Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 13 [Bisakah Laut Menenggelamkan Rasa Sakit Ariana?]


__ADS_3

Kaki Ariana ingin melangkah ke kamar Camila, sebab tahu kalau Kevin pasti ada di sana. Namun, Ariana tidak tahu apa yang akan ia dapat jika ke sana. Melihat Kevin dan Camila berada di kamar yang sama, lalu mendengar apa yang mereka bicarakan hanya akan menambah sakit hatinya saja. Tidak akan ada yang berubah dan kembali seperti semula. Jika Camila memang mengandung anak Kevin seperti yang ia duga, maka itu akan menjadi akhir dari segala kisah cinta dalam rumah tangganya.


Sementara itu, Wilda kini datang pada Ariana yang memilih untuk diam di kamarnya. Wilda datang dengan raut wajah yang terlihat menahan begitu banyak rasa bersalah dan kesedihan. Tadi, Wilda sempat terdiam di depan kamar Camila dan mendengar sebagian yang dia bicarakan dengan Kevin.


"Camila hamil dan itu adalah bayi Tuan Kevin. Seperti itulah yang sempat saya dengar ketika mereka bicara." Dan Wilda baru saja mengkonfirmasi segala pertanyaan yang ada di dalam benak Ariana.


Ariana tidak mengatakan apa-apa, tidak juga menatap Wilda. Pandangan Ariana hanya mengarah pada foto pernikahannya dengan Kevin. Sudah cukup sekarang, Ariana sudah muak dengan foto itu. Bingkai pada foto itu cukup berat dan Ariana biasanya kesulitan mengangkat benda sebesar dan seberat itu seorang diri, tapi perasaan yang penuh kemarahan dan kebencian itu membuatnya bisa mengangkat bingkai foto itu, lalu membantingnya ke lantai. Bingkai foto serta kaca yang melindunginya menjadi hancur berkeping-keping hingga tampak menggores beberapa sisi foto.


Wilda tampak begitu terkejut melihat apa yang Ariana lakukan, sebab belum pernah melihat Ariana membanting barang sebelumnya. Ariana yang sebelumnya terlihat begitu lembut, kini menjadi rapuh, tapi ditutupi oleh topeng pura-pura kuat yang dia tunjukkan.


Tidak cukup sampai di situ, Ariana kini mengambil satu pecahan kaca, lalu menggores foto itu dengan kuat hingga semakin memperlihatkan kerusakannya. Tangan Ariana tampak terluka karena hal itu dan Wilda mencoba menghentikannya, tapi tidak berhasil.


Air mata yang sejak tadi Ariana tahan kini akhirnya jatuh karena rasa sakit ini telah melampaui batas kemampuan Ariana untuk menahannya. Ariana butuh melampiaskan semua rasa sakitnya dan inilah caranya.


"Tolong hentikan. Tangan Anda terus mengeluarkan darah." Wilda menarik Ariana menjauh, agar dia berhenti menyakiti dirinya sendiri.


Ariana masih meremas pecahan kaca itu, sebelum akhirnya ia lempar ke lantai. "Jika ada yang bertanya, katakan saja bahwa penyangga bingkainya rusak, lalu fotonya jatuh." Ariana sempat mengatakan itu pada Wilda, sebelum akhirnya ia memilih pergi dari rumah dengan tangan yang terus mengeluarkan darah.


Sementara itu, Kevin masih belum mengatakan apa-apa lagi setelah tadi mengulang kalimat Camila. Dari permainan kecilnya, sekarang menghasilkan api sebesar ini, dan api itu begitu ingin membakarnya. Tidak, Bryan tidak akan membiarkan api itu membakarnya.


"Kenapa Tuan diam saja? Tolong katakan sesuatu," ucap Camila yang tidak mengerti ada apa dengan Kevin.


"Kau ingin aku mengatakan apa? Mengatakan kalau kau bahagia dengan semua ini? Itu yang kau harapkan dariku?"


Raut wajah Camila seketika berubah setelah mendengar ucapan Kevin. Kevin mencintainya, jadi Camila pikir pria itu akan bahagia mendengar kabar kehamilannya. Tapi, ada dengan Kevin sekarang?

__ADS_1


"Ini anak Anda, Tuan, jadi Anda harus berbahagia."


Kevin tampak terdiam sesaat, karena berpikir jika ia bersikap bertolak belakang dengan keinginan Camila, maka bisa saja dia akan membongkar semuanya. Kevin tahu betul bagaimana sikap wanita seperti Camila. Dia hanya dijadikan mainan, tapi pelan-pelan mulai bermimpi menjadi nyonya rumah. Menyebalkan sekali.


"Kau harus pergi ke dokter untuk memastikannya. Aku akan mengaturnya, jadi persiapkan dirimu. Setelahnya, kita bicara lagi." Kevin berusaha bicara sebaik mungkin dengan Camila.


"Kapan saya harus ke dokter?"


"Hari ini juga. Aku akan mengatur segalanya. Kau bersiap-siaplah, lalu pergi dengan taksi. Nanti, kita bertemu di tempat yang pilih. Kau tunggu saja kabarku. Apa kau mengerti?" Kevin menatap lekat Camila yang tampak mengangguk pelan padanya.


