Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.74 - Setelah Pertarungan


__ADS_3

“Hanya sebuah teknik tua..” Xu Feng menjawab dengan samar. Jawabannya tidak sepenuhnya salah, lagipula teknik ini memang berasal dari buku yang lusuh.


Komandan Resimen mengangkat alis, dia tidak percaya pada perkataan Xu Feng. Tidak mungkin teknik kuat seperti itu tidak diketahui, dan tidak mungkin lagi jika itu adalah teknik yang berasal dari masa lampau.


“Jangan membodohiku..” Komandan Resimen mendengus, ada cahaya keserakahan di dalam matanya. Jika dia bisa mengalahkan Xu Feng dan memperoleh teknik pedang tersebut, dia mungkin akan menjadi salah satu ahli pedang terkuat. Dia sendiri sudah merasakan kehebatan dari teknik pedang itu, dan ini semakin memperkuat tekadnya untuk memperolehnya.


Memikirkannya, Komandan Resimen tersenyum dingin. Dia kemudian mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi sambil tertawa kejam, “Aku awalnya tidak berniat menggunakan benda ini, tapi kau sudah melampaui ekspektasiku..”


Ketika benda tersebut keluar, aura menakutkan terpancar darinya yang menyebabkan wajah Xu Feng berubah serius, aura itu bahkan mempengaruhi jiwanya, seolah-olah mencoba menarik jiwanya keluar.


“Artefak apa lagi ini?” Xu Feng mengutuk dalam hati, dia tidak habis pikir Komandan Resimen akan menjadi gudang artefak berjalan. Artefak pertama yang digunakan sudah sangat menakutkan bagi Xu Feng, dan sekarang Artefak ini tampaknya lebih menakutkan dari yang sebelumnya.


Artefak apa lagi yang harus aku lawan berikutnya? Xu Feng mau tidak mau bertanya-tanya ada berapa banyak lagi Artefak yang dimiliki oleh lawannya.


Ketika Xu Feng waspada terhadap Artefak tersebut, dia lalu melihat Komandan Resimen mengiris jarinya dan meneteskan darahnya pada Artefak itu.


Xu Feng mencoba menghentikannya namun sudah terlambat.


“Sayang sekali seorang jenius harus mati di tempat ini..” Komandan Resimen menatap Xu Feng dengan seringai di wajah, dia dalam hati berseru atas kemenangannya.


Namun, beberapa detik berlalu dan tidak ada yang terjadi. Wajah Komandan Resimen berubah, dia menunduk dan menatap Artefak di tangannya dengan wajah jelek. Artefak itu tergeletak seperti benda mati tanpa tanda-tanda mengeluarkan kekuatan sedikit pun.

__ADS_1


Berpikir bahwa Artefak itu kekurangan darah, Komandan Resimen kemudian meneteskan lebih banyak darah dari jarinya namun tidak peduli sebara banyak tetesan yang jatuh, Artefak tersebut tetap tidak merespon.


“Sia-sia saja…” Tiba-tiba saja muncul Tetua Zhao Quan pohon bersama dengan kedua Tetua Inti Sekte Elang Hutan.


“Bagaimana bisa?” Komandan Resimen berseru dengan tidak percaya.


“Hmm!! Bukan cuma kau saja yang memiliki Artefak..” Zhao Quan mendengus dingin dan segera menumbangkan Komandan Resimen sebelum sempat bereaksi. Berbanding terbalik dengan usianya yang sudah paruh baya, gerakan Zhao Quan masih begitu cepat!


“Kerja bagus Nak!” Salah satu Tetua Inti Sekte Elang Hutan, Yang Meng, mendekati Xu Feng dan menepuk pundaknya. Wajahnya penuh keterkejutan.


Dalam perjalanan tadi menuju ke sini, dia sudah bisa melihat pertarungan antara Xu Feng dan Komandan Resimen dari kejauhan. Tak pernah dalam pikiran terliar Yang Meng bahwa ada seorang bocah yang mampu menyaingi seorang Komandan Resimen yang terkenal dengan pengalaman dan kemampuan yang tinggi.


“Siapa namamu?”


Yang Meng kemudian menanyakan lebih banyak hal tentang identitas Xu Feng. Dia sejujurnya sudah curiga kalau Xu Feng adalah pemuda yang berasal dari Ibukota, lagipula berbeda dari orang lain, Tetua Yang Meng telah mengunjungi Ibukota sebanyak dua kali.


