Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.61 - Bangun


__ADS_3

“Bagaimana keadaannya?”


Xu Feng bertanya pelan tapi hatinya sudah berombak tak karuan, dia hanya mencoba untuk tetap tenang.


“Syukurlah, nona Ding Xiang tidak terluka parah dan cuma tergores oleh pisau. Dia sepertinya hanya terkejut dan pingsan karena serangan yang tiba-tiba.


“Seharusnya tidak menunggu lama sebelum nona siuman..”


Tubuh Xu Feng yang tegang perlahan rileks, dia menghela napas lega mendengarnya.


“Terima kasih..” Xu Feng berbicara dan mendekati Ding Xiang yang terbaring ketika tabib sudah meninggalkan ruangan. Tabib tersebut juga meninggalkan ramuan yang telah dicampur oleh berbagai macam tanaman herbal, dia menyebut bahwa ramuan ini dapat membantu menenangkan pikiran Ding Xiang ketika sudah siuman nanti.


“Sialan..” Xu Feng mengutuk rendah ketika mengangkat salah satu tangan Ding Xiang. Di sana, pada lengannya, terdapat luka goresan. Meski luka itu sudah mengering karena diolesi oleh salep yang tidak dia kenal, hati Xu Feng masih sakit melihatnya.


Beruntung Ding Xiang hanya terluka ringan, Xu Feng tidak bisa membayangkan harus bereaksi seperti apa jika yang terjadi sebaliknya membahayakan nyawa Ding Xiang. Xu Feng mengingatkan dirinya berkali-kali agar lebih hati-hati lagi ketika ingin meninggalkan desa di masa depan.


“Aku tidak akan melakukan hal yang sama lagi.”


Xu Feng berjanji dalam hati sebelum melepas tudung di kepala Ding Xiang secara perlahan. Dia kemudian melihat wajah seperti malaikat itu lagi, kulitnya yang lembut seperti bayi dan seputih salju selalu memberikan getaran di hati Xu Feng.


Beruntung kali ini Xu Feng sudah menciptakan semacam toleransi setelah sekian lama, dia tidak lagi bereaksi sama seperti saat pertama kali melihat wajah Ding Xiang.


“Cepat sembuh..” Xu Feng menghela napas dan hendak pergi namun tiba-tiba saja dia merasakan sedikit gerakan dari belakang.


“Ughh..” Ding Xiang mengeluarkan geraman rendah dan tubuhnya bergetar, kelopak matanya bergerak sesaat sebelum matanya terbuka perlahan.

__ADS_1


“Apa kamu baik-baik saja?”


Xu Feng buru-buru duduk dan bertanya dengan lembut tapi Ding Xiang tidak menjawab, gadis itu baru saja bangun dan masih dalam keadaan linglung setelah terbaring seharian. Butuh beberapa waktu sebelum Ding Xiang sadar, matanya tanpa sadar bergerak ke arah Xu Feng yang kini memegangi tangannya.


“Akhirnya kamu di sini..”


Ding Xiang berbicara pelan dan tersenyum lembut, matanya penuh kehangatan ketika melihat Xu Feng memegangi tangannya. Melihat semua itu, jantung Xu Feng berdetak kencang. Sial, senyum itu terlalu menawan!


“Apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa diserang?” Xu Feng membantu Ding Xiang yang mencoba duduk, gadis itu menghela napas ketika mendengar pertanyaan Xu Feng.


“Semuanya terjadi tiba-tiba..”


Ding Xiang kemudian menjelaskan apa yang terjadi, dia menyebut bahwa ketika kerusuhan mulai meningkat di desa, dia memutuskan untuk turun ke jalan namun seorang pria yang tampak seperti gelandangan menyerangnya dari belakang, beruntung pengawal yang menemaninya berhasil bereaksi sehingga dirinya hanya terkena goresan kecil.


“Jadi begitu..” Xu Feng mengangguk namun wajahnya sangat murung, ada perasaan bersalah dalam hatinya. Memahami apa yang sedang dirasakan oleh Xu Feng, Ding Xiang buru-buru memegang tangannya dan menenangkannya.


“Tidak perlu merasa bersalah, lihat, aku baik-baik saja.”


Ding Xiang tersenyum cerah. Melihatnya, Xu Feng menghela napas dan menepuk kepala gadis itu dengan lembut, matanya melembut tanpa dia sadari. Gadis ini benar-benar bisa memahami pikiran dan perasaannya dengan baik.


