
di kamar sebelah tepatnya kamar fatimah ia juga mendapat telepon.
fatimah // hallo
rian // bagaimana? info apa yang ingin kau laporkan.
fatimah // dani sepertinya mengikuti permainanku, tinggal kaka coba deketin aisyah
sepertinya aku gak sia-sia kerja sama ama ni bocah. tergambar senyum di wajah rian.
**
di kediaman rian, ia sedang menelpon fatimah tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya.
"ya, masuk". ketus rian tanpa menoleh ke arah pintu.
"pak rian... ".suara tania membuat rian menoleh kepadanya dengan terkejut.
rian : "kenapa kau bisa di rumahku? "
tania : "maaf pak, tadi siang nenek bapak menelpon saya, katanya beliau merasa kesepian"
tapi rian yang pikirannya masih kalang kabut banyak masalah membuat merespon tania dengan pertanyaan.
rian : "apa kau masih menyukai dani? "
tania : "kenapa bapak bertanya itu? " (kaget)
rian : "harapan kita kan sama ingin memiliki mereka, kau ingin dani sedangkan aku inginkan aisyah"
"setelah saya mengoreksi diri ya pak, memanjatkan doa dan solat malam... entah kenapa perasaan itu memudar. tapi, mungkin jika saya di pertemukan lagi, mungkin saya akan kesulitan menahan diri". tania malahan bicara panjang lebar seperti curhat kayanya yah, wkwk.
__ADS_1
"menahan diri? " ujar rian bertanya-tanya.
"yah pak, mungkin aku mendadak psikopat di hadapannya. mencakar-cakar aisyah sampai berdarah". seperti berekspresi dendam.
mendengar pernyataan tania membuat rian sedikit merinding. namun ia juga masih bertanya seperti meninvestigasi tania.
"berarti kau sudah menerima orang baru datang ke kehidupanmu? ". rian lanjut bertanya
"mungkin pa" ekspresi datar.
"eikh kenapa saya jadi terpengaruh omonganmu" rian tersadar.
"mungkin belum datang jodoh disebabkan merusak rumah tangga orang lain" sambil beranjak pergi tania.
"eikh kamu, nyindir saya? " rian pun mengejar tania karena geram atas ucapannya.
sesampainya di ruang tamu langkah rian terhenti melihat tania sedang mencium tangan neneknya untuk pamit pulang. nenek pun menyadari ada rian di situ.
nenek : "ian, anterin tania pulang yah"
nenek : "kamu gengsi nganter bawahanmu?"
tania : "gak papa nek, saya bisa pulang sendiri inshaa alloh aman. "
nenek : "perempuan itu harus penuh penjagaan nduk"
rian : "ya yah, " (muka sebal)
nenek : "hati-hati ya nduk"
tania : "makasih nek"
__ADS_1
**
sepanjang perjalanan tania dan rian hanya terdiam dan dalam mobil tak menyetel musik membuat suasana semakin hening. akhirnya untuk mencairkan suasana tania memulai perbincangan.
tania : "terimakasih pak"
rian : "kamu tadi nyindir saya ya"
tania : "nyindir gimana pak? "
rian : "pengrusak rumah tangga orang"
tania : "maaf pak, saya tidak bermaksud. itu hanya selreminder"
"kenapa semua rencanaku sampai sekarang semuanya gagal untuk memisahkan mereka. aku tak ingin membunuh salah satunya. karena kau mencintai orang yang ingin ku bunuh". sekarang malahan rian yang ngomong panjang lebar.
"bapak memikirkan perasaan saya?, kenapa? ". tania sedikit deg-degan agak tersanjung.
aduh kenapa keceplosan gitu. gumam rian.
"rumahmu mana? "
tania terkejut dengan pertanyaan rian membuat melihat keluar.
"sepertinya kelewatan pak". sambil ketawa kecil
"maaf maaf. ya udah putar balik ya". rian sedikit malu gara-gara ia ngomong panjang lebar jadi tidak fokus.
"udah pak, berhenti di sini...makasih banyak ya pak"
kenapa dia tidak menawarkanku ke rumahnya. penasarannya rian membuat ia juga ikut turun dan mengikuti tania. ternyata bukan rumahnya sebab tania berjalan ke jalan yang gak lumayan besar. hingga langkah rian terhenti ketika tania masuk rumahnya.
__ADS_1
"ini rumahnya? " merasa kaget sekali.
BERSAMBUNG