
Ketika mereka mendengar seruan Gao Gao, mereka ingin mengutuk dalam hati. Tidak percaya apanya! Kita justru khawatir padanya! Andalah yang terlalu berlebihan.
“Senior Xu, terima kasih atas bantuanmu!”
Xue Gong mengatupkan kedua tangannya dan segera membungkuk, suaranya begitu tulus. Jika bukan karena pemuda di depannya, Desa Xue mungkin telah dihapuskan dari peta selamanya.
Dia sendiri terkejut, Dua Serigala Besi Dewasa, pemuda itu mampu membunuh keduanya tanpa terluka. Dia segera tahu bahwa kekuatan Xu Feng sepertinya sudah ada di puncak Tahap Ketiga.
Bahkan Patriark Huo Teng dengan reputasinya belum mencapai ranah puncak, sepertinya tinggal menunggu waktu sebelum reputasi Xu Feng akan tersebar juga.
Seorang di puncak Tahap Ketiga adalah hal yang berbeda, sedikit lagi dan mereka akan mencapai Tingkat Keempat, seorang tuan yang sebenarnya!
Kabar itu pasti akan menggetarkan hati setiap orang yang mencoba macam-macam terhadap Desa Xue.
“Salam Tetua Gong!”
Ketika mereka memasuki desa, kedatangan mereka menarik perhatian penduduk desa yang tengah membersihkan puing-puing bangunan. Beberapa Binatang Iblis berhasil menerobos tembok sehingga menyebabkan kehancuran di dalam desa.
Beberapa penduduk menatapnya dengan aneh karena ketidakhadirannya bersama Tetua Xue Lan dan Nona Ding ketika desa diserang. Kepergian mereka ke Desa Huo secara alami tidak diketahui oleh banyak orang, hanya beberapa orang penting di Desa Xue yang mengetahuinya.
“Aku minta maaf karena ketidakhadiranku selama ini..”
Xue Gong menundukkan kepala dan merasa bersalah, dia menjelaskan bahwa dia pergi untuk kepentingan desa. Dia menunjuk Xu Feng dan menyebut bahwa ini adalah bantuan yang mereka bawa, yang segera meredakan ketidakpuasan di hati setiap orang.
“Salam Pelindung!”
Tidak tau siapa yang mulai berseru terlebih dahulu, orang-orang mulai memanggil Xu Feng dengan sebutan demikian.
“Hahaha sebutan ini cocok untukmu..”
Gao Gao tertawa kecil, dia membusungkan dadanya tinggi-tinggi dan merasa bangga. Prestasi Xu Feng adalah prestasinya juga.
“Tetua Gong, anda akhirnya kembali.”
Xue Song muncul tidak lama setelahnya, dia menghampiri mereka dengan wajah sedih. Kematian putranya masih berdampak besar padanya.
__ADS_1
“Apa anda sudah menemui orang itu?”
Xue Song mencoba menyesuaikan kondisi hatinya dan bertanya. Dia adalah salah satu orang yang mengetahui kepergian mereka ke Desa Huo, dia secara alami juga tahu untuk apa mereka melakukan perjalanan itu.
“Apa maksudmu? Bukankah kau sudah melihatnya sendiri?”
Xue Gong meliriknya dengan aneh sebelum memperkenalkan Xu Feng yang segera menyebabkan wajah sedih pria tua itu memerah dalam sesaat.
Dia tidak berpikir bahwa orang yang akan melindungi desanya di masa depan merupakan ahli yang baru saja menyelamatkan desanya.
Hatinya yang sedih perlahan digantikan oleh secerah harapan, hari-hari yang suram di desanya mungkin akan segera berakhir.
Sejujurnya dia sudah lelah hidup dalam pengasingan, menjalani setiap hari hanya untuk masa depan yang tidak pasti sudah terlalu banyak membebaninya.
“Jadi namamu Xue Song?”
Xu Feng mengangguk menghargai ketika Xue Song memberitahunya bahwa semua perintahnya tadi telah dia laksanakan. Dia juga sudah menemui pemahat terampil dan saat ini sedang mengerjakan monumen batu yang dia minta.
“Bagus sekali, anda tidak mengecewakanku.”
Mereka kemudian berjalan menuju Paviliun Klan setelah Xue Gong memberi beberapa perintah kepada penduduk. Dalam perjalanan, Xue Song menyadari kehilangan Xue Lan dan Ding Xiang sehingga dia bertanya apa yang terjadi.
