Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.18 - Paviliun Klan


__ADS_3

Setiap hal teduh yang terjadi di Desa Huo terhenti seketika. Penduduk biasa secara alami tidak menyadari perubahan yang terjadi, hanya orang-orang yang pernah bersentuhan dengan wilayah abu-abu yang samar-samar menciumnya.


Semuanya hanya karena seorang pemuda!


Dan Xu Feng, orang yang menyebabkan semua ini tidak menyadarinya. Dia masih berbicara dengan santai bersama Huo Teng dan sesekali tertawa sambil melontarkan beberapa lelucon; dia masih riang seperti biasanya.


Namun yang tidak diketahui semua orang, Xu Feng sebenarnya sedikit terkejut dalam hati. Alasannya karena dia baru saja menyadari langkah kaki Patriark dan para Penatua tidak terdengar sama sekali.


“Sebuah Teknik?”


Alis Xu Feng terangkat dan bergumam dalam hati. Dia menelusuri ingatannya dan hanya menemukan satu teknik yang bisa melakukan hal itu.


“Teknik meringankan tubuh? Atau teknik lain yang tidak aku ketahui?”


Xu Feng sedikit ragu. Ada tak terhitung banyaknya teknik di dunia ini, beberapa bahkan belum pernah terdengar sebelumnya. Dia tentu tidak akan mengambil keputusan secepat itu.


Dia secara alami ingin bertanya tapi berhenti di tengah jalan. Bukan hal yang sopan menanyakan teknik seseorang. Bagaimanapun, teknik merupakan kartu truf setiap kultivator. Semakin tidak diketahui, semakin besar kemungkinan mereka menang dalam pertarungan.


Setiap kultivator berusaha merahasiakan teknik mereka sedalam mungkin. Hal ini sudah menyangkut keselamatan nyawa masing-masing, setiap orang pasti akan merasa tersinggung jika ditanya mengenai hal itu.


“Hmm.. Saudara Xu, apakah ada sesuatu??”


Huo Teng menyadari perilaku Xu Feng dan bertanya hati-hati. Xu Feng di sisi lain menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ini hanyalah masalah sepele yang tidak penting.


Huo Teng mengangguk dan tidak melanjutkan lebih jauh. Hubungannya belum sedekat itu untuk mengetahui setiap kekhawatiran Xu Feng.


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah bangunan besar yang dikelilingi oleh tembok putih yang rendah. Ada dua anggota klan yang berdiri di depan gerbang dan segera menundukkan kepala ketika rombongan memasuki Paviliun.


Halaman depannya luas dan rimbun. Ada banyak kolam ikan yang dibangun di beberapa titik, suara airnya yang memercik memberikan perasaan damai dan sejuk. Banyak anggota klan yang sibuk berlalu-lalang di halaman itu. Beberapa sedang bermeditasi di sudut yang tenang.


“Selera Klan Huo sepertinya sangat bagus..”


Xu Feng tersenyum memberi penghargaan.


Kedatangan mereka menyebabkan setiap orang berhenti dan memberi hormat. Patriark dan Tetua hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanan menuju aula utama, melewati berbagai area.


Area yang paling mencolok adalah lapangan pelatihan. Ratusan pemuda berumur 15 tahun ke atas berbaris rapi dan sedang melakukan berbagai gerakan dasar ilmu tombak. Mereka terlihat bersungguh-sungguh dan berkeringat.


Xu Feng melirik mereka penuh minat.

__ADS_1


“Saudara Xu, bagaimana? Mereka adalah generasi penerus Klan Huo Kami!”


Huo Teng dengan bangga memperkenalkan dari samping. Dia menunjuk seorang instruktur pelatih yang berdiri di depan barisan dan menyebut bahwa dia adalah Penatua Keenam dan juga merupakan penatua terakhir.


Dia juga adalah yang paling muda di antara penatua, umurnya masih 26 tahun.


“Tidak buruk..”


Xu Feng mengangguk menanggapi. Meskipun dirinya tidak menggumuli ilmu tombak, dia masih bisa mengetahui beberapa detail berkat pemahamannya atas Teknik Pedang Surgawi. Keakuratan dan efisiensi penggunaan otot ketika mereka mengayunkan tombak sebenarnya biasa-biasa saja. Beberapa bahkan menggunakan terlalu banyak kekuatan dan menyia-nyiakan energi.


Hanya ada beberapa pemuda yang bisa disebut lumayan. Tentu saja, Xu Feng tidak mungkin mengakui itu secara terbuka dan hanya memujinya dari luar.


