Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku

Pelayan Itu Selingkuhan Suamiku
Episode 39 [Aksi Gila Sang Pelakor]


__ADS_3

Bertahun-tahun mengenal Fiona, Ariana belum pernah melihatnya menjadi begitu kejam seperti sekarang ini. Bahkan setelah Camila jatuh dan mengalami perdarahan Fiona sama sekali tidak menunjukkan wajah bersalah atau rasa kasihan. Fiona bahkan ingin menampar Camila lagi, tapi Wilda menahannya. Wilda juga langsung memanggil petugas kesehatan, sedangkan Ariana masih diam di tempatnya dan hanya menatap Camila yang kesakitan.


Ariana tahu yang harus ia lakukan adalah memastikan petugas kesehatan cepat datang atau setidaknya membantu Camila untuk tetap tenang. Namun, mengingat semua perbuatan Camila padanya membuat segala langkah Ariana tertahan. Camila telah menghancurkan hidupnya, lalu kenapa ia harus membantu wanita itu sekarang? Camila juga telah membuat Kevin kritis, jadi bukankah semua ini pantas untuknya?


Semua pertanyaan itu berkeliaran di benak Ariana, beradu dengan sisi lain dalam dirinya yang mendorongnya untuk membantu Camila karena walau dia telah jahat padanya, tapi Camila sedang kesakitan saat ini, jadi bukankah dia harus ditolong?


Ketika Ariana masih berperang dengan dirinya sendiri, Fiona kini telah mendorong Wilda karena terus berusaha menghalanginya untuk memberikan pelajaran pada Camila. Fiona yang telah bebas dari Wilda, kini kembali mendekati Camila dan ingin menarik rambutnya. Namun, Ariana memilih untuk melakukan sesuatu saat ini. Ariana berdiri di depan Fiona untuk menghalanginya menyakiti Camila lagi.


"Tenang, Ibu. Kevin masih berada di ruang operasi, jadi tolong jangan membuat keributan," ucap Ariana.


"Aku akan tenang setelah dia mati!" bentak Fiona. Fiona mencoba mendorong Ariana menjauh dari jalannya, tapi tenaga Ariana jauh lebih besar dari Wilda, jadi tidak mudah untuk mendorongnya.


Beruntung petugas kesehatan rumah sakit akhirnya datang bersama petugas keamanan untuk menenangkan Fiona. Fiona di tarik menjauh dan Camila langsung dibawa untuk diberikan pertolongan. Ariana pun memilih pergi bersama Camila karena tidak ada yang menemaninya.


***


Ketika pagi datang, Mark tampak telah selesai dengan tugasnya, yaitu menyiapkan sarapan dan susu untuk Emily. Selain sebagai fotografer, Mark juga hoby memasak, jadi masakannya bisa dikatakan cukup bagus. Ini pertama kalinya Mark mendapatkan tugas menjaga anak kecil, jadi ia sangat bersemangat.

__ADS_1


Setiap bangun tidur, Emily akan selalu mencari ibunya, tapi kali ini bukan ibunya yang ia temukan, melainkan seorang pria yang merupakan sahabat ibunya. "Kenapa Paman di sini? Dimana Ibu?" tanya Emily.


Mark tersenyum, lalu berjongkok. "Paman di sini untuk menjagamu karena ibumu sedang ada urusan mendesak. Ayo makan dulu, lalu pergi ke sekolah."


"Aku tidak mau ke sekolah." Emily menggeleng dengan pasti dan wajahnya tidak terlihat ceria seperti biasanya.


Mark kembali mengingat apa yang terjadi kemarin dan itu pasti masih mempengaruhi Emily sampai saat ini. Mark tidak pandai membujuk anak kecil, tapi ia ingin melakukan yang terbaik ketika Ariana memercayakannya untuk menjaga Emily. Mark tidak akan membuat Ariana kecewa lagi.


"Kenapa kau tidak mau pergi ke sekolah?" Mark bertanya dengan hati-hati.


"Aku marah pada Ibu. Kenapa Ibu berpisah dengan Ayah?"


"Kenapa mereka tidak bisa sekolah? Apa sekolahnya sangat jauh?" Emily bertanya dengan polosnya.


