Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.20 - Aula Latihan


__ADS_3

“Haa..Haa..”


Ratusan pemuda berteriak di area latihan ketika melakukan gerakan yang seragam. Xu Feng memantau mereka dengan hati-hati.


“Semuanya, hentikan latihannya!”


Huo Tin berteriak dan segera ratusan pemuda berdiri diam. Mereka awalnya begitu fokus dan tidak menyadari kedatangan mereka, baru ketika Tetua Pertama berteriak, mereka akhirnya menyadari kehadiran dua pemuda yang ditemani oleh Tetua.


Mereka secara alami penasaran dan bertanya-tanya siapa dua pemuda itu. Kebanyakan menganggap bahwa kedua pemuda tersebut merupakan murid baru yang akan masuk hari ini.


Lagipula umur Xu Feng dan Gao Gao baru delapan belas tahun. Banyak dari peserta pelatihan yang seumuran dengan keduanya.


“Sepertinya kita kedatangan murid baru. Hanya saja apa latar belakang mereka sampai Tetua Pertama harus mengantar keduanya?”


“Wajah mereka terlihat asing, aku belum pernah melihat mereka di desa sebelumnya”


“…”


Beberapa murid saling berbisik namun tidak ada satu pun yang bisa menemukan identitas keduanya.


“Coba praktikkan Teknik Tombak Pemecah Gunung, aku ingin kalian melakukan yang terbaik!”


Huo Tin memberi perintah dan segera setiap murid melakukan apa yang dia inginkan. Teknik Tombak Pemecah Gunung merupakan teknik turun-temurun dari Klan Huo, itu adalah teknik yang diciptakan oleh leluhur klan.


Teknik ini khusus untuk Klan Huo saja.


“Senior Xu..”


Huo Tin mempersilahkan Xu Feng. Yang terakhir mengangguk menanggapi. Xu Feng kemudian berjalan menuju barisan pemuda dan diikuti oleh Huo Tin dan Gao Gao dari belakang.


“Apa-apaan..”


Banyak pemuda mau tidak mau melirik ke arah Xu Feng, mereka bingung mengapa Tetua Pertama memperlakukannya dengan hormat. Kebingungan mereka ditanggapi oleh teguran Huo Tin, menyebut bahwa mereka harus fokus dan tidak boleh terganggu.

__ADS_1


Xu Feng segera menghampiri salah satu pemuda dan menatap gerakannya.


“Siapa nama mu?”


Pemuda itu ragu-ragu sejenak dan menatap Huo Tin. Ketika mendapat anggukan dari Tetua Pertama, keraguannya menghilang.


“Saya Huo Nin!”


“Huo Nin, gerakan mu sudah bagus tapi..” Xu Feng mulai menunjukkan beberapa kesalahan Huo Nin, tentu saja kesalahan yang dia maksud bukan mengacu pada gerakan teknik. Lagipula Xu Feng tidak mengenal teknik itu sama sekali.


Dia sebaliknya menyoroti penggunaan kekuatan otot Huo Nin yang terlalu berlebihan. Dia bahkan menunjukkan kesalahannya ketika mengayunkan tombak tidak pada sudut yang tepat. Akurasinya terlalu buruk.


“Ketika memasang kuda-kuda, otot pada paha yang kau gunakan harusnya…” Xu Feng terus melanjutkan dan memperbaiki kesalahan Huo Nin. Beberapa pemuda yang berada di dekatnya sedikit terkejut ketika Xu Feng menemukan banyak kesalahan pada Huo Nin. Bagaimanapun dia adalah yang paling berbakat di antara mereka.


“Senior Xu benar-benar seseorang yang hebat..”


Huo Tin mau tidak mau berseru dari belakang. Dia mengagumi Xu Feng dari lubuk hatinya. Benar saja, seorang pengendali Tahap Ketiga sesuai dengan reputasinya.


Semua orang yang mendengar seruan Huo Tin segera terkejut tak bisa berkata-kata. Senior? Pemuda itu dipanggil senior oleh Tetua Pertama? Apakah mereka tidak salah dengar?


“Jika kau menarik tangan ke belakang, otot dan tulang pada lenganmu seharusnya..”


“Terlalu berlebihan! Otot yang mengunci perutmu..”


“Tidak perlu menaruh tenaga pada kaki jika menggunakan gerakan ini..”


“Apa-apaan! Tidak perlu berteriak setiap kali kau melakukan gerakan. Kau hanya membuang-buang energi mu!”


