
"Jangan lupa bahwa di atas langit masih ada langit,,,hanya Seorang pendekar Legenda yg baru menginjak level menengah begitu sombong dan merasa hebat sehingga datang mengacau di perguruan kami". Tetua Hen menarik papan caturnya dari dalam jubah.
Menyadari sesuatu yg berbahaya Pendekar Barong membaca beberapa mantra sihir lalu bersamaan dengan itu arena serasa menjadi lumpur dan beberapa orang dengan jubah merah muncul dari dalam lumpur itu.
Pendekar Vais mengunakan Jurus meringankan tubuh kemudian bergerak cepat lalu melancarkan sebuah tendangan keras di perut barong Barong. Barong yg tak siap akan tendangan itu langsung terlempar ke arah penonton.
Sebuah tinju menghampiri pendekar Vais, Namun sempat di tangkis oleh Bima. Orang yg melancarkan tinju itu kembali mundur dan bergabung dalam kumpulan musuh.
Suasana sangat kacau, Para pendekar seakan tak bisa leluasa karena meraka harus melawan gempuran hebat.
Para pemuda yg baru mencapai Level pendekar Ahli tingkat biru kebawah, Tak kuasa untuk bertahan. Mayat berserakahan.
"Jurus Kapak Maut" Tang san melayangkan kapaknya.
"Gempa Bumi". Wajah Tetua Sio Memerah. Seluruh Bangunan bergoyang.
"Guru apa di mana kakek An Dan Tetua Shaman?" Tang San terus melancarkan serangan kapaknya.
"Tetua Shaman sedang Melindungi beberapa murid,,,cobalah untuk menahan Serangan ini selama mungkin".
"Baik Guru". jawab Tang San
Sebuah jurus api yg sangat besar,, meluncur dari arah musuh. Bersamaan dgn itu seorang Pendekar dari Perguruan Air Abadi Mengeluarkan Jurus Air yg sangat dasyat. Pertemuan antara dua jurus itu menimbulkan asap yg cukup tebal.
"Toni,,Ley Ajak Seluruh peserta dan pemuda yg masih hidup untuk menuju Bangunan Ke 4 di sana ada tetua Shaman dia akan menunjukan ruang tersembunyi yg aman,,,cepatlah,,,,Kami berdua akan mencoba menghalangi mereka". ucap tetua Bio,,nafasnya mulai memburu. Tangannya tetap mengayunkan tongkat. Sementara Pendekar Dango mengeluarkan Jurus pedang Ilusinya untuk mengalihkan perhatian.
__ADS_1
Toni memberi isyarat pada Seluruh peserta kemudian mereka berlari, Sebagian berlari sambil menangis ketakutan.
"Dasar kutu busuk,,ingin Mencoba Kabur Yah".
Seorang Berjubah merah Menghunuskan pedangnya, Seketika itu juga pedangnya terbang ke arah seluruh peserta. Dango dan Tetua Bio yg menyadari itu tak bisa berbuat apa-apa, Mereka di Sibukkan oleh Dua orang Pendekar Level Legenda tahap Dasar.
Ley dan Toni mencoba menahan serangan itu untuk menyelamatkan teman peserta mereka, Seorang pendekar Level Master melayangkan sebuah pisau menyebabkan beberapa peserta kehilangan nyawa.
"Jurus Panah Langit". Tiba-tiba Law Muncul dari atas. Sepasang sayap merah membuatnya terbang bagai burung.
Seorang pendekar Level master Tak sanggup menangkisnya. Panah itu membuat targetnya terluka sangat parah.
Randy Mengunakan jurus meringankan tubuh lalu melancarkan tebasan kilat ke arah musuh yg masih mencoba membunuh para peserta. Musuh yg tak memprediksi kehadiran Randy tak dapat mengelak dari tebasan itu, ia tak sadar kepalanya telah jatuh ke tanah.
"Saudara Randy cepat kawal Anak-anak ini ke tempat yg aman". Ucap Law sambil melancarkan panahnya ke arah musuh yg mulai memenuhi Tempat penonton. Randy hanya menganguk.
