Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.26 - Menuju Desa Xue


__ADS_3

“Saudara Xu, Nona Ding. tolong hati-hati, aku minta maaf karena tidak bisa ikut membantu kalian..”


Huo Teng menatap rombongan Xu Feng yang kini tengah mempersiapkan diri. Gao Gao telah diberitahu sebelumnya sehingga dia juga sudah ada di tempat itu.


“Tidak perlu minta maaf.”


Xu Feng melambaikan tangannya, dia tahu bahwa Huo Teng tidak bisa meninggalkan desa, sekali dia pergi, orang-orang dengan motif tersembunyi yang berada di Desa Huo mungkin akan melakukan berbagai tindakan yang membahayakan desa.


Sosoknya sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan desa.


“Senior Xu, mari pergi..” Huo Tin menghampiri Xu Feng dan berbisik di sampingnya.


Meskipun Huo Teng tidak pergi, bukan berarti Desa Huo tidak memberikan bantuan sama sekali, setidaknya Huo Tin dan Tetua keenam akan ikut sebagai bala bantuan bersama dengan sepuluh anggota klan yang semuanya berada di Tahap Pertama.


Segera mereka memakai jubah dan tudung sebelum meninggalkan Desa Huo melalui jalan rahasia. Ini adalah jalur yang hanya diketahui oleh Patriark dan Tetua Desa Huo saja.


Xu Feng sebelumnya tidak menerima tunggangan yang diberikan oleh Huo Teng, dia hanya memilih dua kuda biasa sebagai tunggangan untuknya dan Gao Gao.


Penampilan Rusa Salju Remaja terlalu mencolok karena cuma Patriark Huo Teng yang memilikinya di Desa Huo, itu bisa menarik perhatian yang tidak perlu jika Xu Feng menungganginya. Mereka perlu pergi secari sembunyi-sembunyi.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka melalui jalan rahasia dan segera meninggalkan Desa Huo. Kuda mereka langsung berlari sangat kencang begitu keluar, mereka sedang berpacu dengan waktu.


“Aku harap mereka bisa bertahan..” Ding Xiang sangat cemas, dia takut desanya tidak mampu bertahan sebelum mereka tiba.


Dia bahkan menolak dengan tegas ketika Xu Feng dan dua Tetua Desa Xue sepakat memberinya waktu untuk beristirahat karena khawatir dengan kondisinya yang sudah kelelahan.


Dia hanya orang biasa yang belum menembus ke Tahap Pertama, perjalanan sejauh itu pasti sangat melelahkan baginya.


“Nona Ding, tidak perlu terlalu memaksakan diri. Bagaimana jika begini, anda tinggallah di sini beristirahat dan biarkan aku membawa yang lain melanjutkan perjalanan.”


Xu Feng segera memberi saran. Dia mengatakan hal itu bukan karena kasihan kepada Ding Xiang melainkan karena dia menyadari kelelahan gadis itu justru memperlambat laju mereka. Untuk menghindari situasi canggung, dia hanya bisa mengungkapkannya dengan cara demikian.

__ADS_1


“Ini..”


Ding Xiang ragu-ragu namun akhirnya setuju ketika dua Tetua Xue terus menasehatinya. Dia gagal memahami maksud Xu Feng dan merasa hangat di hatinya, belum pernah ada orang asing yang pernah memberinya perhatian selain dari ayahnya dan kedua Tetua.


“Bagus.”


Xu Feng mengangguk melihat itu dan segera memerintahkan Xue Lan menemani Ding Xiang sebelum melanjutkan perjalanan dengan tergesa-gesa. Dia sendiri tidak ingin jika Desa Xue mengalami kerusakan yang parah, desa itu adalah basis kekuatannya di masa depan.


“Ayo percepat!!” Xue Gong di samping terus memacu kudanya, dia semakin gelisah dari waktu ke waktu, setiap detik saat ini terasa seperti berabad-abad baginya.


Matahari sudah berada di puncaknya namun mereka bahkan tidak berhenti dan terus melaju. Tidak ada yang istirahat, tidak ada yang makan, tidak ada yang mengeluh, mereka harus tiba secepat mungkin.


Waktu silih berganti dan hari menjelang petang.


