Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 29 [Musuh Masuk Ke Dalam Perangkap]


__ADS_3

Rasa marah pada Camila yang membuat Kevin akhirnya mau bertemu dengan wanita itu, walau ia tidak ingin melihat wajah Camila lagi. Kevin menghentikan mobilnya di halaman rumahnya, lalu masuk dengan terburu-buru karena Camila ada di sini. Kevin akui keberanian Camila karena masih berani datang setelah membuat masalah besar.


Kevin pergi menuju ke kamar pelayan, lalu masuk dengan membuka pintu secara kasar. Camila yang sedang duduk santai tampak terkejut sampai ia langsung berdiri. Camila tidak akan menerima semua ini. Setelah Kevin puas dengan tubuhnya, lalu sekarang ingin membuangnya begitu saja? Itu tidak akan pernah terjadi.


"Bersikaplah dengan lembut saat Anda akan membuat sebuah kesepakatan," ucap Camila.


"Persetan dengan sikap lembut! Aku telah kehilangan kelembutanku setelah kau berulah dan mengacaukan semuanya! Katakan, siapa yang membantu membuat kekacauan itu?" Kevin terlihat tidak bisa menahan kemarahannya hingga tanpa ragu langsung mencengkeram dagu Camila.


Camila terlihat kesakitan dan mencoba melepaskan cengkeraman Kevin. Butuh berulang kali usaha sampai akhirnya Camila bisa melepaskan cengkeraman tangan Kevin, lalu mendorong pria itu menjauh darinya. Sikap Kevin yang seperti ini membuat Camila semakin ingin menaklukan pria itu untuk menunjukkan kekuatannya pada Ariana.


"Jika Anda terus seperti ini, maka saya akan memburuk keadaan saat ini. Bayi ini milik Anda, jadi Anda harus bertanggungjawab! Saya bukan wanita lemah yang bisa Anda buang begitu saja setelah Anda bosan." Camila tidak menunjukkan wajah takutnya di depan Kevin.


"Wanita sialan!" Kevin mengangkat tangannya untuk menampar pipi Camila, tapi deringan ponsel menghentikan gerakan tangannya. Sial! Kevin tidak mengerti kenapa selalu saja ada pengganggu di saat-saat seperti ini dan lagi-lagi ibunya yang menelepon.


"Ada apa, Ibu?" ucap Kevin setelah menjawab telepon dari ibunya.


"Ibu dengar kau pergi untuk menemui wanita itu. Apa itu benar?" Fiona mendengar ini dari sekretarisnya.


"Ya, itu benar." Kevin tidak melepaskan pandangannya dari Camila yang juga terus menatap ke arahnya.


"Bawa dia ke hadapan ibu."


"Ibu ...."


"Lakukan saja!" Fiona menekankan kalimatnya.


Karena ibunya meminta Camila untuk dibawa ke rumah sakit, maka Kevin terpaksa melakukannya. Kevin juga ingin tahu bagaimana ibunya akan menangani masalah ini. Kevin tidak peduli dengan kesepatakan yang Camila tawarkan karena ia sudah terlanjur marah pada wanita itu. Kevin rasanya ingin mencekik Camila saja.

__ADS_1


Saat Camila ada di hadapannya, Fiona begitu ingin menghadiahkan tamparan pada wanita itu, tapi tubuhnya terasa begitu lemah, jadi harus menahan diri. Seperti inilah sosok wanita yang Kevin jadikan selingkuhannya, Fiona tidak melihat ada yang istimewa, selain Camila memang terlihat cocok dijadikan sebagai pelampiasan napsu saat di ranjang.


"Kau memang tidak pandai memilih wanita." Fiona melirik ke arah Kevin yang berdiri di sebelahnya dan Camila yang ia minta tetap berada di ujung ranjang, dekat dengan kakinya.


"Aku dengar, kau menawarkan kesepakatan. Apa itu?" tanya Fiona.


"Kenapa Ibu harus mendengarkannya? Aku akan menangani wanita sialan ini," kesal Kevin.


"Apa kau tidak bisa tenang sebentar?" Fiona melemparkan tatapan tajam pada Kevin, lalu kembali menatap Camila dan memberinya isyarat agar bicara. Fiona ingin tahu kesepakatan apa yang Camila tawarkan padanya. Fiona perlu mempelajari kelicikan Camila, agar bisa menanganinya dengan baik.


"Tuan Kevin harus menikahi saya, lalu saya akan menjernihkan semua masalah ini, agar Tuan Kevin bisa bersih dari opini buruk yang berkembang di masyarakat. Jika Tuan Kevin tidak lagi terlihat sebagai penjahat, maka bukankah itu membuka peluangnya untuk mendapatkan hak asuh Nona Emily?" Camila akhirnya bicara.


"Dengan sebuah perselingkuhan, apa kau pikir, akan mudah bagiku untuk mendapatkan hak asuh Emily? Lagi pula, siapa yang mengatakan kalau aku akan melepaskan Ariana begitu saja? Kau terlalu banyak bermimpi!" Kevin membalas ucapan Camila dengan penuh kemarahan.


Fiona kini tahu kalau Camila benar-benar licik dan entah orang bodoh mana yang mau membantunya menciptakan semua kekacauan ini, Fiona masih sangat penasaran dengan hal itu. Camila tidak bisa langsung disingkirkan begitu saja, harus menunggu kekacauan ini mereda, jadi orang-orang telah lupa padanya dan dia harus diikat agar tidak membuat kekacauan lagi.


