
Kerajaan Nusan Diselimuti Rasa Sedih yg mendalam. Setiap Perguruan, Kota dan Pedesaan Hancur tak Bersisa.
"Kita Harus segera memakamkan seluruh pendekar dan penduduk yg gugur dalam membela Kerajaan" Kakek An memberi Arahan. Namun Semua mata Terlihat lesuh tak bergairah. beberapa di antaranya tak sanggup menahan air mata.
"Tetua skalian kurasa bukan tindakan cerdas,,kita melepaskan mereka". Pendekar Dan menyesalkan tindakan mereka sebelumnya.
"Senior Pernah tidur nyeyak, apabila tak berhasil memberantas kawanan serigala,, Aku yakin mereka akan sangat ketakutan nantinya". Pendekar Topeng Emas Menjelaskan maksudnya.
"Tapi menurutku mereka akan kembali dengan jumlah yg besar,,karena sekarang Fokus mereka Hanya pada satu titik,,, Yaitu perguruan ini". Pendekar Dan memikirkan hal terburuk di benaknya.
"Benar Apa yg di katakan Nak Dan,,,,Setiap Sisa-Sisa dari perguruan harus kembali untuk memberi pemakaman yg layak pada saudara seperguruannya dan Berkumpul Di Hutan Kegelapan sebulan setelah hari ini". Kakek An memberi perintah.
Semuanya Menganguk.
Jumlah yg selamat dalam pertempuran ini tak cukup 100 orang termaksud Sisa para Para peserta.
"Senior An kutitip murid-muridku Padamu,,Aku Akan kembali Ke Semeru Bersama Tetua Bio untuk Menunaikan tugas". Tetua Ling memberi Hormat pada semua pendekar. Lalu Ia dan Tetua Bio melangkah meninggalkan Arena Kontes.
Simon, Law dan Tang San sibuk mengumpulkan Mayat. Mata mereka berkaca-kaca, raut wajah mereka di penuhi kesedihan.
Randy dan Lery Membawa Para peserta yg masih Tersisa ke Arena. Mereka tak kuasa menahan air mata.
Banyak Saudara dan Teman seperguran mereka yg gugur.
Jaka, Lily, Wang An dan beberapa pendekar muda hanya bisa tertunduk sedih. Sedangkan yang lainnya masih berusaha menyeka air mata di pipi.
"Ayah,,,Dimana kakek,,Aku sangat takut,,kita sebaiknya pulang saja". Lian menyapu air mata di pipinya tubuhnya masih gemetar ketakutan. Tang San Berlari memeluk putrinya.
Tetua Sio Sejak tadi sibuk Membuat Makam mengunakan sisa tenaga dalamnya.
Sebulan lebih setelah Runtuhnya Kerajaan Nusan.
__ADS_1
"Nagin bagaimana perkembanganmu". Yan Sin melirik Gadis Yg berambut hijau di sebelah kanannya.
~>Aku mulai terbiasa dengan Bentuk ini tuan<~. Nagin Tersenyum Pada Yan Sin sambil memegang pipinya.
"Kon Bagaimana Perkembangan di luar Sana". Yan sin Memandang Burung Elang yg baru memasuki Gua Cahaya.
"Ada sekitar 100 orang di jarak 10 kilo meter dari gua ini,,,Mereka mulai membangun Tempat tinggal dan ada Sebuah sihir yg menghalangi para monster yg mencoba mendekati tempat itu".
"Si Penyihir tua itu benar-benar mengajak orang yg tersisa untuk Bersembunyi di Hutan ini". Ucap Yan Sin dalam Hati.
"Seandainya Waktu Itu Aku bisa Menguasai 100% persen roh dan kekuatanku mungkin bencana itu tak akan terjadi". Terlihat jelas penyesalan Yan Sin.
¤hey Bocah,,,Kalau bukan karena bantuanmu perguruan itu kini telah rata dengan tanah¤
^^itu benar Bos,,Lagian mereka tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawabmu^^.
