Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 51 [Rencana Besar]


__ADS_3

"Bagaimana jika aku membawa Emily pindah ke luar negeri? Bukankah itu lebih baik jika melihat kondisi saat ini?"


Kevin menatap lekat Ariana yang tiba-tiba membicarakan hal mengejutkan seperti itu. Tidak ada pembicaraan apapun sebelumnya, lalu sekarang, Ariana ingin membawa Emily pergi menjauh darinya.


"Apa ini rencana Mark? Dia yang menyarankan itu padamu?" tanya Kevin.


"Tolong berhentilah berpikir kalau seseorang telah mempengaruhi setiap keputusanku. Aku sudah memikirkan ini sejak beberapa hari terakhir. Aku menerima teror dan pelakunya belum ditemukan, begitu juga dengan Camila yang entah ada dimana sekarang. Aku juga merasa butuh suasana baru setelah apa yang terjadi. Tidak dalam waktu dekat karena aku harus menyiapkan beberapa hal dulu."


"Apa kau ingin melarikan diri dariku? Kau tahu itu tidak akan berhasil," balas Kevin ysng terlihat membuat Ariana menghela napas, lalu tersenyum hambar.


"Aku tidak akan mengatakan apa-apa padamu jika memang ingin melarikan diri seperti yang kau katakan. Aku juga bukan tahanan, jadi kata melarikan diri tidak tepat kau gunakan. Datanglah sesuka hatimu, tapi aku tidak akan pernah menyambutmu seperti yang dulu aku lakukan, jadi berhentilah berharap kalau kita akan seperti dulu. Tidak bisakah kita menjalani kehidupan kita masing-masing?" Ariana sungguh memohon untuk hal ini.


"Tapi aku masih mencintaimu."


"Jika kau memang mencintaiku, maka kau seharusnya tidak mengkhianatiku. Aku tidak akan pernah bisa melupakannya untuk seumur hidupku. Aku membiarkanmu ada di hadapanku saat ini karena kau adalah ayah Emily, tidak lebih. Aku juga ingin melanjutkan hidupku, apa kau akan membiarkanku melakukannya?" Ariana menatap Kevin dengan begitu dalam. Mata Ariana juga terlihat berkaca-kaca, menunjukkan betapa tersiksanya ia saat ini.


Kevin tampak terdiam selama beberapa saat dan pandangannya hanya terfokus pada Ariana. "Apa kau tidak pernah merindukan momen saat kita masih bersama? Ya, aku salah, tapi sungguh tidak ada jalan untuk kesempatan kedua?" ucap Kevin setelahnya.


Ariana bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat jendela yang ada di rumahnya. Ariana mengusap air matanya dengan kasar, lalu menoleh pada Kevin yang masih duduk di tempatnya dan berkata, "Dulu, aku merindukannya setiap saat, tapi seiring berjalannya waktu, aku sudah mulai merelakannya untuk menjadi kenangan. Kita memang tidak berjodoh. Aku mulai berpikir sesederhana itu sekarang."

__ADS_1


"Ini sudah hampir larut malam, jadi pulanglah," ucap Ariana lagi.


Kevin ikut berdiri, lalu mendekat pada Ariana. "Jadi, ini sungguh akhirnya?" tanya Kevin.


"Ya, inilah akhirnya. Tidak akan ada akhir yang lain walau kau berusaha keras mencobanya. Segalanya telah berubah dan itulah kenyataan yang harus kau terima." Ariana menjawab tanpa keraguan sedikit pun.


"Aku akan pulang sekarang." Kevin yang tidak ingin mendengar kenyataan lagi memilih untuk pergi meninggalkan rumah Ariana. Kevin masih percaya kalau ini bukanlah akhir dari segalanya. Pasti ada akhir yang lain.


