Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.84 - Pertempuran Menentukan!


__ADS_3

“Sepertinya kau sangat ingin mati…” Salah satu Komandan Divisi menunjuk Ketua dengan dingin.


Karena musuh tidak memberi ruang untuk negosiasi, tidak perlu lagi berbasa-basi. Empat Komandan Divisi saling melirik dan mengangguk, mereka kemudian menghunus senjata masing-masing dan bergegas menuju ketua.


Dengan bergabungnya Komandan Divisi, situasi berubah menjadi pertempuran satu sisi. Ketua menggertakkan gigi, bukan hanya kalah dalam kuantitas, mereka sekarang kalah dalam kualitas.


Hasil pertempuran ini pada dasarnya sudah ditentukan!


Tempo pertarungan semakin sengit, pihak ketua semakin tersudut. Karena takut ketua membakar kekuatan hidupnya, para Komandan Divisi bertindak hati-hati dan tidak berani mendekat, mereka hanya akan menyerang sesekali ketika melihat peluang. Berkat kewaspadaan mereka, ketua mampu menangkis serangan mereka dan menyelamatkan bawahannya.


Pada titik inilah keterampilan bertarung ketua ditunjukkan sepenuhnya, dia akhirnya menunjukkan penguasaan tekniknya yang tinggi. Layak menjadi pemimpin cabang organisasi bawah tanah, teknik pedang dan teknik gerakannya sebenarnya sudah berada di alam master!


Tidak peduli seberapa licik para Komandan Divisi menyelinap, ketua mampu bereaksi dan memblokirnya dengan sempurna. Ketua bolak-balik di tengah pertempuran seperti hantu, tidak membiarkan para Komandan Divisi menyentuh bawahannya.


“Sial, aku tidak berharap musuh begitu mumpuni..” Salah satu Komandan Divisi bergumam khawatir, dia tidak berharap orang di depannya mampu membawa dua tekniknya ke alam Master sekaligus.


Sebagai perbandingan, semua tekniknya saja masih berada di alam lanjutan.


Wajah Komandan Divisi lainnya berubah gelap, dengan keahlian itu, jika ketua membakar kekuatan hidupnya, tingkat kekuatannya pasti tidak terbayangkan.


Mereka terlalu meremehkan musuh!


Ketika Komandan Divisi masih tertegun karena pergantian peristiwa yang tiba-tiba, ketua melihatnya sebagai peluang dan tidak segan-segan melangkah ke depan seperti tembok yang kokoh.


“Mundur!!” Ketua tiba-tiba berteriak dengan suara yang serak, suaranya bagaikan guntur yang menggelegar, “Aku akan menahan musuh, kalian mundurlah, misi kita sudah selesai.”


Topeng Hijau, yang baru saja hendak melangkah ke depan, tersentak. Dia menatap punggung ketua dengan linglung sebelum kembali sadar, suaranya menjadi dingin, “Ketua, kau menganggapku sebagai pengecut?”


Dia adalah pembunuh tingkat atas Rumah Bayangan, bagaimana bisa dirinya tidak memiliki ego? Jika dia mundur, rasa malu ini akan menjadi mimpi buruk yang akan selalu menghantuinya.


Bukan hanya Topeng Hijau, anggota yang lain juga memiliki harga dirinya masing-masing. Mereka adalah sekelompok pria sombong, bagaimana mungkin mereka menuruti instruksi ketua?

__ADS_1


“Kalian…” Ketua menggelengkan kepala dengan lemah. Meski orang-orang ini berbicara dingin kepadanya, dia tahu bahwa mereka sebenarnya tidak ingin meninggalkannya sendirian. Adapun kenapa suara mereka begitu dingin, alasannya karena mereka terlalu malu untuk menunjukkan emosi mereka.


Benar-benar sekelompok pria sombong!


“Kalau begitu, mari kita berikan persembahan terakhir untuk kerajaan.” Ketua menghunus pedangnya, diikuti oleh Topeng Hijau dan lainnya.


Momentum mereka tiba-tiba naik dengan cepat, aura membunuh yang besar tiba-tiba memenuhi langit dan bumi. Mereka telah bertekad untuk mati!


Hening…


Musuh yang bergegas ke depan tiba-tiba berhenti, wajah mereka menunjukkan ekspresi ngeri. Mereka tidak bisa membayangkan ada sekelompok orang dengan niat membunuh yang begitu kental. Itu bahkan mempengaruhi jiwa mereka.


Kehidupan seperti apa yang telah dijalani oleh orang-orang ini?


