Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.46 - Tunas Mulai Tumbuh


__ADS_3

Dua hari berlalu begitu cepat, Xu Feng menjalani hari yang tenang dan damai. Selama waktu ini, Desa Xue tidak mengalami kejadian yang besar, semuanya berjalan seperti biasa kecuali fakta bahwa para pedagang mulai berdatangan untuk mencari keuntungan.


Barang yang dibawa oleh para kultivator dari Hutan Seribu Malam semakin bervariasi seiring waktu karena semakin banyaknya juga kultivator yang mulai menjelajah Hutan Seribu Malam. Banyak dari mereka adalah komoditas langka dan mahal.


Para pedagang mulai mencium bau keuntungan dan kebangkitan Desa Xue lagi, mereka tidak akan membiarkan diri ketinggalan kue yang enak ini.


Dalam dua hari, Shao Jun sudah pulih dari cederanya. Sebagai orang yang berada di Tahap Ketiga, tingkat pemulihannya lebih cepat dibanding manusia biasa pada umumnya.


“Aku mengandalkan kalian berdua. Ingat! Dalam tiga hari, hasil akhirnya tergantung pada kalian.”


Xu Feng memberi pengingat dengan wajah serius di depan Shao Kun dan Shao Jun yang sedang berlutut, mereka saat ini tengah berada di ruangan kecil yang sempit.


“Hamba mengerti.”


Shao Kun mengangguk memahami, dia adalah yang paling berkepala dingin di antara mereka sehingga Xu Feng menunjuknya sebagai penanggung jawab.


“Shao Jun, dengarkan dan ikuti apa yang Shao Kun perintahkan.”


Xu Feng berbalik menatap Shao Jun, dia mengeluarkan sedikit tekanan untuk memperingati orang gegabah ini, dia tidak ingin sifatnya menghancurkan apa yang sudah dia rencanakan.


“Hamba mengerti tuan!” Shao Jun menunduk hormat dan sedikit gugup, dia masih ingat dengan segar seperti apa rasanya dipukul malam itu.


Dia tidak ada lagi pikiran untuk memberontak terhadap Xu Feng karena selain dari alasan tadi, Shao Kun juga sudah berbicara dengannya tentang keuntungan yang akan mereka peroleh di masa depan jika mengikuti Xu Feng.


Hatinya sekarang hanya menyisakan rasa hormat dan kekaguman yang tinggi.


“Bagus, sekarang pergi!” Xu Feng melambaikan tangan dan keduanya segera membungkuk sebelum melompat keluar melalu jendela, jubah yang menutupi tubuh dan wajah mereka berkibar tertiup angin.

__ADS_1


“Aku akan mengembalikan ini segera, tunggu saja kalian..” Mata Xu Feng memancarkan kilatan tajam, dia sudah berencana untuk menyelesaikan ketiga Patriark desa itu sekali dan untuk selamanya.


Tugas yang dia berikan kepada kedua bersaudara itu sederhana, yaitu bunuh Patriark Guo dan Patriark Song. Dia tidak lupa berpesan untuk mengambil jarahan jika keadaan memungkinkan, Xu Feng menekankan untuk fokus pada Batu Spiritual daripada yang lain.


Desa Guo dan Desa Song merupakan desa besar, mereka seharusnya punya beberapa Batu Spiritual.


Sedangkan untuk Desa Tan, Xu Feng akan turun tangan sendiri. Desa Tan hanya berjarak satu hari perjalanan dari Desa Xue dan Xu Feng merasa dia perlu menggerakkan tulangnya sesekali agar tidak tumpul.


Tidak lama kemudian Xu Feng mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam sederhana sebelum melengkapinya dengan jubah putih tanpa tudung.


Ketika dia berjalan keluar dari kamar, dia bertemu Ding Xiang yang sedang menunggunya di pintu, di tangannya ada topi bundar perak yang besar, modelnya sama seperti topi jerami yang sering dipakai oleh orang.


Xu Feng sudah memberitahunya secara pribadi bahwa dia akan melakukan perjalanan selama beberapa hari. Tentu, dia tidak menjelaskan alasan kepergiannya.


“Pakai ini.” Ding Xiang memberikan topi dan berbicara dengan lembut, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan sedikit keengganan.


