Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.52 - Lu Wei


__ADS_3

Lu Wei menembak tujuh anak panah berturut-turut dalam sekejap, kekuatan di balik setiap anak panah sangat kuat karena dilapisi oleh energi qi, udara bahkan sedikit terdistorsi karenanya.


“Jurus Tujuh Cahaya Bintang.”


Lu Wei mengeluarkan jurus andalannya, itu adalah jurus yang hanya bisa dikuasai ketika seseorang mencapai alam lanjutan dari teknik memanah yang dia pelajari. Dia hampir menghabiskan semua energi qinya untuk satu serangan tunggal yang mematikan ini.


Faktanya, setiap Teknik mempunyai jurusnya masing-masing, hanya saja jurus-jurus tersebut hanya bisa dikuasai ketika seseorang telah mencapai alam lanjutan dari suatu teknik. Alasannya adalah karena setiap jurus membutuhkan pemahaman dan penguasaan yang tinggi terhadap suatu teknik, jurus tidak bisa dikuasai begitu saja dengan begitu sederhana.


“Mati kau bocah!!”


Lu Wei tertawa terbahak-bahak dan menatap Xu Feng penuh kebencian, Lu Wei percaya pada jurusnya karena dia juga pernah menggunakan jurus ini untuk membunuh kultivator Puncak Tahap Keempat di masa lalu.


Xu Feng di sisi lain merasakan bahaya yang berasal dari tujuh anak panah itu, nalurinya berteriak untuk menghindarinya. Sialnya kecepatan anak panah tersebut sangat cepat, Xu Feng bahkan tidak punya waktu untuk menghindar karena serangan itu sudah ada tepat di depan matanya pada saat berikutnya.


Xu Feng menggertakkan gigi dan memfokuskan seluruh pikirannya. Dia segera jatuh ke dalam keadaan tenang yang aneh.


Dalam tatapan setiap orang, Xu Feng menggerakkan kakinya satu langkah ke depan dan melakukan tebasan diagonal yang terlihat sangat sederhana, energi qi samar yang melapisi pedangnya memancarkan sedikit cahaya dalam prosesnya.


“Jurus Satu Langkah..”


Energi qi pada pedang Xu Feng bersentuhan dengan energi qi pada setiap anak panah, dia berhasil menemukan sudut yang sempurna untuk menebas ketujuh anak panah dalam satu sapuan.


Di bawah tatapan tidak percaya Lu Wei, Xu Feng berhasil menghentikan jurus terkuatnya hanya dengan satu gerakan.


Patah..


Pedang Xu Feng perlahan retak dan hancur berkeping-keping, pedang tersebut tidak bisa lagi menahan dampak dari tumbukan dua kekuatan qi yang besar.


“Ka-..“


Belum sempat Lu Wei berbicara, Xu Feng segera menggunakan Teknik Langkah Bayangan dan Teknik Meringankan Tubuh sekaligus, dia dalam sekejap tiba di depan Lu Wei dan menggunakan tinjunya sebagai senjata, energi qi yang mengelilingi tangannya tampak sangat berbahaya.


Lu Wei berhasil bereaksi tepat waktu dan menyambut serangan Xu Feng, dia mengeruk setiap energi qi yang tersisa untuk melapisi tinjunya.


Panah tidak lagi berguna dalam pertarungan jarak dekat.


Kedua tinju segera bertabrakan dan tubuh Lu Wei terlempar ke belakang, tubuhnya menabrak dinding salah satu rumah dan menghasilkan retakan pada dinding.


“Uhuk..”

__ADS_1


Lu Wei terbatuk dan memuntahkan banyak darah, kekuatannya belum mencapai Puncak Tahap Keempat sehingga kalah dalam konfrontasi kekuatan langsung, dia hanya mengandalkan penguasaan tekniknya yang tinggi untuk berhasil mengambil insiatif menyerang pertama.


Beberapa tulang rusuknya patah akibat benturan itu.


“Aku tidak percaya akan ada pendekar sehabat dirimu di tempat kecil seperti ini..”


Lu Wei tertawa kosong menatap Xu Feng yang semakin mendekat, dia terus memuntahkan banyak darah, energi qi Xu Feng berhasil melukai organ tubuhnya begitu parah.


“Orang mati tidak layak berbicara.”


Xu Feng mendengus dingin dan menyerang Lu Wei dengan tinju yang masih dilapisi oleh energi qi. Xu Feng masih mempunyai banyak qi di dantiannya karena jurus yang tiba-tiba dia keluarkan tadi tidak menuntut penggunaan energi yang besar.


“Hahaha..” Lu Wei tertawa seperti orang gila ketika menyaksikan tinju Xu Feng yang semakin mendekat.


