
Mata indah itu perlahan terbuka dan pemandangan yang pertama ia lihat adalah langit-langit yang berwarna putih, lalu infus yang menggantung. Kepalanya masih terasa pusing, tapi wanita bernama Ariana ini tahu kalau ia ada di rumah sakit saat ini. Ariana kini mengangkat tangannya yang sebelumnya terluka, kini telah dibalut perban, dan bajunya juga telah berbeda. Ariana pikir, pasti perawat yang mengganti pakaian basahnya dengan pakaian pasien rumah sakit.
Lalu, Ariana teringat pada sosok Emily, karena sepertinya ia mendengar suara putri kecilnya saat di pantai. Namun, kini berpikir, bagaimana mungkin Emily ada di pantai saat jam sekolah? Memang siapa yang membawanya ke sana?
"Apa aku berhalusinasi?" gumam Ariana. Jika dipikir lagi, Ariana rasa dirinya memang berhalusinasi.
"Akhirnya kau sadar." Sebuah suara yang cukup akrab di telinga Ariana baru saja terdengar.
Ariana menoleh ke ujung ranjangnya dan ia melihat sosok wanita yang dulu telah dibuat menangis oleh ibunya, bahkan sampai ingin menenggelamkan dirinya di laut. Ariana bersyukur karena ia ada di pantai saat itu setelah pulang dari sekolah, jadi bisa menyelamatkannya. Namun, Ariana tidak tahu kenapa wanita bernama Lily itu ada di sini.
"Berbaringlah sampai kau merasa lebih baik," ucap Lily saat ia melihat Ariana ingin duduk. Lily kini pindah menjadi berdiri di sebelah ranjang rawat Ariana.
Sudah lama sejak terakhir kali Lily bertemu dengan Ariana dan ia tidak menduga akan melihatnya lagi dalam situasi yang terlihat sama dengannya. Lily tidak mengerti apa yang Ariana lakukan di sana, dia terus berjalan ke tengah laut, lalu tersenyum saat dipanggil dan setelahnya jatuh pingsan. Lily berniat menikmati udara musim panas di pantai, tapi malah berakhir menyelamatkan seseorang. Beruntung tadi ada seorang pria yang membantunya atau ia akan kesulitan membawa Ariana keluar dari air.
"Apa Anda yang membawa saya ke rumah sakit?" tanya Ariana yang masih tetap berbaring.
"Ya, tapi aku tidak sendiri, ada seorang pria membantuku. Pria itu sepertinya masih di toilet. Sebenarnya, apa yang coba kau lakukan? Dulu, kau menyelamatkanku, apa sekarang kau sedang mengulangi perbuatanku?"
Ariana bahkan tidak tahu apa yang sedang ia lakukan tadi. Pikirannya kacau, rasa sakit itu terasa begitu mencabiknya, dan saat melihat laut ia berpikir kalau lautan bisa menyingkirkan semua rasa sakit itu darinya. Ariana sangat bersyukur karena laut tidak benar-benar menenggelamkannya. Jika ia sungguh meninggal karena perbuatan bodohnya hari ini, maka entah akan seperti apa keadaan Emily.
"Terima kasih untuk semua kebaikan Anda hari ini," ucap Ariana.
"Jadi, kau sungguh tidak ingin menceritakannya? Baiklah, aku menghargai keputusanmu. Namun, jangan lakukan hal bodoh ini lagi. Kau yang berhasil menyelamatkanku dari hari yang buruk itu, jadi lakukan itu juga pada dirimu sendiri. Jika aku yang tidak memiliki seorang anak bisa bertahan, maka kau yang memiliki seorang putri yang cantik pasti bisa melewati semua masalah yang kau hadapi. Bertahanlah untuknya." Lily tidak tahu masalah apa yang sedang Ariana hadapi saat ini, tapi sepertinya dia sangat terbebani oleh semua masalah itu.
Ariana tampak menangis lagi setelah mendengar ucapan Lily. Ariana tidak ingin menangis di sini, tapi hatinya benar-benar sakit saat ini. Pada akhirnya, Ariana menyerah untuk mencoba terlihat baik-baik saja. Kepura-puraan itu terlalu melelahkan untuk dilakukan terus menerus. Ariana juga ingin memperlihatkan seperti inilah dirinya, ia tidak sekuat yang terlihat, jadi tolong berhentilah menyakitinya.
