
Meski tadi Emily tampak bersemangat tentang liburan, tapi dia tetaplah anak kecil yang masih mengantuk, jadi Emily tidur sepanjang perjalanan dan Ariana tidak membangunkannya begitu sampai di tempat tujuan. Ariana menggendong Emily turun dari mobil, lalu membawanya masuk ke dalam sebuah penginapan dengan gaya tradisional khas Korea Selatan. Tempat yang jauh dari keramaian, jadi sangat cocok untuk dijadikan tempat berlibur. Ariana juga sudah mengatur cuti sekolah untuk Emily dan ia telah mengajukan permohonan untuk istirahat sejenak dari pekerjaannya, jadi ia bisa lebih tenang di sini. Setidaknya, itulah harapan Ariana.
Setelah menidurkan Emily di kamar, Ariana kini duduk di ruang tamu seorang diri dengan cahaya yang begitu minim dan jendela yang terbuka. Hari sudah larut malam, tapi semua masalah ini seolah tidak membiarkannya beristirahat dengan tenang. Ariana begitu memikirkan apa yang telah ia lakukan hari ini saat konferensi pers. Ariana sadar betul dengan apa yang ia lakukan dan sekarang berpikir, apakah semua itu benar untuk dilakukan?
Suara ketukan pintu yang baru saja terdengar membuyarkan lamunan Ariana. Ariana pun pergi membuka pintu, lalu terlihat Lily yang datang dengan menenteng kantong plastik yang berisi beberapa kaleng minuman. Penginapan ini milik Lily, jadi karena itulah dia ada di sini. Ariana hanya tidak menduga kalau Lily akan datang menemuinya semalam ini.
"Aku melihat jendela yang terbuka, jadi aku datang. Bagaimana kalau kita sedikit menghangatkan tubuh?" ucap Lily.
"Ya." Ariana pun setuju.
Setelahnya, Ariana duduk bersama Lily di depan penginapan dengan api unggun yang mengahangatkan tubuh mereka di tengah malam itu. Tanggal telah berganti, tapi masalah tidak akan berlalu begitu saja. Bukan hanya fisik, tapi masalah juga akan mempengaruhi mental, jadi ketika Ariana menghubunginya dan mengatakan akan berlibur di salah satu penginapannya, lalu dia datang di malam hari, Lily sudah tahu kalau Ariana pasti sudah nyaris kesulitan menanggung semua ini, tapi beruntungnya kali ini, Ariana mencari ketenangannya lewat liburan, bukan dalam kerasnya gulungan ombak.
"Apakah Anda ...."
"Bicaralah lebih santai padaku. Saya dan anda itu terasa begitu kaku. Hubungan kita telah berubah, kan? Jadi, kau bisa bicara dengan nyaman padaku." Lily memotong kalimat Ariana, kemudian meneguk minumannya.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi aku harus memanggil apa?"
Lily tampak terdiam sejenak, lalu mengatakan, "Bagaimana dengan ibu? Apakah itu membuatmu tidak nyaman?"
"Ibu?" Ariana terlihat bingung.
__ADS_1
"Ya, ibu. Sejak dulu bahkan sampai saat ini, aku masih berharap bisa menjadi seorang ibu, tapi aku tidak termasuk wanita beruntung yang bisa merasakan bagaimana rasanya hamil dan memiliki anak. Jadi, aku ingin merasakan bagaimana rasanya dipanggil ibu." Mata Lily tampak berkaca-kaca saat mengatakan hal itu.
"Ya, Ibu." Ariana tersenyum pada Lily. Rasanya masih agak canggung, tapi Ariana senang saat mengatakannya.
Lily terlihat tersenyum saat mendengar Ariana memanggilnya ibu. Terlepas dari siapa Ariana, tapi hati Lily terasa begitu hangat saat ada yang memanggilnya ibu. "Itu membuatku merasa lebih baik," ucap Lily setelahnya.
"Apa yang tadi ingin kau katakan?" ucap Lily lagi.
"Aku melakukan konferensi pers hari ini atas permintaan Kevin dan ibunya, tapi aku tidak mengatakan apa yang mereka inginkan. Aku tidak meluruskan apa-apa dan mungkin telah memperkeruh keadaan. Aku melakukannya karena marah. Sekarang, aku berpikir, apakah hal itu benar untuk dilakukan?" Ariana tidak tahu kenapa ia merasa begitu nyaman untuk bercerita pada Lily. Saat bersama Lily, Ariana merasa begitu ingin mengeluarkan semua bebannya karena itulah ia memilih datang ke penginapan milik Lily.
"Aku tahu tidak ada pemaksaan diri di antara Kevin dan wanita itu, tapi tentang mengunjungi suatu tempat untuk menggugurkan kandungan sepertinya memang terjadi. Wanita itu bahkan bersembunyi setelah membuat semua kekacauan itu," ucap Ariana lagi.
"Aku sudah melihat konferensi persmu. Kau tidak membenarkan adanya pelecehan seperti yang orang-orang pikirkan, jadi biarkan saja keadaan menjadi seperti ini. Kau tidak perlu memikirkannya lagi. Biarkan wanita itu melakukan apapun yang dia mau. Kau fokus saja pada dirimu dan juga putrimu. Menjadi egois itu tidak selamanya buruk." Lily kembali meneguk minumannya setelah bicara cukup panjang pada Ariana.