Boommm..


Ledakan yang memekakkan telinga terdengar, dinding batu rumah tidak lagi bisa menahan kekuatan yang besar dan runtuh karenanya.


Rumah tersebut roboh menjadi puing-puing dan menghempaskan banyak debu ke udara, di dalamnya ada mayat Lu Wei yang telah terkubur oleh bebatuan.


Seseorang dengan reputasi yang terkenal tewas.


Tan Shuang menatap punggung Xu Feng dengan mata terbelalak, dia tidak pernah membayangkan pemimpin dari salah satu kelompok bandit terkenal yang pernah meneror perbatasan selama ini akan jatuh di desanya sendiri.


Hatinya tidak bisa lagi tenang.


“Pemimpin!”


“Tidak mungkin, bagaimana pemimpin bisa pemimpin kalah!?”


Bandit yang tersisa berlutut dengan wajah tidak percaya, mata mereka kosong, mereka telah kehilangan tiga pilar psikologi mereka sekaligus, tidak ada lagi semangat di hati masing-masing bandit.


Beberapa bandit yang cerdik menyadari buruknya situasi dan mencoba melarikan diri namun sebelum mereka bergerak lebih jauh, beberapa kerikil terbang di udara dan menghantam kepala mereka.


“Sial…”


Bandit yang tersisa menghirup udara dingin ketika menyaksikan beberapa tubuh tak bernyawa jatuh ke tanah, pada dahi mayat-mayat itu terdapat lubang menganga yang besar.


“Jangan ada lagi yang bergerak.”

__ADS_1


Xu Feng berbicara pelan namun suaranya terdengar jelas di telinga setiap bandit, Xu Feng sengaja menggunakan energi qinya untuk menyalurkan suaranya melalui udara.


Para bandit yang mencoba melarikan diri menjatuhkan senjata dan berdiri diam, tidak ada lagi yang berani bergerak sedikit pun.


“Nona..”


Xu Feng mendekati Tan Shuang dan melemparkan kain ke arahnya sebelum membalikkan badan dan berjalan menuju para bandit.


“Kalian..” Xu Feng mengambil salah satu pedang yang tergeletak di tanah dan melanjutkan, “Mati di sini!”


Bersamaan dengan jatuhnya suara Xu Feng, sosoknya berubah kabur dan mulai membantai setiap bandit yang tersisa. Xu Feng tidak akan berbelas kasih dan membiarkan para bandit ini tetap hidup, perbuatan yang telah banyak mereka lakukan di masa lalu adalah hal yang tidak bisa lagi dia maafkan.


Xu Feng menggunakan Teknik Langkah Bayangannya yang khas, setiap bandit pada dasarnya tidak bisa berkutik di bawah dominasi kecepatan Xu Feng.


Ketika pembantaian terjadi, beberapa bandit memohon dengan ketakutan, beberapa menangis dan berlutut tapi Xu Feng tidak terpengaruh, dia masih ingat wajah seperti apa yang ditampilkan oleh bandit-bandit ini ketika membantai penduduk desa tadi.


“Bunuh! Bunuh Mereka!”


Anggota Klan Tan yang tersisa mengikuti Xu Feng dalam membunuh para bandit, mata mereka memerah penuh balas dendam.


“Tidak! Aku minta maaf!”


“Tolong…”


Setiap bandit berusaha mencari cara untuk bertahan hidup, namun di hadapan amukan balas dendam, suara mereka tidak terdengar sama sekali.


Beberapa saat kemudian, bandit yang terakhir jatuh tak bernyawa ke tanah, wajahnya menunjukkan ekspresi penyesalan dan ketakutan.


“Haha.. Kita menang..”


Salah seorang pemuda bergumam rendah sambil menatap langit senja, air mata membasahi wajahnya. Dia tertawa kosong sebelum kelelahan mengambil alih tubuhnya dan terjatuh ke tanah.


Bukan hanya dia, hampir setiap anggota klan yang telah melalui pertarungan yang kejam terjatuh ke tanah satu per satu, ada banyak yang pingsan seperti pemuda tersebut.


Tidak ada lagi yang bisa menahan emosinya, setiap dari mereka meneteskan air mata dan menangis pilu, kehilangan saudara-saudara yang masih berbicara dan tertawa bersama mereka di hari kemarin adalah pengalaman yang pahit.


“Tuan Pendekar, terima kasih.."


Tan Shuang mendekati Xu Feng dengan dukungan dua anggota klan yang membantunya berdiri, air mata sudah membasahi wajahnya yang cantik, dia mencoba membungkuk tetapi Xu Feng menyuruhnya berhenti karena tindakannya dapat memperburuk luka pada tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2