Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.15 - Menerobos


__ADS_3

“Perasaan ini sungguh memabukkan..”


Xu Feng mengerang menikmati perasaan menerobos. Tubuhnya sekali lagi dibasuh oleh energi qi yang terserap melalui meridiannya sebelum disebarkan ke seluruh tubuhnya.


Namun kali ini sedikit berbeda. Kenaikan ke ranah Tahap Kedua hanya meningkatkan kekuatan dan ketangguhan otot Xu Feng sedangkan naik ke ranah Tahap Ketiga memperkuat setiap tulangnya.


Setelah perasaan menerobos menghilang, Xu Feng meregangkan tubuhnya dan memperhatikan bahwa kelenturannya telah meningkat pesat.


Xu Feng saat ini lebih fleksibel, eksplosif dan gesit.


“Aku dapat memanipulasi tubuh ku dengan lebih halus.”


Xu Feng sangat jelas atas perubahan pada tubuhnya.


“Akurasi Teknik Pedang Surgawi meningkat ke tingkat yang baru berkat efek mencapai Tahap Ketiga. Aku sekarang mampu melakukan gerakan dari sudut yang rumit dengan mudah. Seranganku akan semakin beragam dan semakin sulit untuk diantisipasi!


“Dan juga, meski jangkauan Langkah Bayangan tidak berubah tetapi kecepatannya menjadi semakin cepat!”


Xu Feng menarik napas dalam-dalam setelah selesai menganalisis perubahan pada tubuhnya. Dia merasa gembira.


“Tidak heran tahap ini disebut sebagai Tahap Pengendali. Perasaan ringan dan berkuasa atas setiap inci tubuh benar-benar luar biasa.”


Ketika dua teknik Xu Feng ditumpangkan dengan ranah Tahap Ketiga, dia sudah bisa dianggap memasuki jajaran orang-orang kuat.


Dia bahkan bisa memasuki jajaran para jenius top di Sekte Teratai. Tidak banyak anak muda yang dapat mencapai prestasi Xu Feng.


Dia sekarang telah memantapkan pondasi kokohnya di dunia kultivasi!


“Menjadi pengembara sungguh membuat ku miskin. Tidak ada sumber pendapatan sumber daya yang stabil.”


Xu Feng mengepalkan tinjunya dalam-dalam dan semakin haus akan batu spiritual. Namun dia sadar bahwa setelah meninggalkan Sekte Teratai, kesempatannya untuk bertemu batu spiritual akan semakin kecil.


Hal-hal berharga seperti itu hanya tersebar di antara berbagai fraksi-fraksi yang besar. Mereka pada dasarnya memonopoli batu spiritual.


“Aku harap beberapa hal baik terjadi di masa depan..”


Xu Feng hanya bisa berharap. Dia kemudian menggelengkan kepalanya dan menepis pemikirannya sebelum kembali menuju Gao Gao.


Dia tidak ingin membuatnya khawatir karena menunggu terlalu lama.


Ketika Xu Feng tiba, yang dia lihat adalah Gao Gao yang sedang tertidur lelap di bawah naungan salah satu pohon. Dengkurannya terdengar jelas di telinga Xu Feng.


Dia bahkan bisa beristirahat di tempat seperti ini! Dia sepertinya tidak mengenal sifat waspada sama sekali.

__ADS_1


Xu Feng tercengang. Dia segera menghampiri babi tidur itu dan menendangnya dengan keras, menyebabkan Gao Gao tersentak bangun.


“Musuh!?”


Dia segera berteriak terkejut namun matanya masih linglung.


“Musuh? Musuh pantat mu!”


Xu Feng sedikit kesal dan menendangnya sekali lagi. Orang bodoh macam apa yang berani tertidur di hutan belantara tanpa penjagaan sama sekali?


“Aduh duh berhenti! Tendangan mu menyakitkan kau tahu?”


Gao Gao meringis kesakitan. Dia tidak berbohong. Xu Feng memang menggunakan setengah kekuatan ketika menendangnya.


“Apa kau pikir diri mu adalah orang suci yang tidak bisa mati? Bahkan Dewi Keberuntungan tidak akan bisa menyelamatkan mu jika kau terus melakukan hal konyol!”


Jawaban Gao Gao hanyalah lantunan gumaman tidak jelas. Dia bahkan mengutuk kesialannya karena tidak bisa memulihkan energinya dengan baik.


“Kau..”


Xu Feng menyerah. Dia tidak tau bagaimana memperbaiki logika anak itu.