Namun ketika mengetahui bahwa Xu Feng berasal dari Kota Batu Hitam, dan bahwa dia lahir dan besar di salah satu desa di wilayah Kota Batu Hitam, tubuh Yang Meng bergetar tak terkendali.


“Sungguh luar biasa!” Tetua Yang Meng mengenggam tangan Xu Feng erat-erat, matanya terbuka sangat lebar dan berapi-api seolah baru saja menemukan sebuah permata yang indah.


Xu Feng sejujurnya sudah tidak nyaman, dia tahu akan seperti apa berikutnya. Benar saja, tidak lama kemudian Tetua Yang Meng menanyakan tentang siapa guru Xu Feng. Ketika mendengar bahwa Xu Feng belum memiliki guru, mata Tetua Yang Meng semakin berapi-api, bahkan Tetua Gong Heng tidak ingin melewatkan kesempatan dan segera terjun dalam perebutan dengan Tetua Yang meng.

__ADS_1


Ketika Xu Feng melihat semua itu, dia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Apakah setiap kali orang baru yang dia temui akan selalu memintanya untuk menjadi muridnya?


“Tetua, maaf tapi aku tidak membutuhkan guru..” Pada akhirnya Xu Feng harus berbicara ketika melihat kedua Tetua tersebut masing-masing sudah naik pitam dan sepertinya akan terlibat dalam perkelahian kapan saja.


Mendengar jawaban Xu Feng, Tetua Yang Meng dan Tetua Gong Heng segera menghentikan perdebatan mereka. Keduanya tertegun dengan jawaban Xu Feng yang begitu lugas.


Xu Feng sedikit khawatir, dia takut perkataannya sudah melukai harga diri kedua orang tua itu tapi sepertinya dia terlalu berpikir terlalu jauh. Kedua Tetua, meskipun kecewa tapi tidak terlalu memikirkannya.


Mereka sepertinya menghormati pilihan Xu Feng.


“Tidak perlu khawatir nak..” Zhao Quan mendekati Xu Feng dan menepuk pundaknya dari belakang, dia memahami kekhawatiran Xu Feng dan segera menjelaskan bahwa kedua Tetua ini adalah orang-orang yang masuk akal. Tetua Yang Meng dan Gong Heng yang juga memahami kesulitan Xu Feng lalu menatap Xu Feng dengan senyum geli.


“Hahaha..” Xu Feng tertawa malu sambil menggaruk kepalanya dengan canggung namun dalam hati dia menghela napas lega. Bayangkan saja jika kedua orang tua ini tersinggung, Xu Feng tidak bisa membayangkan akan seperti apa berikutnya. Kasus terburuk, cerita ini mungkin akan berakhir di sini.


Setelah percakapan, mereka kemudian membawa Komandan Resimen bersama dengan anak buahnya menuju tenda utama. Tetua Yang Meng meminta Xu Feng agar ikut, lagipula Xu Feng yang berhasil mengalahkan Komandan Resimen, prestasi dan bantuan itu saja sudah membuat Xu Feng layak memasuki tenda utama.


Dalam perjalanan, Tetua Meng Yang menjelaskan bahwa bantuan Xu Feng akan dihargai. Tentu saja, orang tua itu hanya menggunakan kalimat tersebut sebagai fasad untuk menarik Xu Feng ke sisi mereka.


Bahkan jika Xu Feng tidak melakukan apa-apa, mereka tetap akan memberikan hadiah sebagai bentuk wujud baik dari mereka. Bagaimanapun, terlepas dari umur Xu Feng, kekuatannya saja sudah sangat layak mereka perjuangkan.


Kamp malam itu terang benderang karena kebisingan yang terjadi selama pertarungan. Setiap prajurit yang tertidur terbangun dari tidur mereka dengan penuh kebingungan.

__ADS_1


“Panggil semua Komandan Resimen!” Setibanya di tenda utama, Tetua Yang Meng memberi perintah pada beberapa prajurit. Ratu Semut sudah ditemukan, yang tersisa sekarang adalah membersihkan sisa-sisa semut yang mungkin menyelinap ke dalam pasukan.


Tetua Gong Heng di sisi lain melakukan patroli sepanjang kamp, dia bertugas untuk tidak membiarkan satu pun orang keluar dari kamp. Malam ini juga, mereka perlu melakukan pembersihan secara menyeluruh.


__ADS_2