Kevin keluar dari kamar Camila dengan raut wajah yang jelas memperlihatkan betapa marahnya ia saat ini. Jika laporan dokter memastikan kalau Camila memang hamil, maka Kevin berpikir kalau ia harus segera mencari tempat untuk menyingkirkan masalah itu.


Lalu, langkah Kevin terhenti saat melihat beberapa pelayan yang membawa sampah pecahan kaca dan potongan bingkai foto yang seingatnya itu adalah bingkai foto pernikahannya dengan Ariana. "Bibi, apa yang terjadi?" Kevin pun bertanya pada Wilda yang baru saja datang.


"Apa? Bagaimana mungkin?" Kevin terlihat bingung.


"Itu bisa saja terjadi ketika bebannya sudah tidak sanggup lagi ditahan," balas Wilda.


"Apa maksud Bibi?" tanya Kevin lagi.


"Apa yang terjadi? Kenapa Anda tiba-tiba pulang seolah ada sesuatu yang mendesak?" Wilda balik bertanya pada Kevin.


"Terjadi sedikit masalah dan aku akan segera menyingkirkan masalah itu," jawab Kevin.


Wilda tidak tahu hal buruk apalagi yang akan Kevin lakukan sekarang. Sebelumnya, ia percaya kalau Kevin akan segera menyudahi hubungan gelapnya dengan Camila, lalu semuanya akan baik-baik saja, tapi Kevin tetap memupuk kehancuran masa depannya sendiri sampai seperti ini. Kalau saja Kevin tahu kalau Ariana telah mengetahui segalanya dan tinggal menunggu waktu kapan semuanya akan meledak.

__ADS_1


"Semoga saja semuanya tidak terlambat." Wilda pergi setelah merasa cukup bicara dengan Kevin.


Kevin tidak begitu memikirkan ucapan Wilda, sebab penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada foto pernikahannya. Kevin kini menuju ke kamarnya dan begitu sampai di sana, ia melihat foto pernikahannya yang ada di atas meja dengan banyak goresan bahkan ada beberapa bagian yang sobek, dan itu terlihat disengaja, bukan karena terjatuh dan terkena pecahan kaca dari bingkai.


"Darah?" Kevin terdengar bergumam ketika melihat ada noda darah di atas fotonya dan Ariana.


***


Ariana mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan yang pasti. Ariana begitu ingin lari dari semua rasa sakit ini karena dadanya terasa begitu sesak sekarang, tapi ia bahkan tidak tahu harus kemana sekarang. Ariana pikir, itu hanya perselingkuhan biasa yang mungkin saja masih bisa diperbaiki, tapi tidak seperti itu karena bahkan akan ada bayi sekarang.


Air mata terus jatuh di pipi Ariana, bersamaan dengan kenangan manis dirinya dan Kevin yang terus berputar-putar di benaknya, tapi semua kenangan itu tampak tidak berwarna lagi. Hidupnya terasa begitu gelap dan hatinya bagaikan tercabik-cabik setiap saat.


Semuanya seolah terjadi begitu cepat, mulai dari mengetahui kebohongan Kevin, lalu perselingkuhannya, dan sekarang kabar kehamilan selingkuhannya. Ariana bahkan belum mencerna satu fakta yang ada, lalu sudah muncul fakta lain yang lebih menyakitkan.


Ariana masih tidak mengerti kenapa semua ini terjadi? Apa yang sebenarnya salah atau kurang dalam pernikahannya? Atau apakah kesalahan ada apa dirinya? Penampilannya? Apakah usahanya untuk menjadi istri yang baik masih belum cukup?


Ariana tidak tahu apapun bahkan ketika menghentikan mobilnya di dekat pantai, ia masih tidak tahu akam melakukan apa di sini. Ariana keluar dari mobilnya, lalu menatap lautan luas yang ada di depannya. Tangannya masih terus mengeluarkan darah, tapi Ariana seakan tidak peduli dengan luka itu karena ada luka yang tidak terlihat, tapi rasa sakitnya berkali-kali lipat melebihi luka goresan itu.


"Air laut dan ombak itu terasa bisa menenggelamkan semua rasa sakitku. Lalu, apakah aku salah jika mencoba melepas rasa sakitku?" satu lagi kalimat dari wanita yang hatinya telah disakiti oleh ibunya kembali terlintas di benak Ariana.


Perlahan, kaki Ariana melangkah ke bibir pantai, tapi langkah Ariana tidak terhenti meski sudah melangkah hingga kedalaman air hampir mengenai lututnya. Seumur hidupnya, Ariana belum pernah merasakan sakit yang sesakit ini. Ketika orang yang ia cintai menghancurkan cinta dan kepercayaannya, Ariana bahkan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan rasa sakitnya saat ini.


"Ibu." Suara yang lembut dan manis itu terdengar di telinga Ariana, membuat langkahnya terhenti dan ia menoleh ke belakang.


Ariana melihat Emily yang melambaikan tangan sembari tersenyum padanya. Ariana juga tampak tersenyum dibarengi oleh air mata yang terus jatuh di pipinya. Namun, pandangan Ariana menjadi kabur dan akhirnya menjadi gelap. Tubuh Ariana terjatuh di air dan perlahan terbawa ombak.

__ADS_1


__ADS_2