penantian indah

penantian indah
episode 77


__ADS_3

Episode 77


Tapi aisyah hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Lalu ia bangun dan pergi sambil melambaikan tangan. Dan aisyah semakin menjauh semakin tak terlihat terkibaskan oleh pakaiannya yang puith-putih dan cahaya


yang sangat terang.


Mimpi itu membangunkan dani dari komanya yang sudah seminggu hanya terbaring di ranjang rumahh sakit.


Aisyaaahhh…lirih dani sembari mencoba membuka matanya


Sang ibu yang masih memegang tangannya langsung terbangun dengan gerakan tangan yang di genggamnya.


Mashaa alloh….alhamdulillah allohu akbar…nak kau akhirnya sadar juga.


Sembari mengusap wajahnya yang sudah basah oleh air mata.


Sang ayah pun langsung memanggil dokter.


Suasana di ruangan teratai 13 menjadi riuh ramai lalu Lalang dokter dan suster. Ayah pun hanya di pojokkan melhat dokter memeriksa anaknya sembari memeluk istrinya dengan penuh hangat.


Ayah dani : “bagaimana dok keadaannya?”


Dokter : “berkat doa bapak dan ibu lah….keadannya baik-baik saja pak”

__ADS_1


Ayah dani : “alhamdulillah dok”’


Dokter : “kami meminta maaf atas sebesar-besarnya yah pak, karena kelalaian kami pak dani menjadi mengalami keadaan vegetative. Yang seharusnya hanya perlu beberapa jam sadar dari pasca operasinya malah mengalami koma”


Ayah dani : “saya tidak terlalu faham dunia kesehatan. Tapi saya yakin dokter pasti akan bertanggung jawab atas amanah yang telah di embannya”


Dokter : “terima kasih pak. Kami akan menjaga pak dani sepenuhnya sampai ia seperti biasanya beraktivitas”


Tiba-tiba di tengah-tengah perbincangan ayah dani dengan dokter terdengar suara sesuatu terjatuh dari kamar dani, dan benar saja semua mendapati dani sudah terkulai di lantai.


Ayah : “kau mau apa? Biar kami bantu”


Dani : “aisyah yah…aisyah”


Ibu : “aisyah ada di rumah nak.”


Maafkan ibu nak, sudah berbohong. Maaf nak


Mendengar jawaban itu, dani bisa di kendalikan dokter dan para suster membantunya untuk kembali ke ranjang.


Sedangkan ayah sedang menenangkan istrinya di uar ruangan.


Ayah : “sudah…sudah. Jangan perlihatkan tangisanmu di depan dani nanti dia curiga”

__ADS_1


Ibu : “saya tak pandai berbohong. Apalagi tadi melihat wajah dani yang begitu jelas menggambarkan bahwa ia sangat merindukkan istrinya”


Saya juga sangat sedih dan tidak tega melihat dani seperti itu. Tapi aku harus kuat, sebagai seorang ayah, suami atau kepala rumah tangga harus mampu menahan air matanya untuk tidak terjatuh. Dalam hati, ayah sambil memeluk istrinya.


Ternyata figure seorang ayah seperti itu, ia hanya berpura-pura kuat berusaha menghilangkan kesedihannya.


Ayah dan ibu pun kembali masuk ruangan dani dengan  wajah ceria lagi, seakan-akan tidak pernah terjadi apapun.


Ibu : “masih ada yang sakit nggak nak?” (sembari duduk di samping ranjang)


Dani : “aisyah kapan akan ke sininya bu?”


Ibu : “eu..eu..” (bingung ,encari jawaban)


Dani : bu?”


Ibu : “eu…gini nak, ibu menyuruhnya untuk istirahat karena dia sudah terjaga di sini selama beberapa hari merawatmu. Matanya sudah mengantung sepertinya ia kekurangan tidur”


Dani : “kata dokter, kapan dani bisa pulang bu?”


___________________


Akhirnya saya di beri kesempatan lagi untuk melanjutkan kisah ini. beberapa waktu lalu saya sempat ga up-up karena saya memfokuskan belajar dan kurang mendapat ide..hehe

__ADS_1


Namun kini alhamdulillah, berkat dukungan para readres pula saya bisa melanjutkan ini lagi


Thank you


__ADS_2