Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 18 [Sahabat Yang Mulai Berkhianat]


__ADS_3

Setelah terjadi kejutan besar yang bagaikan ledakan bom yang siap menghancurkan rumah tangganya, Kevin kini berusaha mencari keberadaan Ariana, tapi dia tidak ditemukannya di mana pun di rumah ini. Lalu, Kevin menyadari kalau mobil Ariana tidak ada di rumah. Kevin mencoba meneleponnya, tapi tidak diangkat. Ini sudah hampir tengah malam dan Kevin khawatir jika Ariana keluar sendirian selarut ini, apalagi setelah baru saja terjadi masalah yang begitu besar di rumah. Walau tidak tahu harus mencari kemana, tapi Kevin tetap keluar menggunakan mobilnya untuk mencari Ariana.


Sementara itu, Fiona yang baru saja sampai di kediamannya terlihat berteriak marah, lalu melempar barang apapun yang ada di dekatnya dan bisa ia lempar. Fiona bahkan tidak peduli jika barang yang ia lempar adalah barang langka dan berharga mahal. Fiona benar-brnar marah dan malu di saat yang bersamaan dan itu semua karena Ariana.


Para pelayan yang mendengar keributan kini nampak mulai berkumpul di sekitar Fiona, tapi mereka tampak takut untuk menghentikannya, sebab Fiona tampak begitu marah. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi ini adalah pertama kalinya mereka melihat Fiona yang selalu terlihat anggun dan berkelas berubah menjadi wanita pemarah bahkan brutal.


Satu lagi hiasan rumah yang berupa vas berbahan keramik pecah karena dilempar begitu saja oleh Fiona. Rumah yang tadinya rapi dan bersih, kini telah berubah menjadi penuh dengan kekacauan. Fiona bahkan tidak sengaja menginjak pecahan dari barang yang ia pecahkan, membuatnya kehilangan keseimbangan dam akhirnya jatuh. Kaki Fiona terlindungi dari luka karena sepatunya, tapi kedua telapak tangannya kini terluka karena ia terjatuh tepat di atas pecahan kaca.


"Aakkkhhh!" Fiona berteriak bukan karena rasa sakit dan perih di tangannya, tapi karena harga dirinya telah begitu terluka karena perbuatan Ariana. Tidak pernah ada yang berani melakukan pada Fiona dan Ariana, menantu yang ia benci telah membuat kesalahan yang begitu besar dengan mempermalukannya. Fiona tidak akan memaafkan wanita itu untuk seumur hidupnya.


"Tangan Anda terluka, Nyonya. Tolong bangkit, lalu kita obati lukanya." Sang kepala pelayan memberanikan diri untuk bicara karena kasihan melihat keadaan Fiona.


"Aku akan membalasnya. Pasti akan kulakukan itu. Aku tidak akan melepaskanmu!" Fiona kembali bangkit dan kembali ingi membanting barang, tapi dadanya tiba-tiba terasa sakit yang membuatnya jatuh tersungkur.


***


Ini adalah hari yang melelahkan karena menangis, pura-pura kuat, dan sebuah pertengkaran menguras semua energi Ariana, tapi bahkan setelah semua itu ia tidak bisa beristirahat. Kelelahan batin yang kini perlahan menjadi kekosongan telah begitu menyiksa Ariana. Air matanya bahkan tidak bisa keluar lagi sekarang, seolah air matanya juga ikut kosong.


Ariana membiarkan atap mobilnya terbuka, membuat angin malam pada musim panas menerbangkan helaian rambutnya sehingga membuatnya tampak seperti sedang menari. Kalau saja angin bisa menerbangkan semua masalah dan membuangnya ke suatu tempat yang jauh, maka Ariana yakin kalau semua masalahnya pasti sudah hilang sejak tadi karena ia sudah berkendara selama 30 menit lamanya.


Ariana ingin mencari ketenangan, tapi entah ada di mana ketenangan itu berada. Seseorang yang ia kira adalah rumah bagi hati dan jiwanya pada akhirnya telah mencabik-cabiknya hingga menjadi sehancur ini. Ada di mana sebenarnya rumah itu? Apakah rumah yang ia cari benar-benar ada? Atau semua itu hanya ilusi yang telah menyesatkannya?


Ketika mobilnya berhenti, Ariana tampak menatap orang-orang yang tampak berlalu di jalanan. Orang-orang itu tampak baik-baik saja, tapi Ariana telah belajar bahwa sesuatu yang baik-baik saja tidak selalu seperti apa yang terlihat. Lalu, dimana orang-orang sepertinya seharusnya berada sekarang?

__ADS_1


"Ariana?" sebuah yang terdengar begitu akrab membuyarkan lamunan Ariana.


Ariana menoleh ke samping kirinya dan melihat kehadiran Eric. "Kenapa kau di sini?" tanya Ariana.


Eric tampak tersenyum dan setelahnya berkata, "Kau seharusnya tahu bahwa bukan hal aneh jika aku mencari hiburan di jam seperti ini. Kau kenapa di sini? Dan apa yang terjadi pada tanganmu?"


Ariana memilih untuk turun dulu dari mobil, baru setelahnya menjawab pertanyaan Eric. "Aku hanya sedang mencari udara segar. Tentang tanganku, ini hanya luka kecil yang aku dapatkan saat melakukan sesuatu."


