
Mobil hitam yang membawa aisyah menuju ke sebuah bandara kota asal suami aisyah. Di sana sudah ada seseorang yang keren dengan style jasnya.siapa lagi kalau bukan pak Rian, ia sudah stay di bandara terlebih dahulu. Para orang-orang yang berbaju hitam menyerahkan Sandraannya pada bossnya.
Rian : “ouh good job. Bagus, kalian menjalankan apa yang aku perintahkan”
Anak buah : “ini kan boss orangnya”
Rian : “iyah benar. Saya akan mentransfer upah kalian dan ku tambah tips”
Anak bos : “makasih boss, ya udah kami pamit boss”
Rian : “ya udah sana… simpan saja wanita itu di kursi tunggu”
Aisyah belum tersadar dari pingsannya, sehingga ia tak merasakan apapun yang terjadi pada dirinya. Termasuk di gendong oleh rian untuk masuk ke pesawat. Rian dengan lembut memasangkan sabuk pengaman kamudian menyimpan kepala aisyah di pundaknya.
“akhirnya syah, kau ada di sampingku seperti ini. aku bahagia sekali” ucap rian pada aisyah yang masih pingsan kemudian ku cium kepalanya lalu mengelus-elusnya. Rian akhirnya ikut terlelap.
__ADS_1
Masih dengan klise popular, atas nama cinta bisa menjadikan seseorang seperti telah melakukan kejahatan. Itu lah yang terjadi pada diri rian. Ia memiliki pribadi yang baik dan bijaksana bisa melakukan sedemikian rupa untuk mendapatkan seseorang wanita yang di cintainya.
***
Telepon tak terjawab dan di luar jangkauan yang terdengar berulang kali oleh Fatimah, di layar hp tertulis boss rian. Fatimah sudah geram teleponnya tidak sambung-sambung pada rian, akhirnya ia pun langsung bergegas mengunci rumah dani dan pergi ke sebuah rumah sakit yang di infokan polisi tadi dari telepon. Karena ia tak bisa mengendarai motor apalagi mobil alternatifnya menggunakan kendaraan umum yang di pesan online.
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menanyakan keberadaan pasien yang bernama pak dani, di antarlah Fatimah oleh salah seorang suster di sebuah ruangan. Ia langsung membuka pintu ruangan itu, namun ekspresinya bukan sedih namun terkejut. Di dalam sudah ada seorang wanita yang berhijab latte duduk di samping ranjang.
“siapa wanita itu” gumam Fatimah. Kemudian ia mengucapkan salam untuk menghilangkan rasa canggungnya di suasana ruangan tersebut.
Tania : “waalaikumussalam” berdiri dari duduknya
Fatimah : “benar ini ruangannya pak dani?” pura-puranya bertanya untuk memastikan.
Tania : “benar, apakah anda saudarinya dani?”
__ADS_1
Fatimah : “eu…saya sepupu iparnya pak dani atau sepupu dari istrinya pak dani” berkata terbata-bata karena gugup
“sepupu ipar? Itu termasuk saudara jauh gak sih. Kok bisa kesini terlebiih dulu dari pada orang
tuanya dani". Gumam tania sembari memandangi gimmick Fatimah yang seperti gugup. Tania pun minggir dan tersenyum memberi isyarat seperti mempersilahkan.
“apa kamu sudah memberi tahu keadaan dani pada orang tuanya?” tanya tania.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Fatimah sedikit gelagapan menjawabnya. Karena dalam pikirannya situasi seperti ini adalah kesempatan baginya untuk berduaan dengan pak dani.
“eu..eu belum mba. Saya tadi dari rumah terburu-buru langsung ke sini” jawab Fatimah sembari menghamburkan pandangan. Tak berani memandang lawan bicaranya.
Tania merasa ada keganjalan mendengar jawaban tania, tapi ia tetap berprasangka baik pada Fatimah.
“dari awal gelagatnya sudah aneh dan ucapannya juga. Tapi tunggu, jika sepupu istrinya dani. Mana istrinya? Kok tidak Bersama dengannya” timbul banyak pertanyaan di benak tania pada wanita yang di hadapannya kini.
__ADS_1