Ariana tampak menghela napas, lalu menghabiskan minumannya dan meremas kaleng kosong itu dengan begitu kuat. "Aku akan mengingat semua ucapan Ibu. Tapi, apa Ibu tahu apa yang paling menyakitkan dari semua ini? Kevin bilang, dia bosan denganku, jadi dia mencari kesenangan lain dalam pelukan wanita lain. Aku tahu kadang memang ada fase seperti itu dalam sebuah hubungan, tapi aku tidak menduga akan seperti ini jadinya." Ariana menahan tangisannya saat menceritakan semua itu.
"Apa kau pernah merasa bosan dengannya?" tanya Lily.
Ariana diam sejenak dan mengingat lagi tahun-tahun yang ia lalui bersama Kevin. "Ya, aku pernah merasakannya, tapi aku mengingat lagi betapa bahagianya hubungan kami dan menghangatkan lagi hubungan itu, lalu rasa bosan itu hilang dengan sendirinya. Aku melihat perjuangannya pada hubungan kami, dia tidak melepaskanku walau ibunya tidak menyukaiku, jadi aku bertekad akan mencintainya untuk seumur hidupku. Namun, dia dengan mudahnya berpaling dariku hanya karena bosan."
"Maka itu tentang prinsip dan komitmen. Kau memiliki kedua hal itu dan Kevin tidak memilikinya. Perjuangan tanpa prinsip dan komitmen pada akhirnya akan sia-sia saja. Berikan prinsip, cinta, dan komitmenmu pada orang yang memang pantas mendapatkannya. Percayalah, awalnya, perpisahan akan terasa menyakitkan, tapi semakin lama kau akan merasa lega karena kau telah bebas dari hubungan yang hanya menjadi racun untukmu."
__ADS_1
Ariana selalu mendengarkan setiap kata yang Lily sampaikan padanya dan mencerna semua itu dengan baik. Jika Lily bisa melewati hari-hari yang menyakitkan itu, maka Ariana yakin ia juga bisa melakukannya. Namun, di sisi lain, Ariana juga masih menyimpan merasa bersalah sebab Lily mengalami semua rasa sakit itu karena perbuatan ibunya.
"Terima kasih untuk semua nasihat Ibu. Aku juga minta maaf untuk semua rasa sakit yang Ibu alami."
Lily tersenyum dan berkata, "Untuk apa kau meminta maaf? Memangnya kau yang membuatku seperti itu? Tidak, kan? Itu juga sudah menjadi masa lalu, jadi tinggalkan saja. Kita tidak bisa melupakan masa lalu, tapi kita bisa meninggalkannya, kan? Biarkan masa lalu tetap pada tempatnya, jangan mencampurnya dengan masa sekarang atau masa depan agar hidup kita menjadi lebih baik."
"Ayo minum lagi." Lily kembali memberikan minuman pada Ariana, lalu mereka tetap mengobrol di sana sampai beberapa saat.
***
Sampai hari berganti, Kevin masih tidak menemukan kabar apa-apa tentang Ariana dan Emily. Keadaan pun makin memburuk, sebab kini beredar video yang memperlihatkan ibunya saat mencekik Ariana. Kevin menjadi berpikir, apakah itu alasan Ariana tidak memberikan perlawanan atas sikap kasar ibunya? Karena Ariana tahu ada yang merekam semua itu. Licik, hanya itu yang bisa Kevin pikirkan tentang Ariana saat ini.
Fiona yang telah mengetahui video itu menjadi semakin marah. Kemarahan yang coba ia kendalikan atas saran dari dokter kini kembali meledak dan ia kembali jatuh sakit. Kevin telah menghancurkan hidup Ariana dan sekarang Ariana yang menghancurkan hidupnya. Fiona rasa, ia terlalu meremehkan Ariana selama ini. Fiona bahkan tidak mengerti kenapa Kevin bisa terikat dengan dua wanita yang hanya bisa membuat masalah seperti Ariana dan Camila.
Di tengah semua masalah itu, Kevin yang sedang berada di rumah sakit untuk menjaga ibunya, kini mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal. Kevin enggan menjawab telepon dari nomor seperti itu, tapi tiga kali ia mendapat telepon dari nomor yang sama dalam waktu yang berdekatan membuat Kevin akhirnya menjawab telepon itu.
"Halo?" ucap Kevin.
"Tuan Kevin, Anda masih mrngingat saya, kan?" suara Camila baru saja terdengar dan membuat Kevin terlihat begitu marah.
"Wanita sialan! Tunjukkan wajahmu sekarang juga, maka aku akan menghabisimu!" Kevin berani meninggikan nada suaranya karena sekarang ia berada di luar ruang perawatan ibunya.
__ADS_1
"Anda yang memaksa saya melakukan semua ini, tapi saya akan menjernihkan semua masalah ini demi hak asuh Nona Emily. Apakah Anda bersedia membuat kesepakatan dengan saya?" ucap Camila.