
Ariana tampak terdiam selama beberapa saat, kemudian tertawa setelah mendengar ucapan Kevin. Ariana kini menepis tangan Kevin dan setelahnya berkata, "Sekarang, aku bahkan tidak terkejut lagi jika melihatmu melakukan sesuatu yang buruk padaku. Apa kau pikir, ancaman akan membuatku bertahan denganmu? Aku semakin muak sekarang. Aku begitu muak sampai itu terasa bisa meledak." Ariana langsung pergi setelah bicara dengan Kevin.
Kevin ingin mengejar Ariana lagi, tapi ponselnya sudah lebih dulu berdering dan itu adalah telepon dari telepon rumah ibunya. Merasa ada yang tidak beres, Kevin pun dengan cepat menjawab telepon itu sembari menatap Ariana yang terlihat memberhentikan taksi. Kevin melangkahkan kakinya menyusul Ariana, tapi langkah kakinya kembali tertahan setelah mendengar ucapan dari kepala pelayan di kediaman ibunya.
"Nyonya Fiona masuk rumah sakit." Inilah yang Kevin dengar dan di saat bersamaan, Ariana telah masuk ke dalam taksi dan memilih pergi.
Walau masih ingin bicara dengan Ariana, tapi Kevin juga tidak bisa mengabaikan ibunya. Keputusan Kevin adalah ia pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan ibunya. Sedangkan Ariana memilih untuk kembali ke rumah.
Di rumah, Ariana yang ingin pergi ke kamar Emily, kini dibuat terdiam oleh kehadiran Camila. Ariana rasa, Camila pasti menunggu kedatangannya. Wanita itu terlihat seperti memiliki sesuatu untuk dikatakan padanya, pikir Ariana.
"Saya pikir, Anda adalah wanita berkelas, tapi tindakan Anda hari ini jauh dari kata berkelas. Anda mencuri barang-barang pribadi saya dan menunjukkannya tanpa persetujuan saya. Itu sangat rendahan." Camila mulai bicara seperti dugaan Ariana.
"Aku rendahan? Lalu, bagaimana denganmu? Kau mencuri suami orang lain ...."
"Anda bicara seolah perselingkuhan itu terjadi karena satu orang, tapi Tuan Kevin yang lebih dulu mendekati saya ...."
"Dan kau menerimanya dengan senang hati." Ariana dengan cepat menyela ucapan Camila, seperti yang wanita itu lakukan padanya.
"Jika kau memang punya akal sehat, maka kau tidak akan merendahkan dirimu dengan cara seperti itu," ucap Ariana lagi.
Camila melangkahkan kakinya, agar semakin dekat dengan Ariana. "Kami saling mencintai dan bagi saya tidak ada direndahkan dalam cinta." Dan Camila kembali bicara.
Ariana tertawa mendengarnya. Ariana kira, Camila memang berani, tapi dia hanya tidak tahu malu dan sedikit polos. "Kalian saling mencintai? Jika Kevin memang mencintaimu, lalu kenapa dia meninggalkanmu di sini dan malah mengejarku? Tadi, Kevin mengatakan kalau dia akan meninggalkanmu, agar pernikahan kami tetap dipertahankan. Dia bahkan sampai menangis dan memohon agar aku tidak pergi."
Camila terlihat memanas mendengar ucapan Ariana. Kedua tangan Camila bahkan tampak mengepal dan itu dilihat oleh Ariana. "Memiliki ambisi itu bagus, tapi kau meletakan ambisimu pada hal yang salah. Kau ingin mengambil posisiku sebagai Nyonya di rumah ini, kan? Baiklah, aku akan memberikannya padamu. Kau mungkin bisa mendapatkan posisi Nyonya, tapi itu tidak akan pernah membuatmu setara denganku. Kau akan tersiksa untuk seumur hidupmu karena ambisimu untuk menjadi seperti diriku." Ariana menambah suasana menjadi lebih panas, lalu melangkah pergi meninggalkan Camila.
__ADS_1
"Saya tidak akan menjadi seperti Anda, karena saya akan tumbuh melebihi Anda!" Camila masih terdengar penuh dengan ambisi.
Ariana tidak peduli dengan apa yang Camila katakan karena ia terlalu lelah dan muak saat ini. Ariana masuk ke kamar Emily dan tidur di sebelahnya. Ariana nenatap lekat Emily dan air matanya kembali tumpah begitu saja. Bukan dirinya, tapi Ariana tahu kalau Emily yang akan paling terluka karena perpisahannya dengan Kevin.
Menyakitkan ketika membayangkan bagaimana Emily yang masih tidak memahami apa-apa harus diberikan penjelasan tentang orang tuanya yang tidak lagi tinggal bersama, apalagi ini tidak akan mudah karena Kevin yang terang-terangan ingin menguasai Emily. Namun, Ariana tidak bisa bertahan dengan alasan demi kebahagiaan Emily, sebab anak kecil bisa dengan mudah merasakan ketidakharmonisan rumah tangga orang tuanya dan pada akhirnya itu juga akan menyakitinya.
"Ibu tidak akan menyerah terhadapmu. Ibu telah melihat betapa buruk sifat ayahmu dan ibu tidak akan membiarkanmu tinggal bersama dengannya." Ariana bicara dengan sangat pelan disela tangisannya, lalu mengecup kening Emily.
