
Hari sudah malam ketika Xu Feng meninggalkan sekte dan sekali lagi menuju ke Hutan Seribu Malam.
Menurut Xu Feng, sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk memburu Ciao Yi.
“Semoga saja pria itu tidak terbunuh oleh binatang iblis..”
Xu Feng bergumam rendah sambil berjalan menuju gerbang kota.
Yang tidak dia ketahui adalah Tang Guan membuntutinya sejak awal. Ketika dia melihat Xu Feng keluar dari sekte, dia tersenyum kejam dan segera memanggil rekan-rekannya.
Sepertinya dia tidak melupakan apa yang terjadi hari ini.
Butuh waktu yang lama bagi Xu Feng untuk mencapai lingkaran luar Hutan Seribu Malam. Sudah tengah malam ketika dia tiba.
Berbagai lolongan binatang iblis mengisi kesunyian di hutan yang gelap itu.
“Ciao Yi seharusnya berada di sekitar sini.”
Xu Feng berpikir dalam hatinya sambil tetap waspada terhadap sekitarnya. Dia tahu kalau setiap misi yang berkaitan dengan Hutan Seribu Malam untuk setiap murid luar terbatas pada lingkaran luar saja.
Lingkaran dalam hanya akan membuat mereka terbunuh sia-sia.
“Meski kekuatanku telah meningkat, aku masih harus berhati-hati..”
Xu Feng menyusuri setiap area di lingkaran luar. Langkahnya pelan dan tenang, seluruh pikirannya fokus terhadap lingkungan untuk mengantisipasi bahaya.
Waktu perlahan berlalu namun Xu Feng tidak menemukan jejak Ciao Yi sedikit pun.
Dan ketika Xu Feng hampir menyerah, dia tiba-tiba mendengar suara yang agak samar.
Penasaran, Xu Feng segera mendatangi asal suara tersebut. Semakin dekat dia, semakin suara-suara itu menjadi jelas.
Dan ketika jaraknya sudah sangat dekat, Xu Feng menyadari kalau suara itu merupakan suara pertarungan karena dia mendengar benturan logam dan suara teriakan di sana-sini.
“Sialan! Kenapa ada dua?”
“Bukankah kalian bilang hanya ada satu Macan Kumbang di sarangnya!?”
Seorang pria dengan wajah kasar berteriak dengan keras sambil menangkis serangan cakar dari seekor binatang yang mirip dengan macan.
Bedanya, binatang itu berwarna hijau dengan bintik-bintik hitam dan memiliki tubuh sebesar anak sapi dan sepasang gigi taring panjang menjuntai dari dalam mulutnya.
“Bos Ciao Yi, aku sungguh sudah memastikannya sejak tadi! Macan itu benar-benar sendirian di dalam sarangnya.. ”
“Aku tidak tau dari mana yang satu ini berasal!”
Salah seorang pemuda menjawab terburu-buru sambil berkeringat dingin. Dia bersama tiga rekannya sedang menghadapi Macan Kumbang yang tersisa.
“Bajingan..”
Ciao Yi melompat ke belakang setelah dia menangkis serangan cakar yang kedua kalinya. Tangannya gemetar akibat tumbukan kekuatan yang besar.
“Bos, apa yang harus kita lakukan?”
Salah seorang pemuda melirik Ciao Yi dan berharap memperoleh jawaban.
“Tidak mungkin melarikan diri, kecepatan Macan Kumbang sangat cepat. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah bertarung!”
Ekspresi Ciao Yi sangat jelek. Dia ingin mengutuk keberuntungannya karena bertemu dengan dua Macan Kumbang sekaligus.
__ADS_1
Macan Kumbang merupakan binatang iblis bintang satu, yang berarti kekuatannya setara dengan Tahap Pertama – Tahap Ketiga alam fana, tergantung umurnya. Dan dua di depan mereka merupakan Macan Kumbang Remaja, yang setara dengan kultivator Tahap Kedua.
