Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.75 - Setelah Pertarungan (2)


__ADS_3

Pembersihan berlangsung sepanjang malam hingga matahari terbit. Berkat kemampuan interogasi dari Tetua Yang Meng, dia berhasil membuat Komandan Resimen melontarkan semuanya. Pada akhirnya, diketahui bahwa ada sekitar lima puluh penyusup lagi di dalam pasukan.


Ketika matahari perlahan menyinari daratan, sisa-sisa kekacauan akibat pembersihan masih terlihat dimana-mana. Banyak tubuh tak bernyawa dan bercak darah tersebar di sekitar kamp.


“Musuh sungguh-sungguh lihai..” Xu Feng bergumam pelan ketika menyaksikan para prajurit mengangkat mayat-mayat itu. Meski musuh, dia mau tidak mau harus mengakui tekad dan kepintaran mereka.


“Aku setuju..” Zhao Quan menghela napas atas perkataan Xu Feng dan menatapnya dengan perasaan bersyukur. Jika bukan karena Xu Feng, mereka mungkin masih tidak akan tahu jika ada banyak lalat yang bersembunyi di dalam pasukan mereka.


Memikirkan konsekuensinya saja sudah membuat tubuh Zhao Quan merinding.


“Fen’er, aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu.” Tetua Yang Meng menimpali dengan tulus. Orang-orang yang berada di sekitar mereka mau tidak mau langsung terkejut dengan cara Tetua Yeng Meng memanggil Xu Feng, bahkan Xu Feng sendiri pun sama terkejutnya.


“Tetua, ini merupakan tanggung jawabku juga!” Xu Feng membalas dengan sedikit canggung. Dia tidak terbiasa dipanggil intim oleh seseorang, apalagi dia baru beberapa hari bertemu dengan Tetua Yang Meng.


“Haha.. Tidak perlu rendah hati bocah.” Tetua Gong Heng tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Xu Feng dengan ramah. Dia sejujurnya sangat kagum pada bocah ini, di usianya yang masih muda namun sudah mencapai prestasi yang luar biasa. Gong Heng teringat ketika umurnya sama seperti Xu Feng, dia saat itu masih berada di Tahap Ketiga. Membandingkannya membuat hati Gong Heng sedikit perih.


Percakapan di antara mereka secara alami disaksikan oleh banyak orang. Mereka semua lalu penasaran dengan identitas Xu Feng yang dapat berbicara santai dengan para petinggi pasukan. Bagaimanapun, tidak banyak orang yang bisa memperoleh rasa hormat dari Tetua Inti Sekte Elang Hutan.


Bahkan Patriark Keluarga Besar pun perlu memperlakukan para Tetua ini dengan hati-hati.

__ADS_1


“Katakan saja apa yang kau inginkan..” Gong Heng menambahkan.


Mendengar hal itu, mata Xu Feng berbinar. Dia bukanlah pria yang ragu-ragu dan langsung meminta Batu Spiritual. Sekte Elang Hutan adalah sekte yang besar, mereka pasti mempunyai cadangan Batu Spiritual yang melimpah.


“…” Yang Meng, Gong Heng dan Zhao Quan tertegun mendengar permintaan Xu Feng. Bukan karena permintaan Xu Feng terlalu berlebihan, sebaliknya karena permintannya dapat dibilang sangat kecil. Batu Spiritual memang berharga, namun ada masih banyak hal yang lebih berharga dibanding Batu Spiritual, seperti senjata atau pil. Bagi mereka bertiga, permintaan Xu Feng sangat aneh.


“Fen’er, tidakkah kau meminta terlalu sedikit?” Tetua Yang Meng segera mengingatkan Xu Feng dengan lembut, dia merasa bahwa Xu Feng terlalu berhati-hati sehingga hanya meminta hadiah yang kecil.


Namun Xu Feng menggelengkan kepala dan menyebut bahwa dirinya hanya menginginkan Batu Spiritual. Tetua Yang Meng mencoba mengingatkan sekali lagi dan menyebut bahwa Sekte Elang Hutan terkenal dengan kemampuannya dalam menempa senjata.


Tapi tidak peduli apa yang dikatakan oleh Yang Meng, Xu Feng tetap tidak tergoda. Senjata memang sangat penting, tapi tidak ada yang sepenting kemajuan kultivasinya.


Sangat jarang menemukan anak muda yang dapat mengendalikan keinginannya, pikir Tetua Gong Heng.


