Pendekar Agung

Pendekar Agung
Ch.83 - Terpojok


__ADS_3

Di kamp, suasana hening seperti biasanya. Kecuali dua suara menggerutu, semuanya pada dasarnya begitu damai.


“Sial, katamu kau pandai memasak?” Xu Feng meludah ke lantai sambil menunjuk pot masak besar di atas api. Suaranya sedikit kesal dan menyesal, dia kesal karena mempercayai Beruang Mengamuk untuk memasak dan dia menyesal karena mencicipi makanan buruk ini.


“Apa maksudmu bajingan..?” Beruang Mengamuk menggertakkan gigi dengan marah, dia selalu bangga atas keahlian memasaknya. Beruang Mengamuk merebut sendok dari tangan Xu Feng dan meraung dengan kesal, dia benar-benar tampak seperti beruang liar, “Kau tahu apa? Fakta bahwa aku bisa hidup sampai saat ini adalah karena keahlian memasakku, pasti ada yang salah dengan lidahmu.”


Mulut Xu Feng berkedut, dia sedikit heran ada orang yang bisa hidup dengan masakan seburuk itu. Jika bukan karena Xu Feng mengenal bahan-bahan yang digunakan Beruang Mengamuk, dia mungkin sudah curiga pria ini sebenarnya sedang meramu racun.


“Bukankah kau hampir menghabiskan stok gula? Kenapa bisa rasanya begini?”  Xu Feng menatap Beruang Mengamuk dengan takjub dan aneh, dia sungguh tidak mengerti komposisi apa yang digunakan oleh pria ini.


Bagaimana bisa gula berubah rasa di tangannya?


“Kau, diam!” Beruang Mengamuk berada di ujung tanduk, dia ingin memukul Xu Feng tapi teringat bahwa belum lama ini, Xu Feng dengan mudah melemparnya seperti karung karena memetik jamur beracun untuk dimakan. Dia bahkan membawanya ke Xu Feng dengan begitu arogan. Jika bukan karena Xu Feng menggunakan energi qi untuk menyeret keluar sisa racun dari tubuhnya, namanya mungkin sudah terukir di batu nisan.


Xu Feng tidak berdaya, dia rasanya ingin membelah kepala orang ini untuk melihat terbuat dari apa otaknya. Xu Feng menghela napas, “Serahkan tugas ini padaku, lebih baik kau pergi berpatroli..”


Beruang Mengamuk ingin menolak tetapi sebelum sempat berbicara, Xu Feng melemparnya dengan kejam. Karena tubuhnya yang kuat, Xu Feng bahkan tidak perlu menahan diri, dia tidak perlu khawatir apakah Beruang Mengamuk akan terluka.


Tubuh sebesar beruang terbang seperti layang-layang.


…..

__ADS_1


“Sial..”


Di suatu tempat yang jauh dari kamp, terjadi pertarungan yang intens. Mayat tergeletak dimana-mana, bercak darah menghiasi tanah dan banyak lubang menganga tersebar di sekitar area itu.


Pertarungan antar kedua pihak begitu kejam dan brutal, merenggut nyawa setiap detiknya. Jika diperhatikan dengan hati-hati, satu pihak tampak bergegas tanpa peduli korban di sisi mereka sedangkan pihak lain mencoba bertahan dengan putus asa.


“Bunuh!” Ketua berteriak melalui paru-parunya yang berat, dia sudah hampir kehabisan napas. Tubuhnya berlumuran darah dan penuh luka, salah satu tangannya hampir terlepas dan wajahnya pucat dan lemah. Kondisi tubuhnya begitu tragis.


Kondisi anggota yang lain sama buruknya dengan ketua, beberapa bahkan sudah kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Dalam pertempuran ini, setengah dari mereka telah mati!


Selain dari Topeng Hijau yang baru saja kembali dari misi dan bergabung dengan mereka, dua Tahap Ketujuh lainnya mengorbankan diri dengan membakar kekuatan hidup mereka untuk menyelematkan ketua dari kepungan para Komandan Divisi.


Ketua menilai situasi dan menggertakkan gigi, sedari awal mereka sudah sadar tidak ada peluang untuk kabur sehingga mereka memutuskan untuk bertarung seperti orang gila. Alasan mengapa dia belum membakar kekuatan hidupnya adalah karena dia ingin memanen nyawa musuh sebanyak mungkin.