"Aku ingin Mengunjugi mereka,,, Kekuatanku kini mulai bisa ku kendalikan,,dan Tak perlu banyak tidur lagi untuk menenangkan Roh di tubuhku". Yan Sin Mengenakan baju dan jubah hitamnya yg mulai kekecilan lalu meraih Topi bambunya.
"Nagin Teruskan Latihanmu".
~> Baik Tuan Muda<~.
Yan Sin melangkah keluar Gua, Pedang Hitam Kembali menyusup di dalam jubah hitamnya. Kon Berubah ke ukuran sedang agar tak menimbulkan Kecurigaan.
"Ayah Anak ini Adalah satu"nya Murid perguruan Dewi Surga yg setia pada Kerajaan" Tang San Mengelus kepalan Dian.
"Sungguh gadis yg cantik dan memiliki jiwa kesatria yg baik" Pria tua itu memberi pujian pada Dian.
Pria Tua yg di panggil Ayah oleh Tang San Adalah Pemimpin Perguruan Pedang Kilat.
"Pendekar Gara,,Apa kita akan Membentuk kembali kerajaan Nusan Dan mengangkat Pangeran Nara Yan Menjadi Raja". Ucap Pria Tua itu.
__ADS_1
"Tetua Aku Lebih memelih menjadi Pendekar dan membalas kematian orang tuaku dari pada menjadi Raja". Nara berbicara sambil meneteskan air mata,,Rasa sedih masih menyelimuti hatinya.
"Jumlah kita hanya bisa di sebut kelompok,,tak akan bisa menjadi Kerajaan". Pendekar Bertopeng Memandang seluruh pendekar yg ada.
"Paman Gara,,Tetua Sekalian,,Aku memiliki ide untuk menjadikan kelompok kita ini di bentuk menjadi perguruan" Pangeran Nara masih berusaha menutupi rasa sedihnya sambil mengutarakan niatnya.
"Gara Yan bagaimana Menurutmu,,,kmu adalah Adik Baginda Raja,,,Keputusan Kami Serahkan Padamu". Seorang Penyihir tua dengan Lambang Dewan Di jubahnya memberi komentar.
"Baginda Raja akan sangat Bangga pada kesetian Para pendekar yg hadir,, Aku juga setuju atas ide Pangeran Nara Yan". Pendekar Topeng Emas melirik Nara yg masih terlihat sedih.
"Bagaimana pendapat kalian Semua". Pemimpin Perguruan Pedang Kilat Memandangi wajah seluruh pendekar yg hadir.
Semuanya hanya mengangguk.
"Saudara An, Senior SunAn tolong Berikan masukan untuk Nama perguruan Kita ini". Pemimpin Perguruan Pedang Kilat berfikir sambil melirik kedua Orang tua yg sebaya dengannya.
"Saudara Tang Yuan,,,menurutku Nama perguruan ini Harus memakai Nama kerajaan Nusan". Tetua Shaman yg memberikan masukan.
Mereka Semua Saling Menatap, Lalu mengangguk pelan.
"Aku sangat Setuju". Ucap Tetua Tang.
Mendengar itu Pendekar Bertopeng Membuka topengnya dan menyeka air matanya,,,ia terharu atas kesetian dan Etikat baik para pendekar yg tidak melupakan Nama Kerajaan.
Hampir Semua Mata melotot Melihat Wajah Pendekar bertopeng.
Menurut Cerita yg beredar hanya beberapa orang di kerajaan yg pernah melihat wajah Asli pendekar topeng Emas.
"Paman Tang Tolong Sampaikan ideku untuk menambahkan 4 huruf di belakan nama kerajaan". Yan Sin mengunakan Kekuatan Fikirannya untuk menjelaskan sesuatu pada Tang San.
"Tetua Sekalian Aku memiliki ide tambahan untuk nama Perguruan Kita,,,Kerajaan Ini Adalah Tanah air Dan Jiwa Raga Kita,,Jadi menurutku akan lebih sempurna Jika di sebut Perguruan Nusantara". Tang San malu-malu Menyampaikan ide yg menggema di fikirannya,,Takut idenya Tak di terima.
__ADS_1