosan denganku?" saat mengatakan ini, Ariana mengingat kembali semua kebahagiaan yang Kevin tunjukkan padanya. Apa semua itu hanya sandiwara saja?
"Aku pikir, itu hanya perasaan sesaat karena aku masih bahagia saat bersamamu. Aku hanya butuh waktu untuk mengusir rasa bosan itu. Aku akan menghentikan semuanya, jadi tolong tetap bersamaku. Aku mohon." Kevin kembali ingin meraih tangan Ariana, tapi usahanya selalu gagal.
"Ayo berpisah."
"Ariana ...."
"Kita akan berpisah. Kau besarkan anakmu bersama Camila dan aku yang akan membesarkan Emily."
"Kita tidak akan berpisah!" Kevin begitu menekankan kalimatnya. Kevin sadar dirinya telah membuat kesalahan, tapi sampai kapan pun tidak akan ia biarkan ada kata perpisahan di antara dirinya Ariana.
"Kita akan melakukannya." Ariana tidak goyah sedikit pun. Ariana ingin pergi setelah mengatakan hal itu, tapi Kevin mencekal lengannya dengan begitu kuat.
"Cobalah lakukan itu, tapi aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan Emily. Emily hanya akan menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya walau hanya sedetik saja." Kevin memberikan ancamannya, berharap ini akan membuat Ariana memikirkan lagi tentang sebuah perpisahan.
__ADS_1