
"Kalian berdua masih tetap sama seperti dulu, selalu bertingkah konyol saat di meja makan" Ucap seorang Pria Botak yg baru memasuki warung makan itu.
"Ku kira setelah sekian tahun rambutmu akan mulai tumbuh, ternyata tetap saja sama" Dango membalas ejekan dari pria botak itu.
"hehehe Tetua perguruan Semeru anda terlalu jauh dari rumah" ucap Tang San lalu meminum araknya.
"Aku hendak berkunjung ke perguruan pedang Kembar Bersama muridku". Pria botak itu mnjawab pelan.
" Tetua Bio ternyata telah memiliki murid". Dango memberiakn komentar dengan nada tak percaya.
"ternyata Tetua Bio memiliki tujuan yang sama denganku" Tang San mulai bersemangat.
"Jangan Kira hanya kalian berdua yang ingin menghadiri Arena kontes Muda di Perguruan Pedang Kembar" Dango ikut bersemangat.
"Pendekar Dango tidak salah kan, Kontes itu hanya di adakan untuk anak muda di bawah umur 20 tahun" ucap Tetua Bio.
" hahaha Ternyata bukan hanya kepalamu yg tak berubah tetapi isinya jga sama" Dango mengorek isi telinganya setelah berkomentar.
"Ternyata Pendekar Dango juga telah memiliki penerus" balas Tang San.
"Haaaa jdi yg di maksud Si Pemabuk itu, muridnya yah yg akan ikut berpartisipasi di Kontes Generasi Harapan" Tetua Bio baru mengerti setelah mendengar pemaparan Tang San.
Arena Kontes Muda juga dikenal dengan Area pertarungan pemuda Pemudi atau saat ini lebih populer di sebut dengan Kontes Generasi Harapan. Kontes ini di bentuk Oleh Dewan Serikat Pendekar dan di setujui Oleh Raja beberapa Puluh tahun silam.
"Perguruan Pedang Kembar tahun ini di beri kepercayaan oleh Dewan untuk mnjadi tuan Rumah Kontes ini. semoga saja Perguruan Raja Kelelawar Tidak membuat keributan Tahun ini" Dango mencoba mengingat perselisihan antara Pedang Kembar dan Raja Kelelawar.
"Aku yakin mereka tidak akan mencoba menyalakan api peperangan karena Dewan serikat menjadi penyelengara utama Kontes sedangkan Perguruan Pedang Kembar hanya menyediakan Arena dan tempat peristirahatan". ucap Tetua Bio merasa pintar.
__ADS_1
"benar juga,.....Pendekar Tang bagaimana masalahmu dengan Kedua Pendekar dari Dua perguruan sebelumnya?" Dango bertanya sambil menatap Tang San.
"Selama mereka tidak mencoba menyakiti putriku, aku akan memberi mereka Toleransi" Tang San mencoba sedikit bijak.
"Menurut Informasi yg kudapat sudah Ribuan Pemuda dari berbagai Perguran yang menuju ke Perguruan Pedang Kembar" Tetua Bio masih menghitung jari.
"Benar apa yg dikatakan Tetua Bio, dan menurut informasi yg tersebar sebagian besar dari mereka telah mencapai tahap pendekar Ahli" Dango sedikit memperingatkan.
"berarti Anakku Gadisku ini memiliki Banyak saingan" Tang San memandang Lily yg sejak tadi hanya menyantap makanannya dan mendengarkan mereka bertiga.
"Pendekar Tang kamu masih tetap Gila seperti dulu. Anak kecil seperti dia ingin kau masukkan ke Arena itu juga" Tetua Bio Memandang Lily yg berada di samping Tang San dgn tatapan tak percaya.
"janga" Tang San seketika itu berhenti berbicara ia merasa Ada dua sepasang Mata yg mengawasi mereka sejak tadi.
"Pendekar Tang Ada apa?" Tetua Bio mulai bertanya-tanya.
"Ah itu hanya perasan pendekar Tang saja. bukan kah sejak tadi kita memang terlalu mencolok di ruangan ini terlebih lagi Kapak besarmu itu" Dango mencoba menenangkan Tang San.
"apa mungkin ada yg mengunakan Mata Batin untuk mengawasi kami" tutur Tang San Dalam Hati. Kemudian ia mengangguk pelan pada Dango.
Lily Tiba-tiba bangkit.
"Ayah, aku ingin kesitu" Lily menunjuk Ke sudut ruangan.
" Baiklah tapi jangan terlalu lama" Tang San mengingatkan.
Lily melangkah Menuju kesebuah meja di surut ruangan.
__ADS_1
"Bos Kecil, gadis yang tadi menuju kemari" Kon memberitahu Yan Sin.
"Iya aku tau jadi diamlah" Yan Sin melirik Kon.
"Hei Bocah imut, kita bertemu lagi, kamu bertambah imut dengan baju itu" Lily Mencubit bahu Yan Sin Pelan.
Yan sin Hanya menganguk Pelan.
"Kamu benaran tak bisa bicara?" Lily memegang dagu Yan Sin seolah sedang memeriksa Boneka.
"A A Aku bisa bicara" Yan Sin Sedikit gugup.
"Hahaha dasar Bocah Imut" Lily kembali mencubit Yan Sin.
Yan sin hanya membalas dengan senyuman.
"Bocah imut cepat beritahu aku siapa Namamu" Lily penasaran dan bersemangat.
"Na Namaku Yan Sin, Salam Kenal" Yan Sin Masih sedikit Gugup.
"Yan Sin yahh, Nama yang biasa saja, Oh iya Namaku Lily". Lily berbicara sambil menarik tangan Yan Sin untuk bersalaman.
Yan Sin hanya menatap Lily, ia sedikit bingun harus berkata apa.
"Banyak sekali pesananmu, orang kaya mana yg memberimu uang untuk membeli makanan sebanyak ini" Lily sedikit kaget mendapati isi meja Yan Sin lebih banyak dri pada yg di pesan oleh Ayah dan 2 Teman ayahnya.
"Entahlah" Yan Sin menjawab seadanya. Lalu ia mengingat kembali kejadian pertama saat ia duduk di meja ini saat Mata Batinnya fokus pada percakapan ketiga pendekat di tengah ruangan. Seseorang pemuda datang menanyakan apa yg akan dia makan namun ia menjawab tak punya uang, pemuda itu tak percaya mengingat pakaian yg digunakannya terlihat mahal. Saat Yan Sin sedang pusing ia teringat cincin yg diberikan oleh Petapa tua lalu dengan sedikit tenaga dalam iya Sebutir emas sebesar biji jagung keluar dari cincin itu. Pemuda yg di hadapannya seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya. "apakah bisa membayar pakai ini". pemuda itu tersadar dari tatapan kosongnya lalu menganguk secepatnya. Lalu buru-buru menuju dapur. Saat Yan Sin kembali fokus seperti sebelumnya. Beberapa pelayan datang membawa semua hidangan yg ada dimeja saat ini.
__ADS_1
Saat Yan Sin mengunakan sedikit tenaga dalam tadi, Saat itu juga Tang San Merasa ada yg memperhatikan mereka bertiga.