"Jurus Tombak Kematian". Seorang yg memakai Topeng melancarkan Serangan dari tengah arena.
"Guy,,,jadi kau terlibat dalam kekacauan ini". Tetua Hen yg mulai mengalirkan Tenaga dalam pada papan caturnya terlihat sangat marah.
"Ini jurus andalan dari Tetua Guy,,,Apa maksud Perguruan Gunung Siguntang". Pendekar Dango melirik kearah tombak itu.
Pendekar Vais menyemburkan araknya Lalu dari semburan itu muncul sebuah pedang. Dengan cepat Pendekar Vais menarik pedang itu dan menangkis Tombak yg melaju kearahnya.
SAT.
__ADS_1
Pendekar Bertopeng emas yg sejak tadi hanya mengawasi tiga orang Anak muda yg menjadi wakil kerajaan. Kini muncul seketika dan menangkap tombak yg di tangkis pendekar Vais.
"Hihi,,,hihi,,hihi,,, Anak nakal Cobalah tangkap ini". Seorang Nenek tua melemparkan Sebuah Bunga Ungu ke arah pendekar Bertopeng.
Saat bunga itu mendekati Pendekar bertopeng. Seorang Wanita dengan gaun putih meniup bunga itu.
"Nenek peot,,kamu selalu saja bermain dengan racun". Nona Mey mengibaskan gaunnya membuat angin meniup jauh bunga itu.
"Jadi Kerajaan Barat, Timur, Selatan dan Utara mulai berkerja sama untuk menekan Kerajaan Tengah".
"Hahahaha,,Anak Bodoh Apa kamu tak menyadari bahwa Kami bukan hanya menekan tapi sudah memusnahkan Kerajaan Nusan". Seorang yg memakai jubah dengan motif sedikit berbeda menunjuk Pendekar bertopeng.
"Sebaiknya kalian segera menyerah karena 4 kerajaan mengutus seluruh Pendekar terbaik di Benua tengah untuk memusnahkan kerajaan ini". Barong yg kembali bangkit setelah menerima serangan dari Vais mencabut pedangnya.
"Gak Gak Gak Gak,,,,berani juga 4 kerajaan ini mengambil resiko untuk menyerang,, apa keberadaanku dan Senior An tak lagi di perhitungkan. Terlebih lagi Si Petapa Gila itu tak Akan tinggal diam melihat aksi Heroik kalian". Pendekar Owen mulai membuka suara.
"Cuiiihhh,,jangan Sok jagoan,, Aku hanya mengakui Seniormu tidak denganmu,,,Tpi dia sudah tua dan Si Tua Gila itu sudah menghilang sejak tiga tahun lalu,,Guy adalah saksinya". Orang tua yg tadi hanya mengorek hidungnya berbicara dengan nada meremehkan.
"Tetua Xeng,,apa aku Memilih menyerah dan bergabung dengan kami atau memilih Mati". Seorang dengan jubah Bermotif itu melirik Tetua Xeng yg sejak tadi hanya duduk dan menonton.
"Kurasa Anda adalah pemimpin di sini,,tawaran menarik apa yg bisa merubah kesetianku pada kerajaan ini". Tetua Xeng Hanya duduk sambil tersenyum sinis.
"Kudengar Tetua Xing terluka parah,,,kami bisa menyembuhkannya dan Memberikan perguruan Lembah Setan,, uang dan sumber daya yg melimpah,,dengan Catatan Lembah Setan Harus mendukung 4 kerajaan".
"Kekuatan kalian belum cukup untuk menghancurkan kerajaan ini" Balas Tetua Xeng.
__ADS_1
"Hahaha,,bodoh,,Coba Lihat seisi Arena ini, Ada hampir 100 pendekar Legend dan Ribuan Pendekar Master yg bersiap menyerbu dari luar perguruan ini dan ada beberapa pendekar Legend yg tersebar di dalam perguruan".
Tetua Xeng menelan Ludah. Kemudian bangkit dan melangkah Maju ke tengah arena untuk bergabung dengan Pihak musuh. Di ikuti dengan beberapa pendekar dari Perguruan Dewi Surga Termaksud Tetua Ning yg sejak tani hanya diam.