PENDEKAR TANPA TANDING

PENDEKAR TANPA TANDING
56. MENGACAUKAN PERANG.


__ADS_3

Yan Sin di kepung dari segala sisi, Semua pendekar menganggapnya tak mungkin bisa melarikan diri meski mengunakan Lingkaran Hitam.


"Jurus Perubah Wujud". Yan Sin Menghilang dan semua pendekar hanya memukul ruang kosong. Tenaga dalam mereka yg tinggi membuat Lubang besar di tanah.


"Dia telah mati, hanya topinya yg tersisa". Salah satu pendekar penguna elemen tanah mendekati topi Yan sin.


SHAT.


Pendekar yg mendekati Topi meregang nyawa saat lehernya tertebas oleh sayatan Angin Berwarna hitam.


"Munduuuuurrr". Tiga pendekar yg tersisa bergerak secepat mungkin untuk menjauh dari hutan Kegelapan.


Yan Sin Seolah muncul dari bawah topi Bambunya yg tak jauh dari sebuah pohon besar.


"Sial, Bocah Sekecil in Sanggup membunuh Dua pendekar Dewa". Sepasang Pendekar saling Memandang.


"Anak iblis ini pasti, belajar ilmu sesat". Ujar pendekar wanita untuk menanggapi pernyataan pasangannya.


Yan Sin Hanya Tersenyum Melihat kepanikan musuhnya.


"Kon,, Mari kita Bantu para Guru". Yan Sin Menghilang bahkan tak mengunakan lingkaran.


"Itu Teleportasi Tingkat tinggi,,,, anak ini terlalu berlebihan, Aku tak ingin mati di sini". Pendekar Pria Mengajak pasangannya untuk mundur. Sedangkan Satunya memilih menjauh dari pertarungan dan melangkah cepat keluar hutan kegelapan.


Lubang Hitam tak hentinya menyedot para prajurit maupun Mayat yg berserakahan. Api hitam terus merambat.


"Pedang Sialan ini tak mau memberi kita nafas" Ucap Salah satu pendekar.


"Kurasa pedang ini di rasuki roh si penghianat dan ingin menuntut bal". Belum Selsai Mengucapkan kata-katanya, Pedang Hitam Berhasil Menusuk dada pendekar itu dan Menyerap seluruh tenaga dalam serta darahnya.


Kedua Pendekar yg tersisa memilih Kabur. Namun Hanya Lawan Gara yg berhasil selamat Karena sempat mengunakan sebuah ilmu yg membuatnya menghilang. Sedangkan yg sebelumnya berhadapan dengan Kakek An, Tubuhnya tertebas dari belakang. Tubuh pendekar itu seolah kehabisan darah dan tubuhnya bagaikan daun yg mengering.

__ADS_1


Gelombang Air masih membanjiri Hutan listrik hitam membuat semua yg menyentuh air menjadi hancur.


Dari tengah padang Rumput, Kakek Sunan dan Tetua Tang berada dalam posisi bertahan untuk menghadapi Pemimpin Tertinggi dari 12 Pendekar Dewa.


"Hitam, Apa kau sudah puas?". Ujar Yan Sin yg sekarang Berada Di punggung Kon.


¤Lumayan tapi aku ceroboh, akibatnya seorang pendekar Dewa berhasil selamat¤.


^^Dasar Maniak Perang,, Kau pikir membunuh 2 pendekar Dewa itu bukan prestasi?^^. Kon Ikut Berkomentar saat Pedang hitam kembali ke jubah Yan Sin.


¤Eleeh,, Memangnya Aku sepertimu,, yg hanya bisa mengurus seekor monster bodoh¤


^^Monster itu bukan Apa-apa bagiku^^.


¤Sok Kuat,, buktinya tubuh Monster itu Tak habis kau makan¤.


^^Itu karena Darah dan dagingnya sangat busuk,,Tapi setelah ku sadari Energi Iblisnya sanggup meningkatkan kekuatan tulang dan tenaga Monster dalam tubuhku^^.


