Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.76 - Kebenaran


__ADS_3

Butuh waktu setengah hari agar Xu Feng dan rombongan Desa Huo tiba di Desa Xue. Mereka tiba saat hari menjelang malam. Dengan begitu banyaknya orang, itu tentu menarik perhatian para penduduk desa.


“Sial.. Apalagi ini!?” Xue Song mengutuk dengan keras ketika menyaksikan rombongan di depannya. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya dalam mengatur penduduk Desa Tan dan hendak kembali untuk beristirahat. Siapa sangka dia akan menemukan momen yang persis sama seperti saat penduduk Desa Tan datang.


“Pelindung!”


“Itu Pelindung!”


Para penjaga yang bertugas patroli di atas tembok memperhatikan keberadaan Xu Feng dan berteriak dengan keras yang segera menyebabkan wajah Xue Song berubah pahit. Dia sudah tahu akan seperti apa kelanjutannya. Sial, saya sangat ingin istirahat untuk sehari saja, pikir Xue Song dengan sedih.


Namun secara bersamaan Xue Song juga sedikit heran. Mengapa setiap kali Xu Feng keluar dan kembali, dia selalu membawa ribuan orang? Apakah begitu mudah memungut orang saat ini? Xue Song tidak lagi mengerti, dia hanya mengagumi kemampuan Xu Feng.


“Ohh.. Kau muncul di saat yang tepat Xue Song.” Xu Feng memperhatikan keberadaan Xue Song dan melambai-lambai padanya dengan seringai yang segera menyebabkan lelaki tua itu ingin menangis tanpa air mata. Dia benar-benar harus bekerja keras hari ini.


Tidak lama kemudian, di bawah wajah murung Xue Song, dia mengantar Huo Teng dan lainnya untuk membangun kamp sementara, sama seperti bagaimana penduduk Desa Tan melakukannya. Sebelum pergi, Xu Feng juga sempat mengingatkannya untuk memberhentikan pembangunan Desa Tan yang direncanakan.


Meskipun Xue Song bingung, dia tidak mempertanyakan keinginan Xu Feng. Dia bahkan sedikit lega karena akhirnya bisa melepaskan beban kerja yang besar.


“Kamu kembali..” Ding Xiang sedang sibuk mempersiapkan makanan di dapur dan melihat kedatangan Xu Feng, dia segera tersenyum lembut padanya.

__ADS_1


Xu Feng mengangguk pelan sebagai tanggapan, dia merasa hangat dalam hati. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada rumah, dan tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding seseorang yang selalu menunggu dan menyambutnya setiap kali pulang ke rumah. Perasaan itu adalah sesuatu yang belum pernah dia rasakan.


“Apakah ada sesuatu yang besar terjadi selama aku tidak di sini??”


“Semuanya berjalan baik-baik saja. Ohh, kecuali ada satu, duo saudara kembar itu sudah kembali.”


Mendengar hal itu, Xu Feng hanya mengangguk sederhana. Meskipun awalnya dia berharap besar pada dua saudara kembar tersebut namun sekarang tidak lagi karena insiden yang disebabkan oleh bandit. Kecuali jika mereka berhasil tiba pertama di Desa Song dan Desa Guo sebelum para bandit, yang kemungkinannya sangat rendah menurut Xu Feng.


Dapat kembali dengan selamat saja sudah menjadi hal yang patut disyukuri sehingga Xu Feng tidak kecewa jika mereka pulang dengan tangan kosong.


“Bagaimana dengan rombongan Gao Gao, apakah mereka belum kembali dari Kota Daun Jatuh?” Xu Feng bertanya.


“Belum… “ Ding Xiang menjawab sedih, dia mengigit bibirnya dan berbicara dengan suara rendah. Mengingat apa yang terjadi di perbatasan, dia mau tidak mau khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.


Mendengar jawaban Xu Feng, Ding Xiang segera tenang. Dia mempercayai penilaian Xu Feng.