Ciao Yi bahkan tidak yakin bisa mengalahkan salah satunya dalam pertarungan satu lawan satu meski berada di Tahap Kedua. Bagaimanapun, binatang iblis selalu lebih kuat dari manusia.
“Sialan, seandainya aku menguasai satu teknik saja..!”
Ciao Yi mengutuk rendah sambil berusaha menghindari serangan yang datang terus menerus. Kecepatan Macan Kumbang terlalu cepat sehingga terkadang dia tidak bisa bereaksi tepat waktu menghindari gigitan dan cakaran Macan Kumbang.
Seiring waktu berlalu, semakin banyak luka di tubuhnya. Staminanya juga mulai menurun seiring waktu dan dia mulai kelelahan. Kondisi empat rekannya bahkan lebih tragis, salah satu dari mereka sudah meninggal karena gigitan di kepala.
Mereka hanya berada pada Tahap Pertama, tidak ada peluang untuk bertahan melawan Macan Kumbang Remaja.
Ciao Yi dan rekan-rekannya hanya bisa menggertakkan gigi dan terus melawan. Namun tidak peduli seberapa gigih mereka, itu tidak membuat perbedaan sama sekali.
Pada akhirnya kegigihan mereka digantikan oleh ekspresi putus asa.
Ketika Ciao Yi pasrah pada keadaan, dia tiba-tiba melihat siluet seorang pria beramput perak yang muncul dari semak-semak.
Dia langsung bahagia dan ingin berteriak minta tolong tetapi berhenti karena mengenali wajah pemuda itu.
“Bukankah dia adalah pemuda yang aku temui di sekte? Bagaimana bisa dia masih hidup?”
Dia tidak mengerti kenapa pemuda itu belum meninggal tapi semuanya tidak penting sekarang.
Ciao Yi awalnya berpikir itu adalah bantuan tetapi ternyata salah. Dia tahu kalau pemuda itu hanya berada di tahap pertama.
Wajah Ciao Yi kembali putus asa. Bahkan jika dia meminta bantuan, pemuda berambut perak itu tidak akan membuat perbedaan.
“Sepertinya aku akan mati disini hari ini..”
Ciao Yi seolah menerima takdirnya dan perlahan-lahan menutup matanya. Dia sudah kelelahan dan tidak lagi mampu berdiri.
Mereka ingin meneriaki Ciao Yi agar tetap bertarung tapi berhenti di tengah jalan. Itu karena sesuatu yang luar biasa terjadi di depan mereka.
Beberapa detik berlalu, namun kematian yang Ciao Yi harapkan tidak kunjung datang.
Bingung, Ciao Yi membuka matanya dan langsung tercengang melihat apa yang terjadi.
Persis di depannya tergeletak mayat Macan Kumbang yang baru saja dia lawan, pada lehernya terdapat luka pedang yang dalam.
Dan tidak jauh darinya, dia samar-samar melihat siluet buram yang bergerak dengan kecepatan tinggi sambil melawan Macan Kumbang yang tersisa.
Dia tidak bisa melihat dengan jelas siluet siapa itu, tapi Ciao Yi sudah bisa menebaknya. Hanya saja dia tidak ingin mempercayainya.
“Bos apakah kamu tahu siapa pemuda berambut perak itu?”
Ketiga rekannya segera menghampiri Ciao Yi dan membantunya berdiri. Mereka berdecak kagum melihat pertarungan yang terjadi di depan mereka.
“Ini …”
Ciao Yi menelan ludah dan kehilangan kemampuan untuk berbicara. Dia hanya bisa melongo melihat bagaimana pemuda itu dengan mudah mempermainkan binatang iblis yang hampir membunuh mereka.
Pertarungan itu berlangsung dalam tempo yang cepat.
Kemampuan Macan Kumbang yang paling menonjol adalah kecepatannya, diikuti oleh taring dan cakarnya yang kuat.
