Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.55 - Perjalanan Pulang


__ADS_3

Setelah Teknik Pedang Surgawi maju ke alam lanjutan, unit energi Xu Feng hanya tersisa lima. Xu Feng melirik Teknik Tubuh Baja, yang kebetulan hanya membutuhkan lima unit energi untuk maju ke alam dasar.


Xu Feng tidak membuang waktu dan memilih peningkatan. Segera, pikirannya kembali di isi oleh ribuan informasi dan kenangan, pada saat yang sama tulang dan otot-ototnya mengalami perubahan yang besar.


Tubuh Tahap Kelima kembali diperkuat, membawa pertahanan tubuh Xu Feng ke tingkat yang baru.


“Akhirnya..”


Xu Feng menghembuskan napas lega, selain dari Buku Profesi Alkemis, semua yang ada di panel telah berhasil dia pelajari.


Perubahan yang terjadi selama kurang lebih 10 menit ini sangat mengguncang bumi, kekuatan Xu Feng semakin naik ke tingkat yang tidak masuk akal, dia pada dasarnya telah mencapai titik di mana kebanyakan orang hanya bisa bermimpi.


Di perbatasan, Xu Feng telah menjadi raja yang tak tergoyahkan.


“Tuan pendekar, semua persiapan sudah selesai..” Tan Shuang perlahan berdiri dari tempat tidur ketika Xu Feng kembali, dia dibantu oleh dukungan pelayan dan memasuki kereta kuda yang telah terparkir di luar Paviliun.


Ketika Xu Feng keluar, dia melihat lautan penduduk yang sudah mengepaki barang-barang dan berdiri dalam barisan, mereka yang terluka telah lama diangkut ke dalam kereta kuda, ada puluhan gerbong yang siap melakukan perjalanan.


“Silahkan..” Tan Shuang membuka tirai kereta dan mempersilahkan Xu Feng masuk.


Xu Feng mengangguk sederhana dan memasuki kereta, interior kereta indah dan nyaman, dengan lantai bulu yang hangat dan bantal beludru, Xu Feng sedikit terkesan karenanya.


Tidak lama kemudian, setelah Tan Shuang memberi perintah, rombongan memulai perjalanan. Kereta kuda mereka adalah yang paling depan, disusul oleh berbagai kereta kuda yang lain, di belakangnya ada lautan manusia yang mengikuti.


“Ke Desa Xue!” Xu Feng memberi perintah sederhana dan segera rombongan meninggalkan Desa Tan, penduduk telah membakar seluruh desa sekaligus membakar mayat yang tak sempat mereka kuburkan.


Asap tebal yang membumbung tinggi menjadi latar belakang kepergian rombongan, cahaya api merah yang bersinar terang di malam yang dingin menunjukkan punggung kesepian dari seribu lebih penduduk yang selamat, itu adalah gambaran yang tragis dan pilu.


“Apa yang terjadi?”


Alis Xu Feng terangkat naik ketika kereta berhenti tiba-tiba, dia melangkah ke depan dan membuka tirai sambil bertanya pada sopir kereta.


“Tuan pendekar, ada pengungsi yang menghalau jalan di depan..” Sopir menunjuk ke kejauhan, di depan rombongan ada puluhan orang dengan berbagai barang bawaan di punggung mereka, semuanya tampak cemas dan khawatir.


Setiap pengungsi saling memandang sebelum salah satu dari mereka memberanikan diri untuk maju dan berbicara, “Tolong, bisakah kami ikut? Desa kami baru saja dihancurkan oleh bandit.”

__ADS_1


“Hmm!?”


Raut wajah Xu Feng berubah serius, dia tidak berharap akan mendengar kabar seperti itu ketika baru saja menyelamatkan Desa Tan. Memikirkannya kembali, Xu Feng sedikit cemas, sepertinya para bandit menargetkan seluruh perbatasan.


“Jika kalian ingin ikut, jangan menghalau jalan! Kami sedang terburu-buru.”


Xu Feng berteriak sebelum menyuruh sopir melanjutkan perjalanan, hatinya semakin gelisah dari waktu ke waktu.


“Sialan, aku harap semua baik-baik saja.” Xu Feng mengutuk dalam hati, dia tidak menyangka para bandit akan bertindak sejauh ini, dia mau tidak mau mempertanyakan apa yang sedang terjadi sebenarnya.


Rombongan melanjutkan perjalanan dan Xu Feng memaksa untuk mempercepat laju kereta. Semakin jauh mereka pergi, semakin banyak pengungsi yang mereka temui dalam perjalanan, kebanyakan berasal dari desa yang berbeda tapi semuanya datang dengan alasan yang sama, desa mereka dihancurkan oleh para bandit.