***


Di tengah semua masalah yang seolah tidak mau pergi darinya, Ariana kini menerima kabar kalau ia harus pergi ke luar kota untuk keperluan pekerjaannya. PD dari acara yang Ariana bawakan ingin memberikan kesan yang berbeda, jadi akan ada episode special dimana bintang tamu tidak akan diundang ke studio, tapi acara akan syuting langsung di tempat narasumber.


Narasumber kali ini adalah seorang pria yang berperan besar dalam mengubah sebuah desa yang dulu terkenal kumuh, kini menjadi salah satu tempat wisata yang saat ini sedang naik daun. Karena bercerita tentang perubahan sebuah desa, maka tentu akan lebih bagus jika datang langsung ke sana.


"Aku dengar kau akan ke luar kota untuk urusan pekerjaan, jadi aku akan tinggal di rumahmu untuk menjaga Emily. Aku tahu kau khawatir tentang Ibuku, jadi aku tidak akan membawa Emily ke sana." Seolah tahu keresahan hati Ariana, Kevin datang menjemputnya, lalu mengajaknya minum kopi, dan mengatakan hal itu.


Kevin sudah mendengar tentang cerita ibunya pada Emily dan itu membuatnya kesal, sampai bertengkar lagi dengan ibunya. Kevin rasa, mungkin itu juga menjadi pertimbangan Ariana untuk membawa Emily pergi ke luar negeri. Sial! Kevin benar-benar membenci sifat ibunya yang seperti itu.


"Apa kau sudah mendengarnya?" tanya Ariana.

__ADS_1


"Ya, aku sudah mendengarnya. Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan Emily mempercayai hasutan murahan seperti itu," jawab Kevin.


"Kau sudah mengantisipasi hal itu sejak awal, jadi aku tidak begitu khawatir. Terima kasih."


Kevin tersenyum tipis mendengar ucapan terima kasih Ariana. "Kau tahu betul kalau aku tidak pantas untuk terima kasih itu, jadi jangan mengatakan. Kita sudah sepakat untuk tidak menjelekkan satu sama lain dan itu juga baik untuk Emily. Tentang rencanamu untuk membawa Emily ke luar negeri, kau ingin membawanya tinggal di negara mana?"


"Aku berpikir tentang Swiss."


"Pilihan yang bagus. Sistem pemdidikan di sana juga bagus, baik untuk pertumbuhan Emily. Aku akan menyiapkan semuanya untuk Emily dan dirimu, jadi kalian bisa pindah tanpa memikirkan apaun. Ibuku tidak akan mengetahui hal itu."


Ariana terkejut mendengarnya karena sebelumnya Kevin terlihat seolah tidak setuju dengan hal itu, tapi sekarang dia tiba-tiba ingin mempersiapkan semuanya untuknya dan Emily. "Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ariana. Ia sudah lama mengenal Kevin dan merasa kalau perubahan ini sangat tidak biasa.


Kevin tersenyum dan berkata, "Aku sungguh senang kau khawatir padaku, tapi jangan khawatir karena tidak ada hal aneh terjadi. Tolong jangan menolak apa yang aku katakan tadi. Ini demi Emily. Kau bisa melakukannya, kan?"


Ariana hanya menatap Kevin yang bersifat tidak biasa. Apa yang terjadi? Apa dia merencanakan sesuatu?


***


"Saya sudah melakukan apa yang Anda minta. Kami akan berangkat 5 hari lagi." Seorang pria memberikan kabar pada Fiona lewat sambungan telepon.

__ADS_1


"Yun PD, kau memang yang terbaik. Buat iklan yang besar, jadi targetku bisa melihatnya, lalu putrimu akan aman," balas Fiona yang saat ini tersenyum puas.


"Ya, akan saya lakukan." Suara pria yang biasa disapa Yun PD itu terdengar bergetar. Ia ketakutan karena Fiona yang telah berhasil mengancamnya dan selalu menakut-nakutinya selama beberapa waktu terakhir lewat putrinya.


__ADS_2