^^Jangan gitu dong Bos,, Tubuh monster itu, Tak Ada enak-enaknya,, Aku tak akan menyentuh hal seperti itu kedua kalinya^^.


¤Hee Bocah,, Ketiga Naga itu, Sangat Liar,, membiarkan mereka bertarung mungkin akan menyebabkan kerusakan yg lebih para di hutan kegelapan itu¤.


"Hemmm Mereka Yah,,,,Tak masalah ketiganya Sudah lama terkurung dalam Buku Hitam,, Jadi biarkan mereka bersenag-senang sementara waktu".


Nenek Tua yg menghadapi naga semakin Melemah, Sayatan Angin dari kecapinya tak mampu mengores kulit naga yg menyudutkannya.


"Bocah itu mengacaukan peperangan ini". Gumam Nenek Tua itu.


"Adik,, Cepat Tinggalkan Hutan ini dan biarkan kami merdua yg menahan Ketiga naga sialan ini". Seorang Pendekar Menarik Nenek Tua yg hampir terkena semburan Api.


"Tapiiii".

__ADS_1


"Tak Ada kata Tapi,,, atau kita bertiga akan mati konyol di hutan ini". Ucap Satu pendekar lainnya Sambil mengeluarkan sihir air untuk memadamkan semburan api dari seekor naga. Gerbang kematian yg ia kontrol terus mengeluarkan monster iblis.


"Aku tak melihat wajah Bocah itu dengan jelas,, Tapi aku akan tetap membalaskan dendam kalian nanti".


"Bodohhh, Cobalah untuk Memperingatkan 4 kerajaan agar tak mendekati hutan ini lagi dan beri tahu kakak Tertinggi agar tak meremehkan Bocah itu". Ujar pendekar yg tadi menarik nenek tua itu.


Duk Duk Duk.


"Apa Lagi sekarang?" ucap nenek tua itu saat menyadari ada sesuatu yg menuju ke arah mereka.


"Cepat Pergi,, ini Adalah monster Tipe Hewan siluman". Pendekar yg tadi menarik si nenek menahan Cakar dari seekor naga, mengunakan pedangnya.


"Sihir Ruang". Pendekar yg dapat mengunakan sihir mundur beberapa langkah dan mendorong nenek tua itu kedalam Sebuah gerbang.


"Apa yg menyebabkan para monster ini bergerak cepat,, apa para naga yg memanggil mereka atau ada yg lebih mengerikan di dalam hutan sana". Ucap Pendekar yg mengunakan sihir.


"Kakak cepat pergi dan serahkan sisanya padaku,,, jangan lupakan namaku untuk di tulis dalan sejarah". Ucap Pendekar yg berada di garis depan. Pendekar yg di perintah hanya mengangguk lalu melangkah cepat untuk menyusul Nenek tua yg lebih dulu menghilang.


Ketiga Naga menyerang Pendekar level dewa itu bersamaan.


Unsur Elemen yg di lepaskan Yan Sin mulai menghilang Satu persatu.


Para Monster tipe Hewan mulai menyerang Sisa-sisa prajurit dan pendekar level Master ke bawah.


"Nagin,, Apa kamu dapat merasakan keberadaan yg lainnya". Nona Mey Memberi pertanyaan sambil mengamati sekeliling.


"Aku hanya merasakan dua orang guru". ujar Nagin.


"ini kan benang milik Nenek Kio,, apa kita terlambat". Mata Nona Mey mulai berkaca-kaca.


"Entahlah,, Dengan keberadaan ketiga Naga ini,, Masih banyak kemungkinan yg terjadi dan tak dapat ku prediksi". Nagin menyentuh tanah dan menutup Mata.

__ADS_1


Ketiga Naga Berhasil mengalahkan pendekar berlevel dewa dan Langsung terbang meninggalkan Hutan Kegelapan, Seolah tak menghiraukan monster yg baru keluar dari Kedalaman Hutan Kegelapan.


__ADS_2