Xu Feng berbicara semakin banyak dan suaranya agak serak ketika dia menyelesaikan putaran inspeksinya pada pemuda terakhir.


“Tindakan senior Xu sungguh membuka mata ku..”


Huo Tin berdecak kagum. Kali ini dia mengatakannya begitu jujur. Dia sendiri sudah belajar sesuatu ketika Xu Feng sedang mengajari para pemuda. Meskipun dia sudah berada di tingkat lanjutan dari Teknik Tombak Pemecah Gunung, penguasaannya terhadap otot secara alami tidak sebaik Xu Feng yang berada di Tahap Ketiga.

__ADS_1


Huo Tin bahkan merasa jika dia memperoleh ceramah dari Xu Feng lebih lama lagi, mimpinya untuk mencapai tingkat master Teknik Tombak Pemecah Gunung bukan lagi mimpi belaka.


“Senior Xu, aku mohon bimbingan mu di masa depan!”


Huo Tin menangkupkan tangannya dan sedikit berharap, hanya Xu Feng yang bisa membantunya. Dia merasa bahwa pemahaman Xu Feng lebih tinggi dari Patriark Huo.


Intuisinya tentu tidak salah. Xu Feng selalu berada di puncak setiap tahap setiap kali menerobos menggunakan panel, penguasaannya secara alami sedikit lebih baik dibanding Huo Teng yang belum mencapai puncak Tahap Ketiga.


“Tidak masalah.”


Xu Feng melambaikan tangannya yang menyebabkan Huo Tin hampir berteriak kegirangan.


Ketika mereka berbicara panjang lebar, ratusan pemuda yang baru saja mengalami pengarahan menatap Xu Feng kagum dan hormat. Penguasaan mereka dalam bermain tombak menjadi semakin baik hanya dengan beberapa kata dari Xu Feng. Juga, mereka biasanya akan kelelahan ketika selesai melakukan latihan panjang namun kali ini mereka tidak terlalu lelah seperti sebelumnya.


Perubahan seperti itu sangat signifikan.


“Terima kasih senior Xu!!”


Ratusan pemuda segera menangkupkan tangan mereka dan berteriak bersamaan. Orang yang demikian layak mendapat penghormatan tidak peduli berapa umurnya.


“Bagus, kalian anak-anak yang baik!”


Huo Tin tersenyum puas dan melambaikan tangannya. Dia lalu memperkenalkan Xu Feng yang segera menyebabkan banyak seruan tidak percaya ketika mengetahui pemuda yang baru berumur 18 tahun itu adalah seorang pengendali Tahap Ketiga.


Mereka tercengang dan shock. Prestasi Xu Feng terlalu bersinar! Bahkan pemuda yang paling jenius sepanjang sejarah Desa Huo, Huo Nin, tidak bisa dibandingkan.


Huo Tin sangat senang melihat respon mereka. Dia ingin agar mereka mengetahui bahwa masih ada langit di atas langit, bahwa mereka hanyalah sekelompok katak di dasar sumur. Dia ingin agar para pemuda ini tumbuh menjadi orang-orang yang tidak mudah sombong di masa depan hanya karena beberapa prestasi dan pujian. Dia ingin agar mereka mengetahui bahwa dunia ini begitu luas dan ada banyak jenius yang tak terhitung jumlahnya, mereka harus belajar menjadi pribadi yang rendah hati dan terus bekerja keras agar tidak ketinggalan.


“Senior Xu.. Maaf merepotkan anda.”


Huo Tin mengenggam tangannya dan menyampaikan perasaan syukurnya. Tidak lama kemudian, seseorang datang dan memberi tahu bahwa Patriark sedang menunggu mereka di aula utama bersama beberapa pria.


Huo Tin mengangguk dan segera menemani Xu Feng dan Gao Gao kembali ke aula. Namun di tengah jalan Gao Gao menolak dan menyebut ingin pergi mencari tempat yang tenang karena sudah berada di ambang terobosan.

__ADS_1


Huo Tin langsung buru-buru memanggil pelayan dan memintanya membawa Gao Gao ke salah satu rumah yang disiapkan untuk tamu. Dia kemudian menjelaskan kepada Gao Gao bahwa di sana sangat cocok untuk berkultivasi karena tenang dan jauh dari kebisingan.


Atas perhatian Huo Tin, Gao Gao sangat berterima kasih.


__ADS_2