“Senior Xu, tidak lama lagi kita akan mencapai desa!!”


Xue Gong berseru lemah dari samping, perjalanan pulang pergi tanpa henti ini sangat membebani tubuhnya meski dia adalah pejuang Tahap Kedua.


“Baik.. Terus maju!”


Hanya saja waktu juga tidak akan menunggu mereka. Xu Feng lebih baik mengambil keputusan yang terdengar sembrono itu daripada harus membiarkan lebih banyak nyawa meninggal di Desa Xue.


“Senior Xu, bukankah keputusan anda sangat terburu-buru?”


Huo Tin mau tidak mau mengingatkan sambil menunjuk sepuluh orang dari desanya yang hampir pingsan karena kelelahan. Kondisinya di sisi lain terlihat lebih baik dari Xue Gong karena hanya melakukan perjalanan satu arah.


“Saudara, Tetua Huo benar.” Gao Gao segera ikut menimpali, lidahnya menjulur keluar ketika dia berbicara terengah-engah.


“Sial!!”


Xu Feng mengutuk dalam hatinya, dia tidak berpikir bahwa kondisi mereka ternyata akan seburuk itu, dia baru menyadarinya ketika Huo Tin mengingatkannya.

__ADS_1


Dia terlalu fokus pada jalan di depannya sehingga tidak menyadari seberapa serius kondisi rekan-rekannya.


Perjalanan selama setengah hari tanpa henti bukanlah hal yang mudah.


“Kalau begitu kalian istirahatlah di sini!”


Xu Feng hanya memberi perintah sederhana. Dia di sisi lain terus melanjutkan perjalanan seorang diri setelah memperoleh arah jalan dari Xue Gong.


“Hei ingat! Jangan terlalu banyak mengambil waktu!” Xu Feng meneriakkan kalimat terakhirnya sebelum menghilang dari pandangan mereka dengan sangat cepat.


“Apakah dia akan baik-baik saja?” Huo Tin mau tidak mau bergumam khawatir, dia tidak percaya Xu Feng akan mengambil keputusan seperti itu tanpa menunggu mereka berbicara.


“Heii tidak perlu meragukannya, dia pasti bisa!” Gao Gao hanya melambaikan tangannya dengan lemah, tubuhnya membungkuk kelelahan, “Lebih baik keluarkan makanan untuk mengisi tenaga kita secepat mungkin dan segera menyusul saudara Xu!” Adalah kata paling penting yang keluar dari mulutnya, setidaknya begitu menurut Gao Gao.


“Xue Gong, anda tinggallah di sini dan segera pulihkan tenagamu, aku akan menyusul Senior Xu bersama Tetua keenam.”


Huo Tin berbicara tergesa-gesa sebelum berbalik dan menyusul Xu Feng, dia tidak percaya pemuda itu bisa menahan gelombang Binatang Iblis seorang diri meski dengan kekuatannya di Tahap Ketiga.


“Sial, mereka bahkan tidak mendengarku..”


Gao Gao sedikit tercengang, dia tidak mengerti bagaimana jalan pikiran orang itu. Apa susahnya percaya pada Xu Feng? Saudaranya itu tidak akan pernah mengecewakan!


……..


Xue Yan adalah salah satu anggota dari tim pemburu di Desa Xue, dia sudah berada di kelompok itu selama hampir lima belas tahun sejak umurnya yang kedua puluh. Dia bisa dibilang sebagai salah satu anggota tertua di tim pemburu.


Dan sekarang, pemburu itu sedang mengalami masa tergelapnya sepanjang hidupnya.


“Apakah Tetua Gong dan Tetua Lan belum kembali?“


Dia bergumam sambil mencoba menebas seekor Binatang Iblis yang berusaha memanjat tembok desa. Wajahnya begitu lelah, kekuatan ayunannya bahkan sangat lemah tanpa kekuatan sama sekali.

__ADS_1


Jika bukan karena tekadnya, dia dan rekan-rekannya mungkin telah lama pingsan karena kelelahan.


Beruntung tembok desa membantu mereka mengurangi tekanan dari serangan Binatang Iblis, mereka hanya perlu memberikan serangan gangguan agar Binatang Iblis yang memanjat tembok terjatuh kembali ke tanah.


__ADS_2