Ketika mereka sibuk dalam percakapan, tim yang kemarin ditugaskan menjemput Huo Teng dan rombongannya akhirnya tiba. Xu Feng lalu berkata bahwa dia ingin menemui teman lamanya sehingga meminta undur diri.


Ketiga lelaki tersebut mengangguk dan pergi, mereka juga masih memiliki banyak tugas yang harus diselesaikan. Xu Feng kemudian pergi menuju rombongan yang terparkir di luar kamp.


Ketika Xu Feng tiba, beberapa orang sudah memperhatikannya, termasuk Huo Teng dan para Tetua Desa Huo. Mereka sedari awal sudah gelisah karena merasa rendah diri berada di dekat pasukan yang besar, terutama ketika tim yang menjemput mereka dipenuhi oleh orang-orang dari Tahap Keempat.

__ADS_1


“Saudara Xu, senang melihatmu baik-baik saja..” Huo Teng buru-buru mendekati Xu Feng dan mengenggam tangannya erat-erat. Kegelisahan di hatinya juga berkurang dengan adanya Xu Feng.


“Senang melihatmu juga..” Xu Feng balik menyapa, dia menghela lapas lega ketika menyadari tidak ada sedikit pun kerusakan yang dialami oleh rombongan. Sepertinya perjalanan mereka baik-baik saja.


“Tuan pendekar, tugas kami sudah selesai. Kami pamit undur diri.” Salah satu pria yang berada di tim mendekati Xu Feng dan memberi salam. Meskipun dia belum mengetahui seberapa hebat Xu Feng, tapi agar Zhao Quan yang meminta mereka sendiri untuk menjemput desa kecil ini, dia yakin Xu Feng pasti bukan orang yang biasa-biasa saja.


“Terima kasih..” Xu Feng mengangguk dan memberi salam juga, dia menghargai orang-orang dengan karakter lurus seperti ini.


Setelah tim pergi, hanya ada Xu Feng dan rombongan Desa Huo. Huo Teng yang dari awal terdiam kemudian menghela napas sambil melirik Xu Feng dengan rumit, “Aku tidak bisa lagi melihat melalui dirimu, bahkan orang-orang Tahap Keempat dapat mengikuti perintahmu.”


Xu Feng hanya terkekeh pelan dan tidak berniat menjelaskan lebih jauh. Xu Feng tahu bahwa jika dia menjelaskan situasi yang sebenarnya, hubungan di antara mereka akan berubah lebih canggung. Lagipula tidak peduli seberapa dekat mereka, jika jarak antara keduanya sudah sangat terlalu jauh, akan muncul sebuah kerenggangan.


Meskipun Xu Feng tahu bahwa dia tidak bisa menyembunyikan kebenaran selamanya dan bahwa cepat atau lambat semua orang akan mengetahui kekuatannya, dia tidak ingin merusaknya terlalu dini.


Xu Feng lalu memanggil seseorang dan memintanya menyampaikan pesan kepada Zhao Quan. Karena masalah sudah selesai, Xu Feng tidak ingin tinggal lebih lama di tempat ini. Dia masih memiliki banyak hal yang harus diselesaikan, termasuk bahwa namanya sudah terlalu lama menghilang di Rumah Bayangan.


“Sampaikan pada Tetua Zhao Quan bahwa aku akan kembali ke Desa Xue..” Xu Feng hanya memberikan pesan sederhana dan penjaga yang awalnya bingung karena tidak mengenal Xu Feng segera menegakkan badan dengan lurus. Siapa pun yang dapat berhubungan dengan Zhao Quan dapat dipastikan merupakan individu yang luar biasa. Penjaga itu segera membalikkan badan pergi dengan terburu-buru.


Ketika Huo Teng mendengar apa yang Xu Feng katakan, bola matanya hampir keluar. Dia tentu saja mengenal siapa Zhao Quan! Tapi Huo Teng lebih terkejut dengan bagaimana Xu Feng bisa begitu dekat dengan ahli Tahap Tujuh terkenal itu.

__ADS_1


Xu Feng di sisi lain tidak peduli. Adapun mengenai hadiah yang akan diberikan oleh Tetua Yang Meng, Xu Feng yakin Zhao Quan sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Orang tua itu pasti akan mengirim seseorang untuk membawanya ke Desa Xue sehingga Xu Feng tidak terlalu peduli.


__ADS_2