“Pergi bersihkan tubuhmu! Aku akan mempersiapkan makan malam.” Ding Xiang mengingatkan Xu Feng dengan lembut yang segera menyebabkan Xu Feng terkekeh, dia merasa wanitanya ini semakin mirip dengan ibu rumah tangga yang baik, kecuali fakta bahwa tingkat memasaknya masih berada di level yang mengerikan.


Waktu berlalu dan malam tiba. Xu Feng dan Ding Xiang sedang makan malam berdua dan sesekali tertawa dengan candaan. Sebagai pria dari Bumi, Xu Feng memiliki cara bercandanya sendiri yang terdengar sangat asing dan baru di telinga Ding Xiang. Dia belum pernah mendengar cara bercanda seperti itu.

__ADS_1


Kedua pasangan itu jatuh ke dalam momen yang santai dan untuk kali ini, Ding Xiang tidak lagi harus memakai jubah yang selalu menutupi seluruh tubuhnya. Karena keinginan dari Ding Xiang sendiri dan persetujuan dari Xu Feng, tidak ada lagi yang diizinkan berada di Villa selain dari mereka berdua. Dengan begitu, Ding Xiang tidak perlu lagi khawatir menampilkan dirinya yang sejati.


Bagi Xu Feng, itu adalah siksaan. Dia merasa seperti berada di perbatasan antara surga dan neraka. Jika bukan karena tekad dan fakta bahwa dia telah hidup dua kali, Xu Feng mungkin telah kalah oleh keinginan duniawi. Xu Feng sendiri terkejut atas kontrol dirinya yang tinggi.


“Ah, aku teringat sesuatu..” Ketika Xu Feng sibuk menikmati makanannya, tiba-tiba saja dia melihat Ding Xiang berdiri dan berseru. Xu Feng segera bingung karena tindakannya.


“Bisakah kamu menjadikanku seorang kultivator?” Ding Xiang menatap Xu Feng dengan penuh harap yang segera menyebabkan Xu Feng terdiam selama beberapa saat. Dengan senyum dipaksakan, Xu Feng menatap Ding Xiang penuh kelembutan, “Dunia kultivator sangat kejam, nyawa seseorang bisa melayang kapan saja jika tidak hati-hati, aku tidak ingin kamu memasuki dunia yang penuh dengan darah ini."


Xu Feng berusaha berbicara selembut mungkin agar tidak menyakiti hati Ding Xiang. Faktanya, bukan karena Xu Feng tidak ingin Ding Xiang memasuki dunia kultivator, hanya saja Ding Xiang tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun. Artinya, Ding Xiang ditakdirkan untuk menjadi manusia biasa selama hidupnya.


Xu Feng mengetahui hal ini dari Xue Lan. Hanya saja para tetua itu tidak ingin menyakiti hati gadis yang begitu polos sehingga tidak ada yang berani menyampaikan kebenaran pada Ding Xiang. Mereka selalu menggunakan berbagai alasan yang terdengar masuk akal setiap kali Ding Xiang bertanya untuk menghindari memberi tahu kebenarannya.


Mungkin hal ini terdengar sangat tidak adil, tapi ini untuk kebaikan Ding Xiang juga. Terkadang, beberapa kebenaran harus bersembunyi selamanya.


“Tapi aku juga perlu melindungi diriku sendiri..” Ding Xiang mengigit bibirnya dengan keras, dia tidak mengerti mengapa semua orang berusaha menjauhkannya dari dunia kultivasi.


“Harus kutaruh dimana harga diriku jika membiarkan wanitaku sendiri memasuki dunia yang berbahaya?” Xu Feng berpikir keras dan datang dengan perkataan demikian, walaupun dia sendiri merasa bahwa itu adalah logika yang tidak masuk akal.


Ding Xiang semakin mengigit bibirnya sebelum menyerah dan menghela napas.

__ADS_1


“Baiklah, semua tergantung pada keputusanmu.”


Mendengarnya, Xu Feng diam-diam merasa lega. Untung saja wanitanya bukan orang yang keras kepala.


__ADS_2