Lily meraih tangan Ariana dan menggenggamnya dengan erat saat dia menangis begitu keras. Tangisan Ariana terlihat seperti kesedihan yang sudah coba dia tahan mati-matian, lalu sekarang akhirnya meledak karena telah melampaui batas kemampuannya.
__ADS_1
Di sisi lain, Mark yang baru saja kembali dari toilet ingin langsung menemui Ariana terlihat menahan langkahnya setelah mendengar isak tangis Ariana. Mark sempat melihat sedikit ke balik tirai itu dan melihat kalau sudah ada Lily yang menemani Ariana, jadi ia menahan diri agar tidak mengganggu Ariana yang terlihat seperti mencoba melepaskan semua bebannya lewat tangisan.
Mark tidak tahu apa yang terjadi pada Ariana, dia terlihat memiliki kehidupan yang sempurna, tapi hari ini, dia sepeeti ingin menenggelamkan dirinya di laut. Saat itu, Mark sedang berkeliling untuk mencari pemandangan indah di pantai, lalu ia abadikan lewat kameranya, tapi ia mendengar teriakan minta tolong dari seorang wanita dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa yang berada dalam bahaya adalah Ariana. Awalnya, Mark kira Lily hanya orang asing yang tidak sengaja melihat Ariana, tapi saat di rumah sakit ia tahu kalau Lily mengenal Ariana. Namun, Mark tidak tahu pasti bagaimana mereka bisa saling mengenal.
Lily tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menggenggam tangan Ariana dan membiarkan Ariana terus menangis agar merasa sedikit lebih lega. Bahkan meski rasa lega itu hanya sedikit, tapi itu sangat berarti agar seseorang tetap bisa bertahan di tengah rasa sakitnya.
"Tidak ada yang namanya cinta selamanya. Semuanya hanya omong kosong. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Saya melakukan apapun yang saya pikir baik saya lakukan sebagai seorang istri, tapi dia tetap mengkhianati saya. Apa saya sedang menanggung karma Ibu saya? Tapi, kenapa saya harus menanggung karma atas perbuatan yang tidak saya lakukan?" sampai akhirnya, semua kalimat itu keluar dari bibir Ariana dibarengi dengan isak tangisnya.
Siapa pun akan merasa terenyuh saat mendengar suara lirih dan isak tangis Ariana, termasuk Lily dan Mark yang akhirnya mengetahui alasan di balik semua kesedihan Ariana. Mark ikut merasakan sedihnya, tapi Lily yang pernah berada dalam posisi itu tahu betapa hancur dan sakitnya perasaan Ariana saat ini.
"Kau tidak akan pernah menanggung karma atas perbuatan yang tidak kau lakukan. Jika kau telah melakukan yang terbaik, tapi suamimu tetap berkhianat, maka itu adalah salahnya. Menangislah sebanyak yang kau mau. Tumpahkan semua rasa sakit itu, lalu bangkitlah untuk memberikan keadilan bagi dirimu sendiri. Yang seharusnya menderita adalah orang yang telah menyakitimu, bukan kau." Lily masih menggenggam erat tangan Ariana.
Lily memang membenci ibu Ariana dan itu masih bertahan bahkan setelah dia meninggal, bahkan ia juga sempat membenci Ariana, tapi semuanya berubah setelah Ariana menyelamatkannya. Lily sadar bahwa Ariana hanya seorang anak yang tidak bisa mengendalikan sifat dan keputusan orang tuanya, jadi dia tidak bisa dibenci karena kesalahan ibunya. Karena itulah Ariana tidak akan pernah menanggung karma dari perbuatan ibunya. Pengkhianatan dilakukan secara sadar oleh pengkhianat itu sendiri, jadi kesalahan ada padanya dan dia sendiri yang akan menanggung karmanya.
***
Sial! Kevin lagi-lagi mengumpat di dalam hati dan ia begitu ingin mengeluarkannya tepat di hadapan Camila, tapi masih mencoba menahan diri. Kevin yakin telah bermain dengan sangat hati-hati, tapi kehamilan masih saja terjadi. Camila terlihat jelas mengharapkan sesuatu lewat kehamilannya, tapi Kevin bahkan tidak sedikit pun mengharapkan hal ini. Ada Ariana yang telah melahirkan seorang putri cantik untuknya, jadi untuk apa memiliki anak dari Camila yang merupakan seorang pelayan?
"Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Tuan akan bertanggungjawab, kan? Anak kita juga berhak lahir dan mendapatkan kasih sayang ayahnya, sama seperti Nona Emily."
"Beraninya kau menyamakan anakmu dengan Emily!" Kevin bicara dengan nada cukup tinggi sampai membuat Camila terlihat kaget.
"Ini juga anak Anda, bukan hanya anak saya. Ketika dua anak memiliki ayah yang sama, bukankah itu berarti mereka sama?"
"Tapi ibu dari kedua anak itu jelas berbeda. Di antara kau dan Ariana, bukankah kau bisa melihat jelas perbedaannya?" balas Kevin.
Camila tampak tertegun setelah mendengar ucapan Kevin. Camila tidak menduga kalau Kevin akan mulai membicarakan status dengannya, padahal sebelumnya dia mengatakan kalau status itu tidak penting, sebab yang terpenting adalah cinta di antara dirinya dan Kevin.
__ADS_1
"Ya, kami memang berbeda. Lalu? Semuanya telah terjadi dan Anda harus bertanggungjawab. Anak ini harus mendapatkan haknya."
Kevin ingin membalas ucapan Camila, tapi pengasuh Emily lebih dulu meneleponnya. Emily jelas jauh lebih penting dari Camila, jadi Kevin pun berkata, "Mari kita bicarakan ini nanti." Lalu, ia menjawab telepon dari Yuri.
Camila terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi Kevin memberikan isyarat agar dia diam. "Jadi, Ariana belum menjemput Emily dan dia tidak bisa dihubungi?" ucap Kevin pada Yuri.
"Ya, saya sudah berulang kali mencoba menghubungi Nyonya Ariana, tapi hasilnya tetap sama. Apakah terjadi sesuatu padanya?" ucap Yuri dari seberang sana.
"Entahlah, kau pikir, Ariana sudah tiba di sana, tapi ternyata tidak. Aku akan ke sana sekarang." Kevin memutuskan sambungan telepon itu.
"Tuan Kevin." Camila berusaha menahan Kevin karena merasa belum selesai bicara dengannya.
"Kita bicara lagi nanti atau tidak sama sekali." Kevin memberikan ancaman pada Camila, lalu menepis tangannya, dan setelahnya langsung pergi menjemput Emily.
Camila tampak masih terdiam di tempat sepi yang terlihat seperti taman itu. Camila menatap ke arah Kevin yang baru saja masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkannya begitu saja. Di tangan Camila terlihat foto USG yang masih ia genggam erat karena tidak pernah diambil oleh Kevin.
***
Ketika Kevin tiba di tempat yang dituju, yaitu sekolah Emily, di saat bersamaan, Kevin melihat mobil Ariana yang baru saja tiba. Namun, Kevin melihat kalau Ariana tidak sendirian, dia keluar dari mobil bersama pria yang seingatnya adalah Mark dan pria itu terlihat mengemudikan mobil untuk Ariana.
Kevin bergegas turun dari mobil dan menghampiri Ariana dan Mark, lalu berdiri di hadapan mereka. "Kau tidak menjemput Emily dan tidak bisa dihubungi, apakah karena pria ini? Kalian pergi bersama dan aku tidak mengetahuinya. Apakah itu perbuatan yang benar?" ucap Kevin dengan nada yang cukup tinggi.
"Emily ada di sini, jadi tempatkan dirimu sebagai seorang ayah. Tidak baik bicara dengan nada setinggi itu di depannya." Ariana bicara baik-baik pada Kevin, walau ia benar-benar sudah muak melakukannya. Kevin bahkan tidak memperhatikan luka di tubuhnya dan bicara seolah ia baru saja berselingkuh dengan Mark.
"Lalu, apa yang kau lakukan saat ini adalah hal yang baik?" ucap Kevin lagi.
"Kau sungguh ingin tahu apa yang baik dan tidak baik? Baiklah, aku akan segera menunjukkannya padamu. Bagaimana kalau malam ini?" balasan dari Ariana pun membuat Kevin terlihat bingung.
__ADS_1