Meski begitu, kemampuan dari Teknik Langkah Bayangan masih lebih unggul. Xu Feng bahkan berada di atas angin dalam adu kecepatan dengan Macan Kumbang.
“Sepertinya binatang ini pantas untuk reputasinya.”
__ADS_1
Xu Feng mendecakkan lidahnya ketika menghindari gigitan yang datang. Dia dalam sekejap mata muncul di samping binatang itu dan mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, menargetkan lehernya.
Macan Kumbang berhasil memblokir menggunakan taringnya dan membalas dengan cakarnya yang tajam tapi Xu Feng tidak lagi berada di tempatnya dan tiba-tiba muncul di depan binatang iblis itu dan sekali lagi mengayunkan pedangnya tepat ke leher.
Dengan insting bertahan hidupnya yang tinggi sebagai pemangsa, Macan Kumbang itu berhasil bereaksi tepat waktu dan melompat ke belakang.
“Hooo..”
Mata Xu Feng menyipit. Meski dia unggul dalam kecepatan, bukan hal yang mudah membunuh binatang iblis bintang satu itu.
Alasan dia bisa begitu cepat membunuh Macan Kumbang sebelumnya adalah karena dia menggunakan serangan menyelinap ketika macan itu fokus terhadap Ciao Yi.
Namun Xu Feng masih yakin bisa menang.
“Kau adalah lawan pertama sejak aku menguasai teknik ini. Berbahagialah untuk itu!”
Xu Feng tersenyum tipis, sorot matanya begitu tajam.
Merasakan tatapan Xu Feng, Macan Kumbang melolong dan menggeram marah. Dia tahu kalau tatapan itu adalah tatapan yang sama ketika dia melihat mangsa.
Sebagai binatang yang dilahirkan sebagai pemburu sejak lahir, dia tentu tidak terima diperlakukan seperti itu.
Namun pada akhirnya naluri bertahan hidup binatang itu masih lebih dominan. Dia tahu kalau pria di depannya berbahaya dan dia tidak akan punya kesempatan untuk melawan.
Macan Kumbang memang pemburu, tapi mereka bukan satu-satunya pemburu di hutan ini. Mereka juga terkadang pernah menjadi mangsa.
Oleh karenanya, binatang itu masih tau bagaimana membedakan mangsa dan mana yang bukan.
“Ohhh ingin melarikan diri? ”
Melihat bagaimana Macan Kumbang perlahan-lahan melangkah mundur, Xu Feng langsung memahami pikiran binatang itu.
“Tidak akan kubiarkan kau pergi!”
Xu Feng berteriak dengan keras dan berubah menjadi bayangan buram. Macan Kumbang yang dengan hati-hati melangkah mundur langsung panik dan segera berbalik dengan cepat dan melarikan diri.
Kecepatannya seperti hembusan angin, namun Xu Feng masih dapat mengejarnya dan memperpendek jarak. Dia menggunakan Langkah Bayangan beberapa kali dan berhasil menyusul binatang iblis itu.
“Mati!”
Dengan tatapan yang tegas, Xu Feng mengayunkan pedangnya dan mengiris leher Macan Kumbang yang tidak sempat bereaksi.
Slurrpp…
Suara logam yang menembus daging segar terdengar dan darah hangat menyembur ke udara.
Binatang itu terjatuh ke tanah dan memberontak selama beberapa saat sebelum akhirnya berhenti bergerak.
“Dia sudah mati!”
Salah satu pemuda berseru gembira, membangunkan Ciao Yi dari kondisinya yang bingung.
Dia melihat punggung Xu Feng lalu ke mayat yang tergeletak di sampingnya, dan tidak bisa tidak melontarkan pertanyaan dalam hatinya.
“Bagaimana bisa pemuda itu menjadi sangat kuat?”
Sementara Ciao Yi sibuk dengan pikirannya, Xu Feng sudah menghampiri mereka. Dia segera menghampiri Ciao Yi dan menatapnya dengan tenang.
“Apakah kau masih mengingatku?”
__ADS_1