Fiona ingin menolak tawaran Camila, tapi ia tidapk menemukan solusi lain untuk membersihkan semua kekacauan ini. Camila bisa menjadi alat pembersih untuknya dan alat untuk membalas dendam pada Ariana dengan memanfaatkan ambisinya. Hanya perlu menikahkannya dengan Kevin dan itu bukanlah masalah yang begitu besar karena menikah dengan Kevin tidak berarti Camila bisa diterima di dalam keluarganya. Camila juga harus dibuat mengerti tentang apa akibatnya jika berani bermain-main dengan Fiona.


"Apa yang Ibu katakan? Aku tidak akan menerimanya!" Kevin tidak mengerti apa yang terjadi pada ibunya yang seolah begitu mudah menyetujui tawaran dari Camila.


Fiona menoleh pada Kevin, kemudian berkata, "Semua masalah harus diselesaikan dari akarnya. Apa kau mengerti?" kalimat Fiona terdengar penuh dengan makna. Mungkin tidak akan mudah meyakinkan Kevin, tapi kali ini, Fiona akan membuat Kevin melakukan apa yang ia minta.


***


Sementara itu, Ariana mengajak Emily mengisi waktunya dengan pergi ke kebun sayur milik Lily. Di sana, Emily bisa belajar bagaimana cara menanam beberapa jenis sayur, cara merawatnya, sekaligus cara memanennya. Ini adalah hal baru bagi Emily, jadi dia tampak begitu bersemangat.


Ariana juga membantu Lily dan semua kegiatan ini cukup untuk mengalihkan pikirannya dari masalah walau hanya sejenak. Apalagi setelah selesai dari kebun, ia bisa langsung memasak sayuran segar itu bersama Lily. Ariana selalu suka memasak sayuran segar yang baru dipetik, tapi sulit baginya mendapatkan sayuran yang benar-benar baru dipetik.

__ADS_1


Emily adalah tipe anak yang suka makan sayur karena Ariana sudah membiasakannya untuk makan sayur, jadi Emily makan dengan lahap saat mendapatkan masakan berupa sayuran segar, apalagi ia sendiri yang mengambil sayuran itu.


"Bagaimana rasa masakannya? Apa itu enak?" tanya Lily.


"Ya, sangat enak. Masakan Ibu dan Nenek sangat enak!" Emily menunjukkan kedua jempolnya dan tersenyum dengan begitu lucu.


Lily tampak tersenyum, begitu juga dengan Ariana. Lily yang meminta Emily untuk memanggilnya nenek dan hal itu membuat Lily seperti memiliki keluarga sungguhan. Biasanya, ia hanya akan makan sendiri setelah memanen sayur, tapi kini ada Ariana dan Emily yang makan di meja yang sama dengannya.


"Aku suka sekali melihat anak kecil bisa makan sayur dengan lahap. Rasanya itu adalah hal yang langka," ucap Lily yang begitu gemas saat melihat Emily.


"Ibu juga harus makan, jangan hanya memperhatikan Emily saja." Ariana terlihat mengambilkan makanan untuk Lily.


"Bagaimana bisa aku berhenti memperhatikannya? Lihatlah, dia sangat menggemaskan. Emily adalah anugerah, jadi kau harus menjaganya dengan baik." Lily menoleh pada Ariana.


"Aku akan selalu menjaganya dan tidak akan mengambil tindakan bodoh yang akan membuatnya terluka."


"Itu sangat bagus." Lily tersenyum pada Ariana, kemudian kembali menatap Emily.


"Besok, nenek akan pergi ke kebun buah untuk memanen semangka yang sangat manis. Apa kau mau ikut?" tanya Lily.


"Semangka? Aku sangat suka semangka! Aku akan ikut dengan Nenek." Emily terlihat begitu bersemangat.


"Tapi, kenapa Ayah belum datang? Kapan Ayah akan datang?" Emily akhirnya kembali menanyakan ayahnya.


"Ayah sedang sibuk dengan pekerjaannya, jadi dia akan datang begitu selesai dengan pekerjaannya." Ariana merasa belum bisa membahas tentang perceraiannya sekarang. Ariana bahkan masih berpikir bagaimana cara mengatakan semua iti pada Emily.


"Ya, itu benar. Nanti, ayahmu pasti akan datang. Ayo makan lagi." Lily ikut meyakinkan Emily dan itu cukup berhasil.

__ADS_1


Di sisi lain, Kevin yang terus ditekan oleh ibunya untuk menceraikan Ariana, lalu menikahi Camila tampak terlihat frustasi dan merasa terjebak dalam situasi ini. Seolah tidak ada jalan lain untuknya. Bagaimana bisa ia melepaskan Ariana untuk wanita seperti Camila?


"Lakukan apa yang ibu minta, lalu kita selesaikan Camila saat keadaan lebih tenang. Kita juga akan mencari cara untuk membawa Emily padamu." Perkataan ibunya saat berdua saja dengannya kembali terlintas di benak Kevin yang menjadi pertimbangan terbesarnya saat ini. Jika Ariana tidak bisa didapatkan lagi, maka setidaknya Emily ada bersamanya.


__ADS_2