“Ayo pemalas! Kita harus melanjutkan perjalanan!”


“Apa kau mencoba membunuh ku!?”


Gao Gao terbatuk beberapa kali dan menatap punggung Xu Feng dengan tidak percaya. Namun Xu Feng terus berjalan dan hanya melambaikan tangannya.


Melihat punggung Xu Feng yang semakin menjauh, Gao Gao hanya bisa mengikuti dengan tatapan benci. Dia berjanji suatu saat nanti akan membayar hutang ini.


Suara auman binatang iblis datang setelahnya, menyebabkan setiap bulu di tubuh Gao Gao berdiri.


“Saudara.. Tunggu aku!!”


Dia segera berteriak dan berlari sekuat tenaga menyusul Xu Feng.


……..


Sudah lima belas hari sejak mereka melakukan perjalanan.


Di hadapan mereka samar-samar tersaji bayangan sebuah desa. Ini adalah desa kelima yang mereka lalui selama perjalanan.


“Apakah kita harus masuk atau menghiraukannya?”

__ADS_1


Gao Gao berbisik di samping Xu Feng. Dia bertanya demikian karena pengalaman yang telah mereka lalui di desa-desa sebelumnya. Beberapa desa menerima mereka dengan hangat namun beberapa tidak menerima tamu dan mengusir mereka secara kasar.


Mereka bahkan sempat dikejar massa dari salah satu desa miskin karena dituduh membunuh sapi milik salah satu petani. Semuanya karena Gao Gao tidak sengaja bertemu seekor serigala dan berlari panik menuju ladang yang pada akhirnya menyebabkan sapi malang itu meninggal di mulut pemangsa.


Keadaan baru berakhir ketika Xu Feng menunjukkan kekuatannya sebagai seorang pengendali Tahap Ketiga. Kepala desa saat itu bahkan mulai memperlakukan mereka layaknya tamu kehormatan.


“Tentu saja kita harus masuk, cadangan makanan kita sudah hampir habis. Perlu untuk mengisi ulang.”


Xu Feng berkata sambil menunjuk ransel yang ada di belakang punggungnya.


“Baik..”


Gao Gao mengangguk ringan dan menelan ludah. Dia sendiri merasa jenuh dan capek setelah melakukan perjalan panjang berhari-hari. Dia rindu akan tempat peristirahatan yang nyaman.


“Kita akan bermalam di desa ini..”


Mereka berdua lalu berjalan menuju desa.


Desa itu bernama Desa Huo, tempat klan Huo menetap dengan populasi tiga ribu orang, sebuah desa besar. Setidaknya demikian menurut informasi yang mereka peroleh dari desa sebelumnya.


Desa itu dikelilingi oleh tembok kayu yang kokoh. Setiap pasak tembok terbuat dari satu batang utuh pohon.


Ketika Xu Feng dan Gao Gao mendekat, mereka memperhatikan beberapa anggota klan yang berpatroli di atas dinding kayu. Mereka memegang tombak dan bergerak bolak-balik.


Salah satu anggota klan memperhatikan kedatangan mereka dan berteriak.


“Berhenti!”


Penjaga itu memeriksa keduanya dari atas ke bawah dengan hati-hati dan menyadari keduanya masih muda. Agak jarang melihat pengelana semuda mereka.


Dia segera berbicara dengan lembut dan menanyakan kepentingan mereka. Xu Feng secara alami menjawab ingin menginap di desa itu selama satu malam.


Penjaga itu mengangguk dan memberi tahu Xu Feng mengenai penginapan yang berada tidak jauh di bagian utara desa. Sebelum pergi, dia mengingatkan keduanya agar tidak membuat kerusuhan selama berada di desa.


“Jangan khawatir, kami akan mengingatnya!”


Xu Feng mengangguk dan memastikan. Dia sengaja tidak mengeluarkan auranya karena Xu Feng merasa itu tidak perlu. Dia bukan tipikal orang yang suka pamer.


“Baiklah kalau begitu. Selamat datang di Desa Huo!”


Petugas patroli lalu mengizinkan mereka memasuki desa.


Xu Feng mengucapkan terima kasih dan berjalan melewati gerbang. Gao Gao yang mengikuti di sampingnya melirik sekelilingnya dengan tatapan ingin tahu dan segera bosan dengan cepat.

__ADS_1


Tidak ada yang unik tentang Desa Huo, semuanya hampir sama seperti desa-desa yang pernah dia lalui.


__ADS_2