Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 59 [Sakit]


__ADS_3

"Ibu, bisakah aku berpisah dengan Eric?" pertanyaan ini akhirnya keluar dari bibir Mina setelah ia tahan begitu lama. Mina mulai lelah dengan pernikahan ini karena hanya dirinya yang berjuang. Dulu, Mina pikir pernikahannya akan membaik setelah Ariana memilih pergi, tapi ternyata tidak. Masalahnya bukan ada pada Ariana, tapi pernikahan inilah masalahnya.


Wanita paruh baya bernama Vivian ini tampak sedih mendengar ucapan Mina, tapi ia juga mengerti kenapa Mina mengatakan semua itu. Sejak sebelum menikah, Vivian sudah melihat bagaimana perjuangan Mina untuk meluluhkan hati Eric dan itu pasti sangat melelahkan.


"Maaf karena ibu menikahkanmu dengannya. Kau adalah wanita baik yang bahkan pernah menyelamatkan hidup Eric, tapi ibu malah menyakitimu seperti ini. Dia pasti akan menyesali perbuatannya padamu." Vivian tampak menangis dan Mina pun segera memeluknya dengan begitu erat.


"Aku dan Eric mungkin ditakdirkan hanya sampai di sini. Ibu tidak perlu merasa bersalah atau menyesalinya. Kami harus berpisah agar tidak terus menyskiti satu sama lain," ucap Mina lagi.


"Jadi, sekarang kau setuju untuk berpisah?" sebuah suara terdengar yang membuat pelukan Mina dan Vivian seketika terlepas.


Mina dan Vivian segera menoleh ke arah sumber suara, lalu mereka melihat Eric yang baru saja pulang dan mendengar ucapan Mina tentang perpisahan. Mereka bisa melihat betapa bahagianya Eric mendengar kata perpisahan dan itu bukanlah hal yang baru untuk Mina.


"Ya, aku harap kau bisa bahagia setelahnya. Aku akan kembali ke rumahku malam ini juga dan kau bisa mengurus segala keperluan perceraian kita." Mina pun pergi ke kamarnya untuk segera membereskan semua barang-barangnya.


"Tentu aku akan bahagia. Terima kasih." Eric bicara dengan sedikit keras agar didengar oleh Mina yang terlihat tidak peduli.


"Ibu lihat, kan? Dia yang ingin bercerai, bukan aku yang menceraikannya, jadi aku tidak akan membuat masalah." Eric kini bicara pada ibunya.


"Kau bahkan tidak tahu berkat siapa dirimu bisa hidup sampai detik ini. Kau akan menyesali semuanya." Vivian hanya mengatakan hal itu pada Eric dan setelahnya pergi.


"Memangnya apa yang telah dia berikan padaku? Tidak ada apapun!" ucap Eric yang sedikit pun tidak penasaran dengan kenapa ibunya bicara seperti itu tentang Mina.


***

__ADS_1


Mark yang seharusnya telah kembali ke Korea, kini memilih untuk menetap lebih lama di Toronto agar bisa bersama Ariana dan Emily. Mark pun begitu menikmati setiap waktu yang ia lalui bersama ibu dan anak itu, apalagi ketika ia dan Emily seolah menjadi juri ketika Ariana membuat kue dengan mengikuti resep yang dia temukan internet.


Ariana memang sering membuat kue akhir-akhir ini, sebab itu seolah telah menjadi hobi barunya. Ariana bahkan berencana mengambil sekolah khusus yang memberinya pelatihan membuat berbagai jenis kue karena di masa depan, Ariana memiliki rencana membuka bisnis kue. Mark senang mendengarnya dan selalu menyemangati Ariana.


"Apa aku sudah terlalu tua untuk mempelajari sesuatu?" Ariana bertanya pada Mark.


"Bukankah orang bilang kalau belajar tidak mengenal usia? Kau bisa belajar apapun tanpa memikirkan usia. Kau harus percaya diri. Lagi pula, kau tidak terlihat tua. Katakan padaku, apa rahasia awet mudamu?"


"Jangan terus menggodaku!" Ariana membuat wajah kesal.


"Kenapa? Apa kau takut salah tingkah lagi?"


"Kapan aku salah tingkah? Aku biasa saja." Ariana mencoba mengelak.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Ariana.


"Sakit. Perutku sakit." Emily pun menangis. Ariana langsung menaikan Emily ke pangkuaannya dan terlihat khawatir padanya, begitu juga dengan Mark.


"Sejak kapan perutmu sakit?" Mark bertanya dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Sejak tadi. Ibu, sakit ..." Emily menangis semakin kencang.


"Ayo kita ke rumah sakit." Ariana berusaha mengangkat tubuh Emily, tapi Mark sudah lebih dulu mrngambil alih Emily darinya. Ariana pun tidak protes, sebab ia begitu khawatir pada Emily.

__ADS_1


***


Setelah dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan pemeriksaan dokter, Ariana diberitahu bahwa penyebab sakit perut Emily karena ada infeksi pada pencernaannya dan dia harus dirawat di rumah sakit untuk penangangan lebih lanjut.


Sebagai seorang ibu, hati Ariana tentu sakit melihat putrinya sakit, tapi beruntung ada Mark yang menguatkannya dan selalu menemaninya. Kehadiran Mark saat ini adalah sesuatu yang sangat Ariana syukuri, sebab di negeri asing ini ia belum begitu dekat siapa pun yang bisa berbagi kesedihan dengannya.


Saat ini, Ariana duduk di sebelah ranjang rawat Emily, sementara Emily terlihat berbaring dan mulai tertidur. Di belakang Ariana, ada Mark yang tidak melepaskan pandangannya dari Emily. Mark tahu tidak ada perasaan yang lebih menyakiti Ariana melebihi dari melihat putri kesayangannya sakit dan itu juga membuatnya sedih.


"Tidurlah sebentar di sofa, biar aku yang menjaga Emily," ucap Mark. Ada sofa panjang di ruangan ini, cukup untuk tempat istirahat Ariana. Hari sudah hampir pagi, tapi Ariana belum istirahat sejak tadi.


"Aku tidak akan bisa tidur."


"Cobalah dulu. Ayo." Mark memaksa Ariana untuk berdiri, lalu membuatnya duduk di sofa panjang itu. Tidak sampai di sana, Mark kini memastikan Ariana berbaring, lalu melepaskan jaketnya untuk menyelimuti Ariana.


"Tidurlah," ucap Mark setelahnya.


"Mark ..." Ariana ingin bangun, tapi Mark memaksanya untuk tetap berbaring."


"Aku bilang tidur. Aku yang akan menjaga Emily." Mark kini duduk di sebelah ranjang rawat Emily dan terus memberikan syarat pada Ariana untuk tidur.


"Terima kasih," ujar Ariana karena ia benar-benar dibuat tersentuh oleh Mark.


"Untuk apa? Aku hanya memintamu untuk tidur dan itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Cepatlah tidur." Mark tersenyum, lalu memutar badannya untuk fokus pada Emily.

__ADS_1


Ariana terus menatap ke arah Mark dan Emily, lalu tersenyum kecil saat melihat Mark yang membenarkan selimut Emily. Walau Mark mengatakan kalau apa yang dia lakukan bukanlah sesuatu yang istimewa, tapi Ariana merasakan yang sebaliknya.


__ADS_2