Para Komandan Divisi juga memasang ekspresi serius, kewaspadaan mereka naik ke tingkat yang tinggi. Meski mereka sedikit takut jika musuh membakar kekuatan hidupnya, mereka harus tetap bertarung. Tidak ada jalan untuk mundur!


Entah hukuman apa yang diberikan Komandan Legiun jika mereka tidak membawa pulang kepala musuh.


Ketua menggertakkan gigi dan membakar kekuatan hidupnya.


Tapi sebelum ketua sempat meledakkan meridian dan membakar jantungnya menggunakan energi qi yang kacau, suara muda yang tenang terdengar, “Ketua, harap jangan impulsif.”


Ketua membeku, dia menoleh sedikit ke belakang dan melihat Xu Feng yang entah kapan sudah berdiri di atas pohon. Tidak jauh darinya adalah Beruang Mengamuk dan sesosok lagi yang menyusul.


Sebelum ketua sempat berbicara, Xu Feng melompat dari pohon dan berdiri di sampingnya dalam sekejap. Ketua segera tercengang, alasannya karena kecepatan yang ditunjukkan oleh Xu Feng tidak jauh berbeda darinya.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan..” Xu Feng memotong ketua yang hendak membuka mulutnya, dia melanjutkan, “Untung saja salah satu anggota yang anda kirim berhasil sampai di kamp.”


Xu Feng kemudian memandangi musuh yang juga tertegun karena kedatangannya dan berbicara kepada ketua, “Aku harap kedatanganku tidak membuat anda menganggapku lalai dalam menjalankan tugas.”


……

__ADS_1


Kedatangan Xu Feng mengejutkan setiap orang, tetapi yang paling terkejut adalah para Komandan Divisi. Mereka tidak berharap masih ada sosok Tahap Kedelapan di pihak musuh!


“Hati-hati, auranya sangat kental, dia sudah berada di puncak Tahap Kedelapan!” Salah seorang Komandan Divisi mengingatkan dengan waspada dan tegang.


Puncak Tahap Kedelapan!


Ini bahkan lebih kuat dari ketua. Tidak, dia adalah yang terkuat di tempat ini!


“Sialann…” Komandan Divisi lainnya menggertakkan gigi, mereka tidak berharap akan membentur tembok yang besar.


Namun pada detik berikutnya, aura yang lebih menakutkan muncul di medan perang. Wajah para Komandan Divisi berubah gembira sedangkan ekspresi Xu Feng dan ketua berubah buruk.


“Komandan!!” Para Komandan Divisi berbalik ke belakang dan menangkupkan tangan pada sesosok lelaki jangkung yang baru saja tiba. Kepalanya botak, matanya sipit dan janggut putihnya menjuntai ke bawah.


“Ho hoo, ada sosok yang hebat di tempat ini..” Komandan Legiun tertawa pelan sambil mengelus janggutnya yang tebal, matanya yang sipit hampir tidak terlihat karena tawanya.


Penampilannya yang lembut benar-benar bertolak belakang dengan niat membunuh yang dipancarkannya.


“Pada akhirnya tetap sama..” Ketua menghela napas dan memandang Xu Feng dengan rumit, “Suaramu masih muda, kau seharusnya tidak membuang nyawamu dengan sia-sia.”


Wajah Xu Feng tetap tenang, tapi hatinya sudah tegang. Ini adalah pertama kalinya dia bertemu musuh yang jauh lebih kuat darinya. Otak Xu Feng berputar dengan cepat, memikirkan berbagai rencana untuk keluar dari situasi ini.


Tetapi sebelum Xu Feng menyusun rencananya, dia mendengar suara retak yang aneh. Wajah Xu Feng langsung berubah, dia buru-buru berbalik dan ingin menghentikan ketua tetapi segera dihentikan oleh suaranya, “Aku akan menyeret pemimpin pasukan musuh jauh dari sini, sisanya ada di tanganmu.”


Bersamaan dengan suara itu, ketua langsung melesat menuju Komandan Legiun musuh.


“Ho hoo, sungguh lawan yang terhormat..” Lelaki tua itu masih tertawa pelan, tapi wajahnya sedikit serius. Dia juga pernah bertarung dengan musuh yang membakar kekuatan hidupnya sehingga dia menyadari seberapa berbahayanya ketua sekarang.


Jika tidak hati-hati, dirinya mungkin akan terluka parah.


Xu Feng di sisi lain pulih dan pikirannya kembali normal. Karena ketua sudah mengambil tindakan, tidak ada lagi gunanya menghentikannya.

__ADS_1


Xu Feng memandang empat Komandan Divisi, ekspresinya perlahan-lahan menjadi serius.


__ADS_2