Pada titik ini Xu Feng sudah sangat cemas, dia menghitung dan memastikan dari mulut para pengungsi bahwa setidaknya sudah ada lima desa yang telah dihancurkan, semuanya terjadi hanya dalam satu hari saja.


“Bajingan keparat!”


Mata Xu Feng berubah dingin, kondisi di perbatasan sepertinya lebih kacau dari yang dia harapkan, dia yakin semua kelompok bandit telah turun gunung untuk membawa melapetaka.


“Tuan pendekar, apakah semua akan baik-baik saja?”


Xu Feng menggelengkan kepala dalam diam, dia sendiri tidak yakin. Dia menatap Tan Shuang sedikit lebih lama, dalam hatinya ada keinginan untuk meninggalkan rombongan ini dan melaju ke Desa Xue sendirian.


“Lupakan..”


Xu Feng menghembuskan napas tak berdaya, dia tidak tau bahaya apa yang akan menghampiri orang-orang ini jika dia meninggalkannya di tengah jalan.


“Desa Xue berada di ujung perbatasan, seharusnya para bandit belum mencapainya.”


Xu Feng menenangkan hatinya dan mulai berpikir jernih, penilaiannya bukan tanpa dasar. Ini adalah perang, para bandit tidak akan begitu bodoh untuk langsung menusuk lebih jauh tanpa menjatuhkan desa di belakang mereka, itu sama saja seperti menyisakan ruang bagi musuh untuk melakukan serangan penjepit.


“Masih ada waktu..”


Hati Xu Feng kembali tenang, dia menutup matanya sambil duduk bersila, lebih banyak pikiran dan perhitungan yang berkelebat dalam kepalanya.


“Orang ini..”

__ADS_1


Tan Shuang memandang Xu Feng yang tengah duduk dalam hening, dia terkejut dengan ketenangan Xu Feng di situasi yang parah ini, tidak banyak orang yang bisa melakukannya, terutama untuk seorang pemuda yang harus memikul ribuan nyawa di pundaknya.


Tekanan yang dibawa oleh tanggung jawab itu sangatlah besar.


Tidak lama berselang, Tan Shuang merasakan sebuah ledakan aura dari tubuh Xu Feng yang menyebar menutupi seluruh rombongan, hatinya langsung tergoncang.


“Tingkat aura ini seharusnya tidak berasal dari Tahap Keempat!”


Mata Tan Shuang terbuka lebar, tubuhnya bergetar ketika merasakan penindasan dan kekuatan yang besar dari tubuh Xu Feng, dia merasa seperti ada binatang buas kuno yang bersembunyi di balik fasad manusia itu, auranya begitu sombong dan mendominasi.


“Seorang Master!”


Tan Shuang mencapai sebuah kesimpulan, wajahnya yang cantik memerah kegembiraan, dia tidak berharap Xu Feng akan menyembunyikan kekuatannya selama ini.


Xu Feng di sisi lain masih sangat tenang, dia duduk bersila sambil merasakan umpan balik dari lingkungan yang ditutupi oleh auranya, dia seperti dewa yang sedang mengawasi semua yang terjadi.


Tidak lama berselang, dia merasakan kehadiran beberapa sosok di kejauhan.


“Berhenti!”


Xu Feng tiba-tiba berseru dan melompat keluar dari kereta. Di kejauhan di depan, tepat di persimpangan jalan antara Desa Xue dan Desa Huo, terdapat tiga pria yang masing-masing memegang senjata yang berbeda seperti pedang, tombak dan cambuk.


Xu Feng berdiri di atas atap kereta, ketiga orang itu juga menyadari keberadaan rombongan di kejauhan, mereka bahkan melihat titik kecil seorang pemuda yang berdiri dalam diam di atas kereta.


“Hahaha akhirnya kita memperoleh makanan yang besar setelah seharian menunggu di sini.”


Salah seorang pria yang memakai pedang tertawa pelan, dia menjilati pedangnya sambil menatap rombongan dengan rasa haus darah, wajahnya sangat bengkok dan penuh kekejaman.


Di depan mereka bertiga sudah tergeletak banyak mayat tetapi tubuh mereka bertiga sangat bersih tanpa bercak darah sedikit pun.


“Pemimpin sepertinya benar, menaruh kita di sini untuk menghalau mereka yang berhasil kabur memang merupakan pilihan yang tepat.”


Pria bertombak menimpali dengan senyum manis, dia tampak sopan kecuali fakta bahwa dua tengkorak tertancap di ujung tongkatnya dan puluhan kepala tanpa tubuh yang dibentuk seperti gunung tengah dia duduki.


“Hehe setelah ini hanya tersisa satu desa saja sebelum semua wilayah perbatasan Kota Daun Jatuh dikalahkan.” Pria dengan cambuk tersenyum lebar, pada lehernya terdapat kalung yang terbuat dari jari manusia.

__ADS_1


__ADS_2