Tadinya, Eric pikir dirinya salah melihat, tapi wanita yang ia lihat memang benar Ariana. Mencari udara segar di jam seperti ini dan dari jarak yang cukup jauh dari rumah tampaknya sangat tidak biasa, sepertinya sedang terjadi masalah, tapi Eric merasa tidak enak jika bertanya terlalu jauh.


"Kalau begitu, kemana kau akan pergi sekarang?"


"Entahlah, aku tidak tahu akan kemana, tapi aku juga tidak ingin pulang."


"Kalau begitu, bagaimana kalau ikut denganku? Ada tempat yang sering aku datangi saat aku sedang ada masalah. Kau mungkin akan merasa lebih tenang setelah ke sana." Eric menatap lekat Ariana dan berharap akan mendapatkan jawaban ya.


Begitu mendapatkan persetujuan dari Ariana, Eric langsung mengajaknya ke sebuah bar yang letaknya dekat dari tempat Ariana menghentikan mobilnya. Ini bukan pertama kalinya Ariana pergi ke tempat seperti ini, tapi memang sudah lama ia tidak datang ke tempat seperti ini. Seingat Ariana, terakhir kali ia datang ke bar adalah sebelum Emily hadir untuk merayakan ulang tahun salah satu rekan kerjanya dan setelahnya tidak pernah lagi, sebab setelah pulang dari bekerja ia hanya ingin bertemu dengan Emily.


Ariana sungguh tidak punya ide apapun, termasuk minuman apa yang ingin ia pesan. Ariana menyerahkan semuanya pada Eric dan ia hanya duduk sembari menatap ke sekeliling tempat ini. "Inikah hiburan yang kau sukai? Apa hiburan seperti ini bisa membuatmu bahagia?" tanya Ariana.


Eric sempat melirik sekelilingnya, lalu kembali menatap Ariana. "Aku tidak mencari kebahagiaan di tempat seperti ini. Hal-hal seperti ini hanya hiburan sesaat karena kebahagiaanku ada di tempat lain." Eric tidak melepaskan pandangannya dari Ariana saat ia bicara.


Ketika Ariana kembali menatap Eric pandangan mereka pun akhirnya bertemu. Eric menatap jauh ke dalam mata Ariana dan entah kenapa ia merasa kalau cahaya kegembiaraan yang biasanya selalu teepancar dari mata Ariana, kini terasa perlahan meredup.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Eric.


"Kenapa? Apa aku terlihat menyedihkan?" Ariana balik bertanya pada Eric.


"Tidak seperti itu. Biasanya kau selalu memancarkan kegembiraan, tapi aku tidak melihatnya sekarang."


Ariana tersenyum kecil dan berkata, "Hidup tidak selamanya penuh kegembiaraan, kan? Bahkan jika kau telah mencoba sekuat tenaga untuk mempertahankannya, tapi kegembiraan dan kebahagiaan bisa hilang dari genggamanmu dalam waktu singkat hingga nyaris tidak kau sadari."


Mendengar kata-kata seperti itu dari Ariana membuat Eric berpikir, apa Ariana sudah mengetahui hubungan Kevin dan pelayan itu?


Eric ingin bertanya lagi, tapi minuman sudah lebih dulu datang dan setelahnya Ariana hanya terus minum dan tidak membicarakan apa-apa. Tidak cukup dengan satu gelas, Ariana memesan minuman yang sama untuk ketiga kalinya dalam waktu yang singkat. Saat Ariana akan meneguk minuman ketiganya, Eric dengan cepat mencegahnya karena tahu kalau Ariana tidak kuat dengan alkohol.


"Sudah cukup. Apa kau lupa kalau kau tidak kuat dengan alkohol?" ucap Eric.


Ariana menundukkan kepalanya dan isak tangisnya mulai terdengar. "Aku juga tidak kuat menanggung semua ini. Aku hanya pura-pura kuat dan itu melelahkan. Aku tidak mau menunjukkan kesedihanku karena itu hanya akan membuat terlihat semakin menyedihkan." Ariana bicara disela tangisannya.


"Ariana ..." Eric menyentuh wajah Ariana, lalu sedikit mengangkat wajahnya. Inilah kondisi Ariana yang sebenarnya, pikir Eric.


"Apa yang kurang dariku? Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku tidak menarik lagi? Apa Kevin tidak mencintaiku lagi? Aku tidak tahu apapun," ucap Ariana lagi.


Eric semakin merasa kalau apa yang ia pikirkan memang benar terjadi. Ariana telah mengetahui segalanya. Tapi, sejauh mana perselingkuhan itu terjadi?


"Lihat aku." Eric membuat Ariana menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Tidak ada yang kurang darimu. Kau sempurna, tapi Kevin yang terlalu bodoh karena menyia-nyiakan wanita sepertimu. Kau harus menemukan seseorang yang bisa menghargai cintamu dan menyadari betapa berharganya dirimu." Eric kembali bicara dan ia masih menatap lekat Ariana, lalu pelan-pelan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Ariana.


Di saat bersamaan, Kevin yang baru saja tiba di bar itu melihat bagaimana sahabatnya mencoba mencium istrinya. Tidak hanya Kevin, tapi Hana yang tiba bersama Kevin juga melihat hal itu.


__ADS_2