“Aku tidak butuh topi.” Xu Feng menggelengkan kepala dengan bingung.


Ding Xiang sedikit cemberut, akan menjadi hal yang menjengkelkan jika banyak wanita mengejar Xu Feng karena melihat wajahnya, dia terus memaksa sampai Xu Feng hanya bisa menurutinya tanpa daya.


“Hahaha..” Xu Feng tertawa masam sambil memakai topi itu, dia sungguh tidak mengerti apa maksud tindakan Ding Xiang.


Setelah pamit dan hendak pergi, Xu Feng merasakan sedikit tarikan pada jubahnya. Berbalik, dia melihat tangan ramping Ding Xiang menarik-narik jubahnya seperti anak kecil, kepalanya tertunduk.


“Kau..” Xu Feng semakin tidak mengerti tapi gadis itu hanya menggumamkan satu kata dengan pelan, hati-hati.


Xu Feng terdiam selama beberapa saat sebelum menghela napas dan menepuk kepala Ding Xiang dengan lembut. Dia memang pria yang belum pernah berhubungan dengan wanita tetapi bukan berarti dia adalah pria yang kaku.

__ADS_1


Tanpa Xu Feng sadari, tindakan gadis itu telah mengisi kekosongan di hatinya. Xu Feng adalah pria yang tidak berasal dari dunia ini, tidak peduli seberapa banyak orang yang telah dia kenali selama ini, jiwanya tetaplah dari Bumi, dunia ini bukan rumahnya dan dia jauh dari rumah.


Rasa keterasingan seperti itu adalah tingkat kesepian yang tidak bisa dibayangkan oleh setiap orang, Xu Feng selama ini cuma menyembunyikannya dengan baik jauh di lubuk hatinya.


Tapi tidak peduli seberapa baik dia bersembunyi, hal yang paling mendasar itu tidak akan pernah hilang.


Fakta bahwa dunia ini bukan rumah dan bahwa dia seharusnya tidak berada di sini.


Di balik ketangguhan dan ketegarannya, punggungnya begitu kesepian. Xu Feng saat ini seperti seorang anak kecil yang tersesat di antah berantah tanpa ada jalan pulang. Bingung, takut, khawatir, cemas, rindu, ada terlalu banyak emosi yang bergejolak di dalam hatinya.


Dia butuh sosok untuk mejaga ketenangan hatinya, sosok yang bisa memberinya kehangatan dan kedamaian seperti saat berada di pelukan seorang ibu.


“Aku akan baik-baik saja.” Xu Feng menjawab pelan, matanya melembut tanpa dia sadari ketika menatap gadis itu.


“Mhmm..”


Ding Xiang mengangguk lemah sambil menyaksikan sosok Xu Feng yang perlahan pergi. Dia adalah gadis yang murni dan lembut, dia menyadari rasa yang sama seperti yang dia rasakan dari Xu Feng, itu adalah kesepian tanpa rumah.


Sebagai wanita, kemampuannya dalam memahami perasaan orang lain secara alami jauh lebih tinggi dibanding pria, justru karena alasan ini dia merasa dekat dengan Xu Feng sejak mereka pertama kali bertemu. Faktanya, Ding Xiang samar-samar merasa bahwa jiwanya seolah begitu dekat dan terhubung dengan Xu Feng.


Sesuatu seperti takdir dan soulmate adalah benar adanya, banyak orang yang terkadang mengabaikan hal sederhana itu.


Tidak peduli seberapa buruk atau seberapa tragis kondisi seseorang, jika dia bertemu dengan soulmate nya, dia akan dicintai tanpa syarat. Hidup itu aneh dan misterius tapi pada saat yang sama juga indah dan penuh warna.


“Hahh..”


Xu Feng menghembuskan napas, dia menengadah ke langit biru dalam diam, ekspresinya rumit dan tidak jelas. Dia kemudian menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada tujuannya, ada hal yang perlu dia selesaikan sebelum kembali.

__ADS_1


Dalam langkahnya, Xu Feng tidak menyadari bahwa tubuhnya lebih rileks dan lebih ringan dari biasanya, dia bahkan tidak menyadari perubahan kecil yang sedang terjadi jauh di lubuk hatinya.


Sesuatu yang telah dia coba simpan dan sembunyikan.


__ADS_2