Mark tersenyum mendengarnya. Mark rasa, Emily memiliki rasa penasaran yang begitu tinggi dan itu bisa menjadi hal yang baik jika diarahkan pada jalan yang benar. "Ada banyak penyebabnya. Jika kau mau, apa kau paman kenalkan pada seseorang? Dulu, dia tidak bisa sekolah, tapi sekarang dia begitu bahagia karena bisa sekolah lagi. Jika kau mengenalnya, maka kau akan tahu kenapa ada banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah dan betapa beruntungnya dirimu karena bisa sekolah di tempat yang bagus."


"Aku ingin bertemu dengannya." Emily kini tampak bersemangat lagi.

__ADS_1


"Baiklah, nanti kita akan bertemu dengannya. Sekarang, kau harus makan, lalu pergi ke sekolah. Ayo." Mark meraih tangan Emily, lalu mengajaknya ke meja makan.


***


Selama masa kehamilannya yang telah memasuki trimester kedua, Camila baru sekali melakukan pemeriksaan kandungan karena dia terlalu sibuk memikirkan ambisinya, karena itulah baru diketahui sekarang kalau terjadi gangguan pada plasenta janin dalam kandungan Camila. Perdarahan itu terjadi bukan hanya karena benturan, tapi juga karena gangguan pada plasentanya. Dokter telah melakukan yang terbaik, tapi janin itu tidak bisa diselamatkan dan harus dikeluarkan dari rahim Camila, agar bisa menyelamatkan nyawanya.


Camila tidak memiliki keluarga yang bisa dihubungi, ayah bayinya dalam keadaan kritis, dan Camila tidak dalam kesadaran penuh, maka Ariana yang menerima segala informasi tentang segala tindakan yang akan dokter lakukan dan memberikan persetujuan untuk tindakan itu. Camila telah mendengar hal itu, jadi ia menganggap kalau Ariana ikut bertanggungjawab atas kehilangan bayinya.


Camila menangis saat mengetahui kalau ia telah kehilangan bayinya. Camila tidak tahu harus bagaimana sekarang. Jika bayinya tidak ada lagi, maka apa alasan yang bisa ia gunakan untuk membuat Kevin menikahinya?


"Ariana, Fiona, kalian telah menghancurkan segalanya. Kalian telah menghancurkan hidupku!" Camila berteriak histeris, lalu ia memaksakan diri turun dari ranjang dan melepas paksa infusnya tanpa mempedulikan darah yang keluar karena paksaan itu. Camila kini keluar dari kamar tempat perawatannya dengan raut wajah yang terlihat penuh kemarahan.


Di sisi lain, Ariana tampak duduk dengan kepala yang tertunduk karena setelah melewati operasi yang panjang, sampai detik ini Kevin masih kritis dan tidak pasti kapan dia akan membuka matanya. Meski benci, marah bahkan jijik pada Kevin, tapi Ariana tidak pernah ingin Kevin berakhir seperti ini.


Di tengah lamunannya, Ariana mendengar keributan yang membuatnya langsung mengangkat kepala. Ariana yang penasaran kini berdiri, lalu pergi untuk melihat apa yang terjadi. Sampai akhirnya, Ariana melihat Camila yang berontak saat ditahan oleh seorang perawat wanita dan tangannya penuh dengan darah.


"Ariana!" Camila berteriak dengan kencang, lalu berontak dengan lebih keras sampai tidak ada lagi yang menahannya. Camila kini berjalan ke arah Ariana dengan memegang sebuah gunting yang tadi ia rebut dari salah satu perawat yang mencoba menahannya.

__ADS_1


Camila menjadi semakin tidak tahan dengan Ariana sekarang. Memang atas dasar apa Ariana berani mengambil keputusan atas hidupnya? Wanita itu pasti sengaja melakukannya agar ia tidak menikah dengan Kevin. Ariana ingin balas dendam padanya, padahal dia yang seharusnya menderita. Ariana dan ibunya yang sialan itu telah menghancurkan hidupnya dan Camila akan membalasnya sekarang.


Melihat Camila yang menggila hingga terlihat seolah ingin menusuknya dengan gunting membuat Ariana seketika bergerak mundur. Ariana tidak mengerti untuk apa semua itu Camila lakukan?


__ADS_2