Xue Gong hanya menjelaskan secara singkat mengenai apa yang terjadi untuk meredakan kecemasan di hati Xue Song.
“Aku merasa senang Nona Xiang baik-baik saja..” Xue Song bergumam lega, dia tidak akan pernah bisa menghadapi arwah Patriark jika sesuatu terjadi pada satu-satunya putri kesayangannya itu.
“Jangan khawatir, mereka akan segera kembali.” Xue Gong meyakinkan.
……….
Malam tiba dan menyelimuti Desa Xue ke dalam kegelapan. Di utara desa, tepatnya di kaki gunung, ribuan penduduk berdiri dalam diam. Obor di tangan mereka adalah satu-satunya cahaya yang membantu mereka melihat di malam gelap itu.
“Semoga kalian berisitirahat dengan tenang.”
Tetua Xue Lan berdiri di depan puluhan kuburan dan mendoakan jiwa-jiwa prajurit yang telah gugur. Di bagian depan kuburan-kuburan itu berdiri monumen batu putih dan padanya tertulis banyak nama pejuang yang gugur.
__ADS_1
“Semoga kalian beristirahat dengan tenang.” Ribuan penduduk ikut mendoakan, suasana saat itu begitu khidmat dan tenang.
Berdiri di antara Tetua Xue Lan dan penduduk adalah Xu Feng bersama Ding Xiang, pada tangan mereka terdapat karangan bunga warna-warni. Keduanya segera berjalan ke depan dan meletakkan karangan bunga itu di atas monumen batu.
“Semoga jiwa kalian berisitirahat dengan tenang.” Ding Xiang menggumamkan kalimat itu dengan pelan, nadanya mengandung kesedihan dan rasa bersalah.
Dia tidak berharap akan bertemu dengan kondisi tragis seperti itu setibanya di desa, pada akhirnya mereka terlambat. Dia mau tidak mau melirik ke arah Xu Feng, orang ini lagi-lagi membantunya meringankan masalahnya. Dia tidak tau akan seperti apa jadinya jika tidak ada Xu Feng.
Perasaan jatuh ke jurang berulang kali dan selalu diselamatkan oleh orang yang sama membawa perasaan yang tidak bisa dipahami oleh orang biasa.
Pada akhirnya dia masihlah seorang gadis, di bawah tekanan yang begitu hebat, dia sangat membutuhkan sosok seperti ayah yang bisa menjaga dan melindunginya.
“Kehidupan begitu rentan di dunia ini..”
Batin Xu Feng saat menatap proses pemakaman, dia sekali lagi disadarkan akan tingkat keparahan dunia ini. Setiap orang bahkan harus berjuang setiap harinya hanya untuk bisa memastikan mereka dapat hidup tenang tanpa bahaya esok hari.
Setiap orang menyelesaikan proses pemakaman dan kembali ke rumah masing-masing.
“Senior Xu, silahkan..”
Ding Xiang mengantar Xu Feng ke salah satu villa di Paviliun, itu adalah rumah khusus yang disediakan oleh mereka kepada Xu Feng.
Faktanya, villa itu merupakan tempat tinggal mantan Patriark, namun karena kematiannya, tidak ada lagi yang tinggal di Villa itu. Istri Patriark telah lama meninggal sebelum dia, dan Ding Xiang tidak ingin lagi tinggal di tempat itu sejak kematian Patriark.
Ding Xiang tidak ingin kenangan lamanya terbuka, dia selalu berusaha menghindari rumah itu.
“Terima kasih..” Xu Feng mengangguk menghargai, dia belum tahu mengenai asal-usul villa itu.
“Juga, apakah anda yakin tidak ingin pelayan?”
Ding Xiang melirik Xu Feng penasaran dan menunggu jawabannya. Para Tetua awalnya sudah menyiapkan pelayan untuk Xu Feng namun mendapat penolakan mentah-mentah dari Xu Feng.
“Sudah aku bilang tidak perlu.”
Xu Feng melambaikan tangannya acuh tak acuh, dia tidak terbiasa berada satu rumah dengan wanita. Dan juga, dia tidak terlalu membutuhkan pelayan, dia bisa mengurus dirinya sendiri.
__ADS_1
Dan naluri Xu Feng memberitahunya bahwa jika dia menerima itu, hal buruk mungkin saja terjadi terhadapnya. Itu adalah pikiran aneh yang selalu muncul di kepalanya sejak tadi.