Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.77 - Mempersiapkan Keberangkatan


__ADS_3

Malam berlalu dan Xu Feng yang sedang sibuk berlatih ilmu pedang di halaman Villa didatangi oleh Ding Xiang dan menyebut bahwa mereka kedatangan seorang tamu. Itu adalah orang suruhan Zhao Quan.


“Salam senior Xu Feng!” Pembawa pesan tersebut mengenggam kedua tangannya dan menatap Xu Feng dengan hormat. Di pasukan sudah tersebar rumor mengenai pendekar misterius Tahap Keenam yang tiba-tiba muncul dan membantu mereka menghentikan penyusup. Pembawa pesan ini tahu bahwa pendekar misterius yang dimaksud adalah pemuda di depannya.


Dia kemudian dengan hati-hati menyerahkan sebuah kotak kayu terbungkus kain dan sepucuk surat kepada Xu Feng sebelum dengan sopan meminta undur diri. Dia harus kembali ke pasukan secepat mungkin.


“Sampaikan salamku pada Tetua Zhao Quan. Katakan bahwa tidak akan lama sebelum aku menyusulnya ke Kota Daun Jatuh.” Xu Feng berkata dan pembawa pesan itu mengangguk serius dan segera pergi.


Setelah kepergian pembawa pesan, Xu Feng pertama-tama membuka surat dari Zhao Quan. Seharusnya ada sesuatu yang penting yang terjadi agar orang tua itu mengiriminya sebuah surat.


“Akhirnya beberapa kabar baik..” Xu Feng menghela napas ketika membaca isi surat. Isinya sangat sederhana, Kota Bulan Perak dan Kota Daun Jatuh telah sepakat untuk masing-masing mengirim pasukan ke perbatasan dengan tujuan mengapit Kota Batu Hitam yang berada di tengah-tengah kedua kota itu.


Dengan cara ini, mereka bisa membatasi ruang gerak musuh.


Adapun bagaimana mereka dapat saling berkomunikasi dan mengambil keputusan secepat ini, Xu Feng yakin mereka menggunakan suatu alat atau teknik misterius untuk dapat berkomunikasi jarak jauh. Lagipula hanya ini yang bisa menjelaskannya.


“Apakah akan ada perang?” Ding Xiang juga membaca isi kertas itu dan mau tidak mau bertanya pada Xu Feng dengan nada khawatir. Daerah perbatasan memanglah tempat yang penuh dengan kekacauan tetapi perang hampir tidak pernah terjadi, apalagi kali ini skala perangnya begitu besar.


Bagi Ding Xiang yang baru pertama kali berada dalam situasi ini, wajar baginya untuk khawatir dan takut. Bagaimanapun perang selalu membawa kehancuran dan kemalangan dan mereka yang lemah dan tidak berdaya akan menjadi kelompok yang paling merasakan kengerian perang.

__ADS_1


“Tidak perlu khawatir, aku sudah berencana untuk membawa semua orang pindah ke kota Daun Jatuh. Perang tidak akan terlalu berdampak pada kita.” Mendengar kekhawatiran Ding Xiang, Xu Feng tersenyum dan membeberkan rencana yang telah lama dia pikirkan.


Ding Xiang berseri-seri dan bersemangat mendengar jawaban Xu Feng. Dia sejujurnya sudah sangat lama merindukan untuk tinggal di kota besar itu, lagipula siapa yang tidak mendambakan kehidupan yang lebih baik dan lebih aman?


Mereka berdua kemudian berbicara lebih lanjut lagi secara spesifik mengenai apa yang harus dipersiapkan sebelum keberangkatan. Xu Feng juga memanggil Xue Song dan memintanya untuk membantu Ding Xiang mempersiapkan keberangkatan mereka ke kota Daun Jatuh.


Xue Song segera dipenuhi kegembiraan, tak sekalipun dalam pikiran terliarnya dia akan mendapat kabar seperti ini. Sebagai salah satu pemimpin desa, dia tentu saja mengharapkan yang terbaik untuk Desa Xue. Kerinduannya untuk melihat status Desa Xue naik adalah pengejaran seumur hidupnya.


Pada titik ini, Xue Song mau tidak mau menatap Xu Feng dengan perasaan bersyukur. Di tangan pemuda itu, status klan mereka menjadi semakin baik dari hari ke hari.