“Hahaha mendengarnya dari saudara Xu membuat ku merasa lebih yakin..”


Huo Teng melambaikan tangannya dan memanggil Penatua Keenam. Yang terakhir langsung datang dan segera mengenali Xu Feng dari mulut Patriark.


Dia terheran-heran menatap Xu Feng karena awalnya berpikir Patriark baru saja akan membawa murid baru mengingat umur Xu Feng yang masih muda. Dia hampir tidak mempercayai matanya ketika mengetahui kalau pemuda yang terlihat biasa-biasa ini sebenarnya adalah seorang pengendali Tahap Ketiga.


Bangkit dari keterkejutannya, dia segera menangkupkan tangannya dan memberi hormat. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju aula utama di bawah pimpinan Huo Teng.


“Saudara Xu, silahkan cicipi teh terbaik ku!”


Huo Teng mengisi segelas cangkir sebelum menyerahkannya kepada Xu Feng. Mereka saat ini tengah duduk di meja bundar di salah satu bagian aula utama. Beberapa anggota klan berdiri tidak jauh dari meja dan bertindak sebagai pelayan.


“Teh yang enak!”


Xu Feng berseru.


“Hahaha tentu saja! Teh ini adalah langka yang mahal dari Kota Daun Jatuh. Aku bahkan harus mengeluarkan banyak uang untuk memesannya dari pedagang yang berasal dari sana.”


Huo Teng tertawa terbahak-bahak, dia merasa bangga memamerkan koleksi favoritnya.


“Saudara Huo sungguh murah hati..”


Xu Feng membalas.


“Haha bukan masalah besar!”


Huo Teng terkekeh dan melambaikan tangannya.

__ADS_1


Di sisi lain, para Penatua yang mendengar itu mencibir dalam hati masing-masing. Murah hati apanya! Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Patriark mengeluarkan barang sialan itu. Dia selalu menyembunyikannya dan tidak pernah berbagi kecuali untuk dirinya sendiri.


Mereka mungkin tidak akan pernah bisa mencicipinya selama sisa hidup jika bukan karena kedatangan Xu Feng. Lelaki tua itu sangat pelit sampai ke tulang-tulangnya jika menyangkut koleksi teh pribadinya.


“Oh benar, mengenai pengumuman yang anda ambil..”


Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Huo Teng perlahan-lahan mulai memasuki topik yang sebenarnya.


“Apa ada yang salah?”


Xu Feng menegakkan tubuhnya dan secara bertahap mulai serius.


“Ini.. Anda sudah memahami dengan jelas bukan apa isi dari surat itu?”


Huo Teng bertanya sungguh-sungguh.


“Tentu, mereka sedang mencari seorang yang berada di Tahap Ketiga. Bukankah sesederhana itu?”


Xu Feng menjawab dengan aneh. Dia menatap Huo Teng yang segera menggelengkan kepala ketika mendengar jawabannya.


“Saudara Xu, semuanya tidak sesederhana kelihatannya!”


Huo Teng menekankan dengan berat. Dia mengerutkan kening dan auranya berubah sedikit bermartabat.


“Orang yang memasang pemberitahuan berasal dari Desa Xue, salah satu desa yang berada di wilayah Kota Daun Jatuh..


“Desa Xue dulunya sebesar Desa Huo kami namun beberapa tahun terakhir desa itu perlahan menurun karena kematian Patriarknya.


“Dan..”


Kali ini Huo Teng sedikit ragu. Namun keraguannya hanya bertahan sesaat sebelum melanjutkan “Tujuan mereka memasang pemberitahuan itu sebenarnya karena mereka ingin mencari seseorang yang bisa menggantikan posisi Patriark Desa Xue. Mereka mencari seseorang yang bisa melindungi desa!”


Hou Teng berbicara dengan hati-hati dan tidak melewatkan satu detail pun. Dia bahkan mengulangi beberapa bagian yang penting agar Xu Feng mendengarkannya dengan baik.


“Bukankah ini tidak masuk akal? Orang gila mana yang ingin menyerahkan warisan klannya kepada orang luar?”


Xu Feng tercengang ketika mendengar itu. Dia merasa sedang dibodohi.


“Sederhana. Putus asa.”

__ADS_1


Huo Teng menjulurkan jarinya mengingatkan.


“Desa Xue mempunyai lokasi yang strategis sama seperti Desa Huo. Secara alami banyak orang yang serakah akan tempat itu. Tanpa keberadaan sosok Patriarknya sebagai pelindung, desa itu tidak berbeda seperti domba gemuk yang menunggu untuk disembelih!”


__ADS_2