“Aku minta maaf..” Ketua bergumam pelan sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Rencana mereka berhasil. Mereka awalnya meracuni danau menggunakan Racun Bangkai Hitam. Dan sesuai prediksi mereka, pasukan musuh benar-benar lengah.


Sesaat setelah mendirikan kemah, para prajurit yang kelelahan itu tidak pikir panjang dan saling berdesakan menuju danau untuk meneguk air. Momen saat itu kacau, kelelahan fisik dan mental menyebabkan para prajurit kehilangan disiplin mereka. Para petinggi pasukan menyadari kekacauan dan berusaha menertibkan tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak, para prajurit sudah terlebih dahulu menuju danau. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa danau yang begitu murni itu mengandung malaikat kematian.


Yang terjadi selanjutnya adalah kematian massal. Racun Bangkai Hitam merupakan racun yang akan bereaksi setelah lima menit, dan itu merupakan racun yang sangat kuat yang mampu membunuh kultivator Tahap Keempat!

__ADS_1


Hanya ketika mereka menyadari keanehan prajurit yang baru saja minum dari danau, baru kemudian beberapa veteran perang menyadari ada yang salah dan menatap danau dengan hati-hati. Namun kewaspadaan mereka sudah terlambat, mereka sudah tidak bisa menghentikan malapetaka yang akan datang.


Hasilnya adalah hampir dua ribu prajurit tewas, dan itu terjadi secara bersamaan. Bayangkan saja dampak visual yang dihasilkan oleh peristiwa tersebut. Bahkan seratus babi yang tumbang secara bersamaan sudah memberikan dampak yang besar, apalagi ketika ribuan manusia yang mengalaminya. Jika bukan karena adanya Pil Penyembuhan, yang meskipun terbatas, dapat diperkirakan jumlah korban akan meningkat.


Beberapa prajurit hampir gila, beberapa gemetar ketakutan dan beberapa pingsan karena tidak mampu menjaga pikirannya. Mereka semua merupakan darah muda yang bahkan belum pernah mengalami pertempuran yang sebenarnya, pemandangan seperti neraka itu pasti membebani jiwa mereka yang begitu naif.


Bahkan para veteran pun terguncang karenanya, apalagi mereka yang belum pernah melihat darah.


Kejadian tersebut kemudian membawa ketua dan yang lain ke situasi ini. Amarah Komandan Legiun musuh tersulut dan dia memberi perintah untuk mencari pelaku yang menyebabkan kematian massal itu. Bahkan empat Komandan Divisi, yang masing-masing di Tahap Kedelapan, memutuskan untuk turun tangan.


Sebelum ketua dan tim berhasil pergi lebih jauh, mereka sudah dikunci oleh para Komandan Divisi.


“Berhenti berjuang dengan sia-sia dan menyerahlah! Kalian tidak punya lagi peluang untuk melarikan diri..” Salah satu Komandan Divisi yang berada tidak jauh dari medan tempur menatap ketua dengan dingin.


“Hmm, dalam mimpimu!!” Ketua meraung keras dan menebas salah satu musuh yang bergegas ke arahnya. Dia meludah dengan kejam dan menunjuk para Komandan Divisi yang berdiri arogan di depannya, “Kalian yang begitu tidak tahu malu menggunakan bandit sebagai bidak catur bahkan tidak layak untuk penghormatan ku.”


“Jangan keras kepala, harap hargai kehidupan anda dan bawahan anda..” Komandan Divisi lainnya membujuk ketua dengan tenang. Mereka mencoba bernegosiasi. Lagipula, mereka menyadari bahwa musuh sepertinya memutuskan untuk bertarung hingga mati. Bahkan jika ada empat dari mereka, jika ketua memutuskan untuk membakar kekuatan hidupnya, salah satu dari mereka mungkin akan diseret ke neraka bersamanya.


Para Komandan Divisi ini masih menghargai hidup mereka.


“Untuk para bedebah yang bahkan mengingkari aturan dalam perang dan menginvasi kerajaan tetangga seenaknya? Kalian sepertinya sudah kehilangan harga diri.” Ketua tidak bergeming dan menatap mereka dengan dingin.

__ADS_1


Para Komandan Divisi bertukar pandang dengan serius, orang ini sepertinya lebih keras kepala dari perkiraan mereka.


__ADS_2