Xue Song ingin berlutut untuk menyampaikan perasaan terima kasihnya namun segera dihentikan oleh Xu Feng dengan sedikit kesal. Benar, Xu Feng kesal. Dia sudah berkali-kali menyebut bahwa dirinya tidak menyukai seseorang yang berlutut di hadapannya. Bagi Xu Feng, penghormatan seperti itu hanya untuk pencipta saja. Seorang manusia, tidak peduli seberapa hebat dirinya, tidak sepatutnya diperlakukan demikian.


Xue Song hanya bisa tertegun dan menggaruk kepalanya dengan canggung. Dia terkadang tidak bisa mengikuti pola pikir Xu Feng. Namun pada saat yang bersamaan dirinya juga kagum karena Xu Feng yang masih muda tidak tergerak pada hal-hal seperti itu.


Xue Song menganggukkan kepalanya dan segera pergi bersama dengan Ding Xiang.


Melihat kepergian mereka, Xu Feng menghela napas pelan sebelum pergi mengunjungi duo bersaudara. Ketika Xu Feng tiba di Villa mereka, kedatangannya menarik perhatian Shao Kun dan Shao Jun yang tengah duduk bersila di halaman.


“Tuan!” Keduanya buru-buru bangkit dan memberi hormat.

__ADS_1


“Tidak perlu basa-basi. Bagaimana tugas yang aku berikan pada kalian?”


Mendengar pertanyaan Xu Feng, kedua bersaudara langsung menunduk malu. Shao Kun, saudara yang paling tua bahkan langsung berlutut, “Tuan, maafkan hamba yang tidak berguna!”


Xu Feng melambaikan tangan melihat tindakannya, “Tidak perlu merasa bersalah, aku hanya ingin tahu secara detail mengenai apa yang terjadi.”


“Itu..” Shao Kun terdiam sejenak untuk mengatur pikirannya sebelum berbicara. Dia menjelaskan bahwa ketika mereka tiba di Desa Guo dan Desa Song, yang tersisa hanyalah reruntuhan dan mayat. Mereka mencoba mencari penduduk yang selamat untuk bertanya namun dalam prosesnya bertemu dengan bandit yang berpatroli.


Beruntung mereka berhasil melarikan diri.


“Sesuai yang aku duga..” Xu Feng menghela napas pelan. Dia kemudian memandang dua bersaudara itu dan melanjutkan, “Ada tugas baru untuk kalian. Temui Xue Song dan bekerja sama dengannya untuk membuat Divisi Pengawal, kalian berdua akan menjadi pemimpinnya. Juga, secara bersamaan kalian juga akan menjadi pengawal pribadi Ding Xiang mulai sekarang!”


“Ingat, jangan biarkan siapa pun menyakitinya!” Xu Feng menekankan dengan serius. Meskipun dia tahu bahwa hampir tidak ada bahaya dalam tugas yang sedang dikerjakan oleh Ding Xiang, Xu Feng masih tidak bisa tenang tanpa memastikan keamanan Ding Xiang seutuhnya.


Seseorang harus belajar untuk tetap berhati-hati bahkan di situasi yang aman.


“Sesuai perintahmu!” Shao Kun dan Shao Jun berteriak bersamaan. Karena Xu Feng yang memberi perintah secara pribadi, itu berarti sudah saatnya mereka muncul ke dunia luar dan mengumumkan diri sebagai bagian dari Desa Xue.


Mereka sangat bersemangat. Bagaimana tidak, mereka baru saja bergabung dengan Desa Xue namun Xu Feng sudah mempercayakan mereka posisi dengan tingkat kekuasaan tertentu. Mata kedua pria itu berbinar, pilihan mereka untuk mengikuti Xu Feng terbukti tidak sia-sia!

__ADS_1


Xu Feng sebaliknya tidak memikirkannya terlalu jauh. Bagaimanapun juga dua bersaudara ini sudah terikat kontrak jiwa dengannya dan tidak akan pernah bisa mengkhianatinya. Tidak ada yang lebih aman daripada memberikan posisi ini kepada mereka berdua.


Setelah menyampaikan instruksi lebih lanjut, Xu Feng lalu kembali ke Villa. Ketika tiba di Villa, Xu Feng menuju kamarnya dan mengunci pintu. Sudah saatnya meningkatkan kekuatannya.


__ADS_2