***
Pagi harinya, keadaan rumah tampak tenang seperti biasanya, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Para pelayan melakukan aktivitasnya seperti biasa, terutama Camila, walau dia sebenarnya tidak ingin melakukan pekerjaan apapun setelah apa yang terjadi semalam. Yang tampak berbeda adalah Kevin yang tidak terlihat sejak tadi, padahal biasanya dia sudah terbangun di jam seperti ini.
Di sisi lain, Ariana tampak menuruni tangga bersama Emily yang telah siap dengan seragan sekolahnya dan Yuri yang mengekor di belakangnya. Di depan Emily, Ariana bersikap seolah tidak ada yang berbeda, selain tidak mengajak Emily sarapan di rumah seperti biasanya. Ariana meminta Yuri membawa Emily ke mobil terlebih dulu dan nanti akan sarapan di tempat lain. Sementara Ariana kini tampak menatap ke arah Camila yang sibuk menyiapkan sarapan, tapi entah siapa yang akan memakan sarapan itu, sebab Kevin seperyinya belum pulang dan entah ada di mana dia saat ini.
"Selamat pagi, Nyonya Ariana. Kenapa Nona Emily tidak sarapan lebih dulu? Lalu, dimana Tuan Kevin saat ini? Apa dia belum bangun?" Wilda akhirnya bertanya pada Ariana. Wilda juga ingin bertanya tentang apa yang terjadi semalam, tapi belum mendapatkan kesempatan yang tepat untuk bertanya.
"Tentang Kevin, aku tidak tahu dia ada dimana. Kenapa tidak tanyakan pada Camila? Dia mungkin tahu." Pandangan semua pelayan seketika tertuju pada Camila setelah Ariana mengeluarkan kalimat itu. Mereka, kecuali Wilda, kini bertanya-tanya apakah Ariana sudah mengetahui perselingkuhan itu?
Kejutan semalam terjadi setelah waktu kerja pelayan selesai dan itu telah memasuki waktu istirahat mereka, kamar mereka pun berada jauh di belakang, jadi mereka tidak tahu apa-apa tentang kejutan itu.
Camila hanya bisa terdiam mendengar ucapan Ariana, tapi ternyata Ariana belum selesai dengan permainannya. "Jangan terlalu banyak bekerja saat hamil karena itu tidak baik untukmu. Apa Kevin tidak mengatakan itu padamu? Kasihan sekali, padahal saat aku hamil Kevin sampai menggendongku dari kamar ke meja makan." Camila pun harus kembali mendengar kalimat Ariana yang terdengar seperti ejekan untuknya.
"Hamil?" para pelayan pun mulai berbisik-bisik.
Camila meremas ujung seragamnya dengan begitu kuat. Camila sudah tidak tahan lagi sekarang, sampai akhirnya mengatakan, "Tapi pada akhirnya Tuan Kevin tetap lari ke dalam pelukan wanita lain." Dan semua orang terkejut mendengar Camila yang kini berani membalas ucapan Ariana.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu!" Wilda memperingatkan Camila.
"Tidak apa-apa, Bibi, dia hanya menunjukkan kualitas dirinya," ucap Ariana.
"Apakah kualitas ibu Anda juga seperti ini?" Camila menjadi semakin berani. Camila bicara seperti ini karena sebelumnya telah mendengar cerita dari Kevin tentang ibu Ariana yang menjadi penyebab dia tidak disukai oleh Fiona.
"Camila!" Wilda meninggikan nada suaranya.
Ariana tidak menyangka kalau Camila akan membawa ibunya ke dalam pembicaraan ini. "Kau yang paling tahu seperti apa kualitas dari wanita sepertimu." Ariana hanya mengatakan ini dan setelahnya pergi menyusul Emily.
Wlida kini berjalan mendekati Camila, berdiri di depannya, dan menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam. "Aku tidak tahu apa yang terjadi semalam, tapi kau seharusnya malu, bukannya malah semakin mempermalukan dirimu sendiri," ucap Wilda, kemudian pergi meninggalkannya.
"Karena Ariana adalah nyonya di sini, jadi dia bisa mengatakan apapun dan aku tidak? Ariana hanya orang sombong yang memperlakukan orang lain berdasarkan status sosialnya. Bagaimana bisa itu disebut berkelas?" kesal Camila. Camila kini melempar sendok yang sejak tadi ia pegang, kemudian pergi begitu saja.
***
Di rumah sakit, Kevin terlihat masih menemani ibunya yamg kondisinya telah sedikit membaik setelah sebelumnya kesehatannya sempat memburuk karena faktor beban pikirannya. Kevin berniat baru akan pulang setelah ibunya selesai sarapan, lalu meminum obatnya. Kevin berharap ia akan segera mendapatkan kesempatan bicara dengan Ariana setelah selesai dengan urusan ini.
"Jadi, apa keputusan Ariana?" Fiona bertanya sembari menikmati sarapan yang disuapi oleh Kevin.
"Dia ingin berpisah," jawab Kevin.
"Kalau begitu, hak asuh Emily kemungkinan besar akan jatuh padanya. Sial! Karena kebodohanmu ibu terancam akan kehilangan Emily." Fiona terlihat begitu kesal.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku ...."
__ADS_1
"Jangan hanya bicara saja. Ibu tidak peduli jika Ariana berpisah darimu, malah itu sangat bagus, tapi jangan sampai Emily jatuh ke tangannya atau ibu yang akan bertindak. Cucu ibu hanya Emily, bukan anak yang dikandung oleh pelayan itu. Sebaiknya, kau secepatnya selesaikan dia." Nada bicara Fiona penuh dengan penekanan dan juga perintah.