“Benar, kamu baik-baik saja.”


Xu Feng mengangguk sebelum meraih ramuan dari atas meja dan memberikannya pada Ding Xiang sambil mengulangi apa yang dikatakan oleh tabib tadi.


“Tidak perlu! Tubuhku sudah sehat, aku sejujurnya merasa sangat bugar setelah melihatmu.” Ding Xiang tersenyum main-main. Xu Feng di sisi lain terkekeh atas gombalannya yang kekanak-kanakan dan tidak terpengaruh yang menyebabkan gadis itu cemberut sambil menelan semua ramuan dalam satu tegukan.

__ADS_1


“Oh benar, bagaimana dengan perjalananmu? Tidak ada satu pun wanita yang bersamamu bukan?” Ding Xiang tiba-tiba bertanya dan menatap Xu Feng dengan tajam, yang segera menyebabkan dahi Xu Feng dipenuhi keringat dingin.


“Haha pikiran bodoh macam apa yang kamu miliki..” Xu Feng tertawa kering sambil berusaha mempertahankan ekspresinya namun dalam hati sudah berteriak dan ingin mengutuk kesialannya.


Xu Feng tahu bahwa tidak peduli bagaimana dia menceritakan semua yang terjadi, Ding Xiang pasti akan memikirkannya ke arah yang lain. Gadis ini terkadang sangat tidak masuk akal ketika menyangkut masalah seperti ini.


“Ohhh..” Alis Ding Xiang terangkat, minatnya langsung tergerak ketika melihat kondisi Xu Feng yang sulit. Dia awalnya hanya bertanya acak tapi siapa sangka pertanyaannya justru tepat pada sasaran.


Menyadari Ding Xiang akan bertanya semakin jauh, Xu Feng buru-buru mengubah topik pembicaraan dan menyebut tentang rombongan dari Keluarga Zhao. Xu Feng berkata bahwa dirinya perlu menemani tamu-tamu terhormat itu.


Ding Xiang bahkan tidak sempat merespon ketika Xu Feng buru-buru pergi sambil menekankan bahwa Zhao Quan adalah Tetua terhormat dari Keluarga Zhao dan tidak sopan jika dia tidak menemaninya.


“Tskk..” Ding Xiang mendecakkan lidah ketika melihat kepergian Xu Feng yang secepat kilat, matanya menyipit dan penuh pemikiran. Xu Feng di sisi lain hampir tersandung di tengah jalan, tubuhnya merinding secara tiba-tiba.


“Ini aneh, kenapa aku sangat kedinginan?” Xu Feng bergumam bingung, meskipun hujan, cuaca seperti ini seharusnya tidak mempengaruhinya. Tidak memikirkannya terlalu jauh, Xu Feng menggelengkan kepala dan pergi dengan cepat.


“Oh, urusanmu sepertinya sudah selesai?” Zhao Quan memandang Xu Feng yang baru saja tiba sambil menyesap teh hangat, dia merasa sedikit aneh karena Xu Feng hanya pergi dalam waktu yang tidak terlalu lama.


Xu Feng hanya tersenyum canggung menanggapi, dia sejujurnya ingin berterima kasih kepada Zhao Quan. Jika bukan karena lelaki tua ini, Xu Feng tidak bisa menemukan alasan lain yang dapat membantunya keluar dari neraka tadi itu.


Mereka berdua kemudian berbincang-bincang selama beberapa saat, percakapan di antara mereka terlihat seperti mereka adalah orang yang akrab. Zhao Jin sebaliknya hanya duduk diam seperti patung di samping Zhao Quan, dia sesekali melirik ke arah Xu Feng dalam diam. Sepertinya apa yang Zhao Quan katakan tadi berhasil mendidik anak itu.


“Tetua Zhao, mengapa anda melakukan perjalanan sejauh ini?” Xu Feng selesai berbasa-basi dan melontarkan apa yang telah mengganggunya selama ini. Xu Feng sedikit penasaran, agar orang sekaliber Zhao Quan keluar dari sarang dan melakukan perjalanan secara pribadi tentu pasti bukan untuk hal yang biasa-biasa saja.


“Ada hal penting yang harus kulakukan.” Zhao Quan meletakkan tehnya dan memandang ke kejauhan, matanya tampak rumit